Istiqamah Dakwah di Era Fitnah

Muslimahnews.com, FEATURE — “Insya Allah kita akan menempuh langkah menuju rida Allah, maka pada gilirannya nanti manusia di luar sana akan rida dengan apa yang kita tempuh hari ini,” ujar Ustazah Iffah Ainur Rochmah sambil menjelaskan hadis bahwa barang siapa yang menapaki langkah untuk mendapatkan rida Allah, mengabaikan ridanya manusia, maka yakinlah Allah akan memberikannya kepada kita. Dan manusia pun akan rida pada apa yang kita tempuh. Barang siapa yang melangkah hanya karena ingin rida manusia dengan mengabaikan murka Allah, maka Allah akan memberikan murka kepada orang itu, dan kemarahan manusiapun akan mereka dapatkan.

Dia lalu mengucapkan satu kalimat menggugah yang menggambarkan bahwa amal untuk mendapatkan rida Allah hari ini adalah amal yang berat, tak ringan. Allah pun akan memberikan imbalan yang besar, karena imbalan itu sebanding dengan apa yang kita kerjakan.

Bukan sedang membahas keuntungan dalam berdagang barang, forum terbatas ini membahas perdagangan dengan Allah melalui aktivitas dakwah di era penuh fitnah hari ini, “Istiqamah di Jalan Dakwah Islam” sebagai tema forum itu. Dihadiri para Muslimah Mutiara Umat yang digelar sebagai ‘Uyunul Ummah oleh Ustazah Iffah.

Geliat dakwah yang distigma dan dilengkapi dengan labelling sudah menjadi opini umum di tengah-tengah masyarakat, bukan tanpa sebab, Ustazah Ratu Erma R yang turut hadir dalam forum itu menjelaskan bahwa arus opini umat yang kuat untuk menolak pemimpin kafir dilanjutkan dengan momentum bersejarah 212 menjadi pelecut umat untuk memahami Islam politik. Sudah tak terbendung. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Islam politik sudah membumi.

Namun menurutnya ada skenario besar untuk menjegal dakwah politik, “Politik identitas semakin menguat, dan kita tahu persis siapa sasaran pertama dari respon tersebut adalah dakwah Khilafah. Dakwah kepada Islam yang terjadi saat ini, sudah dirasakan mengganggu kepentingan rezim. Fase dakwah kita pada hari ini sesungguhnya sudah mulai melawan kepentingan penguasa,” tukas Ustazah di salah satu hotel di Jakarta Pusat, Selasa (29/5/2018).

Ustazah lalu menjelaskan, semua orang sudah tahu bahwa dakwah itu hukumnya wajib, namun tak banyak yang memahami dakwah merupakan sesuatu yang tauqifiy, “Dalam Islam, rukun ibadah bersifat tauqifiy, bimbingan. Tak boleh sesuai dengan perasaan atau hawa nafsu kita. Allah melalui Rasul sudah membimbing bagaimana dakwah yang dituntut oleh hukum syariat.”

Dia melanjutkan ada karakter yang tak boleh dihilangkan dalam mendakwahkan Islam, salah satunya Mu’alajah Musykilah, berisi hukum-hukum solutif, aturan-aturan untuk menyelesaikan masalah dan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. “Hukum syara’ yang Allah turunkan berkarakter memberikan penjagaan atas penerapan syariat,” kemudian ustazah menyontohkan, jika ada yang melanggar syariat salat, maka bisa diatasi dengan sistem sanksi. Contoh lain dikatakannya, “Zina haram, tapi mengapa kemudian jumlah pelaku freesex bertambah? Karena karakter hukum yang diterapkan itu tak menjaga orang agar tak berzina,” tukasnya mendetili penjelasan bahwa ada bagian dari hukum syariat yang berfungsi menjaga penerapan hukum syariat yang lain seperti pelarangan zina dan perintah menjauhinya, serta perintah melakukan salat dan larangan meninggalkannya. Kedua hal itu ditopang oleh sistem sanksi.

Agar keseluruhan hukum syara’ itu terjaga, maka membutuhkan negara. Sesungguhnya mendakwahkan Islam adalah mendakwahkan Islam politik. Sebenarnya realitas ini sudah dipahami oleh para ulama kita, salah satunya KH Muhammad Natsir,” Ustazah Erma lalu mengutip perkataan Ulama Rabani itu, “Islam beribadah itu akan dibiarkan, kalau umat Islam berekonomi paling cuma diawasi, tapi kalau umat Islam berpolitik maka itu akan dicabut seakar-akarnya.”

Mengajak iman kepada Allah, mengajak salat, mengajak sedekah, berekonomi Islam, dakwah seperti itu tidak ada halangan apapun. Tidak akan ada masalah. Tapi ketika kita mengatakan supaya ada hukum-hukum tadi (red. Sistem sanksi), supaya terhindar dari perilaku seks menyimpang, korupsi, dan sebagainya, di situlah terjadi benturan antara haq dan bathil.”

Agaknya yang disampaikan Ustazah mendekati dengan fakta saat ini. Dakwah politik memang sedang mengalami banyak duri. Apalagi saat kita bertanya, “Mengapa freeport Anda tawarkan sahamnya pada asing?” Kritis, itulah yang menjadikan dakwah segera dibungkam, sekaligus merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat dari pemahaman sebenarnya tentang Islam politik. “Apa sebenarnya yang ditakuti? Islam thariqah, hukum-hukum syara’ yang selama ini kita abaikan. Itulah yang ditakuti oleh rezim. Apakah kita tidak lagi menjelaskan tentang Khilafah? Apakah kita tidak lagi mengomparasi keburukan sistem demokrasi dengan kebaikan Khilafah? Ketika kita lalai, terpengaruh oleh intimidasi dan pencitraburukan, di situ pelemahan akan semakin terjadi,” ungkapnya.

Berbenturan dengan penguasa pernah dialami para Nabi dan Rasul, sebagaimana Ustazah juga menjelaskan bahwa aktivitas dakwah merupakan akivitas langit yang menjadi warisan dari para Nabi dan Rasul. Sehingga, jika kita mendakwahkan Islam kafah, kata Ustazah, maka include satu paket di dalamnya dengan risiko perjuangan. “Sebenarnya permusuhan kita ini bukan hanya semata dengan penguasa, tapi kita sebenarnya mesti memahami siapa sesungguhnya yang paling tidak suka Islam politik ini hadir, yaitu mereka yang ada di balik rezim. Dengan orang-orang yang memang ingin mengekalkan sistem. Ini sunnatullah.

Islam Ideologi, Musuh Kekufuran

Islam merupakan ideologi iblis, cirinya adalah ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum, ingin menegakkan Khilafah, bertentangan dengan ide-ide liberal,” Ustazah Erma mengutip perkataan Tony Blair.

Lalu ustazah melanjutkan, “Bagaimana orang-orang kafir mengendalikan pemikiran pemimpin kaum Muslimin? Mereka dijadikan bamper.” Padahal sebagai pemimpin, merekapun punya kewajiban dakwah dengan skala yang jauh lebih besar dari individu, “Sesungguhnya penguasapun memiliki kewajiban dakwah, dengan cara menerapkan syariat Islam di negaranya lalu mendakwahkannya ke penjuru dunia.”

Inilah pekerjaan rumah yang tertunda. Ustazah Iffah kemudian menjembatani diskusi seraya mengingatkan, “Kita masih punya PR, jenis hukum syariat yang kita sampaikan kepada umat ini masih banyak yang belum kita sempurnakan untuk disampaikan. Islam itu cara pandang terhadap kehidupan. Syariat Islam yang gamblang ini belum populer.

Hadir pula dalam forum itu Umi Irena Handono, dia mengungkapkan, “Semakin hari Islam itu semakin dihimpit, kalau kita diam, habis. Mau tak mau, senang tak senang, memang kita harus berjuang,” tukasnya lalu mengutip Alquran surat Al-Mudatstsir, “Kita sudah terlalu lama terbuai, bangkit berjuang, berilah peringatan. Katholik eksis karena punya pemimpin dunia. Kita pernah punya, tapi ditumbangkan. Kita perlu menyatu, merapatkan barisan. Kita berserah diri pada Allah, pertolongan Allah itu sering kali datang dengan cara yang tidak kita duga-duga.”

Selain Umi Irene, ada beberapa tokoh Muslimah yang menyampaikan pandangannya terhadap dakwah. Warna warni dalam perjalanan dakwah, semua risikonya, dukungan dan hambatan dalam dakwah, semua itu adalah bunga yang menghiasi ibadah ini. Lalu seolah Ustazah Iffah menggugah kembali, “Dakwah tak boleh hanya sampingan, tapi ini adalah perjuangan kita. Kita harus segera bangkit dan jangan terus-terusan tidur berselimut di atas kasur.”

Pengemban dakwah merupakan hamba Allah yang mulia, mereka menolong agama Allah, merupakan hamba terbaik, dan yang paling dicintai oleh Allah. Itulah yang disambung Ustazah Erma untuk melengkapi pemahaman bahwa dakwah ini akan senantiasa menemui hambatan, namun semua pengemban dakwah harus yakin bahwa mereka adalah hamba Allah terbaik yang senantiasa dimenangkan. Jadikan istiqamah itu sebagai kerinduan yang terus berupaya untuk diwujudkan, sampai akhir hidup kita menutup kisah sebagai orang yang istiqamah.[] MNews

%d blogger menyukai ini: