Memelihara Cinta Kasih Suami-Istri Sesuai Tuntunan Rasulullah saw.

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, KELUARGA — Siapa pun akan berharap agar rumah tangga dan keluarga yang dibangunnya dipenuhi suasana sakinah, mawaddah wa rahmah, dengan pasangan yang saleh atau salihah, suami atau istri yang menyejukan pandangan mata dan jiwa, serta anak-anak yang menyejukkan, cerdas dan berbakti.

Terlebih jika bisa menjalankan ibadah dan penghambaan kepada Allah dengan sempurna dan dapat mencukupi berbagai kebutuhan hidup dengan mudah, atau setidaknya tidak sesulit saat ini. Tentulah kehidupan yang dijalani akan terasa begitu indah.

Hanya saja, mewujudkan keluarga ideal sebagaimana yang kita harapkan, bukan sesuatu yang mudah. Terlebih lagi, sistem sekuler yang mengungkung masyarakat kita saat ini membuat kehidupan serba sempit.

Berbagai krisis terus mewarnai kehidupan masyarakat. Hal ini sedikit banyak berdampak pada kehidupan rumah tangga. Tidak sedikit ketika muncul masalah ekonomi dalam keluarga akhirnya memicu pertengkaran dalam rumah tangga bahkan berujung pada KDRT, yang sebagian besarnya istri dan anak yang menjadi korban.

Di Jawa Timur, sepanjang 2020 terjadi 284 kasus dengan 551 korban ditangani LBH Surabaya. Sebagian besar KDRT, disusul kekerasan nonfisik. Sedangkan terhadap anak adalah penganiayaan, pemerkosaan dan pencabulan. (Liputan6.com).

Tuntunan Islam dalam Kehidupan Rumah Tangga

Sebagai risalah yang sempurna dan menyeluruh, Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan sebuah pernikahan yang harus dipahami kaum muslimin, agar pernikahan dan kehidupan berkeluarga menjadi berkah dan bernilai ibadah serta memberikan ketenangan bagi suami-istri serta anggota keluarga lainnya, sehingga langgeng dan bahagia.

Menggapai rida Allah sebagai tujuan tertinggi adalah hal yang harus ada pada setiap muslim, termasuk ketika akan menikah. Dan rida Allah akan terwujud jika diniatkan ikhlas dan sesuai syariat.

Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw. dalam mewujudkan keluarga ideal, maka kita diperintahkan untuk saling bergaul secara makruf dengan pasangan kita, saling lemah lembut di antara keduanya, istri kepada suami dan sebaliknya suami terhadap istrinya, sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19).

Bergaul maknanya adalah berinteraksi secara intens, berlemah lembut dan penuh canda serta bersahabat dengan penuh keakraban.

Persahabatan keduanya akan menciptakan ketenteraman dalam jiwa dan kedamaian dalam hidup. Seorang suami tidak boleh membuat istrinya cemberut atau bermuka masam—meski dalam perkara yang tidak sampai menimbulkan dosa; berlemah-lembut dalam bertutur kata, tidak bertindak keji dan kasar, serta tidak menampakkan kecenderungan kepada perempuan lain.

Begitu juga istri, dia melaksanakan ketaatan kepada suami bukan karena terpaksa, tetapi karena ketaatannya kepada Allah SWT. Ketaatan istri kepada suami akan dapat menciptakan ketenteraman dan kedamaian di dalam kehidupan suami-istri.

Ibnu Abbas pernah bertutur, “Para istri berhak untuk merasakan suasana persahabatan dan pergaulan yang baik dari suami mereka, sebagaimana mereka pun berkewajiban untuk melakukan ketaatan dalam hal yang memang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.” Rasulullah saw. bersabda,

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِي»

”Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah orang yang paling baik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (HR Ibnu Majah).

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR Bukhari Muslim)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik kepada istrinya” (HR Tirmidzi)

Ketika Islam mengharuskan saling bergaul secara makruf atau berlemah lembut antara suami dan istri, lantas tidak berarti menjadikan nasihat menasihati antara suami dan istri menjadi terhalang.

Ketika suami melakukan perbuatan maksiat atau tidak memenuhi kewajibannya, maka istri wajib mengingatkan suaminya untuk kembali kepada tuntunan Islam, ketika suaminya membawa uang tambahan bagi istri dan anak-anaknya, maka bukan suatu hal yang salah jika istri bertanya dari mana uang tambahan tersebut.

Demikian pula sebaliknya, ketika istrinya berbuat maksiat atau tidak melaksanakan kewajibannya, maka seorang suami wajib untuk menasihatinya. Sehingga keluarga tersebut adalah keluarga yang penuh berkah karena syariat dilaksanakan dalam keluarga tersebut dengan penuh kesungguhan.

Keteladanan Rasulullah saw. dalam Menjaga Cinta Kasih dengan Pasangan

Mewujudkan pergaulan yang makruf dan berlemah lembut antara suami istri memang bukan perkara mudah, tetapi kita semua harus berproses menjadi lebih baik dan yang terpenting lagi adalah memeliharanya terus-menerus agar keluarga yang kita bangun menjadi keluarga yang selalu berada dalam naungan rahmat Allah SWT.

Lalu, bagaimana kita memeliharanya? Rasulullah saw. telah memberikan contoh untuk kita semua, antara lain:

Pertama, saling mencintai karena Allah SWT

Mahabbah fillah antara suami-istri harus senantiasa dipupuk sebagai perekat persahabatan di antara keduanya. Munculnya cinta karena Allah SWT disebabkan karena keduanya memiliki keimanan dan melakukan ketaatan kepada-Nya.

Jika ada yang tidak disukai dari pasangannya, itu karena ia tidak rela sahabatnya melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah SWT. Rasul saw. bersabda, “Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya.” (HR al-Hakim).

Kedua, saling memahami.

Kita ketahui bersama bahwa pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda.

Karena itu, suam-istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan.

Saling memahami akan menjadikan suami-istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka, tetapi tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Namun, sikap ini memudahkan suami-istri untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat dan menilai pasangannya.

Ketiga, saling menasihati dan memberi masukan.

Manusia manapun tidak luput dari kesalahan. Persahabatan suami-istri akan mengantarkan setiap orang tidak pernah rela pasangannya melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak.

Saling memberi nasihat merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah SWT. Sebab, tujuannya adalah menjaga ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhkan pasangannya dari melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Nasihat yang disertai dengan komunikasi yang tepat waktu dan tepat cara akan membuat pasangan yang dinasihati merasakan kesejukan dan ketenteraman dalam menerima masukan.

Sebuah peristiwa besar yang selalu kita ingat, yaitu Perjanjian Hudaibiyah. Perintah Allah, yang tidak dapat dimungkiri terasa berat bagi Rasulullah. Ketika melihat para sahabat enggan memenuhi perintahnya, Rasulullah meminta masukan kepada Ummul Mukminîn, Umm Salamah ra., “Wahai Nabiyullah Sebaiknya engkau keluar dan jangan bicara pada siapa pun, tetapi langsung sembelih saja hewan kurbanmu. Setelah itu panggillah orang yang biasa mencukur dan bercukurlah.”

Rasulullah pun melakukannya, tidak lama kemudian para Sahabat yang melihatnya, langsung bangkit untuk menyembelih kurban dan saling bercukur. Akhirnya para Sahabat menyadari ini merupakan wahyu dari Allah SWT.

Keempat, saling memaafkan.

Kehidupan suami-istri tidak luput dari berbagai kelemahan, kesalahpahaman dan pertengkaran kecil. Hal-hal ini akan dapat merenggangkan hubungan persahabatan satu sama lain.

Pada saat salah seseorang dari suami-istri melakukan sesuatu hal yang menimbulkan kemarahan, maka langkah yang perlu disuburkan oleh yang lainnya adalah menahan marah dan memaafkan.

Saling memaafkan satu sama lainnya adalah kunci untuk memelihara pergaulan yang makruf di antara suami-istri.

Kelima, saling bekerja sama dan tolong-menolong.

Kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang berpeluang mengalami kesulitan-kesulitan seperti beban pekerjaan yang memberatkan, pemenuhan nafkah, pendidikan anak, dan lain-lain.

Namun, perlu dipahami, saling tolong-menolong bukan berarti kewajiban masing-masing bisa saling dipindahkan atau dihilangkan Jika suami istri selalu saling tolong-menolong, maka selain akan meringankan beban satu sama lainnya akan melanggengkan kasih sayang dan sikap lemah lembut di antara keduanya.

Fathimah dan Ali ra. selalu bekerja sama dan saling bantu dalam mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Fatimah membuat tepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri.

Ia membuat roti, menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditanganinya sendiri. Pada suatu hari Rasulullah datang menjenguk Fatimah ra., tepat pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung.

Beliau terus bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?” “Fatimah!” Jawab Imam Ali. Fatimah lalu berhenti diganti ayahandanya menggiling tepung bersama Ali ra..

Keenam, bersikap lembut dan bersenda gurau dengan pasangan.

Rasul menyapa istrinya dengan sapaan hangat dan baik. Rasul menyapa Khadijah dengan ya Habibi, wahai kekasihku. Menyapa Aisyah yang dengan ya Humaira’, wahai wanita yang pipinya kemerahan.

Rasulullah berpesan kepada para suami agar tetap bersabar menghadapi sikap para wanita yang kurang disukai. “Janganlah marah (laki-laki Muslim/suami) kepada seorang wanita Muslimah (istri). Jika tidak menyukai perangai darinya, maka sukailah perangai lainnya,”. 

Rasulullah saw. bergaul secara indah dan bersenda gurau dengan istri-istri beliau, senantiasa bersikap lemah-lembut kepada mereka, sering membuat mereka tertawa.

Rasulullah pernah mengajak istrinya, Aisyah lomba lari untuk memperlihatkan kasih sayang kepada istrinya. Aisyah ra. pernah menuturkan, “Rasulullah saw. pernah mengajakku lomba lari, maka aku pun berhasil mendahului beliau. Itu sebelum badanku gemuk, maka beliau berhasil mendahuluiku. Lalu beliau bersabda, “Ini untuk membalas kekalahanku waktu itu.” (HR Ibn Hibban). 

Banyak pula periwayatan yang menggambarkan bahwa Rasulullah bergaul dengan sangat baik kepada keluarganya. Rasulullah seringkali bercakap-cakap sebentar dengan keluarganya selepas salat isya, sebelum beliau tidur dengan percakapan yang menyenangkan.

Demikianlah Rasulullah saw. telah menuntun kita untuk senantiasa bergaul dengan makruf kepada pasangan, saling bersenda gurau, berlemah lembut di antara suami istri. Dengan tuntunan beliau, seyogianya seorang suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan anggota keluarganya yang lain.

Demikian pula istri pun diperintah untuk bergaul dengan baik, taat kepadanya dalam perkara yang disyariatkan, sehingga akan terwujud ketenangan di antara keduanya dan abadilah ikatan cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menjadikan pasangan dari jiwa yang satu itu, agar jiwa tersebut merasa tenang bersamanya.” (Al-A`raf: 189) Wallahu a’lam bishawwab [MNews/Juan]

One thought on “Memelihara Cinta Kasih Suami-Istri Sesuai Tuntunan Rasulullah saw.

  • 14 Januari 2021 pada 13:41
    Permalink

    masya Allah pentingnya sebuah ilmu dalam segala amal perbuatan kita tak luput dari kesadaran kita akan hubunganya dengan Allah..
    pilihlah lelaki karena Agamanya, karena Akhlaknya dan Keimanannya jngn smp menyesal seperti saya

Tinggalkan Balasan