Ma’al Hadits Syarif: Kewajiban Manusia ketika Melihat Kemungkaran

MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Kemudian Allah akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Maidah [5] : 105).

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Wahai sekalian manusia, sungguh kalian semua telah membaca firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Kemudian Allah akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Maidah [5] : 105).

Dan sungguh kami telah mendengar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat kemungkaran, namun mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya kepada mereka semua—yang melakukan kemungkaran dan yang melihatnya namun tidak berusaha mengubahnya.” (Sunan Ibnu Majah, 12/158)

Pelajaran yang Besar Faedahnya

Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata, di dalam ayat ini terdapat banyak pelajaran yang besar sekali faedahnya.

Pertama, orang yang beriman tidak perlu takut kepada orang-orang kafir dan munafik, sebab mereka tidak akan pernah memberikan mudarat (membahayakan) kepada dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk.

Baca juga:  Meluruskan Makna Amar Makruf Nahi Mungkar

Kedua, orang yang beriman tidak perlu sedih dan gelisah melihat sepak terjang mereka, sebab kemaksiatan yang mereka lakukan tidak akan membahayakan dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk. Sedangkan sedih atas sesuatu yang tidak membahayakan dirinya adalah perbuatan sia-sia. Kedua pengertian ini dijelaskan dalam firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى:

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS An-Nahl [16] : 127).

Ketiga, orang yang beriman jangan sampai mendukung mereka dan jangan pula teperdaya dengan apa yang mereka janjikan atau berikan, seperti kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan dunia lainnya.

Keempat, orang yang beriman jangan sampai memusuhi para pelaku maksiat melebihi apa yang telah disyariatkan Allah, misalnya dalam membencinya, mencelanya, melarangnya, mengisolasinya, atau dalam menghukumnya.

Sebab, tidak sedikit di antara mereka yang melakukan amar makruf nahi mungkar yang terkadang melanggar apa yang telah ditetapkan Allah, baik hal itu dilakukan karena kebodohannya maupun kezalimannya.

Ketentuan Allah dalam hal ini harus dijadikan pegangan dalam mengingkari orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang fasik, dan orang-orang yang bermaksiat.

Baca juga:  Syaithan Akhras (Setan Bisu) dan Jubir Setan, Berbahaya bagi Islam

Kelima, orang yang beriman akan melakukan amar makruf nahi mungkar seperti yang disyariatkan Allah, seperti berdasarkan ilmu, lemah lembut, sabar, bertujuan baik, dan dilakukan dengan terarah dan terencana.

Paham dan Konsisten

Kelima hal di atas dipahami dari ayat tersebut dan harus dimiliki oleh siapa saja yang hendak melakukan amar makruf dan nahi mungkar.

Sehingga, bagi siapa pun yang telah memutuskan diri untuk menjadi pengemban dakwah, yang menyerukan tegaknya agama Allah, maka ia harus mengerti dasar-dasar dakwah dan dasar-dasar amar makruf nahi mungkar. Dasar-dasar tersebut haruslah diambil dari Alquran dan Sunah Rasulullah ﷺ.

Dalam berdakwah harus konsisten mengikuti thariqah (metode) Rasulullah ﷺ dalam mengemban dakwah, sedikit pun jangan sampai menyimpang darinya karena metode itu wahyu dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Metode itu telah menuntut untuk terus mendalami akidah Islam dan hukumnya; berinteraksi bersama masyarakat dengan melakukan pergolakan pemikiran, perjuangan politik, mencari dukungan untuk mendapatkan mandat kekuasaan, dan menegakkan hukum Allah dengan terlebih dahulu mendirikan Daulah Islam.

Ya Allah, berilah taufik, petunjuk, dan pertolongan kepada mereka yang dengan ikhlas berusaha dan bekerja mengikuti metode Nabi-Mu, demi tegaknya hukum Allah di muka bumi, dengan mendirikan Khilafah yang kedua, yaitu Khilafah yang berdiri di atas metode kenabian (‘ala minhajin nubuwwah). [MNews/Gz]

2 thoughts on “Ma’al Hadits Syarif: Kewajiban Manusia ketika Melihat Kemungkaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *