Saat Arogansi Rezim Sukses Mengooptasi Rasionalitas Kaum Intelektual

Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari kasus DO mahasiwa ‘radikal’ dan Disertasi Doktoral ‘Penghalal Zina’. Bahwa rasionalitas dan intelektualitas di negeri ini nampaknya kian tak berarti apa-apa.


MuslimahNews.com, EDITORIAL – Adalah Hikma Sanggala, seorang mahasiswa IAIN Kendari Sulawesi Tenggara yang tiba-tiba harus menerima kenyataan, dirinya di-DO gegara diduga terpapar ideologi radikal.

Tepatnya pada Selasa, 27 Agustus 2019 lalu, dirinya menerima 2 (dua) pucuk surat dari Tata Usaha IAIN Kendari. Pertama, surat Dewan Kehormatan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa mengeluarkan Nomor: 003/DK/VIII/2019 tentang Usulan Penjatuhan Terhadap Pelanggaran Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa IAIN Kendari. Kedua, Surat Keputusan Rektor IAIN Kendari Prof Faizah Binti Awad bernomor 0653 Tahun 2019 Tentang Pemberhentian Dengan Tidak Hormat Sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Kendari.

Sosok Hikma Sanggala, mahasiswa berprestasi yang dipaksa melepas status kemahasiswaannya. Baca: Hikma Sanggala dan Lumpuhnya Mahasiswa Islam

Apa ‘dosa’ Hikma sehingga diberhentikan sebagai mahasiswa secara tidak hormat? Ternyata alasannya adalah, karena dia dituding “berafiliasi dengan aliran sesat dan paham radikalisme yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kebangsaan, dan terbukti sebagai anggota, pengurus, dan/atau kader organisasi terlarang oleh Pemerintah”.

Sungguh tudingan berat! Hikma, sang mahasiswa yang dikenal saleh, kritis, bertanggung jawab, prestatif, dan sempat mendapat penghargaan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi se-Fakuktas itu, harus melepas status kemahasiswaannya karena dituduh sesat, radikalis, dan melawan negara.

Dan mirisnya, keputusan itu diambil tanpa tahapan proses klarifikasi dan pembuktian yang fair, serta tanpa definisi jelas soal apa yang dimaksud radikalis dan organisasi terlarang sebagaimana yang dituduhkan.

Di pihak lain, adalah seorang Abdul Aziz, mahasiswa pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang disertasinya sempat diapresiasi dengan nilai sangat memuaskan. Apa prestasinya? Tak lain karena dia berhasil membuktikan dalil, bahwa hubungan seksual nonmarital yang dilakukan di ruang privat dan dilakukan atas dasar suka sama suka, tak terkategori zina, alias halal. Sang calon doktor ini, mendasarkan pendapatnya pada pemikiran Muhammad Syahrur, seorang hermeneutik dari Universitas Damaskus yang menyebutkan bahwa hukum milkul yamin bisa diterapkan pada konteks kekinian.

Hebatnya, saat wawancara di berbagai media, berulang kali Aziz menjelaskan, bahwa tujuannya mengambil topik ini adalah karena dirinya prihatin atas kriminalisasi yang diterima para pelaku seks nonmarital. Menurutnya, pelaku seks nonmarital tak bisa dikriminalkan, karena bukan zina dan justru harus mendapat perlindungan. Menyebalkan, bukan?

Baca: “Disertasi Sampah” dan Bahaya Logika Mantik dalam Pengambilan Hukum

Sebelum dua kasus ini muncul, lembaga perguruan tinggi di Indonesia memang sering dihebohkan oleh kasus-kasus kontroversial. Di antaranya, pemecatan beberapa dosen dan mahasiswa bercadar serta dosen-dosen atau pegawai yang dituding terpapar radikalisme dan organisasi terlarang. Serta kasus-kasus asusila yang banyak dilakukan anggota civitas academika, yang justru cenderung ditutup-tutupi dan sebagiannya seolah dipeti-eskan. Juga kasus merebaknya pemikiran-pemikiran liberal di perguruan tinggi Islam, seperti soal Ljibiti dan sinkretisme agama-agama.

Berbagai kasus ini setidaknya menunjukkan bahwa ada pergeseran standar moralitas yang tengah terjadi dalam tubuh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

Perguruan Tinggi, termasuk yang bernuansa Islami, makin pede menunjukkan jati dirinya sebagai penganut dan pengokoh nilai-nilai sekularisme. Dan di saat sama, makin menjauhkan diri dari nilai-nilai agama yang semestinya menjadi tuntunan bagi ilmu pengetahuan.

Bahkan, pada beberapa kasus terakhir, keberadaan perguruan tinggi, nampak kian terkooptasi oleh kekuasaan politik yang kini tengah gencar melakukan proses sekularisasi dan liberalisasi di berbagai lini kehidupan. Sehingga, jangan heran jika proyek-proyek deradikalisasi ala rezim sekuler hari ini, intens dilakukan di kampus-kampus. Baik dalam bentuk seminar-seminar, arahan-arahan, hingga dalam tataran kebijakan. Seolah-olah, kampus memang sudah menjadi sarang radikalisme di level yang membahayakan. Padahal yang terjadi adalah munculnya daya kritis mahasiswa yang prihatin dengan keadaan.

Simpulan ini memang bisa jadi dianggap gegabah. Karena berarti menuduh perguruan tinggi telah kehilangan independensinya sebagai pabrik kaum intelektual pembangun peradaban cemerlang. Tapi apa mau dikata. Realitasnya memang menunjukkan demikian.

Perguruan tinggi, sebagaimana lembaga-lembaga pendidikan di berbagai levelnya hari ini, nampak sudah kehilangan jati diri sebagai institusi pencetak generasi mumpuni, dan malah ikut dalam arus gelombang pendidikan sekuler yang materials minded.

Oleh karenanya, tradisi ilmiah yang selama ini digembar-gemborkan, tak lagi berlaku jika menyangkut pemikiran-pemikiran Islam atau syariat Islam. Sementara, jika menyangkut kebebasan berpikir ala sekuler liberal, maka tradisi ilmiah menjadi hal yang sangat diniscayakan, diapresiasi, bahkan diagung-agungkan.

Itulah kenapa, aspek moral, sisi ruhiyyah, dan sejenisnya, sudah tak ditemukan lagi dalam praktik keseharian proses pendidikan hari ini. Pelajaran agama pun makin tersisih marwah-nya dibanding dengan hingar bingar perbincangan soal kemajuan teknologi, inovasi, modernisasi, demokratisasi, inklusivisme budaya, semangat pluralisme dan relativisme, serta perbincangan-perbincangan yang dianggap kekinian lainnya.

Seolah-olah, bicara agama, moralitas, aspek-aspek ruhiyah dan yang sejenisnya, hanya pantas dibincang di ruang-ruang privat, personal, bahkan dianggap bisa mengganggu proses meraih kemajuan.

Kalaupun di dalamnya terjadi penyimpangan moral, seperti kasus-kasus tindak asusila yang marak terjadi hari ini, maka itu dianggap bukan urusan institusi. Bahkan tak boleh disangkut paut dengan institusi.

Bagi mereka yang masih terpelihara kewarasan dan hati nurani, kondisi seperti ini tentu sangat memprihatinkan. Bisa dibayangkan, bagaimana wajah generasi negeri ini di masa depan, bila output pendidikan tingginya hari ini hanya memiliki otak cemerlang, tapi minus akhlak dan nilai-nilai keluhuran.

Yang mungkin terjadi adalah munculnya generasi pemuja nafsu dan materi, yang puas dengan sekadar menjadi kacung para kapitalis asing. Karena dengan kondisi ini, output pendidikan tinggi memang tak lebih dari mesin-mesin pemutar industri kapitalisme.

Bahkan yang lebih parah, mereka justru disiapkan untuk menjadi pengukuh sistem kapitalisme. Karena daya kritis mereka terhadap kondisi rusak yang intens diproduksi oleh sistem kapitalisme justru dengan sengaja dibungkam atas nama perang melawan radikalisme.

Masyarakat semestinya menyadari hakikat persoalan yang terjadi. Bahwa negara-negara kapitalis telah menggunakan para agennya dari kalangan para penguasa untuk melanggengkan hegemoni mereka atas dunia Islam yang superkaya seperti Indonesia.

Mereka tentu berkepentingan untuk mencegah segala potensi kebangkitan Islam, karena itu berarti lonceng kematian untuk penjajahan mereka. Dan hari ini, mereka melawan semua potensi itu dengan mengobarkan perang semesta atas nama perang melawan terorisme dan radikalisme.

Mereka terus mengintrodusir pemikiran sesat dan meracuni benak umat dengannya, bahwa Islam adalah ancaman bagi peradaban. Sehingga oleh karenanya, umat harus dijauhkan dari Islam, dan dijauhkan dari para pengemban dakwah Islam.

Tudingan radikalis, teroris, pemecah belah umat, dan lain-lain, terus ditempelkan pada para pengemban dakwah Islam. Bahkan, media-media mainstream yang mereka kuasai terus melontarkan opini buruk tentang kelompok-kelompok dakwah yang berjuang menegakkan Islam kaffah dalam institusi khilafah.

Dan mirisnya, lembaga ilmiah semacam perguruan tinggi, ikut masuk dalam arus yang diciptakan para penjajah ini. Bahkan para petingginya, dengan sadar ikut memusuhi Islam dan menempatkan diri sebagai cap stempel bagi kebijakan-kebijakan penguasa antek yang mengokohkan penjajahan.

Sungguh benar apa yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sabdakan,

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَا ذِئْبَ انِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.”

Juga sabdanya,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Ada seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad: 21891 dan Abu Daud: 4297)

Semoga kita tidak termasuk orang yang menggadai agama karena cinta dunia. Karena sungguh, dunia ini hanya sementara. Sementara pemihakan kita pada kekufuran dan penjajahan, atau pada kebenaran agama Islam, itulah yang akan menentukan nasib kita di keabadian sana. Wallaahu a’lam. [SNA]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *