Muslim Sri Lanka Hidup dengan Ketakutan dan Diskrminasi di bawah Sistem Demokrasi Sekuler yang telah terbukti Memiliki “Warisan Kegagalan” dalam Mengamankan Hak-hak Minoritas Agama

Satu-satunya negara yang akan membela kepentingan kita, melindungi kesejahteraan kita, memastikan standar hidup yang baik dan menyediakan lingkungan yang aman bagi orang-orang beriman, di mana kita dapat mempraktekkan sepenuhnya semua keyakinan Islam kita tanpa gangguan atau ketakutan, adalah kepemimpinan Islam sejati.


Oleh: Dr Nazreen Nawaz

MuslimahNews, KOMPOL — Sembilan Menteri Muslim di kabinet Presiden Maithripala Sirisena seluruhnya mengundurkan diri dari jabatan mereka, setelah menuduh pemerintah Sri Lanka gagal memastikan keamanan komunitas Muslim negara itu dari serangan bentrokan yang terjadi setelah pemboman hari Minggu Paskah, Senin (3/6/2019).

Pengunduran diri terjadi setelah ribuan orang yang dipimpin oleh para biksu dan kelompok Buddha garis keras berdemonstrasi di kota Kandy, mereka menuntut pengusiran dua gubernur provinsi Muslim dan satu menteri yang mereka tuduh memiliki hubungan dengan para pelaku pengeboman.

Sejak serangan pada bulan April, komunitas Muslim di Sri Lanka telah hidup di bawah awan kecurigaan dan ketakutan, dengan keyakinan Islam mereka yang dituduh terkait dengan ekstremisme. Mereka menghadapi atmosfer intimidasi, ancaman, pelecehan, demonisasi, dan diskriminasi, dan terdapat pidato penuh kebencian dan berita palsu tentang Muslim dan Islam, yang disebarluaskan di media sosial dan outlet media lainnya.

Pada 12 dan 13 Mei, gerombolan Sinhala mengamuk di setidaknya 24 kota di Sri Lanka barat, menjarah dan menyerang properti Muslim dengan batu, pedang dan bom petrol sebagai pembalasan atas pemboman Paskah. Insiden itu menghancurkan lebih dari 540 rumah, toko, dan masjid milik Muslim, juga hampir 100 kendaraan, menurut badan amal setempat.

Beberapa Muslim yang tidak bersalah juga terbunuh dalam serangkaian kekerasan terbaru. Banyak yang melaporkan bahwa polisi dan perwira militer, yang juga sebagian besar dari mayoritas Buddhis di negara itu, hanya menyaksikan ketika serangan-serangan ini terjadi, gagal menghentikan kekerasan. Di bawah UU Darurat saat ini, pasukan militer juga secara sewenang-wenang mencari rumah-rumah Muslim, tidak hanya senjata yang dcari tetapi juga literatur atau CD Islam yang bersifat politis dan bagi mereka yang memilikinya akan dikenai masa hukuman penjara yang singkat.

Bersamaan dengan semua ini, ada boikot terhadap bisnis Muslim, dan diskriminasi terbuka terhadap Muslim dalam pekerjaan dan pendidikan. Wanita Muslim dan anak perempuan mereka telah ditekan untuk melepaskan hijab mereka saat menghadiri wawancara masuk di sekolah. Selanjutnya, di samping larangan Niqab yang telah diterapkan pemerintah, larangan Hijab dan Jilbab pada beberapa pegawai pemerintah telah diusulkan.

Komentar:
Para politisi Sri Lanka sering merasa bangga sebagai salah satu negara demokrasi tertua di dunia. Namun, kondisi hubungan saat ini dengan sejarah masa lalu yang rapuh, dari hubungan berbagai komunitas antar etnis dan agama menyoroti betapa berubah-ubahnya, tidak dapat diprediksi dan berbahaya sistem hukum buatan manusia ini.

Demokrasi adalah di mana hak-hak minoritas agama dapat dikenai prasangka mayoritas dan keinginan politisi oportunistik. Banyak Muslim mendukung pemerintahan Sirisena saat ini menjadi berkuasa dalam pemilihan presiden 2015, berharap bahwa itu akan mengakhiri kekuasaan komunal rezim Rajapaksa.

Faktanya, banyak komentator menyatakan bahwa pemilihan Muslim berperan penting dalam kemenangan Sirisena menjadi berkuasa. Namun, peristiwa politik saat ini tentunya harus menggarisbawahi bagaimana komunitas Muslim di bawah sistem demokrasi sekuler, politisi dari semua warna akan mengendarai gelombang populis dan menjadi “calo” atas prasangka dan pengaruh memecah-belah dari berbagai sektor pemilih mereka untuk memenangkan suara, tidak peduli seberapa ‘ekstrem’, menjijikkan dan berkobar-kobarnya pandangan mereka, mungkin.

Bahkan, biksu Budha garis keras dan pemimpin kelompok Buddhis nasionalis ekstremis, Bodu Bala Sena (Kekuatan Kekuatan Buddha atau BBS), Galagoda Aththe Gnanasara, yang telah lama dituduh menghasut kebencian dan kekerasan terhadap umat Islam, dibebaskan bulan lalu dari penjara dan dibebaskan dari hukuman enam tahun karena pengampunan dari Sirisena.

Pemilihan presiden mendatang pada desember di Negara ini, lebih memungkinkan untuk memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan. Memang, komunitas Muslim di Sri Lanka saat ini adalah sepak bola politik terbaru dalam permainan yang dimainkan antara berbagai politisi dan partai untuk mencari dukungan dengan para biksu dan kelompok Buddhis yang kuat secara politis dan para pendukung mereka dalam persiapan untuk pemilihan mendatang… biksu dan kelompok Buddha yang sama yang membangkitkan histeria dan ketakutan terhadap Muslim, dan mengipasi api kebencian dan perpecahan komunal.

Bagaimana bisa seorang Muslim, yang memang sebagai minoritas dalam agama atau etnis, percaya bahwa hak-hak mereka bisa aman di bawah sistem ini, atau dengan terlibat dalam proses demokrasi – yang tidak menawarkan apa-apa selain ilusi dan janji-janji yang dilanggar berkaitan dengan penjagaan keamanan dan perlindungan hak-hak.
Allah SWT berfirman:
﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya..”[Al-Nur: 39]

Kami telah melihat cerita yang sama di Prancis, Belgia, Swiss, Denmark, India, dan negara-negara demokrasi sekuler lainnya, yang telah menekan penggunaan jilbab, niqab, atau larangan lain pada keyakinan dan praktik Islam, tentang bagaimana kesejahteraan dan hak-hak umat Islam yang bisa ada di sini hari ini dan bisa saja lenyap esok hari, berdasarkan keinginan penguasa atau partai mana pun yang berkuasa. Memang, kaum Muslim di Sri Lanka melihat bahwa di dalam iklim anti-Muslim yang sangat sarat ini, tidak ada yang salah, terkait dengan masalah pelanggaran hak dan kesejahteraan mereka!

Nabi Muhammad Saw bersabda,«لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ»“Seorang mukmin tidak akan jatuh pada lubang yang sama dua kali.” Tentunya kata-kata ini dari Utusan kita yang tercinta Saw, serta realitas politik yang telah kita amati di negara-negara demokratis di seluruh dunia, harus menjadi pengingat bagi kita sebagai Muslim bahwa keamanan dan hak-hak kita tidak akan pernah dijamin di bawah sistem penguasa buatan manusia.

Sebaliknya, satu-satunya negara yang akan membela kepentingan kita, melindungi kesejahteraan kita, memastikan standar hidup yang baik dan menyediakan lingkungan yang aman bagi orang-orang beriman, di mana kita dapat mempraktekkan sepenuhnya semua keyakinan Islam kita tanpa gangguan atau ketakutan, adalah kepemimpinan Islam sejati.

Negara Khilafah (Khilafah), hanya diperintah oleh Hukum dari Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Bijaksana – Allah SWT. Tentunya, ini adalah hal yang sangat urgen untuk mendirikan Daulah ini, di mana kita sebagai Muslim wajib mengalihkan perhatian kita dan mengerahkan upaya penuh untuk penegakannya![]

Penerjemah : U.K hasbie

Apa komentar Anda?