Muslim Menderita Hukuman Akibat Menjadi ‘Nyaris Kriminal”

Kejahatan yang menyebabkan mereka kehilangan kebebasan itu adalah kejahatan yang dapat digambarkan sebagai “nyaris kriminal”. Kejahatan tersebut adalah upaya rezim politik menyebut orang-orang yang mengikuti Islam sebagai bahaya bagi masyarakat, karena mereka —mungkin— melakukan tindakan kekerasan atau ekspresi antipemerintah terkait afiliasi mereka dengan Islam.


Oleh: Imrana Muhammad

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL —BBC baru-baru ini diundang untuk memasuki kamp-kamp reformasi Pemerintah Tiongkok, di mana ratusan ribu Muslim diasingkan untuk diprogram ulang keyakinan agama mereka.

BBC begitu diawasi dalam kunjungan mereka ke kamp-kamp yang disebut sebagai “sekolah” yang dihadiri oleh relawan. Rekaman film menunjukkan “kelas-kelas” di mana umat Islam belajar tentang Cina dan mengulang-ulang kesetiaan mereka kepada pemerintah Komunis Tiongkok.

Mereka diberitahu bahwa afiliasi dan ekspresi agama adalah kejahatan dan tidak memiliki tempat dalam kehidupan mereka. Berdoa pun dilarang, seperti halnya pakaian Islami untuk para wanita. Mereka yang disebut “pelajar” tidak diizinkan pulang dan tertahan di kamp-kamp ini selama bertahun-tahun.

Kejahatan yang menyebabkan mereka kehilangan kebebasan itu adalah kejahatan yang dapat digambarkan sebagai “nyaris kriminal”. Kejahatan tersebut adalah upaya rezim politik menyebut orang-orang yang mengikuti Islam sebagai bahaya bagi masyarakat, karena mereka -mungkin- melakukan tindakan kekerasan atau ekspresi antipemerintah terkait afiliasi mereka dengan Islam.

Sikap “bersalah sebelum melakukan kejahatan” ini bukan hal baru bagi Tiongkok saja. Walaupun ini adalah pelanggaran jelas terhadap hukum Hak Asasi Manusia internasional, sesungguhnya ini adalah kebijakan aktif yang telah diderita ribuan Muslim lain di luar Tiongkok.

Kajian bahwa Islam sebagai ideologi yang dapat menggantikan sistem Barat Kapitalis, otomatis menjadikan para pengikut keyakinan itu musuh publik nomor satu.

Perang yang dimulai pemerintah Barat untuk mengambil kendali atas kekayaan di wilayah Muslim, dan untuk menetapkan kembali dinamika kekuatan dunia secara alami, mengakibatkan jutaan Muslim terpaksa membela diri dari kekerasan di tanah mereka sendiri. Seringkali, upaya sah untuk melindungi keluarga dan kehidupan mereka, justru dilabeli sebagai “terorisme”.

Banyak insiden yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dipublikasikan sebagai wajah nyata Islam yang harus dilindungi oleh dunia. Semua propaganda dan operasi bendera palsu yang membingungkan ini dirancang untuk menutupi visi publik tentang apa itu Ideologi Islam dan siapa orang-orang Muslim itu.

Akibatnya, ketika ratusan “penjahat Muslim potensial” ditahan di Teluk Guantanamo selama bertahun-tahun, mengalami siksaan mengerikan, dan banyak lagi eksperimen pengendalian pikiran, ada sedikit perlawanan dari masyarakat umum untuk menentang apa yang terjadi.

Saat Dr. Aafia Siddique ditangkap dan dipenjara setelah persidangan menunjukkan tindakan shambolik —di mana tidak ada kejahatan spesifik yang benar-benar terbukti— tidak ada keinginan untuk mempertanyakan dasar mengapa sosok ibu yang rajin itu membusuk di penjara tanpa tanggal pembebasan.

Ketika puluhan ribu Rohingya menghadapi kampanye genosida yang mengerikan dan ditelantarkan, pemerintah Burma melakukan bisnis seperti biasa tanpa konsekuensi internasional ketika mereka mengabaikan deklarasi universal hak asasi manusia.

Otoritas resmi menyebut ‘pertahanan diri’ terhadap potensi ekstremisme (yang dianggap) merugikan masyarakat. Pemerintah entitas Yahudi membangun tembok-tembok literal yang menjadikan Gaza sebagai kamp penjara terbesar di dunia, yang telah menghukum setiap kelompok umur dari bayi hingga orang tua, tanpa memperhatikan hukum internasional tentang penahanan anak di bawah umur.

Juga kontrol ketat atas makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pembatasan pergerakan warga Muslim, semuanya dilakukan dengan kedok “membela negara melawan potensi ancaman”.

Bagaimana bisa seorang bayi baru lahir yang meninggal karena kebutuhan bantuan medis dianggap sebagai “ancaman” bagi suatu bangsa? Dunia mati rasa terhadap tubuh mengambang wanita dan anak-anak Suriah yang tenggelam di laut ketika mereka berhasil melarikan diri dari rezim Assad dan tuan-tuan Amerikanya yang terbunuh.

Bagaimana dunia mencapai tingkat tidak manusiawi ini? Bagaimana mungkin mereka yang mengambil bagian dalam misi penyelamatan dituduh melanggar hukum?

Jawabannya lagi adalah bahwa Muslim yang tidak bersalah ini dianggap sebagai ancaman potensial bagi keamanan bangsa dan lebih baik mereka mati di laut sebelum mereka memasuki tanah di luar Suriah.

Wanita Muslim yang berlindung di hijab atau niqab, menghadapi kekerasan, pelecehan, pembatasan kebebasan sehari-hari, dan label kriminal di negara-negara demokratis, karena mereka dianggap mewakili ancaman ‘terorisme’ atau ‘ekstremisme Islam’, ketika kompromi ide-ide Islam moderat lebih disukai dan dihargai.

Kebanyakan orang tidak pernah mengalami masalah dengan Muslim yang mereka kenal dan mendapati mereka sebagai warga yang bermoral tinggi dan santun yang dapat mereka percayai dan dimintai bantuan.

Pengetahuan yang jelas dan nyata yang dimiliki orang-orang ini kadang tidak cukup menangkal serangan islamofobia yang sangat ketat, yang berupaya meredam dukungan bagi Muslim dan Islam, yang merupakan sistem kepercayaan yang tumbuh paling cepat di Barat.

Tidakkah dunia melihat bahwa hipokrisi ada dalam praktik ekstremis yang menyebabkan seseorang bersalah atas kejahatan melalui asosiasi? Prinsip umum “tidak bersalah hingga terbukti bersalah” telah lama hilang dalam kasus Muslim.

Situasi global ini dibuat untuk menciptakan rasa kekalahan dan harga diri yang rendah di kalangan Muslim secara keseluruhan. Ketakutan untuk secara jelas dikaitkan dengan Islam telah menjadi konsekuensi, lebih jauh lagi, beberapa orang mungkin merasa malu menggunakan ucapan (salam) Islam “Assalamu’alaikum!”

Keinginan pemerintah Barat adalah memiliki identitas Muslim yang lemah pada individu yang ingin menyesuaikan diri dengan nilai-nilai liberal, sehingga mereka tetap terpecah belah, bingung, dan diam akan pelecehan terhadap saudara-saudara mereka secara global.

Ada maksud sebenarnya bagi pemerintah mengapa mereka menyembunyikan sejarah Islam dan kiprahnya sebagai pemimpin dunia dalam kancah internasional.

Kaum Muslim di masa lalu adalah teladan yang baik dalam pencapaian intelektual, manajemen politik, dan solusi, serta menjadi bagian dari kekuatan militer yang tak terkalahkan yang ditakuti oleh semua pemerintah.

Berbagai masalah umat Islam ini —yang secara keliru dicap sebagai penjahat berbahaya yang disiksa dan dipenjara— bukanlah fenomena baru. Hal yang sama terjadi pada Nabi (saw) kita tercinta, keluarganya, dan para sahabat mulia.

Tidak pernah ada satu masalah pun sepanjang sejarah dakwah Nabi di Mekah, di mana ia melakukan tindakan material atau perlawanan fisik, bahkan ketika para pengikutnya terbunuh dan difitnah secara verbal, serta menyerang dirinya sendiri!

Pesan perubahan ideologis jelas dari metode membangun pemerintahan Islam untuk membebaskan umat manusia dari kepalsuan. Ketika suku-suku pagan Quraisy kehilangan semua harapan untuk menghentikan penyebaran pemikiran Islam dan mendukungnya, mereka menyusun rencana politik untuk memboikot orang-orang yang membantu Nabi (saw).

Dasar pemikiran para penyembah berhala adalah langsung: “Karena kaum Muslim telah memboikot agama dan kebiasaan sosial kami, kami akan memboikot suku Bani Hasyim dan suku Bani Muthalib secara ekonomi dan sosial.”

Sebuah dokumen ditulis secara rinci oleh Ikrima bin Amir dan ditandatangani oleh sekitar empat puluh pemimpin Quraisy. Untuk lebih meningkatkan kesucian pakta, mereka menggantungnya di Ka’bah. Ini juga bertujuan memberi tahu setiap pengunjung yang datang ke Mekah tentang boikot, sehingga semua bentuk bantuan eksternal juga dapat diblokir.

Hal ini, mengakibatkan sekelompok Muslim dari Bani Muthalib dan Bani Hasyim, bersama dengan anak-anak dan perempuan mereka, dipaksa keluar dari Mekah ke tempat terdekat yang disebut Shib-e Abu Thalib, tanah tandus yang membuat kaum Muslim hidup seolah-olah mereka dipenjara di udara terbuka, seperti Gaza hari ini.

Diriwayatkan bahwa tangisan lapar anak-anak dapat terdengar hingga ke Mekah. Tujuan orang-orang kafir adalah membiarkan kaum Muslim mati kelaparan di sepinya gurun pasir di bawah panas terik, tanpa harapan bantuan dari luar untuk bertahan hidup.

Bagaimanapun, dengan kekuatan Allah (swt), Muslim tidak hanya selamat dari “tahun-tahun air mata” ini, tetapi justru menjadi lebih kuat dalam agama mereka. Kaum Muslimin yang bukan bagian dari pemboikotan, tidak menggunakan kekerasan untuk membalas ketidakadilan, juga tidak melepaskan keyakinan mereka pada Islam karena takut dikaitkan dengan daftar hitam di Mekah.

Mereka teguh pada kebenaran dan menggunakan cara mereka untuk mendukung saudara-saudari Muslim mereka dengan mengirimkan bantuan untuk membantu perjuangan mereka, dengan meninggalkan unta-unta yang membawa makanan dan perbekalan, di lembah di mana kaum Muslim berada yang tidak pernah lupa akan hubungan mereka dengan Allah (swt).

Mereka mencontohkan Hadis Nabi (saw) di mana beliau menyatakan,

«مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى شيئا تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى»

Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling menyintai, mengasihi, dan menyayangi, seumpama satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Setiap beberapa sahabat Nabi (saw) ingin melawan penindasan yang keras, beliau menjawab bahwa perintah dari Allah (swt) belumlah turun. Ini dan banyak contoh lainnya, memberi umat Islam pemahaman yang jelas tentang bagaimana menanggapi label opresif sebagai “penjahat potensial”.

Kita seharusnya tidak merasa perlu menyembunyikan identitas Islam kita, justru kita harus lebih kuat menunjukkan secara intelektual untuk mengalahkan ide-ide yang tidak islami —sehingga mereka harus mencari kebohongan—, dan menggunakan kekuatan untuk mengatasi munculnya pemikiran dan ide-ide Islam.

Ketakutan akan kenyataan bahwa Islam mampu dan akan menaklukkan ide-ide palsu Kapitalisme, jauh lebih besar muncul dalam pemerintahan global yang korup. Kita seharusnya tidak memberdayakan mereka lebih banyak dengan penilaian kita yang salah atas kenyataan.

Allah (swt) adalah sebaik-baiknya penolong, dan tidak akan meninggalkan orang-orang yang beriman. Kemenangan Islam dicapai di Madinah dan Khilafah akan kembali lagi dengan upaya baik kita dan mengikuti metode Nabi (saw).

Kita akan melihat kebalikan dari “tahun air mata” ini, ketika umat Islam tidak lagi dicap sebagai “penjahat potensial”, tetapi akan dipandang sebagai pemimpin bagi dunia dalam karakter mereka yang sangat baik, dan perwalian politik atas kemanusiaan.

Allah (swt) berfirman dalam Alquran,

﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا * لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا * وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا﴾

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1 – 3)

Diterjemahkan dari http://shortlink.in/zy5

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: