Islamofobia Akut di Tengah Gagalnya Kapitalisme Membangun Kewibawaan Negara

Muslimahnews.com, EDITORIAL — Hari-hari terakhir ini perhatian penguasa nampak sedang fokus tertuju pada sekelompok umat yang dipandang telah menjadi ancaman buat negara. Berbagai statement dan agenda bertajuk melawan radikalisme dan terorisme terus digelar baik di dunia nyata maupun dunia maya. Hingga berbagai linimasapun dipenuhi 2 kata sakral tersebut dengan berbagai angle pembahasannya.

Hal ini nampak kian memuncak setelah terjadi peristiwa kerusuhan di Mako Brimob dan peledakan bom di Surabaya. Pasca peristiwa itu, arah opini kian jelas menuju ke mana. Poin yang terus diulang-ulang adalah “Islam politik dan gagasan Khilafah sebagai ancaman buat negara”.

Ya, terhadap Islam politik dan Khilafahlah perang melawan radikalisme dan terorisme diarahkan. Dan mirisnya, diopinikan pula bahwa aksi teror dan radikalisme ini bisa dilakukan oleh siapa saja, dan pabriknya pun, bisa dimana saja.

Yang sudah terlebih dulu disebut, adalah kelompok Ulama dengan pesantrennya. Lalu para ustaz dengan majelis taklimnya. Menyusul kampus dengan para dosen dan aktivis Mahasiswanya. Lalu rohis sekolah dengan aktivis remajanya. Dunia maya dengan para netizennya. Lalu keluarga dengan kaum perempuan dan anak-anaknya. Dan yang terakhir dibidik adalah, homeschooling yang disebut-sebut rentan tersusupi paham radikalisme dan terorisme.

Munculnya kasus-kasus terkait pelanggaran UU ITE yang pekat bau anti-kritik, dan list 200 Ulama rekomendasikan Kemenag yang belakangan dicabut setelah menuai polemik, serta warning BNPT terkait rohis kampus dan 7 kampus yang sudah terpapar radikalisme, berikut perintah “pembersihan dari aktivis-aktivisnya”, hanyalah bagian kecil langkah tindak yang diambil negara untuk mencegah dan melawan apa yang disebut paham radikal dan terorisme. Pun dengan seruan Mabes Polri agar rakyat ikut proaktif melaporkan pendukung Khilafah serta rilis BKN tentang 6 ujaran kebencian yang ancamannya mengikat ASN, berikut rilis pihak kepolisian berisi ajakan pada seluruh masyarakat untuk melakukan pengawasan hingga ke level akar rumput termasuk kajian-kajian di musala dan mesjid-mesjid, semuanya mengarah pada upaya perang semesta melawan paham radikalisme dan terorisme.

Alhasil hal ini menciptakan suasana tak nyaman di tengah umat. Selain menumbuhkan sikap saling curiga, juga menciptakan suasana mencekam seolah-olah bom akan meledak dimana-mana dan para teroris bergentayangan begitu rupa. Terlebih saat RUU Anti Terorisme yang sedianya akan disahkan usai lebaran, tiba-tiba diberitakan sudah disahkan pada sidang paripurna 25 Mei lalu. Dan untuk implementasinya, kini pemerintah sedang menyiapkan peraturan pemerintah sehingga UU ini bisa efektif dilaksanakan sesuai tujuannya.

Ada yang mengherankan, palu pengesahan UU sepenting itu ternyata diketok tanpa kehadiran 400 lebih anggota dewan. Realitas ini tentu seakan menjawab pertanyaan sebagian masyarakat, tentang seberapa genting ancaman teror hingga penguasa seakan kebelet ingin segera mengesahkan UU itu? Segenting itukah, hingga para anggota dewan yang terhormat merasa tak perlu hadir dan menyerahkan solusi persoalan ancaman terhadap bangsa dan negara kepada segelintir koleganya di gedung dewan?

Ala kulli hallin, UU yang bertahun-tahun proyeknya mangkrak karena terlalu banyak pasal kontroversial dan dianggap sarat kepentingan ini akhirnya sudah berhasil disahkan. Dengan demikian, rezim penguasa kini sudah punya alat baru untuk memukul siapapun yang dianggap mengancam negara. Bahkan sebagian kalangan menilai kehadiran UU baru ini akan melahirkan represifme baru.
Namun ada satu hal yang jelas terbaca dari semua fenomena politik terkait isu radikalisme dan terorisme ini. Bahwa virus islamofobia sudah menjalar sedemikian rupa dalam tubuh rezim penguasa dan kini terus ditularkan pada seluruh level masyarakat dengan berbagai cara. Targetnya hanya satu, yakni mencegah kebangkitan Islam politik dan memberangus para pejuangnya.

Memang sejatinya, kebangkitan Islamlah yang menjadi ancaman utama bagi langgengnya hegemoni sistem neolib kapitalisme global, sekaligus menjadi ancaman bagi sekelompok elit dan segelintir para kroni yang diuntungkan dari tegaknya sistem batil itu. Sehingga terang terlihat bahwa Islam politik dan Khilafah adalah sasaran bidik sebenarnya. Untuk itu, ikhtiar monsterisasi dan kriminalisasi terhadap ide dan pengembannya terus dilakukan agar umat menjauh, bahkan ikut bersama memeranginya, dengan menebar virus islamofobia.

Waspada Islamofobia

Islamofobia memang bukan jenis penyakit baru. Penyakit ini memang diidap oleh musuh Islam dan berusaha disebar di kalangan umat Islam terutama para komprador yang berkhidmat pada kepentingan mereka. Selain sangat berbahaya, penyakit ini terbukti membutakan mata umat dari melihat akar masalah sebenarnya. Yakni bahwa ancaman terhadap rakyat dan negara bukan datang dari agama mereka melainkan dari sistem dan paham-paham yang sengaja diterapkan dan dicekokkan oleh musuh kepada mereka.

Dengan penyakit ini mereka tak mampu melihat, bahwa semua krisis yang terjadi adalah dampak dari penerapan sistem sekuler dan hegemoni sistem kapitalisme. Krisis ekonomi dan krisis moneter yang berdampak pada jauhnya umat dari harapan hidup sejahtera dan gap sosial yang makin menganga; krisis moral yang berdampak menjauhkan generasi dari masa depan peradaban cemerlang, krisis politik yang membuat negara hilang kedaulatan dan dijajah oleh kepentingan asing, termasuk upaya-upaya makar kelompok separatis Maluku dan Papua, juga berbagai krisis lainnya. Semua tak lain adalah konsekuensi logis dari berkhidmatnya bangsa ini pada paham dan sistem buatan penjajah. Bukan karena Islam.

Inilah yang menjadi PR kita semua. Menyadarkan bahwa ancaman sesungguhnya bukan Islam dan para pengembannya, melainkan paham dan sistem yang dipaksakan oleh penjajah, seperti paham sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme, serta sistem neolib kapitalisme.

Islam justru penawar yang dibutuhkan oleh umat agar bisa segera keluar dari semua krisis. Karena Islam datang dari Zat yang menciptakan manusia dan alam kehidupan dan ajaran-ajarannya memang berfungsi sebagai guidence alias way of life agar manusia bisa meraih kebahagiaan hakiki. Tak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Dan kerahmatan itu hanya akan terwujud jika Islam diterapkan dengan penuh keimanan. Sebagaimana sejarah telah membuktikan betapa ketika umat konsisten menjalankan hukum-hukum Islam dan menerapkannya sebagai sistem kehidupan, umat Islam bangkit menjadi mercusuar peradaban yang menerangi dunia selama belasan abad.

Karenanya, islamofobia ini harus dilawan. Caranya, dengan konsisten melakukan penyadaran tanpa kekerasan. Seraya berhusnudzan dan berharap Allah SWT akan terus memberikan pertolongan. Sungguh Allah telah menjanjikan bahwa bandul sejarah di akhir zaman akan kembali kepada umat Islam. Berbagai prediksipun menyatakan demikian. Sehingga sekeras apapun upaya membungkam dakwah Islam, akan menemui kegagalan.[] Mnews

%d blogger menyukai ini: