Kematian Bukanlah Perpisahan

Bagi orang-orang yang beriman, kematian tidaklah bisa memisahkan mereka dengan orang yang dicintainya karena kelak mereka akan dikumpulkan dalam kehidupan yang lebih baik, dalam keabadian.


Oleh: Ustaz M Taufiq NT

MuslimahNews.com — Kematian itu bukanlah perpisahan, apalagi sekedar ditinggal safar (perjalanan) dalam rangka menuntut ilmu atau ketaatan yang lainnya. Perpisahan yang hakiki antara dua orang terjadi ketika nanti salah satunya masuk surga dan yang lainnya masuk ke neraka dan kekal di dalamnya.

Perpisahan yang hakiki juga terjadi jika dua orang ketika hidup di dunia telah ‘sepakat’ dan bekerja sama untuk menjadi penduduk neraka. Kerukunan, kebersamaan dan rasa saling mencintai di dunia akan sirna ketika mereka dimasukkan bersama-sama ke dalam neraka. Mereka akan saling menuntut dan menyalahkan mengapa temannya dulu tidak mengajak ke jalan ketakwaan.

Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)

Sebaliknya, bagi orang-orang yang beriman, kematian tidaklah bisa memisahkan mereka dengan orang yang dicintainya karena kelak mereka akan dikumpulkan dalam kehidupan yang lebih baik, dalam keabadian. Perpisahan karena salah satu di dunia dan lainnya di alam kubur bukanlah perpisahan yang lama sehingga ‘tidak layak’ disebut perpisahan. Hidup di dunia hanyalah sebentar saja jika dibandingkan dengan kehidupan kelak, dimana mereka akan dikumpulkan dalam naungan rahmat Allah Ta’ala.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (QS. Al-Thûr: 21)

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) menukil perkataan Sa’id bin Jubair:

يَدْخُلُ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَيْنَ أَبِي وَجَدِّي وَأُمِّي؟ وَأَيْنَ وَلَدِي وَوَلَدُ وَلَدِي؟ وَأَيْنَ زَوْجَاتِي؟ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ لَمْ يَعْمَلُوا كَعَمَلِكَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ كُنْتُ أَعْمَلُ لِي وَلَهُمْ، فَيُقَالُ أَدْخِلُوهُمُ الْجَنَّةَ

Seorang lelaki masuk surga, lalu dia berkata: ‘wahai Tuhan, mana ayahku, kakekku, dan ibuku? Mana anakku, mana istri-istriku?’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘mereka tidak beramal seperti amalmu’. Maka lelaki tersebut berkata: ‘wahai Tuhan, aku beramal untukku dan untuk mereka’, maka dikatakan: ‘masukkan mereka semuanya kedalam surga’.” (Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân, Juz 15, hlm. 296)[1]

Dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ الْمُؤْمِنِ مَعَهُ فِي دَرَجَتِهِ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ لِتَقَرَّ بِهِمْ عَيْنُهُ

Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla betul-betul akan mengangkat dzuriyyat seorang mukmin sesuai dengan derajatnya di surga walaupun dzuriyat tadi tidak beramal seperti amalnya dalam rangka menyenangkan orang mukmin tersebut.” [2]

Hanya saja, semua itu akan didapatkan dengan memenuhi syaratnya, yakni mereka semua itu mati dalam keadaan beriman, sebagaimana kata Syaikh Isma’il Haqqi:

(أَلْحَقْنا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ) اى بشرط الايمان

(Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) yakni dengan syarat adanya iman.” [3](Rûh Al-Bayân, Juz 7, hlm. 10).

Oleh sebab itu, jika ingin membahagiakan orang tua, istri, anak dan cucu maka beramal shalih dan saling men-support untuk meniti ketakwaan adalah satu-satunya jalan. Ketika seorang istri men-support amal shalih suaminya, walaupun dia ‘hanya’ di rumah dan tidak beramal seperti suaminya, kelak dia akan merasakan derajat yang sama.

Sungguh aneh jika support diberikan untuk bekerja keras mengumpulkan harta dalam rangka membangun rumah yang indah di dunia, namun lupa men-support suaminya untuk membangunkan istana yang megah di surga. Sebaliknya, seorang suami juga hendaknya men-support istrinya, anaknya dan dzuriyat-nya untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Jika ternyata upaya istri dan anaknya lebih sukses di hadapan Allah, dia juga akan turut menikmatinya, in syaa Allah. Allaahu A’lam.[]

[1] Al Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân (Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyah, 1964), Juz 15, hlm. 296; Ismail Haqqi al-Barousawi, Rûh Al-Bayân (Beirut: Dâr al-Fikr, tt), Juz 9, hlm.192.

[2] Al Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân, Juz 17, hlm. 66.

[3] Ismail Haqqi al-Barousawi, Rûh Al-Bayân, Juz 7, hlm. 101.

%d blogger menyukai ini: