[Tapak Tilas] Kufah, Pusat Peradaban Islam yang Redup Tersebab Fitnah

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Kufah dikenal sebagai kembaran Kota Basrah. Kedua kota ini terletak di wilayah Irak yang takluk dalam kekuasaan Islam sekitar tahun 637 M. Penaklukan ke wilayah Irak, termasuk di dalamnya Basrah dan Kufah, sudah dirintis oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Setelah beliau menyelesaikan masalah-masalah internal setelah Rasulullah wafat, seperti munculnya para penolak zakat dan nabi palsu, beliau mulai mengutus ekspedisi militer ke wilayah Irak di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid ra..

Lalu misi ini disempurnakan oleh Khalifah Umar dengan mengutus Saad bin Abi Waqqas dan pasukannya. Hingga pada masa beliaulah seluruh wilayah Irak yang merupakan salah satu basis kekuasaan Persia bisa benar-benar ditaklukkan, termasuk Kufah, Busra, Madain, dan Hirah.

Menjadi Basis Militer dan Politik

Setelah Irak sempurna ditaklukkan, Kufah dan Basrah pun dipilih sebagai dua kota yang pertama dibangun oleh tentara muslim. Posisinya yang menghubungkan Madinah dengan wilayah kekuatan Persia dan Romawi, serta dekat dengan sungai Eufrat dengan cuaca dan sumber air yang banyak, memang membuatnya cocok untuk dijadikan basis pertahanan umat Islam.

Maka, atas usul Sa’ad kepada Khalifah Umar, dipilihlah dua kota ini sebagai basis pertahanan permanen negara Islam. Barak-barak militer pun didirikan demi memudahkan misi penaklukan ke wilayah-wilayah kekuasaan Persia dan Romawi yang lainnya.

Bahkan kemudian Kufah dijadikan sebagai pusat pemerintahan daerah untuk kawasan bekas kekuasaan Persia, yang mana Sa’ad juga membangun gedung pemerintahan dan masjid sebagai representasi kepemimpinan Islam di kawasan.

Baca juga:  Sutayta al-Mahamali, Muslimah Pengembang Aljabar dari Baghdad

Hal inilah yang menyebabkan Kufah dengan cepat tumbuh dan berkembang, dan selanjutnya menjadi kota penting kedua setelah Madinah. Bahkan mampu menarik perhatian penduduk dari daerah lain untuk bermigrasi ke wilayah baru ini.

Di kalangan sahabat Rasulullah saw. pun banyak yang akhirnya hijrah dan bermukim di kota ini. Di antaranya Saad bin Abi Waqqas, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Mas’ud, Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Huzaifah bin Yaman, dan lain-lain, radiyallaahu ‘anhum.

Namun, tak lama kemudian, setelah terbunuhnya Utsman, kaum muslimin pun ditimpa fitnah kubra. Maka, pada masa Khalifah Ali, pusat administrasi pemerintahan Islam dipindahkan dari Madinah ke Kufah. Jadilah Kufah sebagai pusat politik sekaligus militer umat Islam.

Namun setelah itu, Kufah menjadi saksi bisu era kelam Islam di bidang politik. Perseteruan antarumat yang dipicu fitnah besar kelompok Yahudi, serta berbagai peristiwa keguncangan politik nyaris selalu melibatkan Kota Kufah.

Di sinilah kaum Khawarij dan Syiah mulai muncul. Di sini pula darah Sayidina Ali dan Husain bin Ali tertumpah. Semua peristiwa ini benar-benar menyisakan kepedihan dan era suram kepemimpinan dan persatuan umat Islam dari zaman ke zaman.

Konon, kemunculan kaum Khawarij di kota ini mengonfirmasi apa yang disampaikan Rasulullah saw. jauh sebelum kota ini ditaklukkan. Diriwayatkan oleh Bukhari, beliau saw. bersabda sambil menunjukkan jari ke arah Irak, ”Akan keluar dari sana suatu kaum yang membaca Al-Qur’an, tidak sampai melewati tenggorokannya. Mereka keluar dari Islam sebagaimana panah melesat dari busurnya.”

Menjadi Pusat Peradaban Islam

Yang luar biasa, sekalipun Kota Kufah sempat menjadi pusat kekisruhan politik yang berkepanjangan, tetapi kota ini pun sempat tercatat oleh tinta emas sejarah sebagai salah satu pusat peradaban Islam.

Baca juga:  Khilafah Melahirkan Intelektual Inovatif Pembangun Peradaban Islam

Kehadiran para sahabat dan para tabiin di kota ini membuat ilmu pengetahuan Islam berkembang dengan sangat pesat. Pada masa Khalifah Umar misalnya, Abdullah bin Mas’ud membuka pusat pembelajaran ilmu tafsir Al-Qur’an dan ilmu hadis bagi masyarakat Kufah dan kaum terpelajar yang sengaja datang ke sana.

Pada masa Umayyah, kota ini tetap berkembang sebagai pusat peradaban Islam, sekalipun pusat pemerintahannya dipindahkan ke Damaskus Suriah. Begitu pula saat masa Abbasiyah, sekalipun pusat pemerintahan Khilafah berpindah dari Damaskus ke Kota Baghdad.

Kota Baghdad menjadi saksi lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim di berbagai bidang keilmuan yang dikenal sepanjang zaman. Di antara mereka ada Abu Hanifah bin Nu’man Al-Kufi (699—767 M), yang masyhur disebut Imam Hanafi, salah satu dari Imam empat mazhab fikih.

Ada pula Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi. Beliau dikenal sebagai filosof muslim pertama, sekaligus ahli matematika dan astronomi yang hidup di era kejayaan dinasti Abbasiyah dan dikenal dengan Al-Kindi.

Juga ada Al-Qalqashandi, seorang seniman muslim yang berhasil mengembangkan jenis kaligrafi “khat kufi”. Serta Abu Musa Jabir bin Hayyan (lahir di Kufah pada 750 M) yang dikenal sebagai ahli kimia terkemuka di era Abbasiyah.

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Khalifah Umar bin Khaththab ra. Membangun Kota Bervisi Kemaslahatan

Pudarnya Cahaya Kufah

Friksi antara pemerintah dengan penduduk Kufah tampak dengan dipindahkannya ibu kota Khilafah dari Damaskus yang dianggap pro Syiah di Kufah ke kota Bagdad. Di era itu, kekuatan Khawarij dan Syiah memang kian mengental sejalan dengan upaya-upaya kaum munafikin untuk menanamkan duri dalam daging di tengah kaum muslim.

Kebijakan sentralisasi yang diterapkan Dinasti Abbasiyah juga menambah kebencian penduduk Kufah pada pemerintah. Hingga pemberontakan demi pemberontakan dilakukan penduduk Kufah yang alih-alih mengantarkannya pada kebangkitan, tetapi justru membuatnya kian tenggelam dalam kemunduran.

Pada masa-masa berikutnya, Kufah tak lagi menjadi salah satu poros sejarah peradaban Islam. Bahkan dinasti-dinasti kepemimpinan Islam tak merasa penting untuk menjadikan wilayah ini sebagai basis kekuatan. Hingga akhirnya Kufah dikuasai paham Syiah bahkan hingga sekarang.

Saat ini, Kufah menjadi bagian provinsi Najaf di Irak. Sebagaimana kota-kota lainnya, Kota Kufah sempat mengalami kehancuran parah saat invasi Amerika pada 2003.

Namun, bagaimana nasibnya hari ini, sulit bagi kita untuk mendapatkan gambarannya. Setidaknya hal ini menunjukkan bahwa Kufah tak lagi memiliki posisi politis sebagaimana yang pernah dialaminya pada masa lalu. Hari ini, kedudukan Kufah hanya sebatas menjadi salah satu tempat ziarah kaum Syiah. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *