Jilbab dan Kerudung bukan Budaya Arab

Gelombang arabisasi yang dibungkus Islamisasi di Indonesia sejak beberapa tahun silam telah berdampak pada banyak hal antara lain pandangan mengenai “tata busana”. Baru beberapa tahun ini saja, umat Islam pada geger bin ribut soal tata cara berpakaian yang “Islami” atau yang “syar’i”.


Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews, FOKUS — Seiring munculnya ide Islam Nusantara, penggunaan jilbab dan kerudung ikut mendapat sorotan tajam dari para pengikut ide tersebut. Mereka berkilah bahwa jilbab dan kerudung adalah budaya Arab. Bahwa Islam tidak mengharuskan bentuk busana tertentu, yang penting sopan. Bahkan mereka menyimpulkan bahwa jilbab adalah arabisasi dan islamisasi budaya Nusantara.

Sumanto Al Qurtuby misalnya, menulis sebagai berikut :

Gelombang arabisasi yang dibungkus Islamisasi di Indonesia sejak beberapa tahun silam telah berdampak pada banyak hal antara lain pandangan mengenai “tata busana”. Baru beberapa tahun ini saja, umat Islam pada geger bin ribut soal tata cara berpakaian yang “Islami” atau yang “syar’i”.

Padahal, dulu tidak ada yang meributkan. Biasa-biasa saja. Para ulama hebat di Indonesia dulu tidak pernah meributkan soal “busana Islami” apalagi “hijab syar’i”. Kenapa begitu? Karena memang mereka menganggap semua itu tidak penting dan tidak substansial. Yang penting dan substansial, menurut mereka, adalah menutup aurat.(Redaksi Indonesia.com)

Gayatri Wedotami, seorang cerpenis dan aktivis di bidang perdamaian antar-iman menyerukan kepada Ma’ruf Amien sebagai wakil presiden terpilih untuk menghentikan Islamisasi dan berpindah pada Islam Nusantara. Ia menulis:

Bapak Maruf, Anda dari NU, maka Islam Nusantara-lah yang seharusnya menjadi fokus Anda. Islamisasi itu antara lain dalam hal hijabisasi. Karena hijabisasi adalah mula-mula dari banyak sekali masalah. Segala masalah dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan dalam berkemanusiaan.(Pembawaberita.com)

Bahkan dalam Twitter-nya, Gayatri menolak pemakaian jilbab dan menyerukan kembali pada pakaian tradisional dengan men-tweet #kembenitusopan #kembenitumenutupaurat #kembenitubusanaMuslimahJawa.

Jauh sebelumnya, Ratna Batara Munti, aktivis LBH-APIK, dalam bukunya “Benarkah Islam Mewajibkan Berjilbab?” yang diterbitkan PSI-UII Yogyakarta tahun 2011, membeberkan berbagai dalil yang dia pelintir untuk menunjukkan bahwa jilbab itu adalah budaya Arab yang tidak wajib dikenakan muslimah. Menurutnya ketikamembahas QS An Nuur : 31, inti dari ayat tersebut bukanlah kewajiban kerudung karena kerudung adalah tradisi atau budaya yang lazim dikenakan perempuan Arab. Perempuan Arab saat itu telah memakai kerudung namun diikatkan ke belakang sehingga bagian leher dan dada terbuka. Alquran kemudian menegur cara berpakaian seperti ini sehingga ayat ini turun hanya ditujukan kepada orang Arab, dan tidak bisa diberlakukan umum bagi umat Islam.

Sedangkan pada QS Al Ahzab :59, penulis menafsirkan bahwa ayat ini tidak mewajibkan jilbab, melainkan lebih ditujukan untuk kepentingan agar wanita mukmin dapat dikenali sehingga terhindar dari gangguan, yakni dengan mengulurkan jilbabnya ke depan (dada). Ini karena budaya waktu itu, cara berpakaian wanita merdeka dengan hamba sahaya sama, yakni dengan menyampirkan kerudung atau jilbab ke punggung, ketimbang menutupi dada yang dibiarkan transparan.

Bukan Budaya tapi Hukum Allah

Menggunakan dalil Alquran dan hadist sebagai legitimasi pendapat bahwa jilbab dan kerudung adalah budaya Arab, merupakan hal yang sangat naif. Bila kita cermati nash-nash yang ada, justru tampak bahwa kerudung bukanlah tradisi umum perempuan Arab. Asbabun nuzul QS.An Nuur ayat 31 menjelaskan hal ini. Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Murtsid, pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main dikebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka kelihatan. Berkatalah Asma’: “Alangkah buruknya (pemandangan) ini.” Turunnya ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 31) sampai, … ‘auratin nisa’… (…aurat wanita…) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada kaum Mukminat untuk menutup aurat mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah] (Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an), K.HQ Shaleh, H.A.A. Dahlan, dkk).

Perhatikan hadist-hadist berikut yangmenceritakan bagaimana para Muslimah bersegera menutup kepalanya, artinya sebelumnya mereka tidak sempurna menutup kepalanya. Dari Aisyah ra, ia berkata : “ Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya : “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dadanya” (TQS An Nuur :31), maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka dan menutup kepala mereka dengannya.” (HR Bukhari)

Dari Shafiyah binti Syaibah ra bahwa Aisyah ra menuturkan wanita Anshar, kemudian beliau memuji mereka, dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau berkata :”Ketika diturunkan surat An Nuur : 31, maka mereka mengambil kain-kain tirai mereka kemudian merobeknya dan menjadikannya kerudung.”(HR Abu Daud)

Bila perempuan Arab dalam tradisinya telah berkerudung namun diikat di belakang, tentu para Muslimah tidak akan mengambil kain-kain sarung dan tirai untuk mereka jadikan kerudung, melainkan cukup dengan melepas ikatan kerudung mereka dan menghamparkannya menutupi dada.

Adapun kewajiban mengenakan jilbab saat akan keluar rumah juga bukan merupakan budaya Arab. Dalil jilbab adalah firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab : 59)

Apakah pengertian jilbab? Kata “jalaabiibihinna” dalam ayat tersebut adalah bentuk jamak dari“jilbaabun”. “Jilbaabun”, dalam kamus Al-Muhith adalah “milhaafah wa mulaa’ah”, yaitu baju yang serupa dengan mantel (menjulur), sedangkan dalam tafsir Ibnu Abbas, “jilbaabun” adalah kain penutup, atau baju luar seperti mantel (Tafsir Ibnu Abbas, hal 426). Jilbab juga berarti “baju panjang (mulaa’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita” (Tafsir Jalalain hal 248). Sedangkan dalam Shoawatut Tafaasir, Imam ash-Shobuni, Jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi’) yang menutupi tempat perhiasan wanita (auratnya).

Dikemukakan Sa’id bin Manshur, Sa’ad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: “Dulu isteri-isteri Rasulullah Saw keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja.” Maka turunlah ayat ini: Ya ayyuha al-Nabiyy qul li azwajika wa banatika wa nisa’i al-mu’min yudnina ‘alayhinna min jalabibihinna… Allah memerintahkan mereka mengenakan jilbab supaya berbeda dengan hamba sahaya.

Dari asbabun nuzul ayat ini, sama sekali tidak tampak bahwa jilbab adalah budaya Arab. Justru menunjukkan bahwa tadinya perempuan merdeka dan hamba sahaya berpakaian dengan cara yang sama, lalu Allah memerintahkan perempuan Muslimah merdeka mengenakan jilbab.

Maka mengatakan bahwa kerudung dan jilbab merupakan budaya Arab adalah pendapat yanglemah sekali dalam penggalian dalil. Sekalipun misalnya memang benar bahwa kerudung adalah budaya perempuan Arab, tetapi dengan adanya perintah Allah kepada wanita mukminah, maka perintah tersebut berlaku juga untuk perempuan mukmin selain Arab. Hal ini karena Rasulullah Saw diutus kepada seluruh manusia, bukan hanya bangsa Arab.(HR Bukhari Muslim)

Berbeda halnya dengan sorban atau gamis bagi laki-laki yang juga adalah pakaian adat di Arab. Karena tidak ada nash yang memerintahkan laki-laki untuk mengenakan pakaian seperti ini maka ia tetap menjadi pakaian adat Arab dan tidak wajib bagi Muslim non Arab untuk mengenakannya.

Terlebih lagi ada kaidah ushul fiqh “al ibratu biumuumil lafzhi, laa bikhususi sabab”, hukum diambil dari umumnya lafazh, bukan khususnya sebab. Karena lafazh ayat adalah umum bagi mukminah, maka hukumnya berlaku umum bagi seluruh mukminah, Arab ataupun non Arab.

Bersikap pada Hukum Allah

Seorang Muslim ketika sudah jelas baginya hukum suatu perbuatan, maka dia terikat dengan hukum tersebut. Bila hukumnya wajib, ia wajib untuk menjalankannya tanpa mencari-cari alasan untuk menolaknya.

Maka apabila seorang Muslimah sudah memahami bahwa kerudung dan jilbab adalah wajib baginya, ia tidak akan mencari-cari dalil dan dalih agar bisa menghindar dari memakainya.

Sikap menerima sebagian dari agama dan menolak sebagiannya adalah salah satu tanda kekafiran yang harus dihindari seorang Muslim. Allah SWT menjelaskan dalam QS. An Nisaa: 150-151:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا[٤:١٥٠]

أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا[٤:١٥١]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

Dengan demikian, hukum agama adalah pedoman hidup bagi seorang Muslim. Ketika hukum agama berbenturan dengan budaya, budaya itulah yang harus ditinggalkannya. Kemben, sekalipun budaya Jawa, seorang Muslimah dari suku Jawa tidak boleh mengambilnya karena masih menampakkan aurat yang Allah perintahkan ia menutupnya.

Berbeda halnya ketika budaya tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah misalnya batik, maka ia boleh mengambilnya dan memakainya. Inilah ketaatan kepada Allah yang akan menghantarkan seorang Muslim pada ridha-Nya.[]

%d blogger menyukai ini: