Idulfitri di Balkan, Manisnya Iman Mendorong Ketaatan

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA — Balkan adalah nama yang digunakan untuk menggambarkan Eropa bagian tenggara. Wilayah Balkan meliputi Albania, Bosnia & Herzegovina, Bulgaria, Kroasia, Kosovo, Macedonia, Montenegro, Romania, Serbia, dan Slovenia. Nama Balkan diambil dari nama pegunungan yang merentang dari Serbia hingga Laut Hitam.

Pada era komunis, di negara-negara bekas Yugoslavia tak ada libur lebaran. Umat Islam secara individual menyiapkan makanan khas untuk Ramadan dan idulfitri bernama ‘halwa’.

Kuliner ini terbuat dari adonan wijen, minyak, dan gandum yang diaduk kemudian dipanaskan dalam oven menjadi potongan roti yang berwarna kecoklatan. Aroma wangi roti yang khas saat dipanaskan akan menjadi tanda bahwa Ramadan akan segera tiba. Setelah matang, kue ditaruh di depan rumah dan boleh dinikmati siapa saja.

Dulu, di Balkan juga ada takbiran memukul bedug keliling seperti di Indonesia. Namun tradisi ini hilang saat komunis berkuasa. Sebagaimana di wilayah muslim lainnya, di Balkan juga ada acara silaturahim keliling kampung sambil mengucapkan selamat idulfitri secara berombongan.

Ada juga tradisi mengunjungi makam setelah usai melakukan salat idulfitri. Sebelum berangkat ke makam, kaum muslim Bosnia terlebih dahulu makan Halwa dan meminum  ‘Buren’ (minuman manis yang terbuat dari rendaman air mawar mewah). Makanan khas lainnya adalah kue ‘Baklava’ atau di Balkan disebut ‘Burnt. Baklava di Balkan adalah makanan wajib saat lebaran, seperti ketupat di Indonesia.

Menjelang perayaan idulfitri, masjid-masjid makin ramai dihias, seluruh kota mulai melakukan persiapan perayaan hari raya. Toko-toko ditutup dan penduduk berbondong-bondong membayar zakat dan sedekah idulfitri.

Sementara itu di Albania, selama era komunis, rezim tidak mengakui agama dan melarang penduduk Albania menjalankan agama. Masjid dan tempat ibadah lain dimusnahkan. Orang yang melanggar aturan pemerintah akan diberi hukuman berupa pemecatan hingga kurungan penjara. Namun rakyat Albania tetap menjalankan ibadah secara sembunyi-sembunyi.

Untuk mencoba menangkap orang-orang yang berpuasa, pemerintah saat itu membagikan secara gratis makanan yang susah didapat seperti keju, susu, dan daging ke sekolah atau pabrik. Banyak pekerja saat itu sengaja membawa cangkir teh ke tempat kerja, agar tidak dicurigai kalau sedang berpuasa.

Buka puasa pun dilakukan sembunyi-sembunyi dan dengan menu seadanya, yaitu air putih, kurma, atau sup paca khas Albania yang terbuat dari jeroan hewan. Meski dalam kondisi sulit, karena sudah merasakan manisnya iman dan lezatnya ibadah, semangat Ramadan pun tetap dijaga.

Kini setelah rezim komunis runtuh, Ramadan kembali menjadi perayaan yang ditunggu dengan suka-cita oleh umat Islam Albania. Setelah berpuluh tahun tidak bisa beribadah secara bebas, muslim Albania kembali dapat beribadah seperti muslim lainnya.

Generasi muda Albania merasakan lagi kehidupan beragama dalam komunitas Islam. Mulai dilakukan pembangunan masjid dan sekolah agama, organisasi lslam juga dibentuk. Muslim Albania biasanya berbuka puasa dengan air putih, kurma, dan dengan petulla, sejenis roti goreng.

Perayaan idulfitri berlangsung semarak selama tiga hari dan dipenuhi dengan ucapan Byram Mubarak yang berarti Lebaran yang Berkah. Hari pertama Syawal biasanya dirayakan bersama keluarga di rumah. Hari kedua dan ketiga adalah waktu untuk saling mengunjungi antar keluarga dan kerabat serta melakukan ziarah kubur.

Anak-anak mengenakan baju baru sambil berkeliling, mengetuk pintu rumah tetangga dan kerabat sambil mengucapkan Byram Mubarak. Mereka akan mendapatkan kantong kecil dari pemilik rumah yang berisi kue petulla, permen, buah, atau uang.

Demikianlah, keimanan pada Allah merupakan hal yang fitrah. Meski dihalang-halangi oleh rezim komunis dengan aneka cara, keimanan akan tetap menang. Sementara rezim komunis kalah dan hancur atas kuasa Allah Swt. Alhamdulillah manisnya Ramadan kembali dirasakan muslim Balkan. [MNews/Rgl]

 

Caption:

Meski dulu muslim Balkan dihalang-halangi untuk berpuasa oleh rezim komunis, mereka tetap menjalankan ibadah ini dengan semangat.

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *