Akankah Ekonomi Cina Hancur karena Virus Corona?

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI – Dunia panik! Virus corona yang diduga kuat berasal dari Wuhan, Cina telah menyebar ke berbagai negara. Cina mengalokasikan 1 miliar yuan atau setara 145 juta dolar AS untuk menangani wabah tersebut. Melihat banyaknya jumlah korban, muncul dugaan bahwa dampak virus Corona akan menghancurkan ekonomi Cina. Benarkah akan demikian?

Sang Adidaya Kawasan Asia

Cina pernah mengalami kasus wabah penyakit seperti saat ini, yaitu pada 2002-2003. Saat itu terjadi wabah penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Menurut angka resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), selama wabah SARS, 8.098 orang jatuh sakit di seluruh dunia dan 774 meninggal. Seorang ilmuwan virologi terkemuka Tiongkok telah memperingatkan bahwa epidemi virus Corona Wuhan bisa 10 kali lebih buruk dari wabah SARS (kontan, 24/01/2020).

Berikut adalah beberapa fakta tentang pengaruh wabah virus Corona pada ekonomi Cina yang dihimpun dari berbagai sumber:

  1. Belanja Konsumen Menurun

Akibat wabah SARS pada tahun 2002, kontribusi belanja konsumen terhadap pertumbuhan ekonomi Cina anjlok 5% poin menjadi 35%. Saat ini kontribusi pos ini terhadap pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu mencapai 60%. Jika virus Corona jadi pandemi, pos belanja konsumen akan anjlok karena masyarakat lebih memilih diam di rumah dan menunda belanja

  1. Sektor Transportasi Terpukul

Saat ini kontribusi sektor transportasi terhadap ekonomi Cina mencapai 5%. Merebaknya virus Corona Wuhan yang bertepatan dengan libur imlek menjadikan warga Cina memilih tidak pulang kampung. Akibatnya, sektor transportasi menurun.

  1. Proyeksi Kerugian Ekonomi
Baca juga:  [Penjelasan Lengkap] Ketentuan Salat Jumat dan Memakmurkan Masjid di Saat Wabah Penyakit Menular

Menurut kajian IMF, ongkos yang ditanggung akibat adanya pandemi flu hampir setara dengan ongkos akibat perubahan iklim. Nilai kerugian yang harus ditanggung mencapai US$ 570 miliar (Rp 7.787,45 triliun dengan kurs saat ini) tiap tahunnya.

  1. Bioskop Rugi Sekitar Rp13 Triliun

Imlek merupakan masa blockbuster terbesar di dunia. Sebelumnya, penjualan tiket di minggu kedua Januari sudah mencapai 1 miliar dolar AS atau sekitar 13 triliun rupiah. Namun pemutaran film dibatalkan akibat khawatir terhadap serangan virus Corona.

  1. Harga Minyak Mentah Turun

Serangan virus corona Wuhan telah membuat harga minyak anjlok sekitar US$ 3 per barel. Bank Goldman Sachs menilai virus corona dapat menyebabkan permintaan bahan bakar jet turun 170.000 barel per hari, dengan permintaan keseluruhan menurun 260.000 barel per hari.

  1. Disney Land, McDonald’s, dan Starbucks Tutup

Sejak libur imlek, Disney Land tutup. McDonald’s dan Starbucks juga menutup semua toko dan menunda jasa pengiriman di provinsi Hubei, Cina.

  1. Pasar Saham Turun

Penyebaran global virus corona dari Cina menghilangkan miliaran dolar AS dari saham perusahan-perusahaan negara itu.

Secara umum, bisa disimpulkan bahwa wabah virus Corona Wuhan berdampak pada ekonomi Cina. Namun, seberapa parah dampaknya sangat tergantung dari seberapa mampu Cina menangani dan mengarantina virus ini agar tak keluar dan menjadi pandemi.

Saat ini Cina telah memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menangani virus Corona daripada saat serangan SARS 2002 lalu. Belajar pada sejarah, virus Virona pada 2014 lalu juga merebak di Arab. Virus ini menyebabkan penyakit bernama MERS. Tingkat fatalitasnya lebih tinggi dari SARS yang mencapai 34%. Namun tak menyebabkan gejolak global karena virus ini berhasil ditangani dan dikarantina dengan baik.

Baca juga:  Islam Perisai Umat, Garda Terdepan Melawan Corona

Khilafah Adidaya Sesungguhnya

Sebagai negara adidaya di kawasan Asia, Cina diyakini akan mampu menangani dan bangkit lagi setelah serangan virus Corona Wuhan. Sebagaimana Cina dulu mampu bangkit dari wabah SARS. Cina tetap menjadi negara besar di Asia. Jika Indonesia ingin menyaingi ekonomi Cina, caranya bukan dengan mendoakan ekonomi Cina hancur karena virus.

Memang Rasulullah saw. membolehkan berdoa bagi keburukan musuh yang berbuat buruk pada umat Islam. Beliau SAW pernah mendoakan keburukan bagi Kisra karena penguasa Persia itu merobek-robek surat Rasulullah SAW. Namun doa harus diposisikan sebagai ibadah, bukan metode perubahan.

Telah disebutkan dalam Alquran bahwa Allah SWT tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga kaum itu sendiri mengubah kondisinya. Saat ini kaum muslim berada dalam kondisi terjajah secara ekonomi, politik, budaya, dan lainnya oleh negara-negara besar seperti Cina dan Amerika. Mendoakan keburukan bagi negara penjajah itu tidak akan mengubah kondisi kaum muslim yang tertindas.

Umat Islam harus mengubah kondisinya yang tercerai-berai menjadi bersatu dalam satu negara yakni khilafah. Juga mengubah kondisinya yang lemah karena meninggalkan Islam menjadi kuat dengan menerapkan syariat Islam. Khilafah yang menerapkan syariah kaffah akan menjadi negara adidaya dunia yang lebih besar dari Cina. Khilafah akan memerdekakan wilayah-wilayah muslim dari penjajahan Cina dan juga negara penjajah lainnya.

Baca juga:  Cara Jitu Sistem Islam Mengatasi Penyebaran Penyakit Menular

Dulu, khilafah juga pernah mengalami wabah penyakit. Di masa Rasulullah SAW, wabah yang cukup dikenal adalah pes dan lepra. Di masa Khalifah Umar bin Khaththab, wabah kolera menyerang Negeri Syam. Negeri Syam kala itu sekitar tahun 18 Hijriah, diterjang wabah Qu’ash.

Wabah tersebut menelan korban jiwa sebanyak 25 ribu kaum muslimin. Beberapa sahabat Nabi Muhammad saw meninggal akibat wabah qu’ash, yakni Mu’adz ibn Jabbal, Abu Ubaidah, Syarhbil ibn Hasanah, Al-Fadl ibn Al-Abbas ibn Abdul Muthallib.

Khilafah menangani wabah tersebut dengan metode karantina dan para ilmuwan muslim bekerja keras mencari cara pengobatan terhadap wabah penyakit. Misalnya Fakhruddin ar-Razi yang di Barat disebut Rhazes. Beliau menuliskan tentang penyakit cacar dan campak dalam kitabnya Al-Judari wal Hasbah.

Kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Latin di Venezia (1565) dengan judul De Variolis et Morbilis (Risalah Tentang Cacar dan Campak). Kitab ini kemudian diterjemahkan dalam banyak bahasa modern dan masih digunakan sebagai buku ajar di fakultas kedokteran sampai abad ke-18.

Demikianlah khilafah memandang wabah penyakit, yaitu sebagai sarana mengingat kebesaran Allah SWT dan terdorong untuk bekerja keras menangani penyakit tersebut. Hingga khilafah menjadi negara yang terdepan dalam penanganan penyakit. Wallahu a’lam bishawab. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *