Kurikulum Berubah lagi? Inikah Solusi Pendidikan?

Oleh: Yusriana (Komunitas Guru Muslimah Inspiratif)

MuslimahNews.com, FOKUS – Mendikbud Nadiem Makarim tengah merancang kurikulum baru yang akan diterapkan pada 2021 mendatang. Nadiem mengatakan pihaknya berencana menguji coba kurikulum baru itu tahun depan. Kurikulum baru akan diluncurkan Maret 2021, dan targetnya akan diimplementasi secara bertahap tahun ajaran 2021/2022 (cnnindonesia.com, 9/9.2020)

Rencana perubahan kurikulum ini disampaikan Nadiem Makarim, tak sampai satu tahun dari beliau menjabat sebagai menteri. Sontak tindakan Mendikbud ini dinilai terburu-buru. Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan belum semua guru memahami Kurikulum 2013, apalagi kurikulum 2013 sempat direvisi pada 2016. Faktanya 2019 itu masih banyak guru yang belum terapkan Kurikulum 2013. Bahkan banyak sekolah yang baru mulai menerapkan di tahun 2019 dan 2020.

Sementara itu Ketua Tim Perumus dan Pengembang Kurikulum 2013 Said Hamid Hasan mengatakan Kurikulum 2013 dibentuk dengan tujuan menjadi landasan pengembangan pendidikan hingga tahun 2045. Karenanya, ia menilai sebaiknya Kurikulum 2013 dievaluasi, ketimbang diubah dengan kurikulum baru.

Berubah Terus

Rencana perubahan kurikulum yang akan dilakukan Mendikbud ini semakin menguatkan persepsi masyarakat di Indonesia, kalau “Ganti Menteri, Ganti Kebijakan, Ganti Kurikulum”.

Realitasnya, selama ini Indonesia memang telah berganti kurikulum sebanyak 11 kali, terhitung sejak Indonesia merdeka. Yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, 2013, dan 2015 ( kemendikbud.go.id.)

Jika tahun depan kurikulum berubah lagi, maka genaplah 12 kali perubahan kurikulum selama 76 tahun Indonesia merdeka, artinya rata-rata sekitar 6 tahun sekali negeri ini berganti kurikulumnya.

Baca juga:  Benang Kusut Problem Pendidikan, Khilafah Format Pendidikan Masa Depan

Dengan cepatnya pergantian kurikulum ini, jelas yang akan terkena dampaknya adalah para siswa. Mereka seolah menjadi “kelinci percobaan” akibat perubahan kebijakan pendidikan ini.

Selain para siswa, para guru juga terkena dampak yang cukup signifikan. Para guru dituntut memahami dan mengimplementasikan kurikulum baru, bahkan mengejar target kurikulum baru, sementara proses pelatihan guru tidak terjadi dengan optimal.

Hal ini seperti yang terjadi saat implementasi kurikulum 2013. Betapa banyak curhatan para guru yang di ambang dilema. Pelatihan guru yang terlalu singkat, kurang praktik, sampai ketiadaan buku pegangan mewarnai keluh kesah mereka. Walhasil, banyak guru yang mengajar dengan ketidaksiapan.

Kini, sebelum “kurikulum 2013 revisi” terevaluasi capaian keberhasilannya, wacana perubahan kurikulum sudah bergulir. Wajar kalau tercetus pertanyaan besar, mau dibawa ke mana sebenarnya arah pendidikan negeri ini?

Kelemahan Sistem Demokrasi Kapitalis

Perubahan kurikulum yang sudah menjadi ritual dalam sistem pendidikan Indonesia ini, sebenarnya membuktikan sistem pendidikan produk sistem pemerintahan demokrasi kapitalisme memang penuh kelemahan.

Belum tuntas implementasi kurikulum yang satu, sudah harus diganti dengan kurikulum yang baru. Inilah konsekuensi menerapkan sistem yang terlahir dari akal manusia semata. Sistem yang memisahkan aturan Sang Pencipta dalam kehidupan, termasuk dalam ranah pendidikan.

Akibatnya generasi pun akan menjadi korban. Perubahan kurikulum demi kurikulum tidak akan menghasilkan solusi tuntas bagi nasib generasi.

Ketika banyak orang yang menginginkan perubahan atas kondisi pendidikan hari ini, sesungguhnya solusi terbaik hari ini adalah solusi islami.

Baca juga:  [Editorial] Home Learning, kok Bikin Pusing?!

Dulu, peradaban Islam menjadi mercusuar untuk bangsa-bangsa lain selama lebih dari seribu tahun. Daulah Islam mengeluarkan putra-putri yang menjadi pionir dan pemimpin dalam berbagai bidang semisal matematika, kesehatan, fikih, dan ilmu astronomi.

Pun halnya bahasa Arab yang menjadi bahasa resmi di Daulah Khilafah dan menjadi kebanggaan bagi kaum terpelajar baik laki-laki maupun perempuan di dunia. Kota-kota Khilafah menjadi tujuan utama bagi orang-orang Eropa untuk belajar di sana.

Kurikulum Daulah Khilafah Islam

Daulah Islamiah memikul tanggung jawab pendidikan putra-putri umat. Tujuan utama pendidikan dalam Daulah Khilafah adalah menetapkan politik pendidikan yang bisa membangun kepribadian islami (aqliyah dan nafsiyah) yang kuat.

Daulah Khilafah akan mengembangkan kurikulum dalam bentuk yang bisa mengembangkan metode pemikiran, pemikiran analitis dan hasrat pada pengetahuan untuk meraih pahala dan keridaan Allah SWT.

Kurikulum Khilafah dibangun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas Islam.

Negara memberlakukan kurikulum yang seragam dan serentak di semua sekolah maupun perguruan tinggi, sehingga tidak ada satu pun institusi pendidikan yang menerapkan kurikulum yang bertentangan dengan kurikulum negara.

Kurikulum dalam sistem pendidikan Negara Khilafah disusun dari sekumpulan hukum-hukum syariat dan berbagai peraturan administrasi yang berkaitan dengan pendidikan formal.

Hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan pendidikan formal terpancar dari akidah Islam dan mempunyai dalil-dalil syar’i, seperti mengenai materi pengajaran yang harus disampaikan para guru serta pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan.

Baca juga:  Sekularisasi Pendidikan dan Invasi Pemikiran Korosif

Sedangkan berbagai peraturan administrasi di bidang pendidikan, merupakan sarana dan cara yang diperbolehkan (hukumnya mubah) yang dipandang efektif oleh pemerintah dalam menjalankan sistem pendidikan dan merealisasikan tujuan pendidikan.

Karenanya, kurikulum dalam Negara Khilafah tidak mudah berganti-ganti karena telah digali dari proses berpikir yang cemerlang, yang bersumber dari akidah dan hukum syariat, bukan karena pesanan pihak mana pun. Bahkan Negara Khilafah tidak boleh dikendalikan pihak asing dalam penerapan kurikulumnya.

Allah berfirman, “Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.(QS Al-Nisâ’ [4]: 141)

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (iptek, keahlian, dan keterampilan).

Jadi, dengan kita memahami sistem pendidikan Islam, dari garis besarnya saja, sudah dapat mencakup seluruh aspek pendidikan. Terlebih jika kita membahasnya lebih detail mulai dari sistem dan strateginya yang sangat sesuai dengan aturan syariat, niscaya tidak dapat diragukan lagi kredibilitasnya.

Maka, satu-satunya harapan kita dalam mencari solusi pendidikan hari ini adalah pada sistem yang sempurna, yang diciptakan oleh Zat yang Mahasempurna.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa sistem pendidikan dalam bingkai Negara Khilafah Islamiyah adalah sistem pendidikan yang sempurna, sistematis, integral, dan menjangkau seluruh aspek kehidupan. Lalu kenapa masih memilih sistem yang lain? [MNews]

22 thoughts on “Kurikulum Berubah lagi? Inikah Solusi Pendidikan?

  • 20 September 2020 pada 15:01
    Permalink

    Penguasa berganti maka aturan bergantu termasuk kurikulum. Sy setuju kurikukum yg ada ditinjau lagi dan diperbaiki. Jangan dirombak total sistem, bingung siswa dan gurunya

    Balas
  • 19 September 2020 pada 22:27
    Permalink

    Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW): “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya: ‘Bagaimana maksud amanah disia-siakan?’ Nabi menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Al-Bukhari)

    Balas
  • 19 September 2020 pada 21:25
    Permalink

    Solusi pendidikan adalah ganti sistem bukan ganti kurikulum karena yang bermasalah adalah sistem yang diterapkan saat ini

    Balas
  • 19 September 2020 pada 20:45
    Permalink

    Maa Syaa Allah Tabarakallah

    Balas
  • 19 September 2020 pada 20:34
    Permalink

    Betul sekali.
    Merindu tegaknya Islam sebagai sistem hidup.

    Balas
  • 19 September 2020 pada 14:51
    Permalink

    Hukum kapitalis adalah hukum buatan manusia dimana hukumnya akan berubah-ubah sesuai kepentingan

    Balas
    • 19 September 2020 pada 21:20
      Permalink

      Ya Allah kami sudah rindu hidup dalam sistem Islam

      Balas
  • 19 September 2020 pada 14:26
    Permalink

    Krn gk paham kemendikbuk jadi kurikulum berubah terus..dan landasannya bkn krn islam

    Balas
    • 20 September 2020 pada 15:05
      Permalink

      Sistem pendidikan Islam mewujudkan peradaban cemerlang

      Balas
  • 19 September 2020 pada 11:25
    Permalink

    Perubahan kurikulum yang sudah menjadi ritual dalam sistem pendidikan Indonesia ini, sebenarnya membuktikan sistem pendidikan produk sistem pemerintahan demokrasi kapitalisme memang penuh kelemahan

    Balas
  • 19 September 2020 pada 08:32
    Permalink

    Sistem pendidikan yang sempurna sistematis integral dan menjangkau seluruh aspek kehidupan hanya bisa didapatkan didalam sistem pendidikan negara khilafah Islamiyyah

    Balas
  • 19 September 2020 pada 06:39
    Permalink

    Hanya Islam yg memiliki konsep ide dan pemikiran yang cemerlang terkait pendidikan islam. Mampu menghasilkan generasi tangguh dan unggul yang hanya takut pada Allah

    Balas
  • 18 September 2020 pada 22:23
    Permalink

    hanya pendidikan Islam yang tidak berubah kurikulum nya,, back to muslim identity

    Balas
  • 18 September 2020 pada 22:01
    Permalink

    Subhanallah, sungguh kebijakan yang membingungkan

    Balas
  • 18 September 2020 pada 21:40
    Permalink

    Makin rindu Khilafah

    Balas
  • 18 September 2020 pada 21:39
    Permalink

    Astagfirullah….siatem pendidikan didalam kapitalis gagal malah menyengsarakan saatnya ganti ke sistem islam kaffah

    Balas
    • 19 September 2020 pada 19:24
      Permalink

      Rindu diterapkan nya sistem pendidikan Islam dalam naungan Daulah Khilafah

      Balas
  • 18 September 2020 pada 20:49
    Permalink

    Sudah tidak diragukan lagi bahwa sistem pendidikan dalam bingkai Negara Khilafah Islamiyah adalah sistem pendidikan yang sempurna, sistematis, integral, dan menjangkau seluruh aspek kehidupan. Lalu kenapa masih memilih sistem yang lain?

    Balas
  • 18 September 2020 pada 19:57
    Permalink

    Astaghfirullah manusia (menteri) bgtu gampang nya gnt2 kurikulum, betapa pun usahanya tdk membangkitkan dan mencerdaskan umat krn sistem yg bathil

    Balas
  • 18 September 2020 pada 19:34
    Permalink

    Astaghfirulloh. Siswa jadi.percobaan.terus. kapitalisme tidak memiliki visi.misi.yang jelas. Tidak konsisten selalu coba2.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *