Alhamdulillah, Umat Islam Sepakat Urgensitas Pelajaran Agama di Sekolah

Sikap sepakat seperti ini tentu bagai angin segar bagi umat Islam Indonesia. Justru sangat aneh jika umat Islam anti dengan pelajaran dan aturan agamanya sendiri. Lihat saja, label radikalisme seringkali tersemat pada kalangan yang menghendaki penerapan Islam secara menyeluruh.


Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA)

MuslimahNews, ANALISIS — Praktisi pendidikan, Setyono Djuandi Darmono menyarankan Presiden Joko Widodo meniadakan pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama dinilai harus menjadi tanggung jawab orang tua serta guru agama masing-masing, bukan guru di sekolah. Dirinya berpandangan pendidikan agama cukup diberikan di luar sekolah.

Namun dalam keterangan tertulisnya, pihak Desk Komunikasi Jababeka Ardiansya Djafar menilai ucapan Darmono telah disalahartikan. Inti dari pernyataan Darmono bukan mengeluarkan pelajaran agama dari sekolah, melainkan sebuah koreksi dan renungan tentang apa yang salah dari pendidikan agama. Salah satu yang dikhawatirkan adalah masukannya paham agama yang ekstrem ke sekolah dan universitas.

Alhamdulillah, opini ini segera disikapi secara tegas oleh banyak tokoh Islam. Di antaranya Ketua PP Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas, dan juga Ketua PBNU, Robikin Emhas. Demikian pula dari pihak Kementerian Agama sendiri dan KPAI.

Menurut Prof Yunahar Ilyas, usulan penghapusan pelajaran agama telah bertentangan dengan sila pertama Pancasila dan pasal 31 UUD 1945, sebagai acuan tujuan pendidikan nasional. Yunahar juga menyebut, pengusul tidak melakukan analisis terkait pendidikan agama. Yunahar bahkan menyatakan, agama Islam telah berperan besar mempersatukan bangsa saat memperjuangkan hingga mempertahankan kemerdekaan.

Hal ini senada dengan pernyataan Ketua PBNU, Robikin Emhas. Menurut Robikin, melalui agama, manusia bisa mengenal Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Penyayang. Selain itu, jelas dia melalui agama manusia mengenal bagaimana pola hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya, serta hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Mempelajari agama dimaksudkan agar manusia dapat mencapai kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun setelah kematiannya. Masih menurut Robikin, berdasarkan konstitusi tidak seorang pun warga negara boleh tidak beragama. Karenanya, negara harus hadir melalui pendidikan agama di sekolah.

Sementara itu, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin juga telah memastikan pihaknya tidak akan pernah menghilangkan pendidikan agama di setiap jenjang pendidikan. Menurutnya, pendidikan agama adalah mutlak untuk terus dipertahankan dan dikembangkan. Pendidikan agama adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bangsa ini.

Kemudian pihak KPAI, Ketua KPAI, Susanto menilai pendidikan agama di sekolah adalah hal yang penting bagi pembangunan karakter anak. Ia menyatakan, pendidikan agama perlu karena selaras dengan semangat kebangsaan. Menurutnya, pendidikan agama akan menjadi lawan dari radikalisme dan terorisme, jika guru yang mengajarkan adalah guru agama yang kompeten dan terseleksi.

Pada intinya, mereka selaku simpul umat telah sepakat untuk tidak setuju jika pelajaran pendidikan agama ditiadakan di sekolah. Pun sangat tidak tepat jika menghubungkan pendidikan agama dengan kekhawatiran munculnya radikalisme.

Sikap sepakat seperti ini tentu bagai angin segar bagi umat Islam Indonesia. Justru sangat aneh jika umat Islam anti dengan pelajaran dan aturan agamanya sendiri. Lihat saja, label radikalisme seringkali tersemat pada kalangan yang menghendaki penerapan Islam secara menyeluruh. Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, jadi sudah semestinya Indonesia menjadi role model Islam bagi kaum Muslimin di seluruh dunia.

Merujuk fakta di negara Barat selaku kampiun sekularisme, pertumbuhan populasi umat Islam justru meningkat tajam di Eropa. Islam dipelajari secara luas. Masjid-masjid makin banyak yang berdiri dan diramaikan para jamaah. Di antara negara Eropa tersebut yakni Jerman, Inggris, dan Belanda.

Uskup Heinrich Bedford-Strohm (Kepala Gereja Protestan di Jerman) mengatakan mengajarkan Islam di sekolah-sekolah akan memberikan murid-murid Muslim kesempatan untuk mengambil pendekatan terhadap agamanya. Jerman memiliki sekitar empat juta warga Muslim, atau 5 persen dari populasi total. Tujuh dari 16 negara bagian federal di Jerman menawarkan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah mereka, mirip dengan pelajaran agama Kristen dan Katolik secara tradisional.

Sementara di Inggris, perkembangan pesat Islam terlihat jelas di kota-kota di Inggris termasuk di ibu kotanya, London. Islamisasi merayap di London. Ratusan pengadilan syariah resmi beroperasi di ibu kota negeri Ratu Elizabeth II ini. Jumlah orang yang masuk Islam di London telah berlipat ganda. Tercatat, 423 masjid baru, dibangun. Sementara pada saat yang sama, banyak gereja Kristen ikonik di London ditutup hingga kemudian diubah menjadi masjid. Pada hari Jumat, jumlah jama’ah sholat Jumat membludak dan mereka harus sholat hingga ke jalan-jalan. Kristen di Inggris menjadi peninggalan, sementara Islam akan menjadi agama masa depan. London pun dinilai kian Islami hingga dijuluki “Londonistan”.

Tak hanya di London, demografi Inggris telah memperoleh wajah yang semakin Islami di tempat-tempat seperti Birmingham, Bradford, Derby, Dewsbury, Leeds, Leicester, Liverpool, Luton, Manchester, Sheffield, Hutan Waltham dan Tower Hamlets. Kota-kota terpenting Inggris memiliki populasi Muslim yang besar: Manchester (15,8%), Birmingham (21,8%) dan Bradford (24,7%).

Menurut Ceri Peachof dari Oxford University, lanskap budaya baru dari kota-kota Inggris telah tiba. Lanskap agama Kristen yang homogen dan bernuansa negara sedang diundurkan. Sementara hampir separuh Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun, seperempat orang Kristen berusia di atas 65 tahun. Terkait hal ini, Keith Porteous Wood, Direktur National Secular Society, mengatakan bahwa dalam 20 tahun lagi akan ada Muslim yang lebih aktif daripada orang-orang yang datang ke gereja.

Sementara di Belanda, antara 1970 hingga 2008, 205 gereja Katolik dihancurkan di Belanda dan 148 dikonversi menjadi perpustakaan, restoran, pusat kebugaran, apartemen dan masjid. Masjid Fitih Camii di Amsterdam dulunya juga adalah sebuah gereja Katolik. Pun Gereja Protestan Belanda yang kehilangan 60.000 jamaahnya setiap tahun. Pada titik ini, menurut pejabat gereja, jamaah gereja akan lenyap pada tahun 2050.

Merefleksi kembali ke Indonesia, terdapat fakta sejarah, di mana umat Islam Indonesia memiliki trauma masa lalu akibat peristiwa pemberontakan G 30 S/PKI yang dikenal sebagai pihak berhaluan atheis. Sikap atheis ini jelas bertentangan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang dengan kata lain, pemahaman atheis justru menjadikan anak bangsa tak hendak mengenal Tuhannya. Terlebih di tengah kondisi jauhnya umat Islam dari aturan Tuhannya seperti saat ini, paham sekularisme termasuk atheisme tetap potensial meracuni generasi jika negara masih saja abai dengan tanggung jawabnya menjaga kemurnian akidah umat.

Sebagai pencermatan, di sinilah pentingnya mempelajari agama Islam tidak sebatas di sekolah. Hal ini juga menegaskan bahwa pendidikan agama Islam di sekolah hendaknya dalam rangka membentuk anak didik agar berkepribadian Islam. Karena Islam memang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam sekup individu, keluarga, masyarakat, hingga negara.

Justru aneh jika di Indonesia selaku negeri Muslim terbesar di dunia, tak menyajikan pelajaran agama di sekolah. Padahal negara-negara lain di mana muslim menjadi minoritas, malah banyak yang menyatakan pentingnya pendidikan agama Islam berikut ajaran Alquran.[]

%d blogger menyukai ini: