Ramadan Bulan Turunnya Alquran Petunjuk Kehidupan

MuslimahNews, Editorial — Tak terasa Ramadan sudah memasuki paruh ke tiga. Bagi orang-orang yang beriman, berlalunya hari-hari Ramadan pasti meninggalkan kesan yang luar biasa. Ada rasa gembira karena Allah SWT telah berkenan memberi kesempatan untuk beroleh lebih banyak pahala kebaikan. Namun ada pula kesedihan karena sebentar lagi Ramadan yang penuh berkah akan ditinggalkan.

Banyak hikmah yang Allah sematkan dalam syariat Ramadan. Salah satunya tercermin dalam penyebutan Ramadan sebagai Syahrul Qur’an atau Bulan Alquran.

Ya, di bulan inilah Alquran diturunkan. Di malam yang disebut lailatul qadar, Alquran Allah SWT turunkan dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia. Dan setelah itu, selama lebih dari 22 tahun, ayat demi ayat, surat demi surat, Alquran turun berangsur-angsur kepada Rasulullah saw melalui perantaraan Malaikat Jibril, dalam fungsinya sebagai kabar gembira dan peringatan, sekaligus sebagai jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi manusia dari masa ke masa.

Di bulan ini Alquran juga menjadi kitab yang paling banyak dibaca dan diperdengarkan. Di rumah-rumah, di surau-surau, di mesjid-mesjid, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, bahkan di angkutan-angkutan umum. Semua didasari keyakinan bahwa, kemuliaan ramadhan telah menjadikan bacaan Alquran akan membawa berkah dan pahala yang berlipat ganda.

Namun ada hal yang menarik direnungkan. Dari Ramadan ke Ramadan, fenomena seperti ini nyaris berlangsung tak ada beda. Alquran dibaca tapi belum mampu menjadi cahaya. Alquran diperdengarkan tapi baru sebatas lantunan dan “nyanyian”.

Apa yang dibaca tak sepenuhnya dipahami maknanya apa. Apa yang diperdengarkan ternyata belum berpengaruh dalam realitas kehidupan mereka.

Banyak kaum Muslimin yang meyakini akan kesucian Alquran dan bersikap takzim di hadapannya. Tapi sayang, bagi sebagian mereka, Alquran tak lebih dari kitab mujarabat dan mantra-mantra yang dianggap sakti untuk mengobati penyakit, mengusir setan dan pemancing rezeki semata.

Ada pula sebagian dari mereka yang berkhidmat menjadi para penghafalnya. Namun sayang, mereka belum terdorong menjadi para penjaga dan pembelanya.

Padahal mereka melihat betapa dalam sistem demokrasi yg tegak hari ini, mushaf Alquran berulang dinodai dan dihinakan musuh-musuh Islam. Bahkan merekapun tahu, bahwa saat ini isi Alquran dicampakkan dan kerap dijadikan bahan olok-olokan. Hukum-hukumnya sengaja direka ulang karena dianggap usang, tak relevan dengan peradaban masa sekarang. Bahkan para pengembannya, dicap radikalis fundamentalis yang layak dikriminalkan.

Sejatinya Alquran adalah tuntunan bagi kita umat Islam bahkan manusia secara keseluruhan. Yang dengannya kita tahu, bagaimana hidup dijalankan dan setiap masalah dipecahkan. Yang dengannya pula kita beroleh jaminan, akan teraihnya keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia hingga di keabadian.

Keimanan terhadap Alquran seharusnya diwujudkan oleh setiap Muslim dalam ketaatan. Kecintaan terhadapnya semestinya dibuktikan dengan ketundukan. Ini berarti, merealisasikan isinya sebagai jalan hidup dan undang-undang merupakan kemestian dan memperjuangkannya merupakan keniscayaan.

Seluruh komponen umat bersatu, semua pergerakan menyamakan arah tujuan, menegakkan Alquran tak hanya sebagai bacaan namun sumber hukum dalam kehidupan. Momen Ramadanlah saat yang tepat untuk merevisi keimanan sekaligus membangun semangat perjuangan membumikan Alquran. Karena di bulan inilah, Alquran diturunkan sebagai mata air kehidupan.

Semoga Ramadan tahun ini lebih baik dari Ramadan sebelumnya. Dan umat Islam makin mencintai Alquran dan siap menjadikannya sebagai undang-undang kehidupan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran. Sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu. Serta menjadi pembeda antara yang hak dan yang bathil” (QS. Al-Baqarah : 185)[] MNews

%d blogger menyukai ini: