[Editorial] Menghidupkan Kembali Tradisi Amar Makruf Nahi Mungkar

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Salah satu ciri masyarakat Islam adalah kental dengan tradisi amar makruf nahi mungkar. Tradisi inilah yang menjadikan kehidupan masyarakat dalam sistem Islam senantiasa ada dalam kebaikan, kedamaian, jauh dari kerusakan, dan dilimpahi keberkahan.

Sejarawan Barat, Will Durant dalam bukunya The Story of Civilization memberikan pengakuan,

“Para Khalifah (pemimpin dalam sistem Khilafah sebagai sistem Islam) telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti ini belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat, dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.”

Juga mengakui,

“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka”


APA yang digambarkan Will Durant memang sangat niscaya, karena kala itu seluruh pilar-pilar negara yang dibutuhkan untuk mengurus dan menjaga rakyatnya tegak nyaris sempurna.

Pilar itu adalah adanya individu-individu yang bertakwa, masyarakat yang aware dan memiliki sense of crisis kuat terhadap problem-problem keumatan, serta adanya konsistensi penegakan aturan Islam oleh negara.

Ketiga pilar ini satu sama lain saling mengukuhkan, tegak di atas landasan keimanan. Hingga masyarakat Islam pun mampu tampil sebagai entitas yang khas, punya wibawa dan kemandirian, bahkan mampu memimpin peradaban saat dunia Barat masih berada dalam abad kegelapan.

Bagaimana tidak? Warga negara Islam terdiri dari individu-individu yang memiliki kepribadian Islam yang sangat kuat sekaligus memiliki visi keumatan. Mereka tak hanya fokus mengurus kesalehan diri sendiri, tapi selalu siap berkontribusi bagi kemajuan umat dan agama mereka. Hingga muncullah profil generasi muslim yang inspiratif dan inovatif dalam sejarah peradaban dunia.

Baca juga:  Syaithan Akhras (Setan Bisu) dan Jubir Setan, Berbahaya bagi Islam

Karakter masyarakatnya pun jauh dari sifat individualistis. Masih kental dengan tradisi dakwah amar makruf nahi mungkar. Hingga tertutup celah munculnya berbagai penyimpangan yang bisa merusak kehidupan masyarakat, baik penyimpangan itu datang dari individu atau kelompok masyarakat yang lalai atau datang dari penguasa yang khilaf atau jatuh pada kezaliman.

Bahkan dengan dakwah inilah ukhuwah islamiah menjadi kuat dan loyalitas rakyat kepada negara dan agamanya menjadi tak tergoyahkan. Mereka paham tradisi ini adalah bukti kecintaan seorang muslim kepada sesamanya serta bukti taat dan cinta rakyat kepada pemimpin yang mereka angkat dengan baiat.

Adapun dari sisi negara atau penguasa, mereka sangat paham kepemimpinan tak hanya berdimensi duniawi saja, melainkan juga berdimensi akhirat. Pemahaman inilah yang menuntun para penguasa untuk senantiasa hati-hati dalam melangkah, dan siap terbuka terhadap semua masukan yang datang dari umat. Bukan malah menganggapnya sebagai ancaman yang mengganggu kekuasaan.


DALAM salah sebuah hadis, Rasulullah saw. menggambarkan dengan sangat indah urgensi amar makruf nahi mungkar bagi masyarakat Islam. Diriwayatkan Nu’man bin Basyir, beliau saw. bersabda,

“Kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah perahu. Nantinya, ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah perahu tersebut. Yang berada di bagian bawah ketika ingin mengambil air, tentu dia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, ‘Andai kita buat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.’ Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.(HR Imam Bukhari no. 2493).

Hadis ini menggambarkan masyarakat hakikatnya seperti penumpang dalam sebuah perahu atau kapal. Ada nakhoda alias kepemimpinan, ada aturan yang harus ditaati bersama, ada beragam karakter penumpang yang bisa berpengaruh pada kondisi isi kapal secara keseluruhan. Termasuk adanya orang-orang yang bisa bertindak sebagai para pembocor kapal.

Maka, andai mereka ini dibiarkan bertindak ceroboh, atau dibiarkan melanggar aturan dan bertindak semaunya, lalu penumpang lain bersikap cuek dengan apa yang mereka lakukan, niscaya kecelakaan tak hanya menimpa si pembocor kapal. Tapi juga akan menimpa seluruh penumpang kapal.

Baca juga:  Ma’al Hadits Syarif: Kewajiban Manusia ketika Melihat Kemungkaran

Dalam konteks masyarakat Islam, pembiaran terhadap orang-orang seperti mereka akan membuat kemungkaran tersebar luas. Masyarakat tak akan takut, bahkan begitu mudah untuk berbuat maksiat. Hingga kerusakan alias krisis pun akan merajalela. Ujung-ujungnya, masyarakat akan binasa dan hilang kemuliaannya.

Allah SWT berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfal: 25)

Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyebutkan salah satu hadis yang diriwayatkan Huzaifah ibnul Yaman, Rasulullah Saw. pernah bersabda,

“Demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau Allah benar-benar dalam waktu yang dekat akan mengirimkan kepada kalian suatu siksaan dari sisi-Nya, kemudian kalian benar-benar berdoa kepada-Nya, tetapi Dia tidak memperkenankannya bagi kalian.”

Betapa dahsyat dampak diabaikannya aktivitas amar Makruf nahi mungkar. Tak hanya bisa mengundang siksaan Allah, bahkan doa-doa kaum beriman pun tak akan dikabulkan.


SUNGGUH, hari ini, tradisi dakwah amar makruf nahi mungkar ini nyaris hilang dari umat Islam. Penerapan sistem sekuler demokrasi membuat sebagian besar masyarakat terutama penguasanya justru memandang tradisi ini sebagai tradisi yang membawa keburukan, layak dimata-matai, bahkan pelakunya layak dikriminalisasi lantaran dipandang membahayakan demokrasi.

Wajar jika kerusakan dan penyimpangan begitu merajalela. Krisis moral sudah tak bisa ditutup-tutupi lagi, bahkan menjadi potret generasi Islam di abad modern ini.

Pergaulan bebas, penyimpangan seksual, narkoba, aborsi, kriminalitas, korupsi, pornografi-pornoaksi, dan sejenisnya, begitu merebak dan dipandang biasa.

Pelecehan agama bahkan dilindungi negara dengan dalih bagian hak asasi manusia. Begitu pun potret kemiskinan, begitu merebak di tengah gap sosial yang begitu menganga, disertai ketidakadilan dan kezaliman yang dilegitimasi kebijakan penguasa.

Jika didata, tak terhitung keburukan yang muncul akibat hilangnya tradisi amar makruf nahi mungkar bersamaan dengan runtuhnya pilar-pilar hukum yang lainnya. Tak hanya di satu dua bidang kehidupan, tapi di seluruh aspek kehidupan. Hingga umat Islam pun kian hari kian kehilangan muruah sebagai khairu ummah.

Bukan hanya jauh dari predikat khairu ummah, umat Islam tak lagi memiliki ketahanan ideologis yang membuatnya mampu menjadi umat yang berwibawa dan mandiri. Terbukti, hari ini umat Islam justru begitu mudah didikte, dipecah belah, bahkan dijajah.

Baca juga:  Meluruskan Makna Amar Makruf Nahi Mungkar

Pertanyaannya, hingga kapan kondisi ini akan dibiarkan?


 

SEJATINYA hilangnya sistem kepemimpinan Islam dan berkuasanya sistem sekuler demokrasi yang bertentangan dengan Islam adalah bentuk kemungkaran yang sangat nyata. Dari sanalah bersumber segala keburukan yang menimpa umat hari ini di seluruh penjuru dunia dan dari masa ke masa.

Maka amar makruf nahi mungkar untuk menghilangkan sumber keburukan ini sejatinya akan menjadi amal yang paling besar. Dengan itulah kapal kehidupan umat Islam yang nyaris tenggelam ini bisa segera diselamatkan.

Ikhtiar ini tentu bukan merupakan perkara ringan dan mudah, karena para penjaga sistem jelas akan mempertahankannya dengan berbagai cara. Mereka tak akan rela kehilangan manfaat yang mereka dapat dari tegaknya sistem rusak, sekalipun mereka tahu yang sedang mereka korbankan adalah masa depan dan kehormatan bangsanya sendiri.

Maka, penting mengukuhkan pemahaman, bahwa amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari kewajiban atau konsekuensi iman, sekaligus kebutuhan untuk menyelamatkan. Sehingga umat Islam siap berkorban, mengambil risiko apa pun demi menjalankan ketaatan sekaligus berkhidmat demi tumbangnya kebatilan dan tegaknya kebenaran.

Rasulullah saw. bersabda,

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya (amar makruf nahi mungkar), lalu pemimpin itu membunuhnya.” (Hadis Sahih dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, Imam Al Hakim no. 4884).

Tradisi inilah yang diteladankan Nabi saw. dan para pengikut terbaiknya dari masa ke masa. Mereka selalu ada di barisan terdepan aktivitas dakwah amar makruf nahi mungkar, demi tegak dan terjaganya sistem Islam.

Hingga belasan abad umat Islam hidup dalam kemuliaan. Di mana agama, akal, harta, kehormatan, dan nyawa mereka terjaga di bawah naungan sistem kepemimpinan Islam. [MNews/SNA]

5 thoughts on “[Editorial] Menghidupkan Kembali Tradisi Amar Makruf Nahi Mungkar

Tinggalkan Balasan