Upaya Mutilasi Islam atas Nama Deradikalisasi

Upaya sekularisasi Islam, akan lebih mudah bila umat Islam sendiri memiliki rasa tidak percaya diri dalam mengamalkan ajaran agamanya, atau malah takut terhadapnya.


MuslimahNews, ANALISIS — Upaya deradikalisasi semula bertujuan untuk meredam gerakan-gerakan kekerasan yang membawa nama agama. Namun dalam perkembangannya, deradikalisasi diperluas untuk kepentingan-kepentingan lain, termasuk kepentingan politik dan perang pemikiran terhadap Islam.

Semua hal yang dikaitkan dengan penerapan syari’at, kecuali ibadah mahdhah seperti shalat, zakat, puasa dan haji, dicap sebagai radikal. Jangankan Khilafah atau jihad, jilbab saja dianggap sebagai salah satu bentuk radikalisme yang harus dihentikan.

Maka ketika beredar surat edaran di SDN Karangtengah III, Wonosari, Gunungkidul, Yogya, yang mewajibkan seluruh siswa berbusana muslim, seketika orang-orang yang mengklaim diri sebagai aktivis deradikalisasi bereaksi keras. Mereka tidak mau melihat fakta bahwa bertahun-tahun seluruh siswa sekolah ini adalah muslim. Bahwa surat tersebut merupakan hasil kesepakatan sekolah dengan orangtua murid. Bahwa surat tersebut telah direvisi dari wajib menjadi hanya sekedar anjuran. Mereka tetap dengan lantang mencap sekolah telah disusupi radikalisme dan fundamentalisme seperti yang diungkapkan oleh Denny Siregar di laman Facebook-nya (Lihat).

Andreas Harsono, peneliti dari Human Rights Watch menilai surat edaran berbusana Muslim di SDN Karangtengah III merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan secara tak langsung merupakan bentuk dari perundungan kepada siswa (Tirto.id).

Lebih keras lagi reaksi Gayatri Wedowati. Pendukung fanatik Jokowi-Ma’ruf Amin ini, menulis sbb :

Bapak Maruf, Anda dari NU, maka Islam Nusantara-lah yang seharusnya menjadi fokus Anda. Islamisasi itu antara lain dalam hal hijabisasi. Karena hijabisasi adalah mula-mula dari banyak sekali masalah. Segala masalah dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan dalam berkemanusiaan. Ingatlah Pancasila! Saya menentang hijabisasi di sekolah-sekolah negeri…. Dengan membiarkan maraknya hijabisasi, Anda telah membawa bangsa ini kepada kemunduran pemahaman mengenai seksualitas, gender dan tubuh (perempuan). Hijabisasi juga berpotensi mengancam sustainability perempuan sebagai ibu dan akhirnya generasi masa depan dari segi kesehatan dan kecerdasan. Hijabisasi juga mengancam eksistensi kebhinekaan busana di Nusantara. Termasuk kesenian dan akhirnya dunia pariwisata. (Pembawa berita.com)

Buah Sekularisme

Bila kita kaji aturan seragam sekolah dalam Permendikbud Nomor 45 Tahun 2014, pemakaian seragam untuk muslim dan muslimah, dari SD, SMP maupun SMA telah diakomodasi. (Kemenag.go.id)

Apalagi dengan fakta bahwa pakaian muslim tersebut hanya diwajibkan bagi siswa muslim untuk mempermudah kegiatan ibadah siswa di sekolah, merupakan reaksi yang berlebihan jika kemudian sekolah dituduh melakukan islamisasi melalui upaya hijabisasi. Bahkan keputusan sekolah ini merupakan penunaian dari tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3:

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-undang.”

Bagi seorang Muslim, jelas bahwa pakaian merupakan salah satu bentuk ekspresi dari keimanan. Lihatlah bagaimana Allah memerintahkan perempuan beriman untuk mengenakan kerudung dalam QS. An Nuur:31 :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…

Bagaimana mungkin hanya mengekspresikan keimanan lantas dianggap sebagai radikal? Inilah yang terjadi ketika sekularisme sudah merasuk dalam benak. Agama harus dipinggirkan, tidak boleh dijadikan sebagai aturan publik. Menjadikan agama sebagai aturan publik dianggap akan melanggar hak asasi individu untuk bebas bertingkah laku, termasuk bebas dalam berpakaian. Maka deradikalisasi, maknanya menjadi tidak lebih dari upaya untuk sekularisasi Islam.

Mutilasi Islam

Upaya sekularisasi Islam, akan lebih mudah bila umat Islam sendiri memiliki rasa tidak percaya diri dalam mengamalkan ajaran agamanya, atau malah takut terhadapnya. Maka berbagai pihak penentang Islam berusaha menggiring opini bahwa pewajiban mengenakan busana Muslim di sekolah adalah hijabisasi. Hijabisasi adalah islamisasi, dan islamisasi adalah intoleransi yang akan merusak kebhinekaan masyarakat Indonesia.

Opini yang tersebar seperti ini, membuat umat takut untuk menjalankan syariat secara kaffah. Takut dicela, takut di-bully, takut dicap intoleran, dan takut dianggap radikal. Dengan cara ini, kaum sekuleris lebih mudah untuk memutilasi Islam. Ajaran jilbab dimutilasi dengan dalih hijabisasi, ajaran menjaga kesucian dimutilasi dengan dalih modernisasi, ajaran jihad dimutilasi dengan terorisme, dan ajaran Khilafah dimutilasi dengan semboyan NKRI harga mati.

Ketika Islam dimutilasi bagian-bagian tubuhnya, mereka berharap Islam akan kehilangan kekuatan. Islam hanya menjadi satu dari sekian agama ruhiyah lainnya, yang hanya menjadi sarana menenangkan jiwa dan kehilangan esensinya sebagai pedoman hidup manusia.

Namun mereka, para penentang Islam, lupa bahwa ada Yang Maha Perkasa di belakang umat, Yang Tak Terkalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”(QS. Ali Imran:54).
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya“. (QS.Ash Shaff : 8)

Dan bagi umat Islam, sudah waktunya kita kembali kepada aturan Allah SWT, menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan.” (QS. Al Baqarah :208)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al Maidah :54)[]

%d blogger menyukai ini: