Islam Menjaga Keutuhan Negaranya

(Sebuah Pengantar Diskusi)

Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, pemersatu seluruh warganya baik Muslim maupun nonmuslim, apapun warna kulit, agama, ras, suku bangsa, wilayah yang sudah lama bergabung, baru bergabung dan segala latar belakang mereka.


Oleh: Ustazah Rahma Qomariyah

MuslimahNews.com, ANALISIS — Akhir-akhir ini tuntutan Papua merdeka semakin membara. Mahasiswa Papua menggelar unjuk rasa di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019. Mereka mengibarkan bendera bintang kejora dan mengecam diskriminasi rasial yang diterima oleh mahasiswa Papua serta menyuarakan keinginan untuk merdeka. (Tempo.co)

Tuntutan senada juga pernah terjadi pada Timor Timur beberapa tahun yang lalu. Integrasi itu diresmikan pada 17 Juli 1976. Timor Timur pun menjadi provinsi ke-27. Setelah 22 tahun di bawah pemerintahan Soeharto, Timor Timur bergejolak, sebagian rakyat Timor Timur berkeinginan lepas dari NKRI. Setelah melalui referendum- penentuan pendapat rakyat tanggal 30 Oktober 1999, NKRI kehilangan Timor Timur. Kemudian resmi menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002. (Akuratnews.com)

Di dalam buku Papua Road Map yang diterbitkan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 2009 telah dituliskan akar masalah Papua yang meliputi: Peminggiran, diskriminasi, termasuk minimnya pengakuan atas kontribusi dan jasa Papua bagi Indonesia. Tidak optimalnya pembangunan infrastruktur sosial di Papua, khususnya pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat dan rendahnya keterlibatan pelaku ekonomi asli Papua, proses integrasi politik, ekonomi, dan sosial budaya yang belum tuntas, siklus kekerasan politik yang belum tertangani, bahkan meluas. Pelanggaran HAM yang belum dapat diselesaikan, khususnya kasus Wasior, Wamena, dan Paniai.

Islam Menjaga Keutuhan Negaranya

Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, pemersatu seluruh warganya baik Muslim maupun nonmuslim, apapun warna kulit, agama, ras, suku bangsa, wilayah yang sudah lama bergabung, baru bergabung dan segala latar belakang mereka. Dalam Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin menafsirkan surat Al-Anbiya’ ayat 107:

وَمَآ أرسلناك } يا محمد { إِلاَّ رَحْمَةً } أي للرحمة { للعالمين } الإِنس والجنّ بك .

Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (bagi jin dan manusia denganmu-risalah Islam yang dibawa Nabi Muhamad. (Al-anbiya [21]: 107)

Dari sini penerapan syariah Islam mendatangkan rahmat dan persatuan bagi seluruh warga Negara. Hal ini karena pemberlakuan aturan Islam yang adil dan menyejahterakan seluruh rakyat, tanpa diskriminasi. Karenanya akan menjadikan rakyat di wilayah manapun tidak merasa dianggap sebagai anak tiri, karena urusannya diurusi oleh Negara dengan baik dan mereka merasakan kesejahteraan. Karenanya loyalitas diberikan penuh kepada Negara, sekalipun warga negara nonmuslim. Aturan yang menyejahterakan seluruh warga negaranya meliputi beberapa hal antara lain:

Sistem pemerintahan Islam akan memberlakukan Politik ekonomi dengan menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya terpenuhi. Pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas dan gratis; Layanan kesehatan berkualitas dan gratis; Keamanan gratis; Birokrasi, jalan, pasar dan beberapa fasilitas umum yang lain berkualitas dan gratis. Sedangkan sandang, pangan dan papan (Perumahan) murah. (Abdurrahman Al Maliki, Politik Ekonomi Islam) Pelaksanaan politik ekonomi ini akan mensejahterahkan semua rakyatnya tanpa diskriminasi baik muslim maupun nonmuslim, baik di desa maupun di kota, suku bangsa apapun. Baik wilayah lama, atau baru bergabung.

Baitul Mal akan mengumpulkan zakat dari warga negara yang Muslim, Negara tidak memungut pajak kecuali keadaan kas negara dalam keadaan kritis, dan pajak hanya dipungut dari kaum muslimin yang kaya saja. Karenanya biaya hidup tidak tinggi, terciptalah kesejahteraan bagi semua rakyat, tanpa terkecuali. (Sistem Keuangan dalam Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum, hlm 65)

Pengelolaan keuangan terpusat. Seluruh harta benda milik umum dan milik negara menjadi pemasukan Baitul Mal. Seluruh anggaran belanja baik untuk keperluan pemerintahan pusat maupun daerah, akan dipenuhi tanpa melihat pemasukan daerahnya kecil atau besar. Baik daerahnya miskin atau tidak, desa atau kota, maka pembangunan tidak berdasarkan pendapatan daerah, tapi sesuai kebutuhan. Termasuk di sini pembangunan infrastruktur. (Sistem Keuangan dalam Negara Khilafah, Abdul Qadim Zallum, hlm 65)

Selanjutnya dalam bidang hukum, pemerintahan Islam memperlakukan semua rakyat dengan adil baik Muslim maupun nonmuslim, baik rakyat jelata maupun pejabat negara. Suku bangsa manapun diperlakukan adil dan hukum tidak bisa diperjualbelikan. Kurikulum pendidikan dan media pendidikan mengedukasi masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan, serta bahaya dan haram disintegrasi.

Wajib Menjaga Keutuhan Negara dan Haram Disintegrasi

Menjaga keutuhan wilayah dalam pandangan Islam adalah wajib dan haram memisahkan diri. Hal ini didasarkan pada hadis: Dari Arfajah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ، أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ، فَاقْتُلُوهُ

Jika ada orang yang datang kepada kalian, ketika kalian telah sepakat terhadap satu orang (sebagai pemimpin), lalu dia ingin merusak persatuan kalian atau memecah jama’ah kalian, maka perangilah ia.”(HR. Imam Muslim, nomor 1852)

Dari Junadah bin Abi Umayyah ia berkata: aku pernah datang kepada Ubadah bin Shamit ketika ia sedang sakit. Aku berkata: “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, sampaikan kepadaku hadis yang membuat Allah memberi manfaat kepadamu.” Ubadah berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ: فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Suatu ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggil kami, lalu kami mengucapkan baiat (janji setia) kepada beliau untuk menjalankan segala sesuatu yang diwajibkan, kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengar dan taat, baik suka ataupun tidak suka, baik sulit ataupun mudah dan tidak mencabut ketaatan dari orang yang wajib untuk ditaati, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang bisa kalian pertanggungjawabkan buktinya di hadapan Allah.” (HR. Al-Bukhari).
(Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syakshiyah Islamiyah juz II, hlm. 28-29)

Dengan menelaah kasus Papua, Timor Timur dan akar masalahnya serta membandingkan dengan cara Islam menjaga keutuhan negaranya, maka ada beberapa hal yang bisa kita diskusikan: Mengapa rakyat Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia? Benarkah referendum membawa kebaikan bagi warganya? Apakah Indonesia selama ini sudah menyejahterakan Papua? Apakah rakyat Papua menyadari haram dan bahayanya disintegrasi? Siapa di balik gerakan papua merdeka? Siapa yang paling diuntungkan jika Papua merdeka? Bagaimana seharusnya tanggung jawab Negara dalam menjaga keutuhan wilayahnya?[]

Sumber gambar: Aktual.com

Apa komentar Anda?

Jangan lupa berkomentar, ya

%d blogger menyukai ini: