[News] Beban Berat Perempuan Dampak Peradaban Sekuler

MuslimahNews.com, NASIONAL — Disitir dari Merdeka.com (4/1/2021), dampak pandemi Covid-19 membuat beban perempuan semakin berat, sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati pada webinar Kaukus Perempuan Parlemen RI (4/1).

Selain harus bekerja, perempuan juga harus menjaga atau membimbing anak-anaknya sekolah selama masa Work From Home (WFH). Terlebih dalam keadaan berat seperti sekarang, perempuan juga bisa menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, yang angkanya makin meningkat.

Untuk menilik lebih dalam persoalan ini, MNews telah mewawancarai pakar ekonomi Islam, Ustazah Nida Sa’adah, S.E.Ak., M.E.I. yang menjelaskan bagaimana beban perempuan dalam peradaban sekuler dan solusi Islam menghadapi hal tersebut. Berikut petikannya.


1) Bagaimana tanggapan Ustazah terhadap pernyataan Sri Mulyani terkait kondisi perempuan di era pandemi serta upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini?

Jika dilihat, keberpihakan negara hari ini, yang ditunjukkan dengan pemberian berbagai bantuan sosial, nyatanya tidak cukup menopang beban berat perempuan di era peradaban sekuler.

Apalagi di tengah pandemi yang mengglobal. Bagaimana tidak? Perempuan hari ini memang menanggung beban yang sangat berat dan penderitaan yang bertambah.

2) Mengapa demikian, Ustazah?

Karena negara pun hari ini seakan-akan tidak memiliki rancangan sistemis mengelola pendidikan dalam situasi wabah yang berkepanjangan. Semuanya dikembalikan ke rumah. Dan ujung-ujungnya dibebankan ke ibu. Dan itu diakui dalam pernyataan Menteri Keuangan tadi.

Jadi, beban para ibu di era pandemi Covid-19, mulai dari mencari nafkah, mengurus rumah, mengurus anak, mengurus pendidikan anak, ditambah tetap harus waspada karena rentan mengalami kekerasan.

Beban yang luar biasa dan akhirnya seperti tidak jauh berbeda dengan kondisi perempuan sebelum datangnya Islam.

3) Apakah ini karena pandemi, Ustazah?

Sebelum terjadi pandemi pun, perempuan di peradaban sekuler sudah dibebani tanggung jawab mencari nafkah. Meskipun diberi label semacam “membantu ekonomi keluarga”, atau “sudah eranya perempuan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara”, dan berbagai slogan lainnya. Namun faktanya itulah pilihan satu-satunya yang harus dilakukan, jika ingin perekonomiannya lebih baik.

4) Bukankah ini berarti pengakuan atas peran perempuan, Ustazah?

Bukan. Semua itu dilimpahkan ke perempuan bukan karena tingginya pengakuan atas kemampuan perempuan. Apalagi dalam rangka memuliakan perempuan. Tetapi lebih karena rasa tanggung jawab yang makin hilang, tergerus individualisme dan egoisme; sikap dominan manusia bentukan peradaban sekuler.

Negara sekuler kehilangan tanggung jawabnya mengurus rakyat dengan tulus dan baik. Laki-laki dalam peradaban sekuler juga terbentuk tidak memuliakan perempuan.

Perempuan di peradaban sekuler juga terbentuk menjadi pribadi yang egois dan individualis. Dan tentu saja korban terbesar dari semua keadaan ini adalah nasib dan kualitas generasi.

5) Menurut Ustazah, apa penyebab terjadinya kondisi tersebut?

Sekularisme. Yakni sikap menolak aturan agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah penyebab dari semua kekacauan ini.

6) Lalu bagaimana syariat Islam secara nyata mengatasi persoalan ini?

Syariat Islam adalah aturan yang berasal dari Allah SWT dan disampaikan melalui Rasul-Nya. Faktanya, syariat Islam sangat memudahkan semua pihak menjalani peran dan tanggung jawabnya.

Aturan makro dan mikro ekonomi Islam jika diterapkan negara, justru memudahkan negara dalam membangun stabilitas ekonomi, memiliki kas keuangan yang besar, dan membuka lapangan kerja bagi semua laki-laki.

Perempuan dan laki-laki, jika dididik dengan konsep sosial dalam Islam, juga terbukti menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan mumpuni dalam perannya masing-masing.

Di tengah situasi genting pun—semacam wabah—tidak terjadi keguncangan sosial, seperti kekerasan yang meningkat, pembunuhan anak oleh orang tua, dan sejenisnya.

7) Berarti kondisi perempuan di peradaban sekuler dan peradaban Islam, berbeda sekali ya Ustazah?

Ya jauh berbeda. Di era peradaban Islam, perempuan bisa terjamin finansialnya tanpa perlu mendorong-dorongnya untuk bekerja. Peradaban Islam di masa lalu, ketika syariah kaffah diterapkan oleh Negara Khilafah Islam, menjadi bukti catatan sejarah yang tak tertandingi kemuliaannya. [MNews/Ruh-Gz]

Tinggalkan Balasan