Pemerintah, Banyak Sekolah Belum Siap KBM Tatap Muka

Oleh: Yusriana (Pemerhati pendidikan dan masalah generasi)

MuslimahNews.com, KOMENTAR POLITIK – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut sekolah masih kebingungan mempersiapkan kenormalan baru, terutama kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di zona kuning atau risiko rendah penyebaran virus Corona (Covid-19).

Dari hasil pengawasannya, KPAI menyebut banyak sekolah belum siap secara infrastruktur fisik, berbagai standar prosedur operasional (SoP) seperti kedatangan ke sekolah, kegiatan di kelas, kepergian dari sekolah, ibadah di masjid sekolah.

Retno mengatakan persoalan operasional sekolah bukan sekadar zona. Namun, kata dia, yang terpenting adalah persiapan protokol kesehatan di sekolah.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200812060858-20-534701/kpai-sebut-mayoritas-sekolah-bingung-hadapi-new-normal


Masalah utama bingungnya pihak sekolah dalam penyelenggaraan KBM tatap muka ini adalah akibat sikap pemerintah yang tergesa-gesa dalam membuka kegiatan sekolah, sementara pandemi di negeri ini belum menunjukkan akan berakhir.

Pemerintah seakan menutup mata akan kasus penutupan kembali sekolah di sejumlah negara seperti Israel, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Di negara-negara tersebut, pembukaan sekolah telah membuka klaster baru penyebaran Covid-19.

Berkaca pada kasus di negara lain, seharusnya pemerintah tidak terburu-buru menetapkan kebolehan sekolah melakukan pembelajaran tatap muka sampai kondisi benar-benar dipastikan aman.

Masalah berikutnya adalah ketika penetapan sekolah yang boleh melaksanakan tatap muka adalah yang masuk dalam zona hijau dan kuning.

Pemerintah membagi sistem zonasi ini menjadi tiga yakni merah, kuning atau oranye, dan hijau.

Merah berarti bahaya karena tingkat penularan tinggi. Sementara kuning atau oranye artinya penyebaran Covid-19 rendah dan hijau adalah tidak terdampak atau tidak ada kasus baru.

Hanya saja, menurut pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono, pembagian zona tersebut tidak akurat. Sebab penentuan suatu daerah menjadi merah, kuning, atau hijau, bergantung pada pengujian.

Baca juga:  Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (1/2)

Tes ini juga tergantung pada kapasitas atau kepala daerah dalam mendorong adanya testing. Ada daerah yang tidak melakukan tes demi citra daerah hijau karena jelang pilkada.

Istilah zona-zona itu tidak terinformasikan secara akurat. Kalau zona-zona itu menyesatkan, maka generasi kita yang melakukan sekolah tatap muka di zona yang konon sudah hijau atau kuning itu bisa jadi berada dalam ancaman penyebaran virus yang sudah banyak merenggut nyawa korban. Astaghfirullah…

Berdasarkan laporan yang diterima KPAI, kasus Covid-19 terjadi di berbagai sekolah dan pondok pesantren yang membuka sekolah. Dari pengawasan KPAI tercatat tiga sekolah dan lima pondok pesantren.

Ada masalah lebih krusial lagi yang menimpa pihak sekolah, yang sudah atau akan melakukan proses belajar tatap muka. Selain anggaran yang dibutuhkan untuk menerapkan protokol kesehatan tidak ada, pemerintah juga tidak memiliki aturan jelas terkait pengawasan.

Sekolah harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk membeli berbagai peralatan kesehatan mulai dari thermo gun (pengukur suhu tubuh tembak), masker, cairan disinfektan, dan sabun cuci tangan.

Di masa normal saja, banyak sekolah keteteran memenuhi anggaran sarana dan prasarana sekolah, apalagi dengan adanya penambahan sarpras dalam penerapan protokol kesehatan ini.

Wajar kalau banyak sekolah yang kebingungan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di masa pandemi yang masih tidak menentu ini.

Negara Tidak Boleh Abai

Berbagai kebingungan yang dihadapi pihak sekolah tidak perlu terjadi kalau pemerintah benar-benar memberikan perhatian total dan penjagaan maksimal kepada rakyatnya.

Sudah kadung sejak awal pemerintah tidak mengambil tindakan tepat yaitu tindakan preventif melalui karantina /lockdown (syar’i), sehingga akhirnya wabah Covid-19 ini menyebar hampir ke seantero nusantara.

Baca juga:  Amankah Pembukaan Pariwisata di Era "New Normal Life"?

Korban nyawa pun tidak mengenal status dan usia. Mestinya pemerintah tidak terburu-buru menetapkan pembukaan sekolah dengan tatap muka sebagai konsekuensi penerapan era new normal di bidang pendidikan. Apalagi dengan kebijakan pembukaan sekolah di zona kuning.

Kalau faktanya banyak guru dan siswa yang resah dengan pembelajaran daring selama proses BDR, seharusnya pemerintah mengevaluasi diri sejauh mana peran pemerintah dalam mengoptimalkan proses BDR ini.

Sudah sigapkah dalam menyiapkan kematangan para guru untuk menyelenggarakan PJJ? Sudah seriuskah menyiapkan kurikulum yang tepat di saat pandemi? Sudah optimalkah memenuhi fasilitas yang dibutuhkan para guru dan siswa saat BDR (mulai dari ketersediaan perangkat /gadget, jaringan internet, serta kuotanya)?

Dan yang tak kalah penting, sudahkah memberi penghargaan maksimal bagi para guru atas kerja keras mereka selama ini mengawal pembelajaran online bagi anak didiknya? Sementara masih saja ada pihak yang mem-bully para guru karena dianggap makan gaji buta selama pandemi.

Keresahan para guru dan siswa dalam proses BDR tidak bisa dijadikan alasan untuk menyegerakan proses belajar tatap muka dengan mengabaikan keamanan dan kesehatan generasi ini. Apalagi dengan berbagai ketidaksiapan sekolah dalam penyelenggaraannya.

Sungguh miris kalau saat ini banyak sekolah kebingungan dalam penyelenggaraan KBM akibat ketidakjelasan prosedur, kekurangan sarana infrastruktur, maupun sarana operasional. Dan hal seperti ini memang seringkali terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan dalam sistem kapitalis.

Padahal, kalau kita bercermin pada sistem pendidikan yang pernah diterapkan dalam sistem Khilafah Islamiyah, negaralah yang berkewajiban mengatur segala aspek berkenaan sistem pendidikan yang diterapkan, dari masalah kurikulum, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajar.

Baca juga:  Lupakan “New Normal”, Saatnya Khilafah Hadir Kembali (2/2)

Kegiatan pendidikan dalam sistem Islam dilengkapi sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan pendidikan sesuai kreativitas, daya cipta, dan kebutuhan.

Sarana-sarana itu mulai dari buku-buku pelajaran, sekolah/kampus, asrama siswa, perpustakaan, laboratorium, toko-toko buku, ruang seminar –auditorium tempat dilakukan aktivitas diskusi, majalah, surat kabar, radio, televisi, kaset, komputer, internet, dan lain sebagainya.

Semua sarana yang menunjang keberhasilan pendidikan itu dijamin negara, karena negara dalam sistem Islam memiliki paradigma sebagai raa’in (penanggung jawab).

“Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dengan paradigma seperti inilah, negara dalam sistem Khilafah Islamiyah akan bersungguh-sungguh memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam upaya membentuk generasi cemerlang melalui proses pendidikan.

Negara tidak akan abai hingga ada sekolah yang kebingungan menjalankan aktivitas pembelajaran akibat kekurangan sarana infrastruktur dan operasional seperti saat ini.

Terlepas dari sudah tepat atau tidaknya penyelenggaraan sekolah tatap muka saat pandemi masih berlangsung saat ini, sudah selayaknya penguasa memberikan pelayanan terbaik dan penyediaan sarana prasarana yang optimal dalam proses pendidikan.

Tidak boleh dibiarkan ada sekolah yang gagap menyelenggarakan program pendidikan karena keterbatasan dalam berbagai fasilitas. Karena ini berarti penguasa telah abai dalam menjamin kebutuhan rakyatnya.

Padahal, abainya penguasa adalah sebuah kemaksiatan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan nanti.

“Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum muslim, lalu dia tidak memedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan memedulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada Hari Kiamat). (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Wallahu a’lamu bi Ash-shawab. [MNews]

3 thoughts on “Pemerintah, Banyak Sekolah Belum Siap KBM Tatap Muka

  • 14 Agustus 2020 pada 03:40
    Permalink

    Asstaghfirullah…hanya dlm sistem Islam..solusi semua prmslhan..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *