Jejak Khilafah di Nusantara, Bukti Tak Terbantahkan! (Bagian 1/2)

Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS – Masih banyak kalangan yang sangsi akan keberadaan jejak Khilafah di Nusantara, termasuk beberapa sejarawan di negeri ini.

Bahkan, setelah penayangan film dokumenter “Jejak Khilafah di Nusantara” (JKdN), sebagian sejarawan menyangkalnya. Padahal, jelas tergambar peninggalan-peninggalan sejarah, baik berupa dokumen, makam, meriam, dsb., sebagai bukti tak terbantahkan adanya jejak Khilafah di Nusantara.

Salah satu tokoh –yang dikenal sebagai ahli sejarah– pun sampai meralat pernyataan sebelumnya, padahal jelas-jelas tercantum dalam buku yang ditulisnya.

Aneh memang. Tapi beginilah negeri kapitalis sekuler, tiap orang bisa berkata sekehendak hatinya selama itu bermanfaat bagi kepentingannya atau kelompok tertentu.

Padahal, dalam Islam, apa yang seseorang katakan atau ungkapkan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak di yaumil akhir.

Jejak Itu Memang Ada

Tak dapat dipungkiri, kata Khilafah masih saja dinilai negatif di negeri ini, dinilai sebagai ancaman bagi negeri. Bahkan ada pihak tertentu berupaya keras menghilangkan kata tersebut dari benak kaum muslimin dengan mengatakan “Khilafah sesat atau radikal”. Siapa pun yang mengusungnya dianggap radikal.

Padahal, Khilafah adalah ajaran Islam, ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. yang wajib kita tegakkan kembali. Kewajiban menegakkan Khilafah sudah sangat jelas, hanya dengan Khilafah sajalah seluruh hukum Islam bisa tegak di muka bumi ini.

Jika umat Islam cermat dan mau menelusuri sejarah Islam di Indonesia, maka sesungguhnya beberapa wilayah Indonesia pernah menjadi bagian dari Khilafah. Tidak sedikit sejarawan mengakui Kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik riil umat Islam.

Setelah masa Khulafaur Rasyidin, di belahan Barat Asia muncul kekuatan politik yang mempersatukan umat Islam dari Spanyol sampai Sind di bawah Kekhilafahan Bani Umayah (660-749 M), dilanjutkan Kekhilafahan Abbasiyah kurang lebih satu abad (750-870 M), serta Kekhilafahan Utsmaniyah sampai 1924 M.

Baca juga:  RUU HIP Merah Membara, Saatnya Koreksi Total Haluan Negara

Bukti-Bukti Sejarah di Nusantara

Ketika masa Bani Umayyah (660-749 M), penguasa di Nusantara—yang masih beragama Hindu sekalipun—mengakui kebesaran Khilafah.

Pengakuan terhadap kebesaran Khilafah dibuktikan adanya dua pucuk surat kiriman Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah masa Bani Umayyah.

Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz.

Surat pertama ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umair yang disampaikan kepada Abu Ya‘yub ats-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada Haitsam bin Adi.

Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Haitsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah…”

Dalam literatur lain dijelaskan, sejak Islam masuk, Raja Sriwijaya Jambi bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayyah pada 100 H (718 M), meminta agar mengirimkan utusan untuk mengajarkan Islam kepadanya.

Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kemudian mengutus seorang ulama terbaiknya untuk memperkenalkan Islam kepada Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman, seperti yang diminta.

Tatkala mengetahui segala hal tentang Islam, Raja Sriwijaya ini tertarik. Hatinya tersentuh hidayah. Pada 718, Sri Indrawarman akhirnya mengucap dua kalimat syahadat. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”.

Baca juga:  Daulat Khilafah Atas Kebijakan Global

Tidak lama setelah Sri Indrawarman bersyahadat (726 M), Raja Jay Sima dari Kalingga (Jepara, Jawa Tengah) putra dari Ratu Sima, juga memeluk agama Islam.

Bukti yang Terserak

Bukti lain, Aceh Darussalam mengikatkan diri dengan Kekhalifahan Islam Turki Ustmani. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai Kekhalifahan Islam.

Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya.

Portugis juga sering menghadang jemaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah. Oleh sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmani mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).

Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 M, digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sultan Selim II memerintahkan pasukan ini untuk berada di Aceh selama masih dibutuhkan Sultan Aceh.

Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577). Seluruhnya ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik.

Dengan bantuan tentara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka. (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cetakan keenam, LP3ES, 1991, hal. 34).

Deliar Noer dalam catatan kakinya menyatakan, dalam perang dunia I, Khalifah di Turki menyatakan jihad kepada musuh-musuhnya dan menyeru semua muslim termasuk muslim di Nusantara untuk memerangi musuh-musuhnya itu.

Baca juga:  Larangan Ceramah Khilafah, Kriminalisasi Ajaran Islam

Turut Mengamankan Rute Haji

Selain Sriwijaya dan Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga bersekutu dengan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi “sultan” bergelar Qaim ad-Din yang berarti “penegak agama”. Dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Makkah.

Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar “sultan” ini terjadi setelah diperoleh persetujuan Sultan selain di Buton, di barat pulau Jawa yaitu Banten, yang sejak awal memang menganggap dirinya sebagai kesultanan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.

Sultan Ageng Tirtayasa, mendapat gelar sultan dari syarif Makkah. Pada akhir abad ke-20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan Alquran atas nama Sultan Turki.

Di Istanbul dicetak tafsir Alquran berbahasa Melayu karangan Abdur Rauf Sinkili. Di sana tertera “dicetak oleh Sultan Turki, Raja seluruh orang Islam”.

Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah barat Sumatra dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia.

Tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia juga meningkatkan saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini.

Pada gilirannya, hal ini memberikan konstribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji. [MNews/Gz]

Bersambung ke bagian (2/2) Subbab “Film JKdN Menguak Kebenaran Sejarah”

12 thoughts on “Jejak Khilafah di Nusantara, Bukti Tak Terbantahkan! (Bagian 1/2)

  • 26 September 2020 pada 23:21
    Permalink

    sekuat apapun upaya pengkaburan dan penguburan sejarah dilakukan..toh semua bukti tidak bisa dibantah kalau jejak Khilafah eang ada di Nusantara…maka wahai generasi muda Islam… sadarlah bahwa engkau adalah keturuan orang oranag hebat, negeri ini pernah jaya dengan Islam..maka kenapa kita tidak kembali untuk menerapkanNya agar kemulyaan kembali menaungi kita ..aamiin…

    Balas
  • 26 September 2020 pada 19:44
    Permalink

    Jejak Khilafah di Nusantara adalah bukti yang tak terbantahkan akan eksistensi khilafah.

    Balas
  • 26 September 2020 pada 14:34
    Permalink

    Maa syaa Allah, pengen khilafah segera tegak aamiin

    Balas
  • 25 September 2020 pada 15:02
    Permalink

    Jejak Khilafah di Nusantara adalah bukti yang tak terbantahkan hubungan Kekhilafahan dengan Nusantara.
    Kita sambut tegaknya Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah ke 2.Takbir.Allahuakbar

    Balas
  • 24 September 2020 pada 22:03
    Permalink

    Sejarah akan berulang. Demikian juga dengan sejarah khilafah.

    Jejak khilafah di Nusantara adalah bukti yang tak terbantahkan akan eksistensi khilafah. Maka, tegaknya kembali khilafah ala minhaj Al nubuwah bukan euforia

    Balas
  • 24 September 2020 pada 18:38
    Permalink

    Khilafah adalah ajaran islam yang wajib hukumnya ditegakkan..

    Balas
  • 24 September 2020 pada 17:31
    Permalink

    Jejak khilafah itu nyata,bukan mengada-ada…khilafah yg agung akan kembali kepada umat islam.

    Balas
  • 24 September 2020 pada 15:44
    Permalink

    مَاشَاءَ الله

    Penjelasan Sejarah Yg sangat masuk akal dan sesuai fakta sekali…
    Bagaimanapun Kebenaran pasti akan mengalahkan Kebohongan

    Balas
  • 24 September 2020 pada 13:25
    Permalink

    Sejarah tenggelam. Alhamdulillah adanya film JKDN. kita dapat memahami bahwa Sejarah Islam benar2 ada di Nusantara.

    Balas
  • 24 September 2020 pada 12:45
    Permalink

    MasyaaAllah…semakin rindu dengan tegaknya Khilafah Islamiyah

    Balas
  • Pingback: Jejak Khilafah di Nusantara, Bukti Tak Terbantahkan! (Bagian 2/2) - Muslimah News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *