Mendamba Mahasiswa Istimewa di Sistem Penuh Tipu Daya, Apa Bisa?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

“Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta”

(Totalitas Perjuangan)

MuslimahNews.com, OPINI – Bagi seorang aktivis, lagu ini tak asing bertengger di telinga. Siapa yang tak hafal dengan liriknya? Tiap diksi yang terucap selalu melontarkan semangat perjuangan. Hati akan membara, membakar kemungkaran dan ketidakadilan. Itulah semangat para mahasiswa, yang memiliki ghirah perjuangan membela kebenaran dari penindasan.

Sayangnya, sikap heroik yang tersemat dalam diri mahasiswa tak selamanya dianggap sebagai aksi kepahlawanan. Tidak sedikit yang mendiskreditkan loyalitas mereka terhadap kaum tertindas. Bahkan sampai membuahkan ribuan ancaman.

Apa yang terjadi saat ini adalah bukti kebenaran. Di saat ada kebijakan yang dinilai menzalimi rakyat, tentang pengesahan Omnibus Law, mahasiswa dengan darah panasnya menuntut keadilan. Peristiwa menyedihkan pun tak bisa terelakkan. Baku hantam dengan aparat keamanan. Tak sedikit pula yang akhirnya diamankan. Ada pula yang darahnya bercucuran.

Sangat mengenaskan. Aksi yang terjadi di Ibu Kota Jakarta, Semarang, Bandung, Banten, Surabaya, Makassar, Bekasi, Yogyakarta, Malang, hingga kemarin terjadi lagi di Jambi (detik.com, 12/10/20) dan beberapa tempat lainnya.

Kericuhan disertai perusakan fasilitas-fasilitas umum. Walaupun ada indikasi pihak lain yang sengaja membakar dan merusaknya, tetap tak bisa dimungkiri bahwa aksi mahasiswa yang menolak Omnibus Law tidak berjalan aman-aman saja. (kompas.com, 8/10/20)

Mahasiswa sebagai Motor Perubahan

Mahasiswa dididik untuk peduli dengan lingkungannya. Mereka dibekali idealisme yang tinggi. Tak mengherankan mereka berani turun ke jalan demi memperjuangkan sebuah kebenaran. Sayangnya, semua itu tak bernilai bagi sebagian orang. Dalam kondisi aksi di mana-mana, ancaman demi ancaman datang silih berganti. Ancaman yang siap menodong mereka yang ikut dalam aksi tolak Omnibus Law.

Baca juga:  Rezim Obral Janji, Jamin Mahasiswa Jadi Pengusaha. Masih Percaya?

Mulai dari surat edaran dari Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang melarang mahasiswa ikut aksi tolak Omnibus Law (pikiran-rakyat.com, 11/10/20). Kemudian kalau sudah lulus mau kerja di mana, dari Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani. Hingga tuduhan bahwa aksi mereka bersponsor sebagaimana disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Haertanto (finance.detik.com, 8/10/20).

Lebih dari itu semua, kita tak dapat pungkiri roda perubahan negeri ini semua dimulai dari para pemuda. Gerakan reformasi yang melengserkan tirani orde lama pun dipimpin para mahasiswa.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang selalu terlintas dalam benak ini. Mengapa setiap mahasiswa bergerak, selalu ada pertumpahan darah? Mengapa pengorbanan mereka tak kunjung pada perubahan yang signifikan?

Keberhasilan Sistem Mencetak Generasi

Banyak orang berpendapat, untuk mengubah kondisi masyarakat dan negara diperlukan pribadi yang mumpuni. Maka perubahan terbaik berawal dari individu, baru masyarakat setelah itu negara.

Nyatanya prinsip ini tak pernah membuahkan hasil. Setiap ada individu yang baik bahkan saleh berusaha mengubah masyarakat dan negara, tak akan mampu bertahan lama. Jika bukan dirinya yang ikut terjerumus, setidaknya dia akhirnya terpental dari sistem yang buruk.

Mau tidak mau, kita perlu percaya bahwa sebenarnya kondisi individu sangat dipengaruhi sistem. Sistem memiliki kemampuan secara sistematis mencetak, menjaga, dan memelihara kondisi tertentu. Termasuk mencetak individu dan menjaganya. Kualitas mahasiswa juga tergantung dari bagaimana sistem mencetaknya. Mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat hingga kebijakan negara.

Jika sistem yang ada berbau kapitalisme sekuler, maka pendidikan keluarga pun tak lepas dari pengaruh kapitalisme sekuler. Meski ada keluarga yang mendidik anaknya dan menjaga dari pengaruh sistem ini, mereka akan merasakan berat. Sebab, lingkungan dan kebijakan negara berlawanan dengan pemikiran mereka.

Sistem kapitalis yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup akan mendidik anak (mahasiswa) menjadi pragmatis. Sekularisme yang membuang agama dari kehidupan akan membentuk pemikiran mereka tak mau memakai aturan Tuhan. Hasilnya, jika secara fitrah hati mereka terpanggil atas ketidakadilan yang terjadi, maka cara dan solusi yang mereka tuntut hanya sebatas pragmatis juga.

Baca juga:  Demonstrasi Mahasiswa, Harus Berujung pada Perubahan Besar dan Mendasar

Tak heran jika saat aksi mereka mudah tersulut kemarahannya. Gharizah baqa lebih mendominasi. Mereka menuntut dikeluarkannya perpres untuk menghentikan Omnibus Law, menuntut reformasi kembali, atau memaki-maki dalam poster dengan bahasa yang tak ahsan. Semua itu terjadi karena pendidikan mereka selama ini mengajarkan demikian..

Revolusi Sistem Menghantarkan pada Kejayaan

Sebagaimana kita ketahui, sudah sejak dulu para penjajah menggenggam negeri ini. Belanda “berhasil” mendidik para pemuda kita memiliki pemikiran seperti mereka. Walaupun akhirnya kita merdeka, pemikiran kapitalis sekuler masih tertancap di benak hingga kini. Alhasil, seberapa banyak perubahan yang dilakukan, tak akan pernah berhasil jika sistem yang menaungi kita tetap sama: Kapitalisme sekuler.

Jelaslah bagi kita, pendidikan di sistem kapitalis sekuler saat ini juga membentuk mahasiswa yang berjiwa kapitalis sekuler. Maka, untuk membentuk mahasiswa yang istimewa (berkepribadian Islam) kita membutuhkan sistem Islam.

Kenapa kita memilih mahasiswa yang berkepribadian Islam? Karena hanya Islam yang dapat menjamin seseorang memiliki pola pikir dan pola sikap yang benar. Sebagaimana agama Islam sendiri yang terbukti kebenarannya.

“Sesungguhnya agama yang hak di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Islam pun memiliki sistem yang dapat membentuk seseorang berkepribadian istimewa. Dengan sistem pendidikan Islam yang mengedepankan keimanan kepada Allah, mampu menanamkan keimanan pada kaum pelajar. Mereka memiliki pemikiran Islam dan tingkah laku sesuai dengan Islam.

Sistem ekonomi Islam menjaga individu agar tidak kekurangan apa pun, terpenuhi segala sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanannya. Para pemuda pun terjaga niatnya dalam belajar. Bukan sekadar mencari pekerjaan, tapi untuk menuntut ilmu dan memanfaatkannya untuk rakyat.

Sistem sosial yang ada pun memberikan dampak luar biasa bagi kepribadian para pelajar. Dengan dipisahkannya laki-laki dan perempuan, akan mampu menjaga pergaulan keduanya dan menahan hawa nafsunya. Para pelajar/mahasiswa dapat terhindar dari perbuatan dosa/kemaksiatan.

Baca juga:  Editorial: Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Pecundang!

Sistem sanksi merupakan benteng terakhir sistem Islam. Sistem ini berperan sebagai jawabir dan jawazir. Jawabir adalah penebus dosa, yaitu membersihkan dosa bagi para pendosa yang bertobat dan menerima hukumannya. Jawazir adalah pencegah bagi orang lain untuk melakukan perbuatan. Tak akan ada lagi yang berani mengikuti kesalahan tersebut.

Itulah sistem Islam yang sempurna. Sistem yang hanya dapat dilaksanakan jika kita memakai sistem pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan ini sepaket dengan sistem lainnya. Keberadaannya tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kita sering mendengarnya dengan sebutan Khilafah dengan Khalifah sebagai pemimpinnya.

Oleh karena itu, untuk membentuk mahasiswa yang berkepribadian unggul, diperlukan sistem Islam yang kompleks. Sebagaimana perintah Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Mahasiswa Istimewa Berani Melawan Sistem Durjana

Mahasiswa yang baik memang hanya dapat lahir di sistem yang baik. Namun, untuk mewujudkan sistem itu butuh perjuangan. Diperlukan orang-orang istimewa yang memiliki kemampuan lebih untuk menghadapi sistem kufur.

Sebagaimana saat Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Mus’ab bin Umair, serta pemuda muslim lainnya yang berjuang di Makkah bersama Rasulullah saw.. Mereka memperjuangkan sistem Islam di tengah kejahiliahan orang Quraisy.

Saat ini pun kita butuh mahasiswa yang siap digembleng dengan Islam. Mereka yang berani memperjuangkan Islam di tengah hiruk pikuk kapitalisme. Tidak hanya menuntut perubahan reformasi, tapi hingga revolusi sistem, dari sistem kapitalisme sekuler ke sistem Islam.

Perubahan itu tak akan pernah terwujud kecuali ada yang yakin dan memperjuangkannya. Sebagaimana keyakinan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Rad: 11). [MNews/Gz]

7 thoughts on “Mendamba Mahasiswa Istimewa di Sistem Penuh Tipu Daya, Apa Bisa?

  • 19 Oktober 2020 pada 10:34
    Permalink

    Masya Allah dengan perjuangan mereka semoga membuahkah hasil yang bermanfaat bagi banyak orang bukan untuk orang orang tertentu saja yang mendapatkan manfaatnya

    Balas
  • 19 Oktober 2020 pada 05:43
    Permalink

    Hanya di sistem islam manusia di hargai kemanusiaanya.

    Balas
  • 18 Oktober 2020 pada 15:56
    Permalink

    Hanya islam yang mampu

    Balas
  • 18 Oktober 2020 pada 12:23
    Permalink

    Sosok pemuda berani membela kebenaran, tak takut apapun kecuali kepada Allah Subhanallahuwata’la hanya mampu dicetak oleh pendidik berdasarkan aqidah Islam saja.

    Balas
  • 18 Oktober 2020 pada 07:42
    Permalink

    MasyaAllah..
    Marilah para generasi muda Muslim berlomba” dlm kebaikan dan beramar ma’ruf nahi Munkar dengan cara yg baik sesuai syariat Islam..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *