Daar An-Nadwah, Markas Utama Musuh Dakwah Rasulullah

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS – Di masa lalu, Daar an-Nadwah merupakan salah satu tempat terpenting bahkan disucikan di kota Makkah setelah Ka’bah. Dibangun saat kota itu dipimpin oleh Qushayy bin Kilab (sekitar tahun 400 M), salah seorang keturunan Quraisy yang kaya raya, dan merupakan nenek moyang Nabi Muhammad SAW yang kelima.

Dar memiliki arti rumah, sedangkan an-Nadwah berarti berkumpul. Kata tersebut diambil dari kata : An-nada, An-nadi & al-muntada, yang artinya tempat duduk suatu kaum di mana mereka bercengkerama di sekelilingnya. Karenanya, secara etimologi Daar an-Nadwah adalah rumah tempat berkumpul atau bermusyawarah.

Tempat ini posisinya sangat dekat dengan Ka’bah dan dibangun sebagai tempat pertemuan para pembesar Makkah. Mereka bermusyawarah mengenai masalah-masalah negeri di tempat itu. Karena menurut kebiasaan mereka, semua masalah yang terjadi harus diselesaikan dengan persetujuan bersama.

Daar An-Nadwah Sebagai Pusat Politik

Di antara keputusan–keputusan yang diambil antara lain, soal pengangkatan pemimpin Quraisy, peperangan, keputusan haji, perdagangan, perjalanan bisnis dan lain-lain. Bahkan urusan perkawinan anak-anak mereka pun diputuskan di tempat ini.

Karenanya, Daar an-Nadwah bisa diidentifikasi sebagai pusat pemerintahan, pusat administrasi, sekaligus pusat legislasi yang keputusan-keputusannya tidak hanya mengikat penduduk Makkah, tapi berlaku pula bagi siapapun yang mengunjunginya.

Yang berhak memasukinya hanya kalangan tertentu. Yakni dari kalangan para tokoh, terdiri dari pemimpin kaum dan para intelektual yang usianya lebih dari 40 tahun. Mereka ini disebut sebagai Al-Mala, yang berperan sebagai tokoh pemerintahan. Adapun masyarakat biasa hanya bisa berkumpul di sekitar Ka’bah. Yakni di suatu tempat yang di kenal dengan nama Nadil Qawm.

Di masa perjuangan dakwah Rasulullah SAW, para pemuka Quraisy sangat intens mengadakan pertemuan di Daar An-Nadwah ini. Mereka berdiskusi dan kerap berdebat panas mencari cara terbaik untuk menghadang laju dakwah.

Saat awal Rasulullah saw. diperintah menyampaikan dakwah Islam, mereka masih mensikapinya dengan penuh kehati-hatian. Terlebih saat itu dakwah memang belum menampakkan bahayanya. Paling mereka hanya berbisik-bisik membincang munculnya fenomena pemikiran baru itu. Atau mengolok-olok Rasulullah saw. ketika beliau menyampaikan wahyu yang turun kepadanya.

Saat itu, mereka mengira bahwa dakwah Muhammad hanyalah fenomena biasa. Muhammad dalam pandangan mereka hanyalah seseorang yang sedang terpukau oleh ajaran lainnya dan suatu saat akan kembali kepada ajaran lama. Itulah kenapa mereka sama sekali tak menghiraukannya.

Namun saat Rasulullah saw. mulai dakwah secara terbuka, dan terang-terangan menyebut berhala-berhala mereka bahkan mencelanya, mereka mulai melihat bahwa urusan ini bukan urusan biasa saja.

Baca juga:  Ustazah Ratu Erma: Jangan Lelah Membela Islam

Daar An-Nadwah Sebagai Pusat Makar

Maka mulailah mereka sungguh-sungguh memperhatikan urusan dakwah Muhammad ini. Apalagi ternyata mereka dapati bahwa dakwah Muhammad mulai mampu memikat penduduk Makkah, yang berarti akan mengancam kedudukan dan kepentingan mereka.

Itulah kenapa, mereka mulai intens berdiskusi di Dar An-Nadwah, mencari cara jitu untuk menjauhkan masyarakat Makkah dari pengaruh dakwah. Maka mereka membuat berbagai strategi, mulai dari yang halus hingga yang kasar. Termasuk senjata teror dan  ancaman kepada para pengikut Muhammad. Serta membuat  propaganda anti Muhammad yang ditujukan kepada para peziarah dan pebisnis yang datang dari luar kota Makkah.

Mereka pun bersepakat, bahwa bagi para budak, tuan-tuan mereka dilegalkan untuk melakukan penyiksaan dan gangguan. Sebagian lagi diputus penghidupannya. Sedemikian keras sehingga sebagian pengikut yang lemah, diizinkan oleh Rasulullah saw. hijrah ke Habsyah.

Di masa itu, kafir Quraisy pun menggunakan para ahli syair sebagai influencer opini-opini rusak dan merusak. Mereka berkeliling di sekitar kota termasuk di pasar-pasar. Targetnya, selain membuat kegaduhan, juga untuk memunculkan keragu-raguan dan menyesatkan akidah dan pemikiran umat Islam.

Mereka bahkan tak segan mencap Muhammad yang mereka kenal sebagai al-Amin dengan gelar-gelar buruk. Seperti gelar dukun, tukang sihir, pemecahbelah, bahkan orang gila. Tidak lain agar orang-orang menjauh dari Muhammad. Namun sebagaimana yang lainnya, senjata ini pun gagal.

Lalu mereka pun kembali berkumpul di Daar an-Nadwah. Hingga diperoleh kesepakatan untuk mendatangi Abu Thalib paman Muhammad yang kerap melindunginya. Lalu mereka membujuknya agar meminta Muhammad menghentikan dakwahnya. Bahkan mengiming-iming Muhammad dengan tawaran menjanjikan. Namun semua usaha mereka ini pun gagal.

Karena berbagai cara berujung kegagalan,  sementara laju dakwah makin kencang dan dukungan makin kuat, maka mereka membuat keputusan politik yang sangat berani dan fenomenal. Yakni memboikot Muhammad dan kelompoknya. Bahkan semua kabilah-kabilah yang mendukungnya. Yakni Bani Hasyim dan Bani Muthallib.

Lantas sebagai bukti keseriusan tekad mereka, keputusan ini pun mereka tulis dalam bentuk dokumen politik yang digantung di dinding Ka’bah. Tak lain untuk menunjukkan bahwa keputusan ini adalah keputusan penting yang berlaku bagi siapapun yang berkunjung ke kota Makkah.

Namun setelah pemboikotan berjalan selama tiga tahun dan kondisi kaum Muslim berada dalam puncak kesulitan terisolir di lembah (Syi’ib) Abi Thalib, atas izin Allah manuver kafir Quraisy ini pun gagal total ditandai dengan rusaknya dokumen karena dimakan rayap.

Baca juga:  Ustazah Ratu Erma: Jangan Lelah Membela Islam

Bahkan keputusan politik ini menjadi bumerang bagi bangsa Quraisy karena selain isu Muhammad dan Islam makin tersebar luas, kasus ini justru memancing simpati masyarakat di luar bangsa Quraisy. Hingga bangsa-bangsa lain bertanya-tanya, mengapa bangsa semulia Quraisy bisa melakukan hal yang diluar batas kemanusiaan.

Namun alih-alih melonggarkan kebijakan repressifnya, batalnya piagam pemboikotan justru membuat bangsa Quraisy makin benci dan bersikap keras. Terlebih ketika Rasulullah kehilangan pelindung utamanya yakni Abu Thalib dan Khadijah.

Maka, mulailah Rasulullah masuk ke tahapan dakwah yang paling berat. Hingga beliau mulai berusaha meluaskan dakwahnya, serta melakukan upaya mencari perlindungan dakwah ke kabilah-kabilah di luar Makkah, mulai dari Thaif, Amir Bani Sha’sha’ah, Bani Kilab dan lain-lain.

Namun usaha ini belum menghantarkan pada keberhasilan. Bahkan Rasulullah ditolak oleh kabilah-kabilah itu, sementara gangguan yang datang dari bangsa Quraisy tak pernah berkurang. Dan gangguan itu sampai pada taraf paling puncak yang membuat para sahabat bertanya-tanya, kapan pertolongan Allah itu tiba.

Di saat paling kritis itulah harapan kemenangan dari arah Madinah. Di musim haji tahun ke 12 kenabian, 12 pemuka Madinah berbaiat kepada Rasulullah saw. di Aqabah. Dilanjut tahun berikutnya sebanyak 75 orang penduduk Madinah berbaiat kepada Rasulullah saw. dengan baiat perang dan baiat penyerahan kekuasaan.

Rupa-rupanya, keputusan Rasulullah menyertakan Mush’ab bin Umair dalam kepulangan rombongan pertama kafilah Madinah di tahun ke 12 kenabian itu, betul-betul membuka pintu-pintu hidayah para pemuka masyarakat Madinah lainnya. Hingga mereka menyatakan siap menjadi penolong Rasulullah dan siap dipimpin olehnya dan berperang membela Rasul dan risalahnya.

Rencana Pembunuhan di Daar An-Nadwah

Maka kemenangan pun benar-benar sudah ada dalam genggaman. Saatnyalah bagi beliau untuk memerintahkan kaum Muslim Makkah berhijrah ke Madinah. Hingga mereka secara berkelompok meninggalkan Makkah. Sebuah fakta politik yang tentu sangat menyentak perasaan para penguasa Quraisy.

Maka di Daar An-Nadwah mereka kembali membuat rancangan makar sebagai upaya terakhir dari sisa-sisa kekuatan yang mereka miliki. Tentu dengan penuh kemarahan dan kebencian yang memuncak. Terlebih mereka sungguh  takut akan kuatnya dukungan penduduk Madinah kepada Muhammad dan agamanya.

Maka usulan pun datang dari salah seorang di antara mereka, terkait apa yang harus dilakukan kepada Muhammad yang masih ada di Makkah. Salah seorangnya mengusulkan, agar Muhammad dikurung dalam kurungan besi, tapi tak ada yang memberi suara. Ada juga yang usul untuk mengusirnya, tapi mereka khawatir justru Muhammad pergi ke Madinah dan membangun kekuatan di sana.

Baca juga:  Ustazah Ratu Erma: Jangan Lelah Membela Islam

Hingga akhirnya mereka sepakat agar setiap kabilah mengutus pemuda terbaik dan terkuat untuk bersama-sama membunuh Muhammad, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa menuntutnya. Mereka berpikir ini adalah keputusan politik paling baik untuk mengubur dakwah Islam yang dipandang sudah memporak porandakan bangsa dan ambisi-ambisinya.

Namun sebagaimana sudah diketahui, makar inipun gagal total. Baginda Rasulullah berhasil lolos dari upaya pembunuhan. Dan di tahun ke 13 kenabian itulah beliau berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar ra, sahabat besar yang paling dicintainya. Hingga sampai dengan selamat ke tanah Madinah, meski musuh tak henti mengejar.

 

Demikianlah, dari Sirah kita paham, betapa Dar An-Nadwah menjadi tempat terpenting bagi bangsa Quraiys. Bahkanpun hingga Rasulullah telah berhasil membangun kekuatan Negara Islam di Madinah, dan melakukan kontak-kontak bersenjata dengan kekuatan politik Makkah.

Di Daar an-Nadwahlah mereka tetap menyusun kekuatan pasukan perang untuk melawan pasukan Negara Islam. Baik di perang Uhud maupun di perang-perang setelahnya. Hingga Allah berkenan memberi kemenangan kepada Umat Islam dengan takluknya kota Makkah di tahun ke 8 H (630 M), tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H.

Saat itu Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah.

Konon saat Umar bin Khattab ra. menjadi khalifah, beliau pernah mengunjungi Dar an-Nadwah. Lalu beliau mengubah rumah tersebut menjadi tempat berwudhu bagi para jemaah haji.

Lalu di masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya di masa pemerintahan al-Mu’tadid (284 H/897M) terjadi perluasan Masjidil Haram hingga Dar an Nadwah masuk dalam bagiannya. Maka untuk mengingat letak Dar an-Nadwah itu dibuatlah sebuah pintu masuk Masjid dengan nama Bab Daru an-Nadwah.

Khatimah

Saat ini, Dar An-Nadwah hanya tinggal sejarah. Namun sirah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa perjuangan menegakkan dinul Islam adalah perjuangan yang tidak mudah. Para penjaga sistem rusak akan selalu berupaya keras menghalanginya.  Seraya mengerahkan segala daya dan upaya yang mereka bisa.

Namun sejarah pula yang mengajarkan pada kita, bahwa kekuatan makar musuh akan musnah dengan sendirinya. Sejalan dengan upaya para pengemban dakwah untuk tetap konsisten berpegang teguh pada Islam, bersabar dalam menapaki jalan perjuangan serta mengokohkan keyakinan, bahwa ujung dari semua ikhtiar ini adalah kemenangan.  [] Disarikan dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan