Khilafah Tegak, Siapa Terancam?

MuslimahNews, EDITORIAL — Nampaknya pemerintah melalui media mainstream kian masif saja melakukan framing negatif soal khilafah. Selain terus dikait-kaitkan dengan ISIS dengan berbagai aktivitas terornya, khilafah juga digambarkan sebagai ancaman nyata bagi persatuan, perdamaian, dan kebinekaan.

Dalam konteks Indonesia, khilafah juga dianggap sebagai bahaya serius bagi pancasila dan NKRI. Dua hal yang selalu dianggap sakral, mutlak, bahkan harga mati. Wajar jika ide khilafah dan pengusungnya selalu diposisikan pantas menjadi common enemy yang harus bersama dilenyapkan.

Tak dipungkiri, gagasan khilafah memang makin familiar di tengah umat. Sejak masif dan terbuka didakwahkan oleh Hizbut Tahrir di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, gagasan ini makin mendapat tempat sebagai lawan potensial bagi ideologi kapitalisme yang sedang menghegemoni, terutama pasca runtuhnya Uni Soviet sebagai satu-satunya representasi kekuatan ideologi sosialisme.

Ya. Pasca US runtuh di tahun 1991 itu, konstelasi politik internasional memang mutlak dikuasai Amerika sebagai kampiun ideologi kapitalisme. Namun di pihak lain, benih-benih kebangkitan Islam ideologi pun mulai bersemi dan mendapat tempat saat arogansi Amerika dan hegemoni kapitalisme globalnya kian tak terkendali, terutama di dunia Islam.

Masyarakat dunia memang bisa melihat secara kasat mata betapa penerapan sistem kapitalisme dan proyek-proyek penjajahannya atas nama globalisasi dan liberalisasi pasar telah membawa kerusakan di berbagai bidang. Eksploitasi dan penguasaan kekayaan alam dunia ketiga, serta perusakan budaya dan pola pikir masyarakatnya terjadi secara liar. Bahkan, semua ini berlangsung di bawah legalitas berbagai perjanjian internasional yang diinisiasi lembaga-lembaga internasional dan diamini para penguasa komprador yang menyandarkan kekuasaannya pada keridaan dan dukungan negara adidaya.

Wajarlah jika lambat laun kondisi ini membangkitkan respon perlawanan. Terutama di tengah masyarakat Islam yang akidah dan syariatnya memiliki spirit antipenjajahan. Perlawanan itu diperkuat dengan makin kokohnya kesadaran tentang kewajiban terikat dengan seluruh syariat Islam sebagai bukti keimanan. Serta diperkuat dengan kian dalamnya kerinduan umat untuk kembali hidup dalam naungan Islam, sebagaimana telah dibuktikan sejarah dan dijanjikan kembalinya oleh Allah swt.

Inilah yang disadari betul oleh Amerika, sekutu baratnya, beserta para penguasa komprador di negeri-negeri Islam. Mereka melihat kembalinya peradaban Islam dengan sistem khilafahnya adalah lonceng kematian bagi peradaban kapitalisme tempat mereka mereguk berbagai kenikmatan.

Itulah kenapa mereka terus merancang berbagai manuver dan konspirasi, termasuk menciptakan berbagai drama teror beserta ikon terorisnya. Hingga dengan cara ini, mereka memiliki dalih untuk menggulirkan proyek perang global melawan teror, dengan khilafah dan gerakan pengusungnya sebagai sasaran tembak utama.

Sejak itulah gagasan khilafah yang agung berubah menjadi monster yang menakutkan. Berbagai opini negatif disematkan pada gagasan ini untuk menjauhkannya dari pikiran dan hati umat yang merindukan hidup dalam kemuliaan di bawah naungan Islam. Para pengusungnya distigma dengan berbagai tudingan keji. Ajaran Islam lainnya pun tak luput dari berbagai fitnah dan celaan. Seolah Islam hanyalah ajaran barbar [kasar, ed.] dan tak lagi layak pakai. Bahkan, merupakan ancaman bagi peradaban ‘modern’ alias sekularistik di masa sekarang.

Peristiwa 11/9 dijadikan momentum oleh AS untuk memastikan semua negara dan penguasanya –termasuk para penguasa muslim– agar ada bersamanya dalam perang mondial melawan teror yang juga disebut Bush junior sebagai The New Crussade. Ibarat Firaun yang ketakutan akan tafsir mimpinya sendiri, AS mengeluarkan kebijakan, setiap ‘bayi al-Khilafah’ yang akan lahir harus dilenyapkan karena diramal akan menumbangkan kekuasaannya.

Berbagai cara pun dilakukan untuk memuluskan agenda global ini. Mulai cara kasar hingga cara yang super halus. Pendekatan militeristik dan ancaman pencabutan dukungan sebuah rezim dilakukan sebagai cara kasar yang dipandang pas untuk kawasan yang masih kental dengan sisa-sisa peradaban Islam. Sementara penyesatan politik dan serangan pemikiran dipilih sebagai cara halus untuk melemahkan potensi kebangkitan khilafah di kawasan yang sudah jauh dari sisa-sisa peradaban Islam.

Namun terkadang pula, kedua cara ini dilakukan di sebuah kawasan manakala memang diperlukan. Semua ini diputuskan berdasarkan riset dan advokasi serius lembaga-lembaga think tank pemerintah AS, demi dan atas nama jaminan keamanan AS sebagai negara pertama dalam konstelasi politik internasional.

Indonesia, adalah kawasan yang dipandang cukup ditaklukkan dengan menggunakan cara-cara soft. Sebagaimana rekomendasi Rand corp, potensi kebangkitan umat Islam akan mudah dilumpuhkan jika Islam ideologi dijauhkan dari cara berpikir mereka. Caranya, dengan menderaskan paham Islam moderat dan dipecah belah berdasarkan perbedaan paham. Satu ormas dirangkul, yang lain ditekan.

Itulah kenapa, arus moderasi islam demikian gencar dilakukan. Proyek-proyek perlawanan terhadap Islam politik pun terjadi demikian sengit. Dan semua perangkat dikerahkan. Mulai alat kekuasaan, media massa, lembaga-lembaga pendidikan sekuler maupun Islam, LSM dan ormas Islam, hingga para intelektual dan ulama-ulama bayaran yang rakus akan bangkai dunia yang melenakan.

Bukan rahasia jika lembaga pendanaan internasional dan negara-negara kapitalis turut terlibat dalam semua proyek strategis tersebut. Baik atas nama proyek pengembangan toleransi dan demokratisasi, pengarusutamaan gender untuk meningkatkan harkat martabat perempuan, peningkatan kualitas pendidikan dan perbaikan kurikulum, proyek-proyek alih teknologi, hingga proyek-proyek deradikalisasi di berbagai kanal, dan lain-lain. Semuanya mengarah pada poin yang sama, yakni deideologisasi Islam dan kanalisasi spirit umat untuk mengembalikan sistem islam.

Hasilnya, sebagian umat hilang kepekaan terhadap berbagai problem kekinian, akibat tanpa sadar menenggak racun pemikiran yang jauh dari ideologi Islam. Sebagian lain terjebak dalam kebahagiaan semu yang melenakan, serta menggerus perasaan dan jati diri mereka sebagai hamba Allah yang wajib menjalani ketaatan.

Mereka tak lagi punya standar baku untuk berpikir dan berbuat selain standar yang dicekokkan Barat. Yakni berupa paham-paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme yang bertentangan dengan Islam. Bahkan, mereka pun mulai menilai ajaran agama mereka dengan kacamata dan standar-standar yang diberikan Barat. Hingga mereka lebih bangga berpegang teguh pada cara berpikir dan gaya hidup Barat, daripada berpikir dan hidup dengan cara Islam.

Arus penyesatan politik dan serangan pemikiran ini sedemikian deras menghantam kehidupan kaum muslimin. Kerusakan demi kerusakan pun bermunculan di berbagai sisi dan lini kehidupan. Membuat umat ini kian terjerembab dalam lumpur kehinaan serta kehilangan martabatnya sebagai umat pilihan. Kemiskinan, bencana moral, krisis politik dan kepercayaan, ancaman separatisme dan berbagai kriminalitas terjadi secara struktural dan kultural. Semuanya kian akrab dalam kehidupan umat Islam.

Mirisnya, mereka tak tahu lagi jalan mengembalikan kemuliaan, selain dengan tetap berpegang teguh pada kebatilan. Mereka tetap mempertahankan sistem yang justru diciptakan untuk mengukuhkan sistem sekuler yang meniadakan peran Islam dari kehidupan. Yakni jalan demokrasi, buah karya filosof Yunani yang terus dinisbatkan pada Islam.

Mereka benar-benar lupa, bahwa sejatinya, kemuliaan dan kebahagiaan hakiki hanya ada pada Islam dan melalui jalan Islam. Islam yang hanya mungkin tegak di bawah institusi khilafah itulah yang justru akan menjadi jawaban atas semua keresahan umat tersebab bobroknya peradaban kapitalisme yang dipaksakan. Karena khilafah, akan menerapkan syariat dari Sang Pencipta manusia dan kehidupan, yang memberi jaminan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Mereka sungguh lupa, di saat kapitalisme justru meniscayakan penjajahan dengan segala bentuknya, Islam dengan khilafahnya justru menjamin hak atas hidup, hak atas harta, keamanan, dan keadilan. Di saat kapitalisme melahirkan budaya sipilis dan kehidupan berbasis materialisme yang rusak dan merusak, Islam dengan khilafahnya justru datang untuk menebar kebaikan, mengajarkan kemuliaan akhlak dan ketinggian adab. Di saat kapitalisme merobek-robek persatuan umat dengan konsep negara bangsa, khilafah justru datang untuk menyatukan semua potensi kekuatan dalam satu wadah kepemimpinan.

Sudah saatnya umat disadarkan, bahwa Islam dan khilafah bukanlah ancaman. Dan bahwa para pengusung dakwahnya bukan lawan yang harus dihancurkan. Semua narasi ini, justru diciptakan Barat dan para anteknya hanya demi kepentingan mereka. Karena kehadiran khilafah dan para pengusungnya akan memupus mimpi-mimpi mereka untuk terus memegang tampuk kepemimpinan atas dunia.

Umat juga harus disadarkan, bahwa tegaknya khilafah memang ancaman bagi para penjajah, yang bebas merampok kekayaan milik umat dibantu rezim sekuler dan para kapitalis pendukungnya di bawah naungan sistem demokrasi sekuler yang diadopsi rezim penguasa. Khilafah juga adalah ancaman bagi para pelaku maksiat, yang bebas menebar kerusakan di tengah generasi anak keturunan mereka dalam sistem demokrasi yang juga memberi ruang nafas bebas buat mereka. Khilafah juga ancaman, bagi para mafia hukum dan para koruptor, serta musuh-musuh umat lainnya, yang bebas merdeka dalam sistem batil sekuler demokrasi neoliberal yang dikukuhkan rezim penguasa.

Sungguh, hanya dengan khilafah sebagai satu-satunya sistem pemerintahan Islam umat akan memiliki wibawa dan kekuatan. Sebagaimana belasan abad umat di masa lalu pernah tampil sebagai pionir peradaban, bahkan menjadikan Barat mengenal bagaimana cara berkemajuan. Di bawah panjinya pula, umat bisa benar-benar bersatu dan merasakan kehidupan mulia tiada tara, dan melaksanakan amanah Rabbnya di dunia; menebarkan rahmat ke seluruh alam.

Maka, jika hari ini khilafah terus dipropagandakan sebagai sebuah ancaman, siapakah yang sebetulnya terancam?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.”(QS. Al-Anfal 24) [] SNA

Apa komentar Anda?