Editorial: Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Pecundang!

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Semangat reformasi yang sarat dengan independensi sikap politik, tampaknya makin hilang di era pemerintahan sekarang.

Begitu pun dengan substansi demokrasi yang digadang-gadang sebagai sistem politik ideal. Semuanya terbukti hanya ada dalam khayalan.

Lihat saja… Rezim penguasa terus berusaha tampil dengan wajah humanis. Namun kebijakan yang dikeluarkan terkesan makin otoriter.

Kekuatan korporatokrasi oligarkis pun kian mencengkeram kekuasaan. Melengkapi laku buruk para pejabatnya yang tak henti berbuat curang.

Tak terkecuali di masa pandemi yang entah selesai sampai kapan. Rakyat makin tak punya banyak pilihan, selain menerima keadaan yang kian mengenaskan.

Ya. Di situasi serba sulit ini, rakyat tampak terbiasa berjibaku sendirian. Karena negara dan para penguasanya terlalu sibuk dengan drama pencitraan.

Bahkan dari hari ke hari, rakyat harus melipatgandakan kesabaran, karena berbagai kebijakan zalim tak henti mereka rasakan.

==

Masalahnya, tak ada yang berani menyuarakan perlawanan, kecuali mereka yang bernyali besar karena suara-suara kritis nyaris selalu dibungkam.

Berbagai aturan dan undang-undang disiapkan untuk menelikung kebebasan. Termasuk proyek antiradikal yang terus digaungkan, atau masifnya screening loyalitas atas nama jargon kebangsaan.

Di era ini, keberanian memang menjadi barang langka, bahkan harganya sangat mahal. Pasalnya, risiko yang menghadang memang terlalu besar.

Mereka yang berani harus siap dicap radikal. Persekusi dan kriminalisasi pun bukan lagi sekadar ancaman, bahkan beberapa dari mereka harus merasakan hidup dalam kurungan.

Maka tak heran, meski kezaliman kian merajalela, jalanan kian sepi dari aksi massa. Mahasiswa yang dulu selalu lantang bersuara, kini kekuatannya tenggelam entah ke mana.

Rupanya, pelan tapi pasti rezim penguasa telah berhasil menelikung potensi strategis mahasiswa. Idealisme pun hilang dan nasib bangsa tak lagi jadi perhatian.

Padahal, dalam sejarah transformasi sosial, potensi intelektual -termasuk mahasiswa- tak bisa begitu saja dinafikan. Mereka selalu terdepan dalam proses perubahan.

Lisan mereka paling mampu mengartikulasi hati nurani rakyat. Wajar jika kekuatan pergerakannya selalu menjadi tumpuan harapan rakyat dari masa ke masa.

==

Di Indonesia sendiri, ada era di mana pergerakan mahasiswa begitu berwibawa. Hingga pergantian rezim berkuasa hampir selalu dimotori mahasiswa.

Baca juga:  Hakteknas dan Kemandirian Bangsa

Pergantian orde lama ke orde baru dimotori pergerakan mahasiswa. Begitu pun perubahan orde baru ke orde reformasi. Semuanya kental dengan perjuangan mahasiswa.

Sayang, arah perubahan seringkali tak jelas. Hingga perjuangan mereka selalu berhasil dibajak para pemburu kuasa. Idealisme sebagian aktivisnya berhasil dipalingkan kilau harta dan kekuasaan.

Namun setidaknya, saat itu mahasiswa selalu ada bersama rakyat. Bahkan banyak di antara mereka yang rela mati atau dipenjara demi membela kepentingan rakyat.

Tak seperti di era sekarang. Posisi mayoritas mahasiswa entah di mana. Suara lantang mereka seakan terkubur realitas kehidupan yang begitu mendera.

Sebagian dari mereka malah masuk dalam jebakan individualisme akut yang dikondisikan penguasa. Hingga posisi pergerakan mahasiswa kian hari kian kehilangan powernya. Kecuali mereka yang ideologinya tetap terbina.

==

Sistem pendidikan memang sudah lama dimandulkan dari fungsinya sebagai pencetak agen perubahan. Kurikulum dibuat sedemikian rupa hingga energi para mahasiswa terkuras begitu saja.

Di saat sama, otak mereka dicuci dengan pola pikir kapitalistik. Pendidikan hanya dipandang sebagai investasi masa depan. Terlebih faktanya, modal pendidikan di era ini memang supermahal.

Alhasil, jadilah pendidikan bergeser fungsi menjadi pilar tegaknya kapitalisme global. Tugasnya hanya menjadi pabrik tenaga kerja dengan spesifikasi sesuai kebutuhan industri para pemilik modal.

Bahkan lembaga pendidikan dan lembaga bisnis didorong untuk mengikat perjanjian saling menguntungkan. Yang satu memberi support dana, yang lain men-support tenaga kerja dan hasil-hasil risetnya.

==

Realitas miris ini memang diniscayakan lemahnya fungsi negara. Terutama ketika para penguasa negeri ini makin mantap mengadopsi sistem demokrasi kapitalisme neoliberal.

Dalam sistem ini negara tak mungkin berperan besar dalam pengaturan urusan rakyat. Karena kepemimpinannya tegak oleh dukungan dana para pemilik modal, termasuk oleh negara adidaya.

Kita lihat saja. Merebut kekuasaan di atas landasan sekularisme ongkosnya memang mahal. Terkhusus untuk iklan yang biayanya sangat besar. Maka, siapa lagi yang bisa men-support kalau bukan para pemilik modal?

Baca juga:  Wajib Teken Pakta Integritas, Mahasiswa Masuk Kampus Otoriter?

Wajarlah jika penguasa dan pengusaha begitu sejiwa. Urusan pengusaha selalu lebih penting dari urusan rakyatnya.

Kebutuhan rakyat pun ditakar dengan teori hitung dagang para pengusaha. Termasuk untuk urusan pendidikan.

Rezim seperti ini cenderung tak peduli bangsanya tergadai. Demi kekuasaan, mereka rela menjual aset milik rakyat pada kekuatan kapitalisme global.

Itulah kenapa, kekayaan alam yang luar biasa dimiliki negeri ini tak mampu menjadi modal penguasa menyejahterakan rakyatnya. Dari hari ke hari kondisi rakyat justru kian sengsara.

==

Sayangnya, hari ini, mayoritas rakyat termasuk mahasiswa kian apolitis dan cuek dengan kondisi bangsanya. Padahal kondisi negara dan bangsa sudah diambang kehancuran.

Pasalnya, rezim penguasa korporatokrasi oligarki memang terus melakukan berbagai cara untuk melanggengkan kekuasaan. Termasuk melakukan pembodohan politik hingga rakyat dan mahasiswa tak mengerti apa-apa.

Mereka menggunakan seluruh sumber daya untuk menyukseskan agendanya. Mulai dari media massa, hingga para influencer yang dibayar untuk menjadi buzzer bagi kekuasaannya.

Mereka berangus setiap potensi perlawanan, baik melalui cara halus maupun cara kasar. Sebagian mereka rangkul dengan memberi sedikit “kue” kekuasaan, yang lainnya mereka pukul dengan pentungan.

Secara sistematis, mereka tumpulkan kepekaan rakyat termasuk kalangan mahasiswa melalui sistem pendidikan yang diterapkan. Potensi kampus benar-benar dimandulkan.

Para pejabat kampus pun mereka rekrut sebagai penyokong kekuasaan. Lalu dibuat sibuk memburu prestise bernama world class university yang bernapaskan kapitalisasi pendidikan.

Bahkan demi itu, organisasi kampus pun dikontrol berbagai aturan. Setiap potensi “kebocoran” ditutup dengan berbagai kebijakan.

Apa yang dilakukan UI ketika meminta mahasiswa baru untuk meneken pakta integritas hanyalah satu contoh saja. Mahasiswa diharamkan terlibat politik praktis, apalagi terlibat dalam gerakan antikekuasaan.

Tujuannya bisa dipahami. Agar kampus steril dari suara-suara kritis dan agar para mahasiswa menutup mata meski mereka melihat berbagai kezaliman.

Pertanyaannya, mau sampai kapan mahasiswa jadi pecundang?

==

Semestinya, para mahasiswa kembali menyadari peran strategis mereka. Karena masa depan negeri dan bangsa ini adalah tanggung jawab mereka.

Baca juga:  Rezim Obral Janji, Jamin Mahasiswa Jadi Pengusaha. Masih Percaya?

Apalagi bagi para mahasiswa muslim. Selain sungguh-sungguh menuntut ilmu, identitas keislaman mereka menuntut adanya kepedulian terhadap nasib umat dan agamanya.

Mereka semestinya sadar, bertopang dagu melihat kezaliman adalah dosa besar. Merekalah yang wajib memimpin perubahan karena mereka telah dikaruniai kemampuan dan pengetahuan.

Hanya saja, mereka harus sadar juga, perubahan hakiki tak mungkin terjadi kecuali atas dasar Islam. Karena Islamlah lawan hakiki bagi dominasi kapitalisme global.

Islam adalah sebuah ideologi, sebagaimana kapitalisme sebagai ideologi. Hanya saja, ideologi Islam tegak di atas landasan yang benar, yakni landasan keimanan kepada Allah Yang Menciptakan manusia, alam, dan kehidupan.

Dari landasan inilah muncul berbagai aturan kehidupan yang juga dipastikan benar. Yang jika ditegakkan dipastikan akan menjadi solusi bagi seluruh persoalan kehidupan, sekaligus membawa kebaikan bagi seluruh alam.

Berbeda dengan ideologi kapitalisme. Ideologi ini tegak di atas asas rusak, yakni sekularisme yang menafikan peran agama dalam kehidupan.

Lahirlah dari ideologi ini sistem hidup sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang terbukti hanya mengintrodusir kerusakan. Karena aturan-aturannya lahir dari kerakusan manusia, terutama kelompok para pemilik modal.

Oleh karenanya, meski rezim terus berupaya menghalangi kebangkitan Islam, “mewujudkan Islam” justru harus menjadi visi pergerakan mahasiswa hari ini. Visi inilah yang akan memberi jalan keluar ke arah kebangkitan hakiki.

Sepatutnya mahasiswa muslim bergerak bersama kelompok yang konsisten memperjuangkan Islam. Bersama mereka berjuang mencerdaskan umat bahwa Islam adalah sistem kehidupan. Tanpa kekerasan.

Sungguh, Islamlah satu-satunya jalan sekaligus arah perubahan. Karena Islam adalah jalan kebenaran sekaligus rahasia kebangkitan umat selama belasan abad lamanya, yakni saat mereka hidup dalam naungan sistem Islam, yang dikenal dengan sistem Khilafah Islam.

Allah SWT berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (TQS Yusuf: 108) Wallaahu a’lam. [MNews|SNA]

11 thoughts on “Editorial: Mahasiswa, Jangan Mau Jadi Pecundang!

  • 26 September 2020 pada 22:09
    Permalink

    Mahasiswa harus kembali menjadi garda terdelan kebabgkitan masyarakat yaitu kebangkitan yang hakiki dengan Islam

    Balas
  • 26 September 2020 pada 14:14
    Permalink

    Sepertinya mahasiswa sengaja dibuat apatis karena udah termindset bahwa politik itu kotor. Hmmm

    Balas
  • 23 September 2020 pada 22:35
    Permalink

    Islamlah satu-satunya jalan sekaligus arah perubahan.

    Balas
  • 22 September 2020 pada 19:36
    Permalink

    Tonggak kebangkitan Umat ditangan para pemuda …
    Mahasiswa harusnya tidak dibuat menjadi pecundang

    Balas
  • 22 September 2020 pada 16:28
    Permalink

    Wahai mhswa, ago bangkit..suarskan kebenaran..

    Balas
  • 22 September 2020 pada 12:08
    Permalink

    Bangkitlah wahai mahasiswa dari tidur panjangmu, jadilah bagian dari perubahan peradaban

    Balas
  • 22 September 2020 pada 12:03
    Permalink

    Mahasiswa adalah agen perubahan. Maka sudah seharusnya mengambil barisan terdepan dalam menyuarakan kebenaran untuk menolak kebatilan hari ini

    Balas
  • 22 September 2020 pada 09:15
    Permalink

    selain neraka ketakutan kepada apapun didunia ini adalah nisbi…kadang itu kita kira adalah keburukan sehingga kita berusaha untuk enghindarinya..tapi ternyata disana ada kebaikan,..sementara dakwah menjanjikan surga maka segala kedholiman dunia tidak artinya dibanding kenikamatan surga…yaa..allah teguhkan kami untuk berjuang dijalan syariatMu

    Balas
  • 22 September 2020 pada 08:58
    Permalink

    Menjadi mahasiswa bukan hanya sebatas logo semata tp lebih dari itu yakni berfungsi sebagai agen perubahan.

    Apa artinya mahasiswa mu kalau mahasiswa mu hanya simbolis sj? Ingat tugas utamamu sbg agen perubahan..

    Balas
  • 22 September 2020 pada 06:36
    Permalink

    Ayok mahasiswa jadi agen perubahan!

    Balas
  • 22 September 2020 pada 06:31
    Permalink

    Miris dengan kondisi mahasiswa sekarang yang minim perubahan. Tidak oeka terhdap umat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *