Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Kepercayaan Umat

Penulis: Ruruh Anjar

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu ada orang yang kepercayaan. Orang yang paling terpercaya di tengah umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR Al-Bukhari 4382 dan Muslim 2419)

Abu Ubaidah bernama asli Amir bin Abdullah bin al-Jarrah al-Fihri al-Qurasyi رضي الله عنه. lahir 40 tahun sebelum hijrah, atau 584 M. Ia adalah laki-laki yang berperawakan kurus berwajah cekung.

Janggutnya tipis. Posturnya tinggi bungkuk, dan patah gigi serinya. (Thabaqat Ibnu Saad).

Bersyahadat

Ia bersyahadat sehari setelah islamnya Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dakwah Abu Bakar menjadi wasilahnya memeluk Islam, bersama dengan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan al-Arqam bin Abil Arqam.

Mereka menyampaikan kepada Rasulullah bahwa mereka telah menerima kebenaran Islam. Mereka inilah pondasi kokoh dan pertama dakwah Islam tersebar di Kota Makkah. (al-Mustadrak, 3/266).

Abu Ubaidah adalah salah seorang dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga. Ia dua kali berhijrah, turut serta dalam perang Badar dan perang-perang setelahnya.

Saat helm perang Rasulullah bengkok, menghujam hingga mematahkan gigi beliau, Abu Ubaidah-lah yang melepaskan helm yang sempit itu dari kepala Rasulullah.

Saat barisan kaum muslimin porak-poranda di Perang Uhud, ia tetap teguh bersama Rasulullah ﷺ  dalam kepungan musuh (al-Mustadrak 3/266 dan al-Ishabah 2/243).

Al-Wala’ dan Al-Bara’

Salah satu penancapan yang menghujam hasil didikan Rasulullah ﷺ  pada Abu Ubaidah adalah dalam permasalahan al-wala’ (loyal) dan al-bara’ (tidak loyal), yaitu pada Perang Badar.

Di perang tersebut, Abu Ubaidah bertemu dengan ayahnya di pihak musuh. Dikisahkan, Abu Ubaidah  menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati.

Tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan mengejarnya ke mana ia lari. Ada seorang prajurit yang terus mengincar dan mengejar Abu Ubaidah dengan sangat beringas.

Abu Ubaidah berusaha menghindar dan menjauhkan diri agar tidak bertarung dengan orang itu. Namun, prajurit itu tidak mau berhenti mengejarnya, yang ternyata ayah Abu Ubaidah.

Abdullah bin Syaudzb menceritakan, “Ayah Abu Ubaidah menantang sang anak di Perang Badar. Saat duel itu Abu Ubaidah berhasil membuat ayahnya terpojok. Saat sang ayah sudah banyak terluka, Abu Ubaidah pun membunuhnya.

Allah menurunkan wahyu-Nya berkaitan dengan kejadian ini,

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” [QS al-Mujadilah: 22] (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani, al-Hakim, dan al-Baihaqi).

Tentu kisah ini mungkin akan sulit diterima dan dibayangkan, terlebih dengan kacamata orang-orang toleran yang tidak mengenal al-wala’ dan al-bara’.

Mungkin mereka kecewa dengan agama ini dan orang-orang yang dijadikan teladan dalam agama. Hanya saja cara pandang al-wala’ dan al-bara’ berbeda.

Abu Ubaidah adalah seorang yang berakhlak mulia, yang disebut sebagai kepercayaan umat ini. Spirit saat berhadapan dengan sang ayah adalah spirit dari Allah.

Ia tidak menimbang dengan pandangan dunia yang fana, sehingga berhasil keluar dari sekat dan ikatan duniawi.

Jujur dan Tepercaya

Selain itu, Rasulullah ﷺ  pernah mengutus Abu Ubaidah رضي الله عنه  sebagai orang yang jujur dan dipercaya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Hudzaifah رضي الله عنه.

“Orang-orang Najran pernah datang kepada Rasulullah ﷺ  seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, utuslah kepada kami seseorang yang jujur dan dipercaya.’ Rasulullah ﷺ  bersabda, “Sungguh aku akan mengutus kepada kalian seseorang yang sangat jujur dan dapat dipercaya. Para sahabat merasa penasaran dan akhirnya menunggu-nunggu orang yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Ternyata Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Ada juga di kesempatan lain, diriwayatkan oleh Anas bahwasanya penduduk Yaman datang menghadap Rasulullah ﷺ  dan memohon, “Kirimkan bersama kami pria yang dapat mengajarkan Al-Qur’an dan as-sunah kepada kami.” Rasulullah ﷺ  kemudian mengambil tangan Abu Ubaidah dan berkata, “Orang ini adalah kepercayaan umat.” (HR Muslim).

Perang Uhud

Abu Ubaidah juga seorang yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ  dan senantiasa membela beliau. Dalam Thabaqat Ibnu Saad, Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan, “Aku mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saat Perang Uhud, sebuah batu dilemparkan ke wajah Rasulullah ﷺ, aku merasa lemparan itu begitu keras sehingga dua rantai helm beliau sendiri terputus. Aku bersegera berlari menuju Rasulullah dan kulihat seorang pria bergegas lari ke arahnya. Orang itu bergerak ke arah Rasulullah seolah-olah sedang terbang. Aku berdoa untuknya, ‘Ya Allah, jadikan orang ini sebagai sarana penyebab kebahagiaan.’ (Artinya, apa yang ia lakukan harus menjadi penyebab kebahagiaan bagi Nabi dan juga bagi kita).

Ketika kami mencapai Rasulullah, ternyata kulihat Abu Ubaidah bin al-Jarrah itulah yang mendahuluiku. Ia berkata padaku, ‘Wahai Abu Bakar, kumohon padamu, demi Allah, biarlah aku yang mengeluarkan rantai ini dari wajah Rasulullah.’ Abu Bakar mengatakan, “Kuizinkan ia untuk melakukannya.”

Kemudian Abu Ubaidah meraih salah satu dari dua rantai tersebut dengan giginya dan mencabutnya begitu keras sehingga beliau terjatuh di tanah dengan punggungnya. Beliau melakukannya sangat kuat sehingga salah satu gigi depannya patah. Kemudian ia gigit rantai satu lagi dengan giginya dan mencabutnya dengan sangat keras, gigi depannya yang lain juga patah.”

Berakhlak Mulia

Abu Ubaidah adalah seorang yang berakhlak mulia, sangat tenang, zuhud, dan rendah hati.

Umar pernah berkata dengan orang-orang yang duduk bersamanya, “Buatlah harapan!” Orang-orang pun menyampaikan harapan-harapan mereka.

Lalu Umar berkata, “Adapun aku, aku berharap sebuah rumah yang dipenuhi orang-orang semisal Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Saat terjadi perpedaan pendapat antara Muhajirin dan Anshar tentang siapa yang memimpin setelah Rasulullah ﷺ , Abu Ubaidah mengucapkan satu kalimat yang menyatukan.

Ia berkata, “Wahai orang-orang Anshar, kalian adalah yang pertama menolong dan membantu. Karena itu, jangan sampai kalian menjadi yang pertama berubah.”

Ketika Umar bin Khaththab menjadi khalifah, keputusan pertama yang ia buat adalah menunjuk Abu Ubaidah sebagai panglima perang menggantikan Khalid bin al-Walid. Umar berkata,

“Kuwasiatkan padamu untuk bertakwa kepada Allah Yang Maha Abadi sementara selain-Nya fana. Dialah yang memberi petunjuk kepada kita. Mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya. Aku telah menunjukmu menjadi panglima perang menggantikan Khalid bin al-Walid. Atur mereka sesuai dengan wewenangmu. Jangan kau biarkan kaum muslimin terjerumus dalam kebinasaan dengan semata-mata hanya berharap rampasan perang. Jangan kau posisikan mereka di satu posisi sebelum kau periksa kondisi mereka. Dan mengetahui tempat yang akan mereka datangi. Jangan kau kirim pasukan kecuali dengan jumlah yang besar. Jangan sampai kau hadapkan kaum muslimin pada kebinasaan. Kalau kau lakukan itu, kau telah menimpakan musibah untukmu demikian juga untukku. Tundukkan pandangamu dari dunia. Dan palingkan hatimu darinya. Waspadalah! Jangan sampai engkau binasa seperti binasanya umat-umat sebelummu. Padahal engkau telah tahu kekalahan mereka.” (Tarikh ath-Thabari, 3/434).

Umar pun pernah berkata, “Aku tidak akan mengubah suatu perkara yang telah diputuskan oleh Abu Ubaidah.” (Tarikh ath-Thabari, 3/434).

Sang Penakluk

Abu Ubaidah adalah sang penakluk Syam di masa kekhalifahan Umar. Ia memimpin tentara muslimin menaklukkan wilayah Syam (Suriah) dan berhasil memperoleh kemenangan berturut-turut.

Akhirnya, seluruh wilayah Syam pun takluk di bawah kekuasaan Islam, dari tepi sungai Furat di sebelah timur hingga Asia kecil di sebelah utara.

Dalam satu peperangan, ia pernah berpidato membakar semangat pasukannya dengan mengatakan, “Ibadallah, tolonglah agama Allah, pasti Allah akan tolong kalian. Allah akan meneguhkan kaki kalian. Ibadallah, bersabarlah. Karena kesabaran adalah jalan selamat dari kekufuran. Rida dari Allah. Keselamatan dari ketergelinciran. Jangan tinggalkan barisan. Jangan berikan musuh peluang. Jangan mulai duluan berperang. Siapkan dulu pasukan pemanah. Kita berlindung dulu di balik tameng. Jangan banyak bicara kecuali zikir kepada Allah Azza wa Jalla. Hingga Allah sempurnakan urusan kita ini insyaallah.”

Wafat

Abu Ubaidah bin al-Jarrah wafat di tengah wabah thaun amwas di Syam pada tahun 18 H [Al-Isti’ab ‘ala Hasyiyah al-Ishabah, 3/3]. Masih di masa kekhilafahan Umar bin Khaththab رضي الله عنه, saat berada dalam perjuangan membela agama Islam.

Rasulullah ﷺ  mengabarkan, siapa yang wafat karena penyakit ini, ia seorang syahid.

Selain itu, ia juga wafat fi sabilillah. Abu Ubaidah menggabungkan dua keutamaan tersebut.

Saat Abu Ubaidah dimakamkan, Muadz bin Jabal berkhotbah di tengah masyarakat yang hadir. Ia menyebutkan banyak keutamaan Abu Ubaidah dalam khotbahnya.

Abu Said al-Maqbari berkata, “Saat Abu Ubaidah terfinfeksi wabah thaun, ia berkata, ‘Muadz, imamilah orang salat’. Muadz pun mengimami masyarakat. Lalu Abu Ubaidah bin al-Jarrah wafat. Muadz berdiri dan menyampaikan khotbah, ‘Masyarakat sekalian bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa yang kalian kerjakan. Karena tidaklah seorang hamba Allah menghadap-Nya dalam kondisi ia sudah bertaubat kecuali Allah mewajibkan diri-Nya sendiri untuk mengampun orang tersebut.”

Muadz melanjutkan, “Kalian dikejutkan dengan wafatnya seseorang. Yang aku tak pernah melihat seorang yang paling sedikit kesalahannya, paling baik hatinya, paling jauh dari kejahatan, paling cinta dengan akhirat, dan paling menginginkan kebaikan untuk masyarakat melebihi dirinya. Doakan dia rahmat. Dan mari kita ke tanah lapang untuk menyalatkannya. Demi Allah, kalian tidak akan mendapatkan orang semisalnya lagi.”

Muadz maju ke depan mengimami salat jenazahnya. Muadz bin Jabal, Amr bin al-Ash, adh-Dhahak bin Qays adalah orang-orang yang masuk ke liang kuburnya dan meletakkan jenazah Abu Ubaidah di lahat.

Saat tanah sudah menimbun jasad Abu Ubaidah, Muadz berkata, “Abu Ubaidah, sungguh aku akan memujimu dan yang kukatakan ini bukanlah dusta yang aku khawatir Allah akan menghukumku. Demi Allah, sungguh engkau adalah orang yang banyak berzikir mengingat Allah. Orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Orang yang tunduk dan patuh kepada Allah. seorang yang rendah hati. Yang menyayangi anak-anak yatim, orang-orang miskin. Dan tidak suka dengan orang-orang yang berkhianat dan sombong. (al-Mustadrak, 3/295).

Betapa tinggi kedudukan Abu Ubaidah yang begitu taat kepada Allah, memahami bagaimana mestinya sikap seorang muslim yang memiliki syakhshiyah Islam, dan tak gentar di garda terdepan membela Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah merahmatinya. Wallahu a’lam. [MNews/Juan]

*Disarikan dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *