Rezim Demokrasi Kian Mematikan Potensi Generasi

Oleh: Dwi Rahayu, S.Ikom.

MuslimahNews.com, FOKUS — Kualitas generasi muda sangat menentukan kualitas peradaban bangsa. Pentingnya peran generasi muda diungkap Khalifah Umar Bin Khaththab  ra., “Tiap kali kuhadapi masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah anak muda.”

Generasi muda berkualitas tidak hanya ahli dalam sains dan teknologi, melainkan juga memiliki kepribadian yang khas (istimewa), perilaku saleh dan bertakwa.

Kepribadian seperti ini tidak hanya mampu membawa negaranya menjadi negara besar, kuat, dan terdepan menjadi mercusuar dunia, melainkan juga disegani musuh-musuhnya.

Profil generasi berkualitas adalah sebagaimana diungkap Sayyid Quthb, “Mereka adalah pemuda gagah dan pemilik badan kuat perkasa. hati mereka teguh dengan iman tulus membaja, berpendidikan, dan bersikap tegas dalam menghadapi kemungkaran”.

Untuk mewujudkan generasi berkualitas, dibutuhkan negara visioner. Negara yang berlandaskan agama dalam pengaturan kebijakan berbangsa bernegara, bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari negara.

Negara sekuler termasuk Indonesia, yang mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis, memandang generasi muda hanya sebagai aset ekonomi negara. Visi tersebut ditegaskan dalam konferensi “merancang visi Indonesia 2045” pada 2018, semangat entrepreneurship untuk ekonomi Indonesia yang unggul dalam revolusi industri 4.0 serta menjadi bangsa pemenang globalisasi, (Kompas, 02/2019).

Kebijakan sistem pendidikan tinggi diarahkan untuk menyukseskan visi tersebut. Pendidikan dikapitalisasi, sementara kurikulumnya berorientasi pasar, berasas sekuler, moderat, dan inklusif dengan nilai-nilai Barat sebagai dalih tuntutan globalisasi.

Akibatnya, para intelektual hanya mengejar kesuksesan materi, berpaham liberal, jauh dari akhlak dan kepribadian saleh. Maraknya kasus pergaulan bebas, kekerasan, penyimpangan seksual dengan kedok riset menjadi bukti bobroknya profil intelektual.

Baca juga:  Memelihara Alquran

Hasil riset terbaru, praktik plagiarisme meningkat di kalangan mahasiswa selama pembelajaran daring (kompas.com, 12/7/2020). Berbagai bukti rusaknya integritas output pendidikan tinggi akibat kurikulum sekuler, tidak lantas menjadikan negara ini mengkaji ulang kurikulum, karena standar kompetensi kurikulum sekuler adalah terserap di dunia kerja meskipun miskin integritas.

Kondisi ini semakin parah ketika pemimpin negeri ini [Wakil Presiden] menyeru generasi muda untuk menjadikan K-Pop sebagai inspirasi. Mereka harus mencontoh Korean idol ‘BTS’ yang menjadi penyumbang urutan ke-4 GDP Negara Korea Selatan.

Padahal, rata-rata dari para Korean idol identik ateis, hedonis, liberal, dan mengalami mental illness. Lagi-lagi, negara ini seolah “tidak peduli” terhadap rusaknya identitas generasi muda, demi meraih pundi-pundi rupiah.

Demokrasi Mematikan Potensi Generasi Muda

Rusaknya generasi muda tidak bisa dilepaskan dari kesalahan paradigmatis pengelolaan negara. Sistem pemerintahan demokrasi yang diadopsi negara ini, meniscayakan pengkhianatan penguasa atas nama rakyat.

Dalam demokrasi, kebijakan hanya memihak kaum minoritas pemilik modal yang berjasa terhadap penguasa. Misal pada UU liberalisasi SDAE yang melegalkan perampokan kekayaan rakyat. Akibatnya, Indonesia terpuruk dalam kemiskinan meskipun berlimpah kekayaan alam.

Untuk melepaskan diri dari kemiskinan, negara menjadikan generasi muda sebagai “tumbal” mengatasi kemiskinan akibat demokrasi. Negara ini telah mengorbankan potensi besar generasi muda, sebanyak 297 juta jiwa untuk menghidupkan roda perekonomian negara yang lagi “seret” tidak bergerak akibat perampokan sistemis.

Baca juga:  Hanya Islam Rahmat bagi Seluruh Alam

Demokrasi hanya memihak kalangan minoritas pemilik modal, sementara generasi muda diberdayakan untuk meraih remah ekonomi. Sungguh keserakahan kapitalisme dan kejahatan demokrasi telah mematikan potensi besar generasi muda sebagai pembangun peradaban.

Sesungguhnya, generasi muda sudah mulai menyadari kejahatan demokrasi ini. Aksi demonstrasi generasi muda menolak kebijakan demokrasi—UU Cipta Kerja—yang memihak kepentingan kapitalis.

Tak hanya di Indonesia, Penelitian University of Cambridge Inggris menemukan anak muda di Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Australia kurang puas dan kecewa dengan demokrasi karena menimbulkan kesenjangan sosial yang semakin lebar antara yang kaya dan miskin (wartaekonomi, 10/20).

Untuk mempertahankan eksistensi Demokrasi yang sudah sekarat, Barat memerangi semua gagasan yang dianggap mengancam hegemoninya, yaitu Islam dan Khilafah. Dengan strategi Counter Violent of Extremism menjauhkan Islam kaffah di benak generasi muda, dengan label radikal, intoleran, dan persekusi.

Melalui kurikulum pendidikan sekuler, terus mengaruskan moderasi Islam, merusak identitas keislaman, dan merevisi ajaran Islam wajibnya Khilafah dan Jihad menjadi bab sejarah. Untuk memastikan kampus terhindar dari Khilafah, ada gagasan membuat protokol kampus anti-Khilafah (newmalangpost.id, 12/20).

Ironi demokrasi dengan jargon menjamin kebebasan, faktanya adalah otoriter untuk meredam kebangkitan Islam. Untuk itu penjajah berusaha mengaborsi potensi generasi muda sebagai motor kebangkitan Islam.

Imam Malik, beliau berkata, “Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Kunci kebaikan generasi masa lalu adalah Al-Qur’an dan Sunah yang diterapkan institusi Negara.

Baca juga:  Tak Dihargai Sistem Sekuler, Guru Honorer Dimuliakan dalam Sistem Islam

Karena itu, menyelamatkan generasi adalah dengan membuang jauh sistem demokrasi sekuler dan menerapkan Islam kafah dalam Khilafah Islamiyah.

Khilafah Membentuk Generasi Cemerlang

Negara besar adalah Negara yang menyadari pentingnya melahirkan generasi berkualitas. Satu-satunya negara yang mampu mencetak generasi berkualitas adalah Khilafah yang menerapkan syariat kafah.

Negara Khilafah bertanggung jawab untuk membentuk generasi cemerlang, dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat dan negara. Khilafah akan menerapkan kebijakan komprehensif mulai dari sistem politik, sistem ekonomi, pendidikan, dan sistem pergaulan untuk melahirkan generasi pemimpin peradaban.

Sistem pendidikan Islam dalam Khilafah memosisikan pendidikan merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Oleh karena itu, negara menjamin setiap rakyatnya, baik laki-laki maupun perempuan menikmati proses pendidikan sampai perguruan tinggi.

Sistem pendidikan Islam memiliki kurikulum unggul yang melahirkan generasi muda yang kokoh iman, punya integritas, pola pikir dan sikapnya sesuai ajaran Islam, punya ilmu dan keterampilan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Melalui penerapan sistem pergaulan, menjaga generasi dari kemaksiatan khalwat, ikhtilat, akan membentuk generasi yang menjaga kesucian.

Kebijakan Khilafah dalam sistem ekonomi akan memberi dukungan finansial yang cukup dalam rangka pengembangan potensi dan pengabdian generasi terhadap umat. Negara akan mengambil tanggung jawab penuh untuk menyediakan berbagai fasilitas utama dan penunjang pendidikan demi terwujudnya tujuan kurikulum pendidikan Islam, baik di masa pandemi atau tidak. [MNews/Gz]


#BongkarBorokDemokrasi

#PerempuanRinduPerubahanHakiki
#PerempuanBicaraDemokrasi-Khilafah

One thought on “Rezim Demokrasi Kian Mematikan Potensi Generasi

Tinggalkan Balasan