Ironis! Pelaku Maksiat Dilindungi yang Taat Agama Dipersekusi!

Inilah yang aneh dalam sistem hukum kita. Ada paradigma bahwa pelaku maksiat adalah korban, sehingga seringkali malah mereka dibebaskan.


Oleh: Arini

MuslimahNews, ANALISIS — Kembali artis terkenal ditangkap karena narkoba. Kali ini Nunung Srimulat dan disusul kemudian oleh artis muda Jefri Nichol. Keduanya menambah panjang daftar artis yang terlibat narkoba.

Mungkin kita jadi bertanya-tanya, mengapa sudah ada yang ditangkap, kok malah semakin banyak yang pakai? Boleh jadi memang demi mengejar jam tayang mereka butuh stamina lebih kuat, atau pelarian dari stres dan tekanan pekerjaan. Namun, yang pasti, ada yang salah dengan sistem hukum di negeri ini, yang membuat pelaku maksiat justru bertambah banyak.

Bagaimana orang takut memakai narkoba, jika hukumannya hanya direhabilitasi saja, disembuhkan dari ketergantungannya terhadap narkoba? Kalaupun dipenjara, hitungannya hanya bulan, paling banter setahun dua tahun saja.

Inilah yang aneh dalam sistem hukum kita. Ada paradigma bahwa pelaku maksiat adalah korban, sehingga seringkali malah mereka dibebaskan. Dalam kasus miras, hanya penjual yang bisa dihukum, sementara para peminumnya bebas, bahkan dalam kasus keracunan miras oplosan, pemerintah kadang menanggung biaya pengobatannya.

Dalam kasus prostitusi, mucikari yang dikenakan hukuman, sedangkan pelacurnya, penggunanya, bebas melenggang. Dalam kasus artis Vanessa Angel, ia dihukum karena menyebarkan gambar-gambar pornonya, bukan karena perbuatan zinanya. Begitu pula dalam kasus video porno, yang diburu adalah penyebarnya, bukan pelaku perbuatan tak senonoh ini.

Bila kemudian para penjaja seks ini terkena AIDS, pemerintah justru memberikan fasilitas pengobatan, memberikan kondom untuk mencegah penularan, dan mengkampanyekan untuk tidak menjauhi mereka.

Dengan paradigma semacam ini, bagaimana maksiat akan diberantas? Jika permintaan terus ada, maka penawaran pasti akan bermunculan. Jelas yang seperti ini berbeda secara diametral dengan penanganan Islam terhadap pelaku maksiat.

Dalam Islam, pelaku maksiat tidak cukup dicap sebagai pendosa di sisi Allah. Untuk mereka disediakan hukuman tertentu. Pelaku zina dijilid atau rajam, pemabuk dicambuk, pecandu narkoba ditetapkan hukuman ta’zir (penetapan oleh hakim), dan sebagainya. Hukuman semacam ini tampaknya memang kejam, namun kita perlu menengok hikmahnya. Kengerian terhadap hukuman ini akan mampu mengerem para calon pelaku maksiat sehingga membatalkan aksinya. Sementara bagi pelaku, hukuman yang diterimanya akan menjadi penebus dosa baginya. Inilah makna hukum pidana dalam islam berfungsi sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa). (Abdurrahman Al Maliki, 2002, Sistem Sanksi dalam Islam)

Ironisnya, penguasa kita yang notabene Muslim, bukan saja tidak mau mengambil hukum Islam, bahkan mendiskreditkan Islam dan seolah dijangkiti fobia terhadap Islam.

Pernikahan muda yang memungkinkan menutup pintu zina malah dikriminalisasi saat pelaku zina difasilitasi dengan penyediaan kondom dan penyuluhan seks sehat. Anak-anak muda yang bangga dengan agamanya, berfoto dengan latar belakang bendera tauhid justru dipersekusi, di saat anak muda seperti Rich Brian, rapper dengan syair-syair lagu yang jorok dan porno diberi kehormatan dengan diundang ke istana oleh Presiden.

Melihat fakta seperti ini apakah kita masih merasa tidak ada yang salah dengan sistem hukum kita? Afalaa tatafakkaruun? Tidakkah kalian mau berpikir?[]

Apa komentar Anda?