Perempuan dan Terorisme

Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com — ‘‘Korban terbesar terorisme adalah umat Islam..,” tukas John Pilger, Jurnalis dan pembuat film dokumenter.

Rentetan teror bom yang terjadi di pertengahan Mei 2018 tidak hanya menyisakan kepedihan pada korban dan keluarganya, namun juga membawa dampak amat buruk bagi umat Islam. Ramadan yang semestinya menjadi sarana untuk menguatkan iman Islam, menjadi rusak dengan berkembangnya su’udzdzan dan persekusi atas umat Islam. Apalagi, buntutnya, agenda deradikalisasi mulai serius melibatkan perempuan, yang ‘muncul’ sebagai figur sentral dalam peristiwa pemboman di Surabaya dan Sidoarjo.

Puji Kuswati bersama dua anak perempuannya Fadila dan Pamela, dinyatakan sebagai peledak Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya. Sehari setelahnya, Puspitasari dan suaminya -Anton Febrianto- juga diklaim sebagai pelaku bom di Sidoarjo. Sebelumnya, polisi mengamankan terduga teroris bernama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah yang dianggap sedang menyusun strategi penyerangan saat kericuhan di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok (12/5/18). Selanjutnya, dalam penggrebekan di tiga lokasi di Tangerang (16/5/18), Densus 88 menangkap tiga terduga teroris, seorang di antaranya perempuan.

Perasaan rakyat Indonesia terusik. Mereka mengutuk perempuan-perempuan itu, yang notabene adalah seorang ibu, sungguh tega mengorbankan diri dan anak-anaknya. Mayoritas pendapat –yang turut dikendalikan entitas-entitas tertentu, termasuk media mainstream– membentuk koor yang sama: tindakan biadab itu berasal dari ide radikal, yang bermuara pada ajaran Islam. Sekularisme yang mendera umat, menjadi pembenaran untuk menyingkirkan ajaran Islam yang mereka sebut ekstrem. Jihad -yang dianggap sebagian kalangan sebagai cara instan untuk meraih surga- menjadi kian terlarang untuk diajarkan.

Tafsir Gender dalam Proyek KontraTerorisme

Di sisi lain, muncul tafsiran yang memang dimiliki kalangan yang acap kali menyudutkan Islam sebagai agama yang tidak berpihak pada perempuan. Seperti narasi Brookings Institute yang mengungkapkan bahwa pelibatan perempuan sebagai ‘pengantin jihad’ (brides of fighters) atau partisipan pasif di kelompok jihadi, mengarah pada penentangan terhadap ajaran Islam yang misoginis terhadap perempuan. Banyak perempuan yang benar-benar bergabung dengan kelompok-kelompok ini melihatnya sebagai bentuk pemberdayaan dan pembebasan. Senada dengan pendapat Lies Marcoes -peneliti isu gender dan radikalisme-, “Mereka tak sekadar memiliki impian untuk ‘mencium bau surga’ melalui suaminya belaka, melainkan melalui peran sendiri dengan membawa anak-anak yang telah ia manipulasi dalam suatu keyakinan.

Lebih lanjut, keterlibatan mereka dikaitkan dengan keberadaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), melalui kesamaan bahan peledak yang digunakan. Dan bukan kebetulan jika bahan peledak yang digunakan para pelaku bom Surabaya dan Sidoarjo, dijuluki ISIS sebagai The Mother of Satan –berbahan aktif Triacetone Triperoxide/TATP-, karena daya eksplosifnya amat besar. Setelah Al Qaida, ISIS acap kali dimanfaatkan Barat dan kroni-kroninya sebagai alat untuk mendiskreditkan ajaran Islam.

Pelekatan perempuan dengan tindak terorisme ISIS mulai dilakukan pada Dian Yulia Novi yang telah divonis tujuh setengah tahun penjara setelah terbukti merencanakan serangan bom di Istana Negara 11 Desember 2016. Dian mengaku rela menjalani amaliyah dengan menjadi ‘pengantin’ setelah mendapat perintah langsung dari Bahrun Naim, gembong ISIS di Indonesia. Selain Dian, ada Ika Puspitasari yang dituduh akan melakukan aksi bom bunuh diri di Bali, namun terlanjur ditangkap polisi. Polisi juga menangkap Tutin Sugiarti, penjual obat herbal dan terapis pengobatan Islam, yang diduga memfasilitasi perkenalan Dian dengan pimpinan sel ISIS. Arinda Putri Maharani – istri pertama Muhammad Nur Solihin, tersangka otak pelaku bom panci yang disiapkan untuk diledakkan Dian – istri kedua Solihin, juga ditangkap.

Perempuan yang bergabung dengan ISIS perannya beragam. Mereka yang pergi ke Suriah, selain turut dalam pemberontakan, seperti Brigade Al-Khansa yang terdapat di Raqqa, juga dianggap memiliki dampak simbolis sebagai public relation dalam rekruter. Juga tak lupa, peran ideologis sebagai istri dan ibu dalam menciptakan dan mempertahankan kekhalifahan ISIS. Mereka adalah rahim generasi khalifah berikutnya.

Sidney Jones, peneliti terorisme Institute for Policy Analyst of Conflict (IPAC) menyebutkan serangan yang diinisiasi ISIS sejak semula sudah menjadikan masalah teror ini berkaitan dengan keluarga. Khalifah ISIS meminta kepada seluruh pengikutnya untuk hijrah ke Suriah supaya ayah bisa bertempur dan ibu bisa melahirkan anak, mengajar, dan mengobati yang terluka. Sedangkan anak-anak bisa tumbuh dalam negara Islam yang sesungguhnya. “ISIS berhasil mengubah konsep jihad menjadi urusan keluarga, dengan peran untuk semua orang. Perempuan adalah ‘singa betina’ anak-anak adalah ‘anak singa’. Setiap orang diberi misi,” ucap Jones.

Ali Fauzi –adik terpidana bom Bali Amrozi bersaudara- menduga kemunculan gerakan teror bersama keluarga ini karena dilatari motif utama, yakni ibadah. Motif ibadah ini, tak mungkin hadir tanpa ada kesadaran ideologis. Ideologi ini menjadi pemahaman ekstrem dari tafsir ajaran dan pemikiran agama yang sudah menjangkiti isi kepala pengikutnya seperti keluarga Dita Oepriarto, Anton Febrianto, dan keluarga terakhir yang meledakan bom di Polrestabes Surabaya—identitas pelaku belum diungkap polisi. Pernyataan Ali Fauzi –yang kini bergabung dengan Komite Penanggulangan Aksi (KOMPAK)- menjadi kata kunci yang disasar pemerintah dan jajarannya untuk kian masif menggencarkan gerakan kontraterorisme, termasuk deradikalisasi dan netralisasi paham (yang dianggap) radikal. Terlepas dari kontroversi rekayasa di balik peristiwa bom, aroma kriminalisasi ajaran Islam ideologis kian menguat. Bila demikian, Indonesia memang sedang menjalankan dikte-dikte imperialisme Barat yang dijalankan di hampir semua dunia Islam. Bisa jadi, selama ini pelibatan perempuan dalam tindakan deradikalisasi masih minim. Harus ada peristiwa besar agar semua elemen masyarakat bisa digencarkan dan diaruskan dalam proyek itu.

Padahal PBB telah meluncurkan General Recommendation 30 CEDAW yang menekankan negara untuk melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender akibat berbagai macam konflik, termasuk dalam konteks terorisme. Resolusi Dewan Keamanan PBB no.1325 tentang “Perempuan, Perdamaian dan Keamanan” memperkuat rekomendasi tersebut. Sementara resolusi DK PBB no.2178 tahun 2014 menekankan pemberdayaan perempuan sebagai faktor mitigasi dalam penyebaran kekerasan radikalisme. Resolusi 2242 (tahun 2015) menyerukan negara-negara untuk membuat laporan global study 1325, memasukkan agenda perempuan, perdamaian dan keamanan dalam agenda pembangunan 2030. Buntutnya, PBB mendorong kepemimpinan perempuan masuk ke semua level pengambilan keputusan.

Semuanya kembali pada isu gender. Butuh peran aktif perempuan dalam menciptakan keamanan sesuai tafsiran Barat. Proyek ini memang sedang diaruskan dunia. Di Amerika Serikat, pada tanggal 27 Februari 2018, Jamille Bigio di hadapan U.S. House Foreign Affairs Subcommittee on Terrorism, Nonproliferation, and Trade juga membahas mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dalam pencegahan dan mitigasi radikalisasi dan terorisme. Bigio menggambarkan bagaimana perempuan dan anak perempuan sering menjadi sasaran pertama kelompok ekstremis. Kelompok ini dinilainya banyak mendapatkan keuntungan secara strategis dan finansial dari perempuan. Sayangnya, pemerintah dan organisasi nonpemerintah masih terjebak dalam upaya tradisionil untuk memerangi radikalisasi.

Untuk memperkuat upaya kontraterorisme, Bigio merekomendasikan pemerintah AS agar menyusun strategi nasional untuk melawan kelompok ekstrimis dengan memerhatikan peran perempuan. Karenanya, sumber daya untuk memfasilitasi keterlibatan perempuan untuk memaksimalkan keuntungan atas investasi pertahanan. Pemerintah juga harus menangani kebutuhan dan pengalaman khusus perempuan, baik sebagai korban, pelaku mitigasi, atau pelaku kejahatan. Dan tak kalah penting adalah, upaya kerja sama keamanan AS harus memberikan bantuan teknis untuk meningkatkan perekrutan, retensi, dan kemajuan perempuan di sektor keamanan.

Waspada Upaya Membelah Umat

Barat yang gagal dalam beberapa proyek besarnya di dunia Islam, salah satunya dalam menghujamkan nilai gender, tidak lantas berputus asa. Mereka mendomplengkan bahasan gender dalam isu kontra terorisme dan deradikalisasi, termasuk yang terjadi di Indonesia. Bahasan peran perempuan dalam radikalisme sebenarnya telah menjadi satu topik bahasan dalam Kongres Ulama Perempuan Internaional (KUPI) di Cirebon 25-26 April 2017 lalu. Topik serupa juga dibahas dalam rapat kerja nasional Fatayat Nahdlatul Ulama di Palangkaraya, awal Mei 2017. Ketua Umum Fatayat NU Anggia Ermarini mengatakan bahwa saat ini radikalisme juga menyasar perempuan dan anak sehingga nilai-nilai Islam Nusantara harus bisa ditanamkan sejak dini pada keluarga. Sebelumnya, pada tanggal 21 April 2017 di Bandung telah dilantik 500 daiyah anti radikalisme oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius.

Barat, melalui RAND Corporation memang telah membuat rekomendasi strategis yang harus ditempuh AS untuk menghadapi tantangan di dunia Islam. Mereka meyakini bahwa kaum ekstremis tidak bisa diperangi dengan cara militer saja. Karena itu, mereka perlu bertempur secara kultural dan sosial. Ada banyak solusi yang ditawarkan seperti promosi jaringan moderat, mengganggu jaringan radikal dan melakukan edukasi tentang “medan pertempuran” ide-ide kritis, melibatkan umat Islam dalam politik ‘normal’ (baca : demokrasi) hingga reformasi madrasah dan mesjid.

Berdalih edukasi dan penjagaan keamanan, maka kalangan perempuan akan dimainkan dan diberi peran penting dalam menderaskan pemahaman Islam moderat yang dilambangkan lebih ramah dan toleran. Padahal, penderasan paham ini justru akan menjauhkan Islam dari hakekat sejatinya sebagai ajaran yang kaaffah dan pemersatu hakiki antar seluruh golongan.

Karenanya, umat wajib waspada dengan strategi devide et impera ini. Kesatuan dan persatuan Muslim yang menjadi taruhan. Sekali lagi, kita, yang disatukan dengan ukhuwah yang luhur, hanya menjadi korban atas polarisasi ini: golongan radikal/ekstrimis versus moderat. Tak ada kelompok Muslim yang diuntungkan. Hanya Barat yang bertepuk tangan dan mengambil keuntungan maksimal atas upaya kriminalisasi Islam.

Khatimah

Terorisme bukan ajaran Islam. Dan tidak sepatutnya Barat dan rezim pembenci Islam mendiskreditkan sebagian ajaran Islam dan berusaha menghapusnya dari benak umat. Sekalipun Islam tegas dalam menempatkan yang haq dan bathil, bukan berarti hal ini menjadi celah untuk kian mengkriminalisasi ajaran Islam yang mereka sebut ekstrim, dan menggantinya dengan paham moderat. Sudah sepatutnya jika umat berpikir dan bersikap jernih dalam memandang kasus apapun yang menimpa umat, terutama kasus terorisme, agar tidak terjebak pada rekayasa Barat. Allahumma musta’an fii umuril Muslimin.[]

%d blogger menyukai ini: