Mewaspadai Gejala Tasaquth dan Insilakh

Mengenali gejala tasaquth dan insilakh sangat penting bagi seorang pengemban dakwah agar dirinya waspada bahkan terhindar dari munculnya tasaquth dan insilakh. Apa saja gejalanya?


Oleh: Agus Suryana*

Muslimah News, NAFSIYAH — Mengemban dakwah memang meniscayakan pengorbanan, mulai dari harta, tenaga, pikiran, waktu, sampai nyawa. Meski tidak sampai pada ujian yang mengancam nyawa—bisa jadi karena negeri yang relatif “aman” atau masih berpihak pada dakwah.

Tidak seperti nasib tragis yang dialami pengemban dakwah di negeri lainnya —sejatinya pengemban dakwah di manapun berada termasuk di Indonesia— tetap harus menyiapkan pengorbanan tertinggi untuk dakwah ini yakni jiwa, harta, tenaga, pikiran, dan waktu.

Sebab, kesiapan seorang pengemban dakwah dalam mengorbankan jiwanya yang didorong keimanan akan menjadi garansi atas kontinuitas aktivitas dakwah yang dijalankannya.

Ketika kita hanya siap berkorban sebagian saja dari yang kita miliki, sementara yang lainnya masih dalam pertimbangan bahkan nyaris ragu dan takut, maka dapat dipastikan dakwah akan diemban tanpa totalitas.

Padahal, totalitas adalah harga mati dalam mengemban dakwah untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yakni kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah.

Sebagai contoh, ketika kita hanya siap berkorban harta —karena merasa berkecukupan dalam hal tsb— tetapi meminta “dispensasi” untuk aktivitas yang lain, seperti kontak, kajian, rakor dakwah, dll, maka dakwah akan telantar, sebab hakikatnya tidak ada pembagian “tugas” pengorbanan dalam hal dakwah. Semuanya dituntut berkorban dari apa yang kita miliki.

“Saya hanya bisa berkorban ini, sementara itu dan itu saya tidak bisa…” pernyataan tersebut sering kita dengar dari sebagian pengemban dakwah. Padahal, semua pengemban dakwah dituntut totalitas dalam pengorbanan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Terkait dengan hal ini Allah Swt berfirman

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (TQS At Taubah: 41)

Ketika dakwah hanya mendapat prioritas di bawah aktivitas kita yang lainnya, dalam arti dakwah tidak jauh lebih penting ketimbang bekerja, studi, atau berbisnis, maka konsekuensi yang harus dihadapi adalah berguguran serta lepasnya para pengemban dakwah dalam kancah perjuangan Islam.

Apa itu Tasaquth dan Insilakh?

Istilah tasaquth (berguguran) dan insilakh (melepaskan diri dari dakwah) diperkenalkan oleh Fathi Yakan dalam bukunya yang mengupas tentang fenomena berjatuhannya para aktivis Islam dalam kancah perjuangan dakwah dari masa ke masa.

Hingga hari ini, fenomena tersebut masih tampak dalam perjalanan dakwah kita. Karenanya, mengenali gejala tasaquth dan insilakh sangat penting bagi seorang pengemban dakwah agar dirinya waspada bahkan terhindar dari munculnya tasaquth dan insilakh.

Beberapa gejala tersebut adalah:

Pertama, pengunduran diri pengemban dakwah dari kancah perjuangan Islam, baik dengan perkataan atau mungkin cukup dengan sikapnya yang semakin menjauh dari dakwah.

Jika seorang pengemban dakwah tiba-tiba jarang kajian, jarang hadir dalam agenda-agenda dakwah, dan tidak pernah berkumpul lagi dengan teman-teman aktivis lainnya tanpa alasan yang jelas, maka perlahan namun pasti dirinya sudah bukan lagi bagian integral jamaah.

Tidak jauh dari gejala-gejala tersebut, mungkin saja di kemudian hari muncul pesan singkat kepada gurunya: “Afwan Ustaz, dengan terpaksa saya berhenti ngaji, ada persoalan lain yang saya anggap lebih wajib.”

Deteksi awal pada gejala ini sangat penting terutama bagi seorang pemegang kepentingan dakwah (penanggung jawab), karena pernyataan pengunduran diri dari dakwah selalu dimulai dari gejala-gejala tsb. Di sinilah urgensi supervisi dakwah kepada para pengemban dakwah.

Kedua, hilangnya semangat juang.

Hilangnya semangat juang bisa disebabkan oleh adanya kejenuhan para pengemban dakwah. Tentu ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Kemunculannya sangat dipengaruhi oleh kondisi nafsiyah, pendekatan yang kurang, dan menolerir kemaksiatan.

Hal tersebut berlangsung cukup lama sehingga menghasilkan disorientasi tujuan dakwah. Muncul pandangan bahwa dakwah bukan lagi sebuah kewajiban dan kebutuhan. Aktivitas dakwah dianggap menjadi kurang penting, malas terlibat dalam agenda-agenda dakwah secara berjamaah, aktivitas dakwah yang dijalaninya menjadi hampa, hingga akhirnya gugurlah dia dalam barisan dakwah.

Ketiga, kaburnya niatan ikhlas.

Pengemban dakwah yang mulai menawar-nawar dan memilih-milih tugas dakwah yang akan diembannya pada pemimpin dakwah, sesungguhnya dia tengah masuk dalam “perangkap” ketidakikhlasan dalam dakwah.

Ketidakrelaan dipimpin oleh yang lebih muda, keengganan mendapat nasihat dan masukan dari rekan seperjuangan yang tsaqofah-nya dianggap di bawah dirinya, menjalankan tugas dakwah karena dorongan lain seperti takut terkena sanksi, tidak enak pada struktur, terpaksa, dll, semuanya itu telah memasung keikhlasannya dalam berjuang.

Ketahuilah, semuanya itu tidak akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Justru akan “menyandera” dirinya dalam kedongkolan, sehingga tidak lama dari itu, bisa dipastikan dia akan terlepas dari barisan dakwah.

Karenanya, ikhlaslah dalam perjuangan dakwah yang mulia ini, cukuplah Allah yang akan menilai dan melimpahkan pahala atas semua kontribusi kita dalam dakwah.

Keempat, ketidakdisiplinan.

Menolerir ketidakdisiplinan sekecil apapun dalam dakwah akan berdampak pada upaya menyepelekan dakwah, yang berujung pada pandangan bahwa dakwah tidak lagi urgen dijalani.

Ketidakdisiplinan pada aturan-aturan jamaah, tsaqofah, dan manajemen dakwah, akan berakibat pada mandeknya proses rekrutmen dalam rangka memperbesar tubuh jamaah dan tidak terwujudnya manajemen dakwah yang tangguh. Semuanya akan dijalankan dengan asal-asalan, jauh dari keseriusan.

Jika sudah demikian, maka dakwah terancam bubar. Sesungguhnya, untuk bisa disiplin kita hanya membutuhkan dua hal dalam diri kita, yakni keimanan yang kokoh disertai mujahadah (kesungguhan) dalam menapaki setiap langkah dakwah.

Kelima, berkurangnya porsi waktu untuk mengurus dakwah.

Ini bisa dipahami jika waktu para pengemban dakwah lebih banyak untuk mengurusi persoalan lain di luar dakwah, bisa urusan kerja, studi, atau bisnis.

Kesibukan para pengemban dakwah tercurah limpah untuk urusan duniawi, mengejar mimpi dan obsesi pribadi, bukan untuk mengurus dakwah, menyadarkan umat, merekrut sebanyak-banyaknya kader, berjibaku mengopinikan tegaknya syariah dan khilafah.

Ketika pengemban dakwah sudah banyak mengeluhkan kesibukannya (tapi bukan sibuk berdakwah), maka dirinya akan meminta beban dakwah dikurangi, minta dimaklumi, dan akhirnya berada pada zona nyaman, asyik dengan kesibukannya mengurus dunia.

Ketika porsi waktu untuk mengurus dakwah berkurang, maka dipastikan porsi mengurus hal lain selain dakwah bertambah. Pergantian posisi ini sangat berbahaya bagi pengemban dakwah, karena dakwah tidak lagi dijadikan poros kehidupan. Karena, jika dakwah adalah poros, maka dia adalah aktivitas inti yang lainnya mengikuti, sehingga dalam hitungan waktu yang tidak terlalu lama dirinya akan berada di luar jamaah.

Keenam, meremehkan berbagai keutamaan dakwah

Gejala lain yang akan “melemparkan” para pengemban dakwah pada sikap tasaquth dan insilakh adalah ketika pengemban dakwah sudah tidak menganggap urgen kegiatan-kegiatan dakwah, seperti menyepelekan masiroh dalam rangka muhasabah ila al hukam dan membesarkan opini tentang syariah dan khilafah, kegiatan-kegiatan opini umum yang dianggapnya hanya sekadar kumpul-kumpul tidak ada faedahnya, dan kegiatan dakwah lainnya yang dipandangnya tidak efektif.

Jika ini terus berlangsung, maka muncullah sikap sombong pengemban dakwah, dia meremehkan berbagai keutamaan dakwah yang justru bisa menggugurkannya dari jamaah.

Mengabaikan ketetapan syariat (pelanggaran hukum syariat) merupakan indikasi awal yang paling mudah diidentifikasi bagi seorang pengemban dakwah yang tergerogoti ‘virus’ tasaquth.

Bukan berarti ia tidak mengerti Islam atau dakwah, bahkan mungkin saja ia sangat mengerti Islam, dakwah, dan syariat, dan pada masa sebelumnya (di awal-awal bergabung dengan jamaah) ia termasuk orang yang sangat semangat mengobarkan api perjuangan dakwah.

Tetapi tasaquth yang menggerogoti dirinya disebabkan ketidakkuatan jiwanya menanggung sengitnya perjuangan dakwah yang panjang nan melelahkan, serta beragam variasi bentuk fitnah atau ujian yang dia alami di setiap perubahan waktu dan kondisi.

Maka, selalu berada dalam poros dakwah dan menjadikan Allah Swt sebagai penolong atas kita adalah kunci terhindar dari tasaquth dan insilakh.

Wallahu’alam. [MN]

*Dimuat di Tabloid Media Umat edisi 123. Dengan beberapa ejaan yang disesuaikan.

Apa komentar Anda?