[Tapak Tilas] Aqabah, Tempat Bersejarah yang Nyaris Terlupa

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS – Bangunan unik berbentuk kotak yang ditemukan di antara celah bukit batu itu nyaris saja rata dengan tanah. Namun karena dibuat dari bahan yang super kokoh, tak ada satu pun pekerja proyek perluasan Jamarat di kawasan Mina itu yang mampu merobohkannya.

Sekitar tahun 2005-2008, pemerintah Saudi memang sedang gencar-gencarnya melaksanakan proyek perluasan area tempat lempar jumrah. Sekaligus juga memperbaiki berbagai fasilitas ibadah haji lain di area Armina (Arafah, Mudzdalifah, dan Mina).

Maklum, dari tahun ke tahun jumlah jemaah haji memang terus meningkat signifikan. Sehingga area dan fasilitas yang ada tak lagi mencukupi untuk menampung jumlah jemaah yang datang dari mancanegara.

Bahkan di musim haji tahun 1990 sempat terjadi malapetaka besar di terowongan Mina. Lebih dari 1.400 jemaah haji tewas, dan sekitar 600-nya adalah jemaah haji asal Indonesia.

Sebagai konsekuensi dari proyek kolosal ini, gunung-gunung dan perbukitan yang ada di kawasan Armina, harus dikeruk bahkan dihancurkan. Konon saat itulah, para pekerja proyek di kawasan Mina menemukan sebuah bangunan kuno yang sangat sulit dirobohkan.

Sekitar seminggu, mereka terus berusaha menghancurkannya dengan buldoser. Namun usaha ini tak berhasil juga. Hingga penelitian pun dilakukan. Dan hasilnya, para arkeolog dan sejarawan menyimpulkan bahwa bangunan sederhana itu adalah bekas bangunan masjid peninggalan dari masa Khilafah Abbasiyah.

Situs Islamiclandmark.com menyebut, bangunan berukuran 17 x 29 meter dengan tinggi dinding depan sekitar 7 meter dan dinding bagian belakangnya setinggi 2 meter ini dibangun oleh Abu Jafar al-Mansour di tahun 144 H. Lalu pada tahun 1250 H direnovasi oleh Sultan Abdul Majeed Khan al-Othmani.

Disebutkan, masjid ini dibangun sebagai penghormatan kepada Abbas Bin Abdul Muthallib ra. Sekaligus sebagai penanda terjadinya peristiwa baiat Aqabah yang dilakukan oleh baginda Rasulullah saw. dengan para tokoh asal Yatsrib (Madinah) pada tahun 12 dan 13 kenabian di bawah kesaksian pamannya, Abbas.

Rupa-rupanya bangunan kuno yang kemudian disebut sebagai Masjid Baiat ini telah tersembunyi selama ratusan tahun. Keberadaannya hanya diketahui kalangan terbatas karena posisinya memang terpencil di antara celah-celah perbukitan di pinggiran kota Makkah.

Aqabah, Tempat Baiat Penuh Berkah Pilihan Rasulullah

Aqabah memang memiliki kedudukan penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw.. Di sinilah, semburat cahaya kemenangan yang telah lama ditunggu-tunggu mulai tampak memancar. Yakni dengan terjadinya dua kali baiat pada tahun ke -12 dan 13 pascakenabian.

Baca juga:  Baiat Aqabah Kedua: Batu Pijakan Tegaknya Negara Islam

Baiat Aqabah Pertama, terjadi antara 12 orang laki-laki dari penduduk Madinah dengan Nabi Saw.. Sebagian dari mereka adalah para pemuka Khazraj yang di musim haji tahun sebelumnya sudah memeluk Islam.

Sebagaimana dikisahkan dalam Sirah, di tahun 11 kenabian, kondisi dakwah Islam di Makkah memang sudah dalam keadaan stagnan. Sementara medan dakwah pun kian menyempit karena permusuhan kaum kafir Quraisy sudah sedemikian hebat.

Bahkan saat itu Rasulullah Saw. sudah mengupayakan mencari nushrah (pertolongan) kepada para pemilik kekuatan dari kabilah-kabilah di luar Makkah. Beliau mendatangi Bani Tsaqif di Thaif, Bani Kindah, Bani Kilab, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, dan Bani Hanifah.

Namun saat itu beliau ditolak dengan beragam bentuk penolakan, mulai dari yang halus hingga yang kasar. Bahkan setelahnya, seluruh kabilah-kabilah itu turut mengisolir Rasulullah karena kaum Quraisy mengancam akan memusuhi siapa pun yang membantunya.

Namun semua itu tak pernah sedikit pun menyurutkan semangat Rasulullah dan kelompok dakwahnya. Hingga saat tiba musim haji di tahun 11 kenabian itu beliau tetap mendatangi kabilah-kabilah, tanpa peduli akan penolakan tersebab fitnahan Quraisy yang disebar.

Salah satu yang beliau datangi adalah rombongan haji dari Madinah (saat itu masih bernama Yatsrib). Dan pertemuan itu membuat mereka terpukau pada ajaran Islam. Apalagi mereka sudah sering mendengar cerita-cerita akan datangnya seorang Nabi terakhir dari orang-orang Yahudi yang bertetangga di kampung halamannya.

Maka tanpa ragu mereka pun masuk Islam dan kembali pada kaumnya dengan penuh rasa bahagia. Lalu mereka menceritakan keislaman mereka. Hingga nama Muhammad menjadi perbincangan hangat di Madinah. Dan sebagian dari mereka pun tertarik pada Islam.

Suasana inilah yang membuat keinginan mereka bertemu Rasulullah sedemikian membuncah. Maka di musim haji tahun berikutnya (tahun 12 kenabian), para tokoh Madinah bersepakat untuk datang ke Makkah untuk berhaji dan menemui Rasulullah SAW.

Maka terjadilah momen penting itu. Di mana pada suatu malam di sela-sela musim haji itu, ke-12 orang ini bertemu dengan baginda Rasulullah Saw. di Aqabah untuk meneguhkan keislaman mereka melalui baiat yang dikenal sebagai Baiat Aqabah Pertama yang merupakan baiat kerasulan dan bukan baiat perang.

Baca juga:  Baiat Aqabah Kedua: Batu Pijakan Tegaknya Negara Islam

Mereka membaiat beliau untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan mendatangkan bukti-bukti yang direkayasa di antara dua tangan dan kakinya dan tidak akan melakukan maksiat dalam hal yang makruf.

Baiat Aqabah Kedua, Baiat Penentuan

Setelah mereka menyempurnakan baiat tersebut dan musim haji berakhir, mereka pun kembali ke kampungnya di Madinah. Saat itu, Rasulullah Saw. mengutus Mush’ab Bin Umair untuk menjadi duta Islam dan mendakwahkan Islam di Madinah.

Maka di kota Madinah, Mush’ab dengan bantuan As’ad Bin Zurarah gencar melakukan aktivitas dakwah. Mereka mendatangi orang-orang di rumah-rumah, kebun-kebun dan di kabilah-kabilah mereka. Hingga, satu demi satu penduduk Madinah masuk Islam, termasuk para tokohnya.

Di antara mereka adalah Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair yang ketika itu menjadi pemuka dari Bani Abdul Asyhal. Di mana keislaman dua tokoh kunci ini telah berdampak signifikan dalam mempercepat proses dakwah di kota Madinah.

Maka dalam jangka waktu kurang satu tahun, bukan hanya nama Muhammad yang disebut-sebut, tapi hidayah Islam pun kian menyebar di rumah-rumah orang Madinah, kecuali di sebagian pemukiman orang Aus, yaitu Khuthmah, Waail, dan Waaqif.

Dalam hal ini, Mush’ab bersama kader dakwahnya di Madinah telah berhasil mempersiapkan prasyarat tegaknya sistem kehidupan Islam yang selama ini diperjuangkan Rasulullah dan para sahabat lainnya di kota Makkah.

Yakni terbangunnya opini umum yang lahir dari kesadaran umum tentang kebenaran akidah dan ajaran-ajaran Islam dalam menyelesaikan seluruh problem kehidupan. Sekaligus menyiapkan dukungan para ahlul quwwah atau ahlun nushrah (pemilik kekuatan/pertolongan) untuk menyerahkan kekuasaan mereka kepada Rasulullah Saw.

Maka ketika datang musim haji berikutnya (tahun ke 13 kenabian atau 622 M), Mush’ab kembali ke Makkah dan menceritakan kepada Rasul tentang keadaan kaum Muslim, kekuatan mereka, berita-berita Islam, dan perkembangan penyebarannya. Serta menceritakan bargaining position Islam untuk mengalahkan semua hal.

Di luar itu, Mush’ab pun memberi kabar gembira kepada Rasul Saw. bahwa pada tahun itu sebagian kaum Muslim akan datang ke Makkah. Dan mereka adalah yang paling tinggi keimanannya kepada Allah, paling siap mengemban risalah Allah, dan mempertahankan agama-Nya.

Baca juga:  Baiat Aqabah Kedua: Batu Pijakan Tegaknya Negara Islam

Tentu hal ini membuat Nabi Saw. amat gembira. Beliau mulai berpikir menjadikan Madinah sebagai tempat hijrah kaum Muslimin yang ada di Makkah.

Namun sebelumnya beliau harus lebih dahulu memastikan kesiapan mereka untuk melindungi dakwah; menyaksikan sejauh mana kesiapan mereka berkorban di jalan Islam; Serta melihat apakah kedatangan mereka ke Makkah siap untuk membaiat beliau dengan baiat perang, yaitu baiat yang akan menjadi batu pijakan untuk mendirikan Negara Islam.

Maka, setelah rombongan itu datang, beliau bertemu dengan mereka dan qanaah dengan keadaan mereka. Sehingga terjadilah perjanjian di antara beliau dan rombongan itu untuk bertemu pada suatu malam di Aqabah.

Pertemuan itu dihadiri oleh 75 kaum muslim, yaitu 73 laki-laki dan dua orang wanita, yakni Nasibah binti Ka’ab Ummi ‘Imarah dari Bani Mazin bin an-Najjar, dan Asma’ binti ‘Amru bin ‘Adiy dari Bani Salamah yang tidak lain adalah Ummu Mani’. Sementara Rasulullah saw. ditemani oleh Abbas Bin Abu Muthallib yang saat itu belum Islam.

Dari dialog-dialog yang terjadi sebelum baiat dilakukan, baik antara Nabi, Abbas maupun tokoh-tokoh Madinah serta dengan menilik isi baiatnya, maka sangat jelas menunjukkan bahwa baiat ini adalah baiat penyerahan kekuasaan dan baiat perang.

Artinya, baiat Aqabah kedua ini secara tegas menandai berpindahnya dakwah dari fase interaksi dengan umat menuju fase tegaknya sistem Islam (nuqtah irtikaz). Dan melalui pembaiatan itu Rasulullah Saw. resmi diangkat sebagai pemimpin negara Islam di Madinah.

Dan setelah itu, Madinah pun menjadi tempat hijrah bagai kaum muslimin Makkah. Berbondong-bondong umat Islam berhijrah ke darul Islam di Madinah dengan segala cerita heroiknya. Diikuti kemudian oleh baginda Nabi dan sahabatnya Abu Bakar AshShiddiq yang disambut sukacita oleh kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah.

Khatimah

Saat ini, Masjid Baiat Aqabah menjadi salah satu dari sedikit situs sejarah yang dipertahankan Pemerintah Saudi di tengah megahnya bangunan beton berteknologi tinggi seputar Armina.

Dengan mengunjunginya kita bisa mengambil ibrah kebaikan tentang perjuangan menegakkan Islam yang penuh tantangan. Meskipun sayang para peziarah tak bisa melakukan salat di sana karena sekeliling masjid ini telah dipasang pagar besi berwarna hitam dan dikunci gembok oleh otoritas yang berwenang. [MNews/Juan]

3 thoughts on “[Tapak Tilas] Aqabah, Tempat Bersejarah yang Nyaris Terlupa

Tinggalkan Balasan