Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Buah Tegaknya Akidah dan Syariah

Sekilas Catatan Balaghah QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107


Oleh: Ustaz Irfan Abu Naveed al-Atsari (Penulis buku kajian tafsir & balaghah Menggugah Nafsiyyah Dakwah Berjama’ah)

Allah -Subhânahu wa Ta’âlâ- berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad ﷺ) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 107)

MuslimahNews.com, Tsaqafah — Dalam persepektif ilmu balaghah (yakni ilmu al-ma’ani), ayat yang agung ini mengandung bentuk qashr (pengkhususan), jenis qashr al-maushuf ‘ala al-shifat, yakni pengkhususan pengutusan Rasulullah ﷺ yang disifati dengan sifat rahmat[an] li al-‘alamin. Ditandai dengan ungkapan berbentuk istitsna’iyyah (bentuk kalimat pengecualian, adanya dua huruf ما – إلا: yakni ma nafi’ dan illa istitsna’).

Kata al-rahmah adalah mashdar dari kata kerja rahima[1], dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- adalah al-rahmah[2] yang menguatkan kedudukan beliau -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- (mubâlaghah)[3], dan dalam konteks penggunaan istilah ini Al-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ia terkadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan).[4] Atau al-khayr (kebaikan) dan al-ni’mah (kenikmatan).[5] Maka ia termasuk satu lafaz yang berserikat di dalamnya lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[6] yang pemaknaannya ditentukan indikasi lainnya.[7]

Memahami makna ayat di atas, diperjelas firman-Nya:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Dan tidaklah engkau mengharap Al-Qur’an diturunkan kepadamu, melainkan sebagai rahmat dari Rabb-mu.” (QS. Al-Qashash [28]: 86)

Lihat pula QS. Al-’Ankabût [29]: 51, dimana keduanya memperjelas tidaklah Allah mengutus Muhammad ﷺ kecuali sebagai rahmat bagi ciptaan-Nya dengan apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an al-Karim ini.[8] Yakni kebaikan yang terkandung dalam ajaran-ajaran-Nya.

Para ulama mu’tabar pun menjelaskan rahmat dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syariat Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban Rasulullah ﷺ.

Di antaranya ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H):

وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا

Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syariat-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”[9]

Kata kerja arsalna (Kami mengutus engkau (Muhammad ﷺ), menunjukkan bahwa sifat rahmat dalam ayat ini berkaitan erat dengan risalah Islam yang diemban oleh Rasulullah ﷺ, mencakup akidah dan syariat Islam.

Poin ini meniscayakan pemahaman baku bahwa kerahmatan bagi alam semesta terwujud dengan menegakkan apa yang diemban oleh Rasulullah  ﷺ, yakni akidah dan syariat Islam dalam kehidupan.

Kata “rahmat[an]” diungkapkan dalam bentuk kata benda nakirah (tanpa alif lam) yang berfaidah ta’mim (mubham) yakni umum dengan cakupan yang luas, di dunia dan akhirat dengan segala bentuk kebaikan hakiki dalam pandangan Allah ‘Azza wa Jalla (lihat: QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Hal ini sejalan dengan informasi bahwa Allah menjanjikan turunnya keberkahan dari langit dan bumi, ketika tegaknya Din Islam dalam kehidupan diwujudkan oleh penduduk negeri yang beriman dan bertakwa:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا ‏يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

Menariknya kata “barakat” dalam ayat di atas pun diungkapkan dalam bentuk nakirah (tanpa alif lam: “بَرَكَاتٍ”) dalam bentuk kalimat jamak (banyak).

Itu semua semakin mendorong kita untuk kembali kepada Din Islam, Islam sebagai ideologi kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam, dan hidup dalam naungan sistem Islam, al-Khilafah yang menjadi institusi penegak syari’at Islam kaffah dalam kehidupan, termasuk hudud yang telah Allah tetapkan dalam nas-nas syar’iyyah.

Hingga digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا»

Sungguh satu sanksi had yang ditegakkan di bumi lebih disukai bagi penduduk bumi daripada diturunkannya hujan kepada mereka selama 40 hari.”

Karena jika hudud ditegakkan, maka menjadikan seseorang atau kebanyakan manusia berhenti dari melakukan keharaman, dan apabila maksiat dilakukan, maka hal itu menjadi sebab hilangnya keberkahan dari langit dan bumi.”[10]

ووفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه


Catatan Kaki:
[1] Abu Manshur Muhammad bin Ahmad, Tahdzîb al-Lughah, Beirut; Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabiy, Cet.I, 2001, (V/34)
[2] Abu al-Baqa’ al-‘Akbari, Al-Tibyân fî I’râb al-Qur’ân, Syirkatu ‘Isa al-Halb,  (II/929)
[3] Abul ‘Abbas Syihabuddin al-Halabi, Al-Durr al-Mashûn fî ‘Ulûm al-Kitâb al-Maknûn, Damaskus: Dâr al-Qalam (VIII/214)
[4] Al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, (I/253-254)
[5] Lihat QS. Yûnus [10]: 21; Ibrahim Mushthafa, dkk, Al-Mu’jam al-Wasîth, Dâr al-Da’wah, (I/335)
[6] ‘Abdul Halim Muhammad Qunabis, Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah, Beirut: Maktabah Lubnân, 1986, (hlm. 55)
[7] Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, dkk, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Beirut: Dâr an-Nafâ’is, Cet.II, 1988, (I/430)
[8] Muhammad al-Amin a-Syanqithi, Adhwâ’ al-Bayân, Dâr ‘Âlam al-Fawâ’id, (IV/869)
[9] Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, (II/62)
[10] Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Dâr al-Thayyibah, cet. II, 1420 H, juz VI, hlm. 320.

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: