Demonstrasi Mahasiswa, Harus Berujung pada Perubahan Besar dan Mendasar

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Gelombang demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja masih terus berlanjut. Sayangnya, wujud aspirasi ini minim apresiasi. Keberadaannya dipropagandakan sebagai aktivitas brutal yang tak bermanfaat sama sekali.

Seperti saran Said Aqil pada pihak yang masih menolak Omnibus Law untuk menempuh jalur hukum lewat MK. Menurutnya, langkah tersebut lebih terhormat daripada mobilisasi massa.

Padahal, demonstrasi adalah hak seluruh warga negara yang diatur dan dilindungi konstitusi. Aroma oligarki kekuasaan yang begitu kuat telah memupus harapan umat terhadap independensi MK. Lihat saja gugatan hasil pilpres 2019 dan UU Ormas yang dibawa ke MK, nihil tak ada hasil.

Mahasiswa Dilarang Demo karena Pandemi?

Begitu pun apa yang menjadi respons kemendikbud terhadap demonstrasi mahasiswa. Alih-alih mengapresiasi, Nadiem Makarim malah menerbitkan surat larangan mahasiswa melakukan demonstrasi. Para dosen diminta untuk memastikan mahasiswanya melakukan proses pembelajaran daring dari rumah.

“Mengimbau para mahasiswa/i untuk tidak turut serta dalam kegiatan demonstrasi/unjuk rasa/ penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan, dan kesehatan para mahasiswa/i di masa pandemi ini,” bunyi surat yang ditandatangani Dirjen Pendidikan Anak dan Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam, Jumat, 9 Oktober 2020, dikutip Pikiranrakyat-Bekasi.com dari RRI.

Sebenarnya, mahasiswa dan buruh sebagai penggerak utama unjuk rasa bukannya tidak mengetahui bahaya yang mengintai mereka, bahwa potensi terciptanya klaster unjuk rasa itu besar. Namun, kezaliman yang begitu tampak atas pengesahan UU Cipta Kerja telah mendorong mereka untuk melakukan perubahan.

Jika pelarangan Nadiem kepada mahasiswa untuk berdemonstrasi karena alasan pandemi, mengapa pemerintah dengan ngototnya tetap akan menyelenggarakan Pilkada? Kampanye-kampanye yang dilakukan para calon seringkali tak mengindahkan protokol kesehatan. Padahal, tak terhitung banyaknya pakar yang menyampaikan kebahayaan jika Pilkada tetap terselenggara.

Baca juga:  Intelektual Menyongsong Terbitnya Fajar Cahaya Khilafah

Wajar jika banyak pihak beranggapan pelarangan demonstrasi hanyalah upaya meredam gejolak yang timbul akibat disahkannya UU Cipta Kerja. Bukan semata untuk keselamatan jiwa. Sungguh mengerikan, Pemerintah antikritik akan membawa bangsa ini menuju malapetaka yang besar.

Pengkerdilan Peran Intelektual Muda

Menyedihkan, peran kaum intelektual di negara ini dikerdilkan. Mahasiswa ideal di mata pemerintah adalah dia yang kesehariannya berkutat pada akedemiknya, fokus pada pembelajaran dan mengabaikan fakta sekitar. Wajarlah demikian, karena mahasiswa telah diproyeksikan menduduki tempat-tempat yang telah disediakan para korporasi.

Label mahasiswa sukses adalah dia yang bekerja di perusahaan bonafide dengan gaji besar, merupakan propaganda busuk dalam upaya mengerdilkan peran mahasiswa. Mahasiswa digiring untuk sekadar memikirkan diri sendiri. Menjadi apatis dengan permasalahan umat dan bangsa. Belajar dimaknai hanya untuk meraih materi.

Maka jangan heran, mereka mudah terbeli. Nasib masa depan bangsa tertutupi dengan ambisi-ambisi pribadi. Mahasiswa ber-IPK tinggi yang apolitis seolah lebih terhormat daripada aktivis yang menyuarakan suara umat. Inilah yang mengukuhkan peran mahasiswa hanya sebatas sekrup-sekrup yang memperkuat hegemoni korporasi.

Perubahan Harus Fundamental

Pemerintah mengklaim telah mengetahui siapa dalang di balik demo besar-besaran ini. Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, ada pihak-pihak tertentu yang memiliki ego sektoral yang membiayai aksi massa. Ia menuding sponsornya adalah tokoh-tokoh intelektual yang tidak ada di lapangan, mereka tampil di balik layar. (Detik.com, 8/10/2020)

Tak tanggung-tanggung, Menhan Prabowo pun mengatakan aksi massa yang menolak Omnibus Law telah ditunggangi pihak asing. Pihak asing yang tidak menyukai Indonesia menjadi negara aman dan maju, serta menebar hoaks pada masyarakat tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja. (cnnindonesia, 13/10/2020)

Bagaimana dengan aksi mahasiswa, apakah juga ditunggangi? Atau gerakan tersebut hanya untuk memenuhi pihak-pihak yang berkepentingan? Terlepas dari ada tidaknya kepentingan di balik aksi, penting untuk dipahami bahwa makna perubahan haruslah menyentuh hal yang esensi. Tidak boleh ada kepentingan yang menunggangi selain kepentingan umat.

Baca juga:  Aturan Buatan Manusia atau Aturan dari Al-Khaliq Al-Mudabbir saja?

Apakah dengan pembatalan Omnibus Law lantas selesai permasalahan buruh? Tentu tidak. Karena kita telah mengetahui bersama, jauh sebelum Omnibus Law dirumuskan telah lahir banyak undang-undang yang prokorporasi. Omnibus Law hanyalah layanan yang semakin prima saja dari penguasa pada pengusaha.

Intervensi asing dan juga kepentingan oligarki kekuasaan begitu mencengkeram negeri ini. Rakyat tak punya kekuatan untuk menolak hasil produk mereka. Omnibus Law hanyalah produk sistem demokrasi kapitalisme.

Bukan hanya keberadaan undang-undangnya yang ditolak, tapi juga haruslah beserta pabriknya, yaitu demokrasi kapitalisme. Sehingga, perubahan yang terjadi bukan hanya berputar pada penolakan undang-undang saja, melainkan sesuatu yang fundamental. Yaitu dengan menolak sistem demokrasi kapitalisme yang memproduksi undang-undang propemilik modal dan sistem yang melanggengkan oligarki kekuasaan. Inilah perubahan yang harus terjadi.

Tentu, metode perubahannya pun jangan menggunakan cara yang telah ditetapkan sistem ini. Hal demikian akan membuahkan kesia-siaan. Mengapa? Karena sistem ini tegak beserta dengan aturan yang melindungi kelanggengan sistem tersebut. Oleh karena itu, jika ingin merubah sistem demokrasi kapitalisme harus menggunakan metode di luar aturan main sistem ini.

Adapun metode sahih dalam perubahan adalah metode yang berlandaskan Alquran dan Sunah. Karena Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang mampu menebar rahmat kepada seluruh alam. Islam mampu menyelesaikan seluruh permasalahan manusia dan kehidupannya, termasuk permasalahan bernegara.

Mahasiswa Pelaku Utama Perubahan

Sungguh, peran mahasiswa dalam pandangan Islam begitu mulia. Pertama, mahasiswa adalah ahlul ilmu, yaitu orang yang sedang mempelajari ilmu dan memiliki ilmu. Allah SWT telah meninggikan derajatnya. Dengan ilmunya dia akan mampu menebarkan kebermanfaatanya pada umat manusia.

Baca juga:  Omnibus Law, Bencana bagi Kelestarian Lingkungan

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al Mujadilah: 11)

Dalam tafsir Al Jalalain, di akhir ayat diterangkan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman. Yang taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Berusaha menciptakan suasana damai, aman, dan tenteram dalam masyarakat. Demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah.

Dari ayat ini dipahami, orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu, dan ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, selain ahlul ilmu, mahasiswa adalah seorang pemuda. Sejarah telah menorehkan sosok pemuda sebagai agen perubahan. Mereka tampil di garda terdepan dalam memperjuangkan kebenaran. Lihatlah sosok Muhammad Al Fatih. Pemuda berusia 21 tahun yang sanggup menaklukan benteng Konstantinopel tahun 1453.

Sahabat Ibnu Abbas pernah menyatakan, ”Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan pemuda. Dan seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan di waktu masa mudanya.”

Mahasiswa adalah kaum intelektual muda. Dengan ilmu dan energinya akan mampu membawa bangsa ini menuju perubahan hakiki, yaitu diterapkannya Islam sebagai sistem yang menaungi negeri ini. Namun, langkah pemuda akan terhenti dan tak berarti jika haluan dalam pergerakannya tak mencontoh Nabi.

Maka dari itu wahai Pemuda, mari bangkit bersama. Melawan tiran yang terus saja menzalimi umat. Jangan biarkan waktu, pikiran, dan energimu terkuras hanya dengan pergerakan semu yang tak membawa perubahan berarti. [MNews/Gz]

One thought on “Demonstrasi Mahasiswa, Harus Berujung pada Perubahan Besar dan Mendasar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *