“Upaya Minimalis” Menghindarkan Anak dari Ancaman Pedofil

Oleh: Ummu Fairuzah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Ancaman pedofil tak pernah jauh dari kehidupan buah hati kita. Kehidupan sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan berperilaku meniscayakan hal ini. Juga ketaktegasan negara memberikan sanksi bagi pelaku pedofil lantaran gagalnya negara menitik akar masalah kejahatan seksual pada anak.

Sebagai orang tua tentu tidak mudah menghindarkan anak-anak dari predator seksual di tengah pola interaksi sosial masyarakat telah rusak akibat tidak diterapkan syariat Islam kafah oleh negara.

Tontonan telah menjadi tuntunan menginspirasi menstimulus nafsu syahwat si bejat hidung belang. Pornoaksi dan pornografi yang justru diatur oleh undang-undang, tidak dilarang dan diharamkan menjadi bahan bakar maraknya kasus pedofil.

Di tengah keterbatasan orang tua melindungi anak-anak (baca: calon korban pedofil) dalam perannya di lingkup keluarga, seminimal apa pun upaya harus dimaksimalkan. Seraya terus mengangkat telapak tangan bermunajat kepada-Nya berharap kebaikan senantiasa melingkupi keluarga muslim sebagai benteng terkecil kehidupan bermasyarakat.

Pengenalan Dasar Pergaulan Islam

Kisah “keluarga virtual” Nussa Rara yang memberikan keteladanan bagaimana orang tua muslim membangun kebiasaan baik pada anak untuk senantiasa menjaga aurat agar tidak tersingkap patut diapresiasi.

Anak sejak dini diajak untuk mengenal batasan auratnya yang harus ditutup. Juga pengenalan konsep mahram-nonmahram. Bukan konsep rusak ala kespro yang justru menuntut pengenalan alat reproduksi, kegunaan dan penggunaan alat reproduksi pada anak usia dini.

Dalam pendidikan Islam mengenal bagian alat reproduksi bisa didapatkan anak pada waktu belajar konsep taharah. Dan memahami fungsi alat reproduksi akan mereka dapat pada materi ilmu pengetahuan alam dalam bab sistem reproduksi hewan dan manusia.

Sebab sistem reproduksi penting dibahas dalam proses perkembangbiakan makhluk hidup, bukan sebatas soal alat kelamin. Adapun penggunaan alat reproduksi eksternal telah ada tuntunannya dalam hukum-hukum seputar pernikahan dan perkawinan.

Film semisal Nussa Rara dengan menggunakan bahasa tutur orang tua, dan pola komunikasi yang hangat memudahkan anak memahami sekelumit informasi tentang dasar-dasar pergaulan Islam. Gambaran visualisasi yang dikemas apik membawa anak larut dalam proses pendidikan pertamanya.

Inti pesannya bahwa Allah SWT memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan, di mana tabiat perempuan senantiasa berada dalam kehidupan khusus (rumah) dan kehormatan mereka dalam penjagaan para mahram.

Juga menumbuhkan perasaan malu (al haya’) yang muncul dari keimanan. Bangga dengan syariat berkerudung dan berjilbab sebagai bentuk kasih sayang dari Zat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

Sangat berbeda dari pola pendidikan orang tua yang minim pemahaman Islam. Anak-anak dibiarkan keluar rumah hanya dengan memakai singlet dan celana dalam bermain bersama teman-temannya.

Padahal ada banyak orang di jalanan kampung, di warung tetangga, yang terbiasa dengan pemandangan demikian. Siapa yang bisa menduga di antara mereka ada yang sedang dikuasai nafsu syahwat tanpa ada sarana penyaluran yang benar. Alhasil anak-anaklah korban kejahatan seksual.

Tepat Memilih Pengasuh

Pendidikan anak usia dini tidak terpisah dengan pengasuhan (hadhonah) anak dan kewalian (wilayah al-abi). Islam telah menggariskan siapa saja yang mendapat taklif tanggung jawab pengasuhan anak. Pengasuhan yang baik adalah hak anak yang harus diberikan oleh mereka.

Sifat utama yang dipilih oleh syariat adalah kasih sayang, lemah lembut, memahami tabiat anak-anak. Dan sosok terbaik ini ada pada para ibu (ummun). Adapun kewalian ada pada pundak ayah.

Sangat ideal bila penanggung nafkah keluarga adalah ayah, di mana ibu bisa bersama anak di rumah mengasuh dengan perhatian penuh kasih sayang dan mendidik sesuai desain yang telah ditetapkan sang ayah.

Bila kondisinya belum ideal, maka memilih kondisi terbaik dalam kondisi tidak ideal itu wajib diupayakan. Sebab ini terkait erat dengan masa depan anak.

Sekali saja anak menjadi korban pedofil, karakter anak akan pecah sebagaimana pecahan kaca. Tak bisa pulih seperti sediakala meski berhasil disusun lagi. Lebih dari itu ada banyak anak korban pedofil memiliki kecenderungan penyimpangan serupa di usia dewasa.

Artinya sebisa mungkin rantai penyebaran penyimpangan ini diputuskan dengan menjaga jangan sampai anak kita yang menjadi korban karena kelalaian.

Kampung Kita Bersama

Berkelompok, guyup rukun, menyamakan tujuan, menyerasikan langkah merupakan “upaya minimalis” berikutnya yang bisa dilakukan keluarga muslim. Anak-anak tidak mungkin dipasung di dalam rumah dengan alasan menyelamatkan mereka dari incaran predator seksual. Maka antar keluarga dalam satu RT atau kompleks perlu membangun kepekaan yang sama akan hal ini.

Mengadakan kajian kampung atau kompleks membahas seputar pendidikan anak usia dini dan remaja prabalig dalam Islam sangat direkomendasikan. Tak perlu menambah jadwal baru di tengah padatnya aktivitas harian warga.

Momen arisan RT bulanan bisa dijadikan sarana efektif membangun ketahanan keluarga muslim, agar tak sebatas berkumpul untuk mengocok dadu. Lebih baik lagi bila dilaksanakan secara intensif setiap pekan.

Bisa juga dilakukan pada momen pertemuan wali murid bulanan sekaligus untuk mempererat ukhuwah Islamiah.

Para ibu yang selama ini sudah banyak belajar tsaqafah Islam secara intensif, saatnya berbagi ilmu dengan para ibu yang belum sempat agar keberkahan ilmu bisa dirasakan banyak orang.

Demikian pula para ayah, waktunya bisa disesuaikan dan disepakati bersama. “Gerakan” ini perlu ditampakkan dan digaungkan agar para pedofil tidak leluasa mencari mangsa. Sebab anak-anak kini berada di dalam penjagaan optimal orang tua dan lingkungan.

Semua dilakukan sebagai upaya terbaik yang bisa dilakukan oleh keluarga muslim. Meski tetap perlu disadari bersama bahwa jaminan perlindungan terhadap generasi yang hakiki hanya ada pada penerapan sistem pergaulan dan sistem sanksi dalam Islam yang diterapkan oleh negara Khilafah Islamiah. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

One thought on ““Upaya Minimalis” Menghindarkan Anak dari Ancaman Pedofil

  • 15 Januari 2021 pada 22:19
    Permalink

    Sistem rusak menumbuhsuburkan perilaku seks menyimpang.
    Kita secara individu dan bermasyarakat bekerja sama menjaga anak2 dan lingkungan yg islami.

Tinggalkan Balasan