Hubungan Sains dan Teknologi dengan Politik dan Ideologi

Oleh: Abu Nadzhifah

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Ketika Islam menjadi peradaban nomor satu dunia, kaum muslimin memegang kunci perkembangan sains dan teknologi. Tidak ada peradaban yang lebih maju dari peradaban Islam kala itu. Apalagi, Eropa sedang berada di era kegelapan, ketika sains dipertentangkan dengan doktrin gereja.

Era Kegelapan Eropa merupakan hasil kongkalikong antara kaum agamawan dengan kerajaan. Doktrin-doktrin gereja dipaksakan untuk diberlakukan sebagai pemikiran resmi negara. Apa pun yang bertentangan dengan doktrin gereja yang dilegalisasi kerajaan, maka itu adalah bid’ah dan layak dihukum keras. Galileo Galilei adalah dua ilmuwan Eropa yang dihukum oleh gereja karena pemikiran saintifik mereka.

Galilei yang merupakan pengikut Teori Copernicus, mengatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari (heliosentrisme), alih-alih matahari mengelilingi bumi (geosentrisme) sebagaimana doktrin gereja saat itu. Hal ini menyebabkan Galilei dituduh sebagai pelaku bid’ah dan dihukum menjadi tahanan rumah sampai kematiannya.

Sementara Eropa sedang di titik nadir peradaban, umat Islam justru menjadi yang terdepan. Berbagai penemuan sains dan teknologi banyak ditemukan oleh kaum muslimin. Misalkan konsep Aljabar, yang aslinya merupakan judul kitab yang ditulis oleh Muhammad ibn Musa Al Khawarizmi, Al Jabar wal Muqabalah. Aljabar masih digunakan hingga saat ini dengan kegunaan sangat luas dalam menyelesaikan berbagai persoalan matematis.

Badiuzzaman ibn Ismail Al Jazari merancang berbagai perangkat mekanik yang merupakan cikal bakal sistem robotik pertama di dunia. Selain itu, Al Jazari merupakan yang pertama membuat kincir air yang beroperasi secara otomatis memanfaatkan energi kinetik air. Tidak cukup sampai di sana, Al Jazari pun mengembangkan jam kastil yang bisa dikatakan sebagai programmable analog computer yang pertama kali dibuat oleh manusia!

Hasan ibn Al Haytsam menjadi pionir di bidang fisika optik. Al Haytsam mengembangkan model kamera obskura yang kemudian menjadi cikal bakal kamera yang ramai digunakan di abad 21. Al Haytsam pula yang secara tepat merumuskan bahwa penglihatan merupakan hasil dari pantulan cahaya yang mengenai suatu benda lalu ditangkap oleh mata manusia—hal ini membantah teori Yunani kuno bahwa mata memancarkan cahaya sehingga manusia bisa melihat. Yang mungkin paling penting, Al Haytsam merumuskan metode ilmiah, yaitu hipotesis harus diuji dengan eksperimen, lima abad sebelum ilmuwan Eropa merumuskannya!

Baca juga:  Penjajahan Berkedok Penelitian

Masih banyak ilmuwan muslim lain yang memiliki kontribusi besar di bidang sains dan teknologi di era keemasannya, seperti misalnya Ibn Sina dengan Qanun fith Thibb yang menjadi landasan kedokteran selama 800 tahun. Abu Qasim Az Zahrawi menjadi pionir dalam bidang operasi, menjadi ilmuwan pertama yang mengidentifikasi hemofilia turunan serta menemukan metode operasi katarak yang efisien pada zamannya. Abbas ibn Firnas menjadi manusia pertama yang membuat percobaan terbang dengan sistem aerodinamik yang dirancangnya. Prinsip aerodinamik ini menjadi landasan desain pesawat terbang masa kini.

Sekelumit contoh di atas merupakan kontribusi besar kaum muslimin terhadap sains dan teknologi. Bukan berarti Eropa tidak menghasilkan ilmuwan ternama, tetapi hanya di peradaban Islam saja penemuan sains dan teknologi benar-benar terasa dalam kehidupan. Karena bangunan fisik dan kesejahteraan umat Islam saat itu berdiri kokoh dengan bantuan sains dan teknologi, sementara di Eropa pada masa yang sama, para ilmuwan nyaris tidak terasa kontribusi penemuannya dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Apa yang membedakannya?

Bahwasanya di era kejayaan umat Islam, yakni era Khilafah Islamiyyah, kaum muslimin memiliki motivasi yang sangat berbeda dengan Eropa. Islam adalah akidah mereka, yang darinya lahir konsep bahwa iman dan ilmu itu berjalan beriringan, tidak kontradiktif. Menuntut ilmu adalah ibadah, ilmu dipelajari demi mendekatkan diri pada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Di antara ilmu-ilmu yang wajib dipelajari tersebut ada ilmu-ilmu bersifat fardu kifayah, yakni yang berkaitan dengan pengelolaan teknis kehidupan manusia. Kewajiban menuntut ilmu inilah yang kemudian membangkitkan kultur keilmuan di tengah masyarakat, sehingga ibarat kata “satu bangsa pergi sekolah.”

Hal ini kemudian didukung oleh negara yang memfasilitasi pendidikan dengan luas dan dapat diakses oleh siapapun, juga para konglomerat yang banyak berinvestasi pada pendidikan dan fasilitas pendukungnya.

Alquran menjadi guideline bagi umat Islam. Banyak ayat Alquran yang memotivasi untuk berpikir dan mempelajari alam semesta. Seperti firman Allah SWT,

Baca juga:  Mimpi Kebangkitan Teknologi

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkanNya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS Al Baqarah: 164)

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah…” (QS Al Anfal: 60)

Ayat ini dan yang semisal menjadi motivasi dan tuntutan kaum muslimin untuk mempelajari alam semesta dan kehidupan. Pertama dan yang paling utama jelas agar umat Islam semakin dekat dengan Rabb Pencipta mereka.

Selain itu, pemahaman terhadap fenomena alam semesta dan kehidupan dapat membantu mereka dalam menemukan sarana-sarana untuk meningkatkan taraf hidup. Inilah yang kemudian menghasilkan ilmuwan-ilmuwan cemerlang seperti Al Haytsam, Al Khawarizmi, Al Jazari, dan lainnya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Namun, satu hal yang patut dicatat adalah para ilmuwan muslim tersebut tidak serta merta menemukan semuanya sendiri. Mereka juga mempelajari dari sumber-sumber luar, khususnya arsip-arsip peninggalan peradaban Mesir dan Yunani Kuno.

Al Haytsam mempelajari buku-buku Ptolemy dan mengkritik ketidakkonsistenan di dalamnya. Ibn Sina mempelajari buku-buku dan pemikiran Euclid, Plato, Ptolemy, hingga Aristoteles (walau hal ini kemudian mengundang kontroversi di kalangan sebagian umat Islam tentang status keislamannya).

Demikian pula, pendidikan astronomi banyak merujuk pada Almagest karangan Ptolemy sebelum akhirnya umat Islam mengembangkan model astronomi sendiri yang lebih canggih dan tepat, di antaranya oleh Abu Raihan Al Biruni dan Muhammad Al Idrisi.

Umat Islam paham bahwasanya sains dan teknologi bukan hak eksklusif peradaban tertentu. Patut diakui bahwa peradaban Yunani dan Mesir Kuno banyak berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, walau tentu saja masih jauh dari sempurna dan banyak yang keliru. Hanya karena arsip-arsip ilmu pengetahuan tersebut berasal dari peradaban kufur, hal tersebut sama sekali tidak menghalangi umat Islam untuk mengambilnya dan mempelajarinya.

Baca juga:  [Telaah Kitab] Antara Ilmu dan Tsaqafah (Natural Sciences & Social Sciences)

Hanya saja, mereka sebatas mengambil aspek sains dan teknologi, bukan masalah teologi. Adapun yang tergelincir turut mengambil aspek filsafat Yunani yang keliru, hasilnya adalah pemikiran teologis mereka relatif bermasalah.

Demikianlah bagaimana umat Islam di era kejayaannya menyikapi masalah sains dan teknologi. Mereka menjadikan Alquran sebagai landasan halal-haram, motivasi, dan taklif syara’ untuk mempelajari alam semesta dan kehidupan serta memanfaatkan potensinya demi menjalankan perintah Allah dengan lebih baik.

Mereka juga tidak keberatan belajar dari peradaban terdahulu, hanya pada aspek ilmu pengetahuan. Dari mempelajari ilmu pengetahuan terdahulu inilah, umat Islam kemudian mengembangkannya dengan pesat sehingga menjadi penguasa sains dan teknologi pada masanya.

Jadi, bagaimana madaniyah itu ditemukan memang sangat terkait dengan hadharah tempatnya berasal. Seringkali, penemuan madaniyah tersebut memiliki tujuan tertentu yang dipengaruhi oleh hadharah. Namun, hal ini tidak berarti penggunaan madaniyah tersebut otomatis menjadi terlarang. Berdasarkan kaidah fikih,

“Hukum asal suatu benda adalah mubah sampai ada dalil yang mengharamkannya.”

Maka, apakah sebuah produk madaniyah menjadi terlarang digunakan tidak ada urusannya dengan untuk apa madaniyah tersebut pertama kali dibuat. Karena madaniyah adalah benda, dan kepadanya dikenakan taklif terhadap benda. Tidak bisa dikatakan, misalnya, senjata nuklir haram diambil umat Islam karena pertama kali digunakan untuk pembantaian pada Perang Dunia II.

Rasulullah ﷺ mengadopsi strategi benteng parit yang disarankan oleh Salman Al Farisi. Strategi ini merupakan strategi perang Kekaisaran Persia. Padahal, sudah mafhum bahwa Persia berperang bukan untuk kebaikan manusia, melainkan untuk menjajah. Tapi itu tidak menghalangi Rasulullah ﷺ untuk menggunakan strategi perang Persia.

Demikian pula, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengadopsi sistem pengarsipan Persia untuk memanajemen keuangan negara Khilafah.

Pada dasarnya, perkembangan sains dan teknologi senantiasa ditujukan untuk kepentingan ideologi di mana saintek tersebut ditemukan.

Namun, hakikatnya, madaniyah produk saintek itu tetaplah hanya alat, hanya ilmu pengetahuan. Benda dan pengamatan fenomena alam yang bersifat netral. Sehingga, kuncinya bukanlah dari mana madaniyah tersebut berasal, tetapi siapa yang menguasainya. Wallahu a’lam. [MNews]

4 thoughts on “Hubungan Sains dan Teknologi dengan Politik dan Ideologi

  • 20 September 2020 pada 13:32
    Permalink

    Islam dan ilmuwan

    Balas
  • 19 September 2020 pada 19:58
    Permalink

    karena sejatinya Ilmu sains dan tekhnologi tidak bs terpisahkan dengan khasanah Islam. Banyaknya para ilmuwan yang lahir dari Rahim Ideologi Islam. Sayang kafir Barat berusaha menghilangkannya dalam benak kaum muslimin baik dengan kurikulum pendidikan maupun pemuar balikkan sejarah dan kaum muslimin oun terlena.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *