Resmi Akui “Israel”, Negara Muslim Tikam Palestina dari Belakang

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain resmi menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel di Gedung Putih, Amerika Serikat, Selasa (15/9/2020).

Kedua negara ini menyusul Mesir (1979), Yordania (1994), dan Turki (1949) yang telah mengakui dan memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. (cnnindonesia.com, 16/9/2020)

Dilansir dari bbcindonesia.com (17/9/2020), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut peristiwa ini sebagai “Fajar Timur Tengah yang baru”.

Sebaliknya, bagi Palestina, hal ini menjadi “tikaman dari belakang oleh saudara sendiri”. Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan ini akan menjadi hari berkabung bagi dunia Arab.

“Kita akan menyaksikan hari berkabung dalam sejarah dunia Arab, kekalahan lembaga Liga Arab, yang tidak bersatu tapi terpecah,” ujarnya pada pertemuan mingguan kabinet Palestina, dilansir AFP, Selasa (15/9/2020).

Bahkan ratusan warga Palestina melakukan demonstrasi mengecam kesepakatan tersebut dengan membawa spanduk bertuliskan “Pengkhianatan”, “Tidak untuk normalisasi dengan penjajah”, dan “Perjanjian yang memalukan”. (Kontan.co.id, 16/9/2020)

Pengkhianatan Penguasa Timur Tengah

Analis politik, Ustazah Pratma Julia Sunjandari, mengamini bahwa sejak Daulah Islamiyah runtuh, penguasa-penguasa di Timur Tengah biasa melakukan pengkhianatan atas kepentingan muslim, terkhusus Palestina.

“Kebangkitan Islam, terkait posisinya yang pernah menjadi pusat kekhilafahan; geostrategis, kekayaan SDA, dan konflik Palestina-Israel, menjadikan Timur Tengah amat istimewa di mata Barat,” jelasnya.

Perebutan pengaruh politik antara AS dan Inggris, dan kini turut melibatkan Rusia dan Cina, menjadi latar belakang konflik tak berkesudahan di kawasan itu.

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

“Maka, bila hari ini UEA dan Bahrain terang-terangan menormalisasi hubungannya dengan Israel melalui penandatanganan ‘Abraham Accord’ di Gedung Putih (15/9/2020), itu tak mengherankan,” tuturnya lebih lanjut kepada MNews (19/9/2020).

AS Menarget Negara Lain untuk Ikut Normalisasi

Ustazah Pratma menunjukkan bahwa Turki (1949), Mesir (1978), dan Yordan (1994) telah melakukan normalisasi. Sesumbar Donald Trump, akan ada lima negara lagi yang mengikutinya.

Oman, Saudi Arabia, dan Qatar diprediksi bakal mengikuti. Oman telah dikunjungi Netanyahu pada 2018. Kemudian Qatar dijanjikan Trump sebagai sekutu utama non-NATO (Major Non-NATO Ally/MNNA).

Status itu, menurut Ustazah Pratma, akan memberi akses preferensi ke peralatan dan teknologi militer AS, termasuk bahan surplus gratis, proses ekspor yang dipercepat, dan kerja sama yang diprioritaskan dalam pelatihan.

“Sedangkan Saudi Arabia, sekalipun banyak pihak memperkirakan negara itu tidak bakal meninggalkan Palestina, namun jadwal pertemuan Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) dengan Netanyahu di AS pada 31 Agustus, tepat setelah Konvensi Partai Republik (NRC) berakhir, telah bocor,” bebernya.

Penasihat Trump untuk urusan Israel, Jared Kushner, juga berencana mengangkat citra MBS sebagai seorang pemuda pembawa perdamaian Arab dan menopang dukungan regional untuk kesepakatan yang ditengahi AS antara UEA dan Israel.

Baca juga:  India Mencaplok Kashmir di Bawah Bayang-bayang Gelap ‘‘Israel’’

“Karakter pengkhianat memang melekat pada rezim di Timur Tengah. Lebih mementingkan restu Washington daripada membela nasib saudara-saudaranya di Palestina,” kritiknya.

Sekalipun konon, sebut Ustazah Pratma, dengan kesepakatan terbaru itu, PM Israel Benyamin Netanyahu setuju menghentikan rencana menganeksasi sebagian Tepi Barat.

“Tapi, siapa yang bisa menjamin mulut kafir harbi fi’lan yang darahnya halal untuk ditumpahkan itu, akan memegang janjinya?” tanyanya retoris.

Para Penguasa yang Berpaling dari Alquran

Ustazah Pratma mengecam para penguasa korup itu yang tak mau lagi percaya pada peringatan Alquran dan Hadis, namun lebih mementingkan prestise dan keuntungan ekonomi.

“UEA ambisius memiliki kekuatan militer global yang disegani, selain mengharap turis Israel membanjiri pusat bisnis dan wisata yang lesu akibat pandemi corona. Dan Bahrain menjadi monarki Teluk yang paling bertentangan dengan rakyatnya sendiri,” tukas Ustazah Pratma.

Terlebih di akhir 2018, sebelum Bahrain menjadi tuan rumah konferensi yang dipimpin AS tentang rencana Timur Tengah Presiden Trump; Arab Saudi, UEA, dan Kuwait menjanjikan dukungan keuangan senilai US$10 miliar untuk Bahrain demi menstabilkan keuangannya.

“Layakkah rakyat Palestina kecewa dengan tetangga-tetangga yang rela menjadi budak kaum kuffar hanya demi mengejar bangkai dunia?” tanya Ustazah Pratma lugas.

Harapan Nyata Itu Ada pada Khilafah

Ustazah Pratma menegaskan, Palestina tak bisa berharap pada 30 negara yang mendukung kemerdekaannya. Apalagi bergantung pada Prakarsa Perdamaian Arab 2002 ataupun resolusi OKI dan resolusi DK PBB terkait solusi dua negara.

Baca juga:  Gaza Kembali Terluka, Siapa Sudi Membela?!

“Semua kesepakatan itu adalah bagian dari pengkhianatan terhadap eksistensi Palestina, karena dunia hanya mengakui Palestina bila Israel diizinkan tetap merdeka. Padahal Israel adalah aggressor, perampas Al-Quds dan bumi para Nabi, sekaligus penjahat perang,” ucapnya .

Negara-negara pendukung Palestina pun, lanjutnya, hanya mampu beretorika tanpa sanggup mengirim tentara-tentara mereka menghadapi kekejaman Israel. Negara-negara pendukung Palestina lebih takut pada sanksi AS, kecaman Uni Eropa dan ultimatum PBB.

“Para penguasa muslim itu tak pernah takut dengan sanksi Allah SWT di akhirat saat kekuasaannya tidak digunakan untuk membela tanah Palestina, menyelamatkan anak-anak, dan penduduknya,” ungkapnya.

Kemudian Ustazah Pratma menyatakan harapan terakhir menyelamatkan Palestina hanya bisa ditujukan pada Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Negara ini tak peduli pada kesombongan kaum kuffar –AS, Israel, Rusia, Uni Eropa ataupun Cina-.

“Demi menyelamatkan Palestina, Tentara Khilafah tak peduli dengan kecanggihan senjata mereka (kaum kuffar, ed.). Karena jihad adalah kehormatan sekaligus supremasi kedigdayaan Khilafah di hadapan musuh-musuh Allah.” tandasnya.

Untuk itu, Ustazah Pratma mencetuskan, umat berkewajiban mendirikan Khilafah demi membebaskan Palestina dan seluruh negeri muslim dari tangan kotor para penjajah kafir. [MNews/Ruh]

2 thoughts on “Resmi Akui “Israel”, Negara Muslim Tikam Palestina dari Belakang

  • 21 September 2020 pada 05:47
    Permalink

    Banyak Orang-orang munafik lahir dari sistem kufur

    Balas
  • 20 September 2020 pada 14:59
    Permalink

    Rezim pengkhianat kaum muslimin. Hanya dengan Khilafah kita akan bebaskan Palestina

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *