Tokoh NU Jawa Timur: Film The Santri Tidak Mendidik, Cenderung Liberal

MuslimahNews.com, NASIONAL – Sepekan lebih sejak trailer film The Santri karya sutradara Livi Zheng diirilis Senin (9/9/2019) lalu, sejak itu pula kontroversi warganet terus menyeruak, khususnya di media sosial. Puncaknya, di Twitter, tagar #BoikotFilmTheSantri menjadi trending topic Indonesia dengan 15ribuan lebih cuitan.

Kyai Luthfi Bashori, Tokoh NU Jawa Timur dan Pengasuh Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami.

Salah satu yang kontra adalah pengasuh pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Kyai Luthfi Bashori, tokoh Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Kyai Luthfi meminta para santrinya untuk tidak menonton film tersebut.

“Karena film ini tidak mendidik, cenderung liberal. Ada akting pacaran, campur aduk laki perempuan, dan membawa tumpeng ke gereja,” ujar pengasuh pesantren yang terletak di Singosari, Malang, Jawa Timur ini.

Adegan demikian, kata Kyai Luthfi, jelas melanggat syariat Islam dan bukan tradisi pesantren ahlusunnah wal jamaah (aswaja). Adegan santri putri menyodorkan tumpeng ke pendeta putra di gereja, lanjut Kyai Luthfi, adalah kampanye sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ajaran agama.

“Membawa tumpeng ke gereja ini yang menjadi problem, karena sama saja ridho dengan isi gereja. Yang namanya gereja menurut umat Islam adalah tempat kekafiran, kemusyrikan, karena di dalam gereja ada ritual menyembah selain Allah,” ujarnya.

Adegan santri putri membawa tumpeng di gereja.

Beliau juga menegaskan dirinya siap di garda terdepan memboikot film The Santri.

“Saya pasti terang-terangan memboikot, saya di front terdepan tidak masalah. Karena itu pelecehan terhadap pesantren, juga pelecehan terhadap kyai pesantren dan santri. Saya keberatan karena saya mengasuh sebuah pesantren,” dilansir Kiblat.net, Selasa (16/9/2019).

Bahkan, ia menolak pernyataan Ketua Umum PBNU, Said Aqil, yang malah menyambut baik film tersebut.

“Saya pengurus NU di Malang, tapi saya menentang keberadaan film ini. Kami menolak kepada pak Said Aqil, statement-nya saya tolak,” ujar Kyai Luthfi.

Kyai Luthfi juga mengimbau umat Islam yang pro keberadaan pesantren, untuk ikut memperjuangkan kesucian pesantren dari perilaku yang ada di The Santri.

“Perilaku yang ada di The Santri bertentangan dengan kehidupan pesantren (yang sebenarnya),” tutupnya.

Berdasar penelusuran MNews, tagar #BoikotFilmTheSantri bermula dari beredarnya poster Front Santri Indonesia (FSI) di kanal Instagram (15/9/2019). Dalam poster itu, FSI menyatakan penolakan mereka lantaran dianggap tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya.

“Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya,” demikian pernyataan Ketua FSI, Al-Habib Muhammad Hanif Al-Athas, Lc. Poster ini sendiri dikonfirmasi kebenarannya oleh Juru Bicara Front Pembela Islam (FPI), Slamet Maarif.

Poster FSI tentang penolakan film The Santri.

Seiring derasnya penolakan, film inisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan sang sutradara ini terancam batal tayang. The Santri sendiri rencananya diluncurkan 22 Oktober 2019 mendatang, bertepatan Hari Santri Nasional.

Menanggapi penolakan tersebut, Livi Zheng enggan berkomentar dan menyerahkan sepenuhnya kepada Produser Eksekutif film The Santri, Imam Pituduh, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU.

Film kontroversial ini dibintangi banyak aktor pendatang baru, seperti Wirda Mansyur,  Azmi Iskandar, dan Veve Zulfikar. Juga melibatkan komposer Purwacaraka sebagai penata suara.[MNews]

Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *