[Nafsiyah] Lelah karena Lillah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Generasi terbaik umat pada masa lalu telah banyak memberikan kita teladan dalam beramal, berjuang di jalan-Nya. Mereka bukan saja orang-orang yang siap dan rela berkorban, tetapi generasi yang selalu merindukan bahkan menikmati pengorbanan di jalan Allah SWT.

Jangan ditanya perkara lelah pada mereka, karena kelelahan tak berarti apa-apa dibanding janji Allah tentang surga atas mereka.

Coba saat ini tanya pada diri kita, cukupkah kata “Surga” membuat kita tetap optimal dalam beramal? Bisa jadi terkadang kita lupa surga itu seluas langit dan bumi, segala kenikmatan ada di dalamnya.

Mengapa kita lupa? Sebab perkara dunia telah banyak menyedot perhatian kita, perniagaan, keluarga, dan kesibukan lainnya.

Hingga kita mudah mengatakan lelah, tak mampu lagi mengerahkan segenap kemampuan untuk beramal saleh. Bahkan di saat sebagian kaum muslimin yang lain sedang berjuang untuk agama-Nya, ia bermalas-malasan dengan alasan lelah.

Marilah kita belajar dari sepenggal kisah perang Badar.

Seribu pasukan musyrik rela berjalan menuju Badar, di musim panas yang menyengat. Berjalan kaki sepanjang 500 km, di tengah terik matahari yang membakar, melewati gunung-gunung batu yang gersang, dan padang pasir yang kering panas. Untuk apa mereka lakukan semua itu? Demi memerangi kekasih Allah, mencari kemurkaan Allah.

Baca juga:  Jangan Takut Mendakwahkan Islam

Lelah mereka demi memperjuangkan kemusyrikan, mencari neraka Allah SWT.

Bandingkan dengan para mujahid Islam. Sultan Salahuddin al-Ayubbi, generasi yang begitu cintanya berkorban di jalan Allah, lebih menikmati kehidupan di kemah padang pasir ketimbang hidup enak di istana. Setiap pembicaraannya selalu berkisar jihad dan mujahidin.

Lelahnya orang-orang beriman adalah kenikmatan dan rida Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Jika kalian (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Ali ‘Imran: 140).

Jelas berbeda bukan, motivasi orang-orang kafir dengan orang-orang beriman dalam berbuat? Maka, lelah yang mereka dapatkan atas perbuatan yang dilakukan berbeda pula hasil akhirnya.

Sebagai muslim tentu kita akan memilih amal orang-orang yang beriman. Amal penduduk surga yang memiliki kegigihan berjuang untuk Islam, berkorban tanpa pamrih kecuali cinta pada Rabnya. Buah dari kesabaran mereka menahan lelah demi surga yang telah dijanjikan.

Baca juga:  Agar Anak Terbiasa Berdakwah

“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.” (QS Al-Furqan: 75).

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian sutra). Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat  (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.” (QS Al-Insan: 12-13).

Masih banyak surah yang menceritakan kemenangan orang-orang yang menjadi penduduk surga atas pengorbanan mereka selama di dunia. Betapa hebatnya mereka menahan rasa lelah, tanpa pernah berkeluh kesah hingga lari dari medan perjuangan.

Karena itu, kita berharap takkan ada lagi muslim yang malas beramal saleh. Mengedepankan urusan dunia lalu melupakan perkara akhirat. Siap lelah untuk perkara dosa, tapi takut lelah jika menyibukkan diri dalam ibadah atau dakwah.

Bersama kita memohon pada Allah, agar menumbuhkan pada diri kita kesiapan, kerelaan untuk selalu berkorban di jalan-Nya. Serta siap menahan lelah dalam beramal saleh atau berjuang di jalan-Nya. Berharap pula Allah menganugerahkan nikmat surga sebagai balasan atas setiap jerih payah untuk terikat pada syariat-Nya. [MNews/Rnd]

One thought on “[Nafsiyah] Lelah karena Lillah

  • 17 Oktober 2020 pada 18:18
    Permalink

    Maa Syaa Allah, tak terukur seberapa besarnya kenikmatan bagi orang” yang berjihad di jalan Allah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *