Di Gua Tsur, Ada Jejak Perjuangan Politik Rasul SAW

Oleh : Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS – Sekira enam atau tujuh kilometer ke arah Selatan Makkah nampak sebuah bukit di antara dataran tinggi berbatu. Itulah bukit (jabal) Tsur.

Bukit ini termasuk salah satu yang tertinggi di Kota Makkah. Mempunyai tiga puncak yang saling berdekatan dan saling bersambung.

Di bukit ini terdapat sebuah gua yang menyimpan kisah penting perjalanan hijrah Rasulullah saw. ke Madinah. Karena gua inilah yang menjadi tempat perlindungan beliau dan Abu Bakar ra sahabatnya dari pengejaran kaum Quraisy yang hendak membunuhnya.

Hijrah dan Puncak Kemarahan Kaum Quraisy

Saat itu, situasi memang sudah sangat genting. Kaum kafir Quraisy benar-benar sudah ada dalam puncak kemarahan dan kepanikan tatkala melihat semua upaya mereka untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. ternyata gagal total.

Berbagai fitnah, penyiksaan, propaganda, kriminalisasi bahkan pemboikotan sudah mereka lakukan. Namun loyalitas dan jumlah kaum Muslimin alih-alih berkurang, malah makin menguat dan terus bertambah.

Ini artinya, masa depan kekuasaan mereka sudah benar-benar dalam ancaman. Apalagi ketika akhirnya mereka tahu, bahwa di tahun ke-13 kenabian itu, Nabi Muhammad diam-diam sudah berhasil mendapatkan loyalitas dari para pemuka dan penduduk Madinah.

Mereka pun berhasil mendapat kabar tentang peristiwa pertemuan antara Nabi Muhammad dengan para pemuka Madinah di Aqabah, yang disusul dengan hijrahnya kaum Muslimin secara bergelombang ke Madinah.

Mereka betul-betul khawatir, sekiranya Muhammad turut hijrah ke Madinah, lalu bergabung dengan kekuatan kaum Anshor dan Muhajirin yang sudah ada di sana akan ada pembalasan dendam kepada mereka. Maka sebelum ini terjadi, mereka harus melakukan sesuatu atas pribadi Nabi Muhammad SAW.

Maka berkumpullah para pemuka Quraisy di Daar an-Nadwah, tempat mereka biasa bermusyawarah. Mereka serius berdebat tentang strategi apa yang harus diambil guna melenyapkan Nabi Muhammad.

Di antara mereka ada yang mengusulkan untuk memenjarakan beliau dalam kurungan besi, namun forum menolak usulan ini. Ada pula yang usul agar Muhammad diusir saja. Namun mereka justru takut Nabi Muhammad akan lari ke Madinah dan apa yang mereka khawatirkan tadi akan menjadi nyata.

Maka akhirnya mereka pun memutuskan akan mengutus para pemuda terbaik dan dipersenjatai untuk bersama-sama membunuh Muhammad. Sehingga kelak keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthallib tak bisa menuntut balas pada mereka. Dan mereka cukup membayar tebusan secara bersama-sama.

Baca juga:  Saatnya “Islamic World Order” Kembali Menerangi Bumi

Mereka sangat puas dengan keputusan tersebut dan menganggapnya sebagai solusi terbaik untuk menghadapi dakwah Muhammad. Mereka berharap dengan melenyapkan Nabi Muhammad mereka bisa mengembalikan situasi politik Makkah ke dalam genggaman mereka seperti semula.

Menunggu Perintah Hijrah

Pemufakatan kafir Quraisy ini Allah SWT kabarkan kepada baginda Nabi saw. melalui wahyuNya :

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfal : 30)

Maka Rasulullah saw. pun menunggu perintah dari Allah untuk berhijrah. Dan saat itu tak ada seorang pun tahu kapan beliau akan menyusul kaum Muslimin ke Madinah. Sementara kaum Muslim yang tersisa di Makkah tinggal sedikit saja.

Adapun Abu Bakar ra, juga terus bertanya-tanya seraya berharap akan menjadi orang yang bisa menemani hijrah sahabat yang dicintainya. Untuk itu, beliau pun sudah menyiapkan dua ekor unta yang  pemeliharaannya diserahkan kepada Abdullah bin Uraiqiz, seorang Arab Badui yang kelak menjadi pemandu jalan menuju Madinah.

Hingga sampailah pada momen yang ditunggu-tunggu itu. Namun baginda Nabi saw. paham betul bahwa dirinya tak akan lolos dengan aman. Karena beliau tahu, bahwa sekeliling rumahnya sudah lama diintai dan dikepung para algojo Makkah.

Maka di malam itu, dimintalah Ali ra untuk menggantikan posisi beliau di tempat tidurnya. Sementara beliau keluar dengan mengendap dari sisi yang aman menuju rumah sahabatnya Abu Bakar ra.

Saat itu Rasulullah SAW keluar rumah dengan hati yang mantap dan penuh tawakkal. Hingga atas kuasa Allah SWT, tak ada seorang pun dari pemuda yang mengepung tadi melihat kepergian beliau SAW.

Konon, saat itu Nabi Muhammad sempat menyiramkan pasir ke kepala para pemuda tersebut sambil membacakan ayat Alquran surah Yaasin ayat 9: “Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Adapun para pemuda utusan Quraisy itu, baru tersadar dengan situasi setelah beberapa lama. Mereka kecewa, karena orang yang mereka sergap untuk dibunuh itu ternyata bukan Muhammad melainkan Ali. Maka mereka pun melakukan pengejaran dengan satu tekad bulat, Muhammad harus berhasil dibunuh.

Baca juga:  Saatnya “Islamic World Order” Kembali Menerangi Bumi

Keberhasilan Hijrah dan Dukungan Tim Dakwah

Pada saat genting inilah, Baginda Nabi dan sahabatnya berlari ke arah Bukit Tsur. Lalu naik ke atasnya, dan menemukan sebuah gua sebagai tempat persembunyian yang sangat baik.

Gua ini terletak di atas ketinggian kurang lebih 500 meter. Bentuknya tidak terlalu besar, hanya cukup dimasuki orang tanpa berdiri tegak. Di sinilah selama tiga hari tiga malam Rasulullah dan sahabatnya bersembunyi. Menunggu dengan harap-harap cemas bisa lolos dari pengejaran para algojo Quraisy.

Tak ada seorangpun yang mengetahui tempat persembunyian Nabi dan sahabatnya ini selain empat orang saja. Mereka adalah Abdullah Bin Abi Bakar, Aisyah dan Asma binti Abi Bakar serta pembantu mereka, Amir bin Fuhaira. Merekalah yang membantu Nabi dan Abu Bakar selama dalam persembunyian yang penuh risiko itu.

Tugas Abdullah bin Abi Bakar adalah mencari tahu pergerakan dan manuver kaum Quraisy. Sementara yang lainnya, menyiapkan perbekalan dan Asma lah yang mengantarkan perbekalan ke tempat persembunyian Rasulullah SAW. Adapun Amir, bertindak sebagai penghapus jejak Abu Bakar dan Asma dengan menggembalakan ternaknya di sekitar jalan menuju perbukitan Tsur.

Tentu saja semua tugas ini mengandung risiko yang tidak kecil. Namun mereka semua memahami betul bahwa hijrahnya Nabi mengandung aspek politis dan strategis bagi masa depan dakwah Islam. Hingga tanpa rasa takut mereka pun melakukan tugas berat itu sebagai bagian dari kontribusi perjuangan.

Maka berlalulah masa itu hingga hari ke tiga. Pengejaran kaum kafir pun sudah mengarah ke tempat dimana Rasul berada. Bisa terbayang bagaimana situasi  yang dirasakan oleh baginda Nabi dan sahabatnya.

Rasa takut dan cemas menghinggapi jiwa Abu Bakar ra, apalagi saat mereka sudah berdiri di pintu gua. Karena andai saja para pemburu itu melihat ke dalamnya, niscaya mereka akan dengan mudah ditemukan.

Situasi ini digambarkan dalam wahyu yang turun ketika itu pula :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika berada dalam gua, di waktu dia berkata pada temannya; “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” “Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 40)

Baca juga:  Saatnya “Islamic World Order” Kembali Menerangi Bumi

Namun justru di saat itulah pertolongan Allah tampak nyata. Saat kaum Quraisy nyaris tiba di depan gua, Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan seekor laba-laba untuk segera menutup mulut gua dengan jaringnya. Juga memerintahkan burung merpati untuk segera membuat sarang berukuran besar dan bertelur di depannya. Serta memerintahkan pepohonan untuk tumbuh menutupi lubang gua.

Qadarullah. Semua itulah yang menjadikan para algojo segera berpaling dari sana tanpa sedikit pun curiga. Lantaran mereka berpikir tak mungkin ada seseorang yang bisa masuk ke gua itu.

Maka selamatlah Beliau dan sahabatnya dari pengejaran kafir Quraisy. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan menggunakan dua unta yang sudah dipersiapkan Abu Bakar ra dan dipelihara oleh Abdullah bin Uraiqiz sebelumnya, seraya membawa bekal makanan yang disiapkan oleh Asma dengan sobekan selendangnya yang terkenal.

Abdullah bin Uraiqiz inilah yang memandu mereka melewati jalan-jalan yang jarang dilewati oleh manusia. Tentu dengan track   yang lebih sulit dan lebih panjang.

Hingga meski di tengah perjalanan sempat bertemu dengan Suraqah yang turut memburu Rasulullah karena tertarik sayembara yang diadakan pemuka Quraisy, akhirnya mereka pun tiba di Madinah dengan selamat dan disambut dengan penuh kerinduan dan sukacita oleh penduduk Anshor dan Muhajirin yang mencintainya.

Khotimah

Di tempat baru inilah, Rasulullah SAW mulai membangun dasar-dasar sebuah negara, hingga kaum Muslimin merasakan indahnya hidup dalam naungan syariat Islam. Dan negaranya pun berkembang dalam waktu singkat menjadi kekuatan politik yang disegani lawan.

Sungguh, Gua Tsur, hanyalah sebuah gua biasa. Namun tempat ini menjadi salah satu saksi bisu perjuangan penegakan Islam yang penuh tantangan. Sekaligus menjadi saksi pengorbanan para pejuang Islam di masa awal.

Semoga kita mampu mengambil ibrah dari setiap kisah, untuk memperkuat tekad berkontribusi menegakkan kembali Islam di akhir jaman. Allaahumma aamiin. [] Disarikan dari berbagai sumber.

One thought on “Di Gua Tsur, Ada Jejak Perjuangan Politik Rasul SAW

  • 20 Desember 2020 pada 21:08
    Permalink

    MaasyaaAllah..semoga kita termasuk org² yg mengambil ibroh dan tauladan dari setiap apa² yg dilakukan Rasulullah SAW

Tinggalkan Balasan