Liberalisme Merusak Moral Calon Ibu

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS — Anggota DPR di Komisi VIII dari Fraksi PKS, Nur Azizah Tamhid dalam acara Diseminasi Pembatalan Pemberangkatan Haji Provinsi Jawa Barat (Jabar) 2020 di Kota Depok, 22/12/2020 lalu mengungkapkan 70 persen siswi SMP di Kota Depok sudah tidak lagi perawan.[1]

Data ini tentu mengejutkan, karena itu berarti sebagian besar dari siswi SMP, yang usianya baru 12-16 tahun, sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Pernyataan Nur Azizah ini ternyata didukung data Komnas Perlindungan Anak. “Kami sudah umumkan survei lima tahun lalu bahwa sebanyak 93,7 persen siswi SMP dan SMA di Kota Depok mengaku sudah tidak perawan. Jadi apa yang diungkapkan Bu Nur Azizah itu mendekati kebenaran,” ujar Ketua Komnas PA, Ariet Merdeka Sirait di depan sejumlah wartawan di Kota Depok, 23/12/2020.

Menurut Arist, dari angka 93,7 persen tersebut, 61,2 persen di antaranya mengaku memilih aborsi atau menggugurkan kandungan. “Survei di beberapa wilayah dengan sampling sekira 4.700 siswi SMP dan SMA. Jadi jika diturunkan persentase itu atau yang dilansir di Kota Depok itu dibenarkan dengan angka itu,” tegasnya.[2]

Buah Liberalisme Sistemis

Kerusakan moral remaja, khususnya remaja putri yang tercermin dari data Komnas PA dan Nur Azizah di atas, tentu sangat memprihatinkan. Remaja putri ini adalah para calon ibu, yang dikiaskan sebagai tiang negara.

Bila tiangnya saja rusak, bagaimana bangunannya tidak ambruk? Bila calon ibu sudah tidak bermoral, bagaimana mungkin mereka akan mencetak generasi bermoral?

Kerusakan para calon ibu ini tidak disebabkan satu faktor saja. Penyebabnya kompleks, berjalin berkelindan dalam sebuah sistem. Di dalamnya ada faktor keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Dari sisi keluarga, tampak keluarga semakin lemah dalam mendidik anak. Fungsi keluarga tercerabut, bukan lagi sebagai tempat yang nyaman dan melindungi. Kesibukan orang tua bekerja—termasuk ibu—membuat rumah kering dari kasih sayang yang dibutuhkan anak. Ia lantas mencarinya di luar rumah, di tengah teman-teman, lingkungan, dan di dunia maya.

Begitu pun fungsi pendidikan keluarga, telah tergantikan tv, media sosial, dan internet, yang mengajarkan anak-anak kagum dan terobsesi dengan pemikiran dan peradaban Barat, terutama liberalisme, paham kebebasan yang mengajarkan remaja untuk bebas berpikir dan bertingkah laku.

Dari sisi sekolah, kurikulum yang sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan, telah menjadikan pendidikan agama yang masuk kurikulum pendidikan hampa dari roh pengamalan.

Kekuatan agama sebagai way of life terkikis, tergantikan materialisme yang memuja hal-hal yang bersifat fisik: kecerdasan, kekayaan, prestasi, dan sebagainya. Inilah yang membuat pendidikan kering dari nilai dan akhlak seperti yang dinyatakan Ketua MUI Anwar Abbas.

Di masa pandemi, kondisinya semakin parah. Pendidikan agama berkurang porsinya, dan guru tidak bisa memantau langsung perkembangan moral siswa. Begitu pun pembelajaran daring berbasis internet, membuat anak-anak mengakses internet lebih bebas dengan pengawasan lebih longgar.

Kondisi ini membuat kasus kekerasan seksual via medsos selama 2020 lalu meningkat pesat. Data terakhir menunjukkan 281 kasus tercatat sepanjang 2019 sementara sudah ada 659 kasus dalam rentang waktu 10 bulan pada 2020.[3]

Di sisi lain, paham liberal membuat masyarakat menjadi permisif. Masyarakat cenderung tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk yang dilakukan para remaja. Bahkan terkesan sebagian pihak memang memiliki kepentingan untuk memanfaatkan gaya hidup liberal remaja.

Dalam beberapa kasus seks bebas yang dilakukan remaja di luar rumah, di losmen misalnya, pihak losmen tidak peduli yang datang memesan kamar adalah anak-anak remaja belasan tahun yang tentunya kelihatan bukan merupakan pasangan suami istri. Bagi mereka yang penting ada yang menyewa kamar losmen.

Begitu pun para penjual miras, tidak peduli yang membeli adalah anak-anak di bawah umur. Para pengunggah konten-konten porno, tidak peduli anak-anak akan ikut menonton, yang penting semakin banyak follower-nya. Tak jarang mereka memperalat para remaja putri dengan iming-iming cinta, pekerjaan foto model, atau tipuan lain untuk memperoleh konten-konten porno.

Kondisi ini diperparah dengan sikap pemerintah yang juga sekuler dan tidak mampu membuat aturan tegas dalam persoalan remaja dan pergaulan bebas mereka. Alih-alih memperkuat dasar pendidikan agama di sekolah, pemerintah justru mengadopsi program deradikalisasi untuk pelajar dengan menjauhkan mereka dari pemahaman yang benar tentang agama.

Begitu pun pemerintah tidak memiliki sanksi tegas terhadap perzinaan remaja. Paling remaja yang terjaring razia hanya diberi peringatan dan diminta untuk tidak mengulang perbuatannya. Tidak ada sanksi yang memberikan efek jera.

Pemerintah yang sekuler juga tampak dari sikap penolakan terhadap aturan-aturan syariah. Pornografi dan pornoaksi dilegalkan atas nama seni, pemblokiran situs-situs porno juga setengah hati dalam pelaksanaannya, karena ternyata remaja punya trik tersendiri untuk menembusnya.

Ditambah dengan para pejabat negara yang juga sekuler dan cenderung islamofobia, menolak aturan-aturan agama yang ditawarkan sebagai solusi.

Dengan berbagai faktor di atas, ditambah faktor internal remaja yang masih sangat mudah dipengaruhi, membuat liberalisme leluasa menyasar remaja dan memerangkapnya.

Solusi Sahih

Banyak pihak mencoba memberikan masukan untuk menyelesaikan masalah kerusakan moral remaja. Umumnya, solusi yang diberikan adalah memperkuat pembentukan karakter remaja oleh keluarga. Keluarga dianggap sebagai benteng bagi anak. Namun, apakah mungkin merealisasikan keluarga sebagai basis pendidikan anak tanpa ada bantuan dari sistem?

Orang tua yang sibuk bekerja, apakah mungkin untuk diminta memberikan perhatian penuh kepada anak? Apakah mungkin orang tua terus memantau pergaulan dan tontonan anak di tv, komputer maupun gawai? Sementara, orang tua bila tidak bekerja dua-duanya, kebutuhan hidup yang terus melangit tidak akan terpenuhi.

Kalaupun fungsi keluarga berjalan dengan baik, belum tentu juga anak menjadi baik. Ibarat kita membersihkan gorong-gorong, kalau yang kita selalu bersihkan hanya gorong-gorong depan rumah, sementara gorong-gorong tetangga terus mengalirkan kotoran melalui gorong-gorong kita, kapan akan bersihnya?

Dengan demikian solusinya harus merupakan solusi sistemis. Solusi dari sebuah sistem yang mampu untuk membentengi remaja dari serbuan isme-isme sesat seperti sekularisme, liberalisme, dan materialisme.

Solusi sahih itu adalah Islam dan hanya Islam. Sebagai benteng pertama, Islam mewajibkan orang tua untuk mendidik anak sebaik-baiknya. Bahkan Islam meng”iming-imingi” orang tua dengan doa anak saleh akan menjadi investasi pahala yang terus mengalir baginya sekalipun kematian sudah menjemput.

Islam juga memiliki mekanisme ekonomi yang menanggung kebutuhan setiap individu warganya secara cukup. Pendidikan dan kesehatan ditanggung negara. Dengan demikian, orang tua terutama ibu, tidak perlu bekerja dengan menelantarkan pendidikan anak-anaknya.

Dalam pendidikan, Islam menjadikan kurikulumnya berdasarkan akidah Islam sehingga memiliki daya dorong bagi anak untuk menerapkan nilai-nilai dan hukum syara’ dalam setiap aspek kehidupannya.

Tujuan pendidikan bukan semata-mata penguasaan ilmu, tetapi pembentukan kepribadian Islam, di samping penguasaan sains dan teknologi yang mumpuni.

Islam juga memiliki mekanisme penjagaan akidah dan moralitas. Islam mewajibkan negara untuk mencegah beredarnya miras, pornografi, konten-konten pemikiran seperti liberalisme dan sekularisme yang membahayakan akidah dan akhlak umat.

Negara dibekali dengan hak untuk menghukum siapa pun yang menyebarkan kerusakan. Ini berbeda dengan sistem demokrasi di Indonesia, yang sampai Menkominfo pun mengeluh tidak memiliki hak untuk membreidel semua konten porno di media massa.

Negara juga menerapkan hukum sanksi atas perbuatan-perbuatan yang merusak masyarakat seperti hukum bagi pezina, peminum miras dan hukum bagi orang yang mempertontonkan auratnya. Hukum ini diterapkan atas siapa pun warga negara yang telah baligh dan berakal.

Terakhir, Islam memerintahkan masyarakat untuk menegakkan kontrol sosial dengan melakukan amar makruf nahi mungkar. Rasulullah saw. bersabda,

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka tolaklah dengan hatinya. (Hanya saja) yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

Dengan berpadunya peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, kerusakan moral di kalangan generasi muda akan dapat dicegah dan diatasi dengan tuntas.

Namun perlu diingat, negara yang mampu untuk menegakkan sistem Islam ini hanyalah negara Islam, yaitu Khilafah Islamiah yang berpijak pada metode kenabian.

Penegakan sistem ini tidak akan mungkin dilakukan orang per orang, melainkan butuh kepada keterlibatan seluruh umat yang menginginkan perubahan mendasar kepada Islam. [MNews/Gz]


Referensi:

[1] https://www.eramuslim.com/berita/nasional/survei-tragis-siswi-smp-dan-sma-di-depok-937-sudah-tidak-perawan.htm/3#.X-c_29gzY2w

[3] (https://theconversation.com/kekerasan-seksual-di-internet-meningkat-selama-pandemi-dan-sasar-anak-muda-kenali-bentuknya-dan-apa-yang-bisa-dilakukan-152230).

3 thoughts on “Liberalisme Merusak Moral Calon Ibu

  • 15 Januari 2021 pada 12:22
    Permalink

    Naudzubillah. Parah! Sungguh parah!
    Izzah dan iffah generasi sudah longsor.
    Kita hanya bisa berharap pada khilafah Islam. Yg akan menjaga Izzah dan iffah generasi dg maksimal.

Tinggalkan Balasan