Editorial: Sekularisasi di Balik Propaganda Islam Inklusif

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Kalangan feminis tampaknya masih gigih melakukan penyerangan terhadap apa yang mereka sebut sebagai eksklusivisme Islam. Kali ini yang mereka sasar adalah soal cara sebagian keluarga muslim mendidik anaknya menutup aurat.

Adalah Nong Darol Mahmada, aktivis feminis sekaligus pendiri JIL, yang secara provokatif mengkritik pemakaian kerudung sejak dini. Dalam dialognya dengan Detsche Welle Indonesia, dia mengatakan bahwa di masa pertumbuhan seharusnya anak-anak dibiarkan menjadi siapa pun dan menjadi apa pun.

Dia menyebut, “Kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya ‘berbeda’ dengan yang lain.”

Tampak jelas dalam pandangannya, mendidik sama dengan memaksa, dan mendidik taat sama dengan mendidik berbeda.


Pernyataan nyinyir seperti ini sebetulnya bukan hal baru. Kalangan feminis dan liberalis memang berpandangan bahwa apa yang mereka sebut sebagai eksklusivisme Islam sangatlah berbahaya. Eksklusivisme dipandang wujud absolutisme kepercayaan yang justru dekat dengan keterkungkungan, submission, fundamentalisme, dan bahkan bisa memicu ekstremisme.

Itulah kenapa, persoalan menutup aurat, jilbab, cadar dan semua hal yang identik dengan identitas Islam menjadi hal sensitif bagi mereka, termasuk aturan pendidikan anak serta pola interaksi laki-laki dan perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

Semua isu ini terus mereka kritisi atas nama reinterpretasi dan rekonstruksi fikih agar sejalan dengan kemajuan zaman dan era keterbukaan.

Para penganjur Islam inklusif seperti Mohammed Arkoun dan Alwi Shihab menegaskan, absolutisme kebenaran agama akan memunculkan ketidakpercayaan dan perselisihan. Bahkan dalam bukunya, Alwi menggambarkan bahwa agama yang dipahami secara eksklusif telah menjadi elemen utama dalam mesin penghancuran manusia. Termasuk dalam konflik Islam-kristen di Indonesia, di mana tak ada alat komunikasi lain bagi antaragama tadi kecuali senjata.

Baca juga:  Mewaspadai “Penumpang Gelap” Liberalisme Seks di Balik RUU PKS

Oleh karena itulah, orang-orang seperti mereka menganjurkan upaya-upaya menginteraksikan pemikiran agama secara terus-menerus agar tercapai keterbukaan, saling pengertian, dan toleran. Salah satunya melalui dialog antaragama.


Mereka hendak menutup mata, konflik antaragama hanyalah satu di antara sekian banyak masalah yang dihadapi manusia. Sementara di luar itu, krisis multidimensi dan ketimpangan justru terus mendera kehidupan manusia. Semuanya bukan disebabkan agama, apalagi Islam.

Krisis ekonomi misalnya, yang hari ini sudah sampai pada taraf resesi berulang-ulang dan membuat kemiskinan merajalela. Begitu pun dengan krisis politik, sosial, dan moral yang kian mengerikan dan membahayakan semua sisi kehidupan. Semuanya bukan karena agama.

Namun, mereka malah lebay berteriak-teriak soal bahaya fundamentalisme agama, ketimpangan gender, eksklusivisme Islam, dan semacamnya. Lalu dengan lantang menyeru umat Islam agar mencampakkan agamanya dan menenggak racun pemikiran sekularisme, liberalisme, pluralisme, relativisme, dan kesetaraan. Padahal itu semua jelas bukan solusi.

Tidakkah mereka melihat bahwa semua krisis terjadi justru saat Islam tidak diterapkan? Bukankah mereka melihat bahwa semua krisis terjadi saat dunia dihegemoni kapitalisme yang tegak di atas paham kebebasan dan sekularisme?

Sungguh, sadar atau tidak, mereka sedang berjalan bersisian dengan penjajahan kapitalisme global. Semua paham yang mereka perjuangkan justru merupakan ruh atau nyawa sistem kapitalisme. Jika diadopsi umat Islam malah akan memperpanjang umur kezaliman.

Baca juga:  Cintailah Ajaran Islam Sepenuhnya!

Wajarlah jika hari ini pemikiran rusak yang mereka tawarkan begitu bebas diwacanakan, bahkan difasilitasi dan disokong dana besar. Hingga pemikiran dan gerakan mereka dengan cepat menyebar di dunia Islam dan merusak cara berpikir umat. Menjerumuskan mereka (umat) dalam kehidupan yang jauh dari aturan Islam.

Sadar atau tidak, mereka telah memilih posisi sebagai musuh Islam. Apa pun rela mereka lakukan demi menyerang Islam dan mencegah kembalinya Islam dalam kehidupan, termasuk mendudukkan Islam dalam posisi tertuduh, hingga menjadi agama yang layak disingkirkan dalam pengaturan kehidupan.


Namun, ‘ala kulli haalin, apa yang terjadi hari ini merupakan sebuah keniscayaan. Saat sistem sosialisme runtuh di tahun 90-an, Islamlah satu-satunya tantangan bagi peradaban kapitalisme global -sistem yang dimotori negara adidaya imperialis serta didukung para penguasa dan agen bayaran.

Bahaya Islam memang benar-benar nyata di hadapan mereka, karena Islam satu-satunya ideologi yang menentang penjajahan dan berpotensi mempersatukan semua kekuatan umat di berbagai belahan dunia.

Dengan akidahnya yang sahih dan syariatnya yang komprehensif, Islam pasti bisa menjadi solusi semua problem yang dihadapi. Membawa umat manusia pada kehidupan yang adil dan sejahtera.

Itulah yang membuat mereka berusaha sekuat tenaga agar Islam dan umatnya tetap tak berdaya. Apalagi mereka tak mungkin lupa akan sejarah panjang peradaban emas Islam yang belasan abad menaungi dunia. Maka, Islam pun dicitraburukkan sedemikian rupa agar tak ada lagi yang mau mengambilnya.

Baca juga:  Syariat Islam tak Mengekang Perempuan

Mereka menyerang aturan Islam, bahkan hingga yang sekecil-kecilnya, termasuk hukum-hukum soal keluarga. Ini karena mereka melihat sekecil apa pun hukum Islam, ketika diterapkan akan berpotensi melahirkan kekuatan. Yakni kekuatan untuk menuntut yang lebih besar dan lebih besar lagi, karena aturan Islam selalu membawa kebaikan.

Alhasil, apa saja yang dipropagandakan kalangan feminis liberal adalah wujud agenda penjajahan dan upaya menyingkirkan Islam dari kancah kehidupan. Sekalipun mereka mengaku muslim, anak kiai, ataupun lulusan perguruan tinggi Islam. Iman mereka sejatinya ada di tepian.

Marilah firman Allah Ta’ala ini kita renungkan,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

”Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.’(QS Al-Hajj [22]:11) [MNews/SNA]

7 thoughts on “Editorial: Sekularisasi di Balik Propaganda Islam Inklusif

  • 7 Oktober 2020 pada 12:07
    Permalink

    Kita butuh khilafah sebagai solusi

    Balas
  • 6 Oktober 2020 pada 22:25
    Permalink

    Sampai kapanpun mereka tdk akanridho pada Islam,apapun akan dilakukan demi mengacak acak dan mempropa gandakan aturan islam

    Balas
  • 6 Oktober 2020 pada 21:21
    Permalink

    Semakin nyata permusuhan mereka terhadap Islam.
    Yang dapat menyelamatkan kita adlah ditegakkannya syariat Islam dalam naungan Khilafah, orang” yang jail gak akan ada lagi, sebab tegas nya Islam dlm menangani masalah tersebut

    Balas
  • 6 Oktober 2020 pada 19:20
    Permalink

    Astaghfirullah. Mereka tak sadar jadi musuh2 Islam..

    Balas
    • 6 Oktober 2020 pada 22:05
      Permalink

      Feminis adalah buah dari sistem kapitalis

      Balas
  • 6 Oktober 2020 pada 19:15
    Permalink

    Kita benar2 membutuhkan khalifah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *