Habasyah, Tempat Hijrah di Awal Dakwah yang Kini Sarat Konflik Berdarah

Oleh: Siti Nafidah Anshory

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS – Siapa tak kenal negeri Habasyah? Sebuah negeri yang terpilih sebagai tempat hijrah pertama para Sahabat Rasulullah di awal dakwah. Disebut juga sebagai Abessinia, atau hari ini dikenal dengan nama Ethiopia.

Negeri ini berjarak cukup jauh dari kota Makkah dan terhalang Laut Merah. Bisa dibayangkan berapa lama dan seberapa sulit para Sahabat menempuhnya.

Sejak dakwah Rasulullah dan kelompoknya memasuki fase terbuka di tahun keempat kenabian, cukup banyak penduduk Makkah yang tertarik masuk Islam.

Namun sejalan dengan itu, hambatan dan gangguan dari para pemuka Quraisy pun makin keras dan kejam. Terutama dialami mereka yang bukan berasal dari suku Quraisy dan tak memiliki pelindungan.

Maka, di saat penganiayaan makin menjadi itulah, Rasulullah saw. menyarankan supaya mereka hijrah mencari perlindungan di Habasyah atau Abesinia.

Dikisahkan dalam Sirah Ibnu Ishaq,

“Setelah Rasulullah Saw. melihat apa yang menimpa para sahabatnya dari siksaan, sementara beliau mendapat perlindungan yang cukup dari Allah, kemudian juga dari pamannya Abu Thalib, dan beliau merasa tidak mampu memberikan perlindungan kepada mereka. Pada saat itulah beliau berkata kepada mereka, “Seandainya kalian pergi ke negeri Habasyah karena negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang tidak satu pun dari rakyatnya yang terzalimi dan bumi itu adalah bumi yang aman. Tinggallah kalian di sana hingga Allah memberikan jalan keluar kepada kalian dari apa yang menimpa kalian.”

Setelah itu, sebagian Sahabat pun pergi ke Habasyah. Mereka mencari perlindungan demi menghindarkan diri dari peluang kembali murtad akibat beratnya penindasan yang dihadapi.

Inilah hijrah pertama dalam Islam. Terjadi pada tahun ke lima sejak bi’tsah kenabian atau tujuh tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Yakni kira-kira tahun 615 M.

Menurut Ibnu Ishaq, gelombang pertama hijrah ke Habsyah ini terdiri atas 11 laki-laki dan 4 perempuan. Di antara mereka adalah Ustman bin ‘Affan ra bersama Ruqayyah putri Rasulullah saw., Abdurrahman bin Auf, Abu Hudzaifah, Utbah bin Rabiah bersama istrinya Sahlah binti Suhail bin Amr, Az-Zubair bin Awwam, Mush’ab bin ‘Umair, Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah, Utsman bin Mazh’un (yang memimpin hijrah), serta Amir bin Rabi’ah dan istrinya Laila binti Abi Hatsmah ra.

Rombongan pertama ini berangkat dengan mengendap-endap di malam hari, ada yang menggunakan unta dan sebagian berjalan kaki. Mereka berangkat dari Makkah menuju Pelabuhan Shuaybah yang sekarang dikenal sebagai Jeddah.

Meski tak aman dari pengejaran orang-orang Quraisy, namun akhirnya mereka berhasil keluar dari jazirah dengan menaiki sebuah perahu yang terapung di Pelabuhan Shuaibah. Mereka menyeberangi Laut Merah hingga sampai di Habasyah. Diperkirakan berlabuh di pelabuhan Massawa, tempat Masjid As-Sahaba sekarang berdiri.

Mengapa Harus Habasyah?

Pada masa itu di wilayah Habasyah berdiri Kerajaan Aksum yang beragama Kristen yang menguasai wilayah Ethiopia dan Eritrea saat ini. Rajanya yang bergelar negus atau نجاشي‎ (najāšī) saat itu bernama Ashama bin Abjar atau dikenal juga sebagai Negus Armah dan Ella Tsaham.

Saat rombongan Muhajirin pertama tiba, Raja Habasyah lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Wilayah itu lalu menjadi pusat penyebaran Islam di Habasyah/Abesinia/Ethiopia yang masuk dalam bagian Afrika Timur.

Bagi penduduk Makkah, negeri Habasyah memang bukanlah tempat yang asing. Mereka telah lama menjalin hubungan dagang. Bahkan tempat ini dipandang sebagai pasar potensial bagi para pebisnis Makkah.

Mereka bahkan sangat menyukai negeri itu karena selalu mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari produk-produk yang ditawarkannya.

Sebaliknya, warga Makkah bagi orang-orang Habasyah pun mempunyai kedudukan istimewa. Mereka memandangnya sebagai “Kekasih Allah” yang selalu mendapatkan perlindungan dari Allah. Salah satu yang mereka kenang adalah selamatnya kota Makkah dari serangan Abrahah karena pertolongan Allah.

Tiga bulan setelah kaum muslimin tinggal di negeri tersebut dan mendapat perlindungan sangat baik, para Sahabat mencoba kembali pulang ke kampung halamannya di Makkah karena mendengar kabar kaum Quraisy sudah melunak.

Namun, situasi Makkah ternyata belum aman, bahkan semakin menjadi-jadi. Pascamasuk Islamnya Hamzah dan Umar ra, eskalasi dakwah makin memanas. Kaum muslimin dan kabilah pendukungnya justru mengalami pemboikotan.

Atas perintah Rasulullah Saw. mereka pun kembali ke Habsyah bersama puluhan kaum muslimin lainnya. Tercatat jumlah mereka ada 83 laki-laki dan 18 kaum perempuan.

Dikarenakan jumlah Muhajirin gelombang kedua ini semakin banyak, orang-orang kafir Quraisy takut jika Islam menjadi besar di Habasyah. Mereka yakin ini bukan sekadar hijrah menyelamatkan diri, akan tetapi hijrah untuk menguatkan dan menyiapkan kaum muslimin.

Mereka pun berkumpul dan menyepakati pengiriman ahli lobi mereka, yakni Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Bersama keduanya dibawakan aneka hadiah untuk diberikan kepada Najasyi dan para pembesar di sekitarnya.

Dua orang utusan ini berusaha membujuk Najasyi dan menyampaikan berbagai fitnah keji tentang Muhammad dan ajarannya. Hingga terjadilah dialog sengit antara mereka dengan wakil umat Islam yang dihadirkan dalam persidangan, yakni Ja’far Bin Abi Thalib ra.

Namun, dialog itu justru menjadi bumerang bagi utusan Quraisy. Penjelasan Ja’far ra. tentang hakikat ajaran Islam dan Nasrani yang dianut Najasyi, justru membuka pintu hidayah baginya.

Maka, dengan tegas Najasyi menolak permintaan utusan tadi, mengusir mereka untuk kembali pada kaumnya. Adapun terhadap kaum muslimin, Najasyi memerintahkan agar mereka diberi perlindungan dan penghormatan yang tinggi.

Merujuk pada sejarah, lama waktu kaum muslimin di Habasyah ini sulit dipastikan tepatnya. Tapi besar kemungkinan mencapai beberapa tahun.

Dikisahkan, beberapa di antara mereka ada yang meninggal di sana. Ada juga yang ikut hijrah bersama Rasulullah Saw. ke Madinah pada 622 M. Sebagian lagi baru kembali setelah penaklukan benteng Khaibar pada 7 H/629 M. Di antaranya adalah Ja’far bin Abu Thalib.

Dari tempat pertama mereka berdiam inilah, perlahan namun pasti agama Islam mulai berkembang di Habasyah. Pada mulanya, Islam berkembang di wilayah pesisir selatan Afrika, khususnya dari Somalia. Setelah itu banyak penduduk Habasyah yang memutuskan memeluk agama Islam.

Akan tetapi, perkembangan yang pesat ini tak berjalan mulus. Umat Nasrani yang berada di wilayah utara Habasyah seperti Amhara dan Oromo justru melakukan upaya perlawanan.

Meskipun orang-orang Oromo sehari-hari mempraktikkan tradisi Waaqa yang dipengaruhi budaya Islam, kenyataannya mereka tak suka Islam berkembang di sana.

Sejarawan Ulrich Braukamper berkomentar, “Ekspansi yang dilakukan nonnuslim Oromo yang dilakukan selama berabad-abad di wilayah selatan Ethiopia, bertujuan untuk menghapuskan Islam dari kawasan itu.” Namun, upaya itu tak pernah berhasil.

Pada abad ke 16, Khilafah Utsmaniyah melakukan futuhat ke Habasyah melalui Kesultanan Adal dipimpin Iman Ahmad bin Ibrahim al Ghazi seorang pemimpin etnis Somalia. Tapi setelah itu, umat Islam mengalami mengalami pasang surut.

Sepanjang abad ke-19, mereka hidup dalam tekanan kebijakan kaisar yang memaksa mereka meninggalkan agama Islam dan masuk Kristen. Jika tidak mau, mereka akan diusir.

Habasyah di Abad-Abad Terakhir Ini

Habasyah atau Ethiopia dikatakan sebagai negara yang cukup unik jika dibandingkan negara-negara Afrika lainnya.

Hal ini karena Ethiopia tidak pernah dijajah selama Era Perebutan Afrika oleh bangsa Eropa setelah Konferensi Berlin 1885 dan terus merdeka hingga 1936 saat pasukan Italia menguasai negara tersebut. Lalu setelah itu beralih ke tangan Inggris pada 1441 dan mendapatkan kemerdekaan pada 1944.

Ethiopia adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di benua Afrika setelah Nigeria. Sekitar 43,5% penduduk Ethiopia adalah pemeluk kepercayaan Ortodok Ethiopia dan agama Islam sekitar 33,9%. Etnis mayoritas Ethiopia adalah Oromo (34,4%), Amara (27%), Somali (6,2%), dan Tigray (6,1%).

Bahasa resmi Ethiopia adalah bahasa Amharic (Bahasa resmi Nasional) dan tiga bahasa resmi negara bagian yaitu bahasa Oromo, bahasa Somali, dan bahasa Tigrigna.

Ethiopia juga dikenal sebagai negara yang kerap dilanda bencana kelaparan dan kekeringan luar biasa. Pada 1983-1985 misalnya, telah terjadi peristiwa kelaparan paling brutal yang menewaskan sekitar 400.000 penduduk. Dan pada 2000, Ethiopia pernah masuk dalam negara termiskin ketiga di dunia.

Kondisi ini telah menjadikan Ethiopia rentan intervensi asing lewat jalan bantuan ekonomi. Sejak tahun 2000 itu misalnya, kreditur Cina telah memberikan sejumlah dana sebesar 12,1 miliar dolar AS.

Tercatat jumlah total utang negara saat itu mencapai 29 miliar dollar AS. Namun jumlah ini sebenarnya bukan hanya berasal dari Cina, tapi juga dari Timur Tengah dan International Monetary Fund (IMF).

Selain problem ekonomi, Ethiopia juga sering dilanda konflik horizontal. Bahkan baru-baru ini berita menyedihkan datang dari Ethiopia, di mana sedikitnya 600 orang warga sipil tewas akibat pembantaian etnis di sana. Tepatnya di Kota May Kadra wilayah Tigray, yang dulu menjadi penampungan kaum Muhajirin pertama.

Diberitakan, Tigray mengalami pertempuran sengit sejak 12 bulan lalu dan terus berlanjut hingga kini. Pihak yang bersengketa adalah pemerintahan federal Ethiopia dan mereka yang disebut sebagai kelompok pemberontak Tigray (Front Pembebasan Rakyat Tigray) atau oleh AS disebut-sebut sebagai salah satu kelompok teroris.

Belum ada konfirmasi tentang apa yang sebenarnya dipersengketakan di negeri yang kaya potensi pertanian, gas alam, perak, mangan, emas, bijih besi, tembaga, timah, dan platinum ini.

Yang jelas, kedua belah pihak dituduh telah melakukan kekejaman terhadap warga sipil, dengan ribuan orang diyakini telah terbunuh dan ratusan ribu lainnya mengungsi, terutama ke wilayah Sudan.

Tak ada seorang pun yang bisa memprediksi kapan konflik berdarah ini akan berakhir. Namun yang pasti, kemuliaan Ethiopia sebagai tempat hijrah pertama ini hanya akan mewujud bersama penerimaan mereka secara mutlak kepada Islam dan kepemimpinan Islam.

Dan kesempatan ini masih terbuka bagi mereka dalam waktu dekat saat Khilafah ‘Ala Minhaj an Nubuwwah kembali tegak. Insya Allah. [Mnews/Gz] Disarikan dari berbagai sumber.

2 thoughts on “Habasyah, Tempat Hijrah di Awal Dakwah yang Kini Sarat Konflik Berdarah

  • 29 November 2020 pada 12:32
    Permalink

    semoga konflik dihabassyah segera berlalu. dan kemuliaan Ethiopia sebagai tempat hijrah pertama ini hanya akan mewujud bersama penerimaan mereka secara mutlak kepada Islam dan kepemimpinan Islam.

    Dan kesempatan ini masih terbuka bagi mereka dalam waktu dekat saat Khilafah ‘Ala Minhaj an Nubuwwah kembali tegak. insya Allah. Allahu akhbar.

Tinggalkan Balasan