Terbang Murah tanpa Bergantung Asing

Apa biang keladi mahalnya harga tiket pesawat? Bila ditelisik secara mendalam ternyata bukan karena praktik kartel, bukan juga karena mahalnya harga avtur, juga buka karena besarnya PPN (Pajak Pertambahan Nilai), dan juga bukan karena agenda hegemoni penerbangan.


Oleh: Rini Syafri (Doktor Biomedik, Pengamat Kebijakan Publik)

MuslimahNews, FOKUS — Terbang murah berkualitas (aman, nyaman lagi manusiawi) bagi semua orang semakin jauh dari harapan. Khususnya ketika pemerintah dengan fungsinya berdasarkan konsep neolib tak berdaya dihadapan korporasi maskapai menurunkan harga tiket yang tetap meroket, dan menegaskan pentingnya kehadiran maskapai asing.

Namun, sesungguhnya terbang murah bahkan hingga nol rupiah tanpa bergantung asing adalah keniscayaan yang harus diwujudkan pemerintah. Hal ini setidaknya karena dua hal. Pertama, tuntutan kebutuhan publik Indonesia yang tinggal di negara kepulauan terbesar di dunia. Pengabaian pemenuhan ini terbukti berakibat dharar /penderitaan masyarakat yang diharamkan Islam; Kedua, akar masalah mahalnya biaya transportasi udara hari ini bisa diselesaikan.

Akar Masalah

Apa biang keladi mahalnya harga tiket pesawat? Bila ditelisik secara mendalam ternyata bukan karena praktik kartel, bukan juga karena mahalnya harga avtur, juga buka karena besarnya PPN (Pajak Pertambahan Nilai), dan juga bukan karena agenda hegemoni penerbangan. Semua itu sekadar akibat, sedang biang keladinya adalah diterapkannya sistem kehidupan sekuler. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik kufur demokrasi.

Sistem kehidupan batil ini telah menjadi ruang subur bagi prinsip batil pengelolaan tarnsportasi publik neolib. Yakni, setidaknya ada dua. Pertama, transportasi udara jasa yang harus diliberalkan/dikomersilkan; Kedua, negara hanya regulator (baca: pelayan) bagi kepentingan korporasi. Sehingga seluruh aspek transportasi penerbangan berada dalam kendali korporasi. Korporasi asing maupun dalam negeri. Korporasi plat merah maupun swasta murni. Baik alat angkutnya dalam hal ini pesawat, bahan bakar minyak penerbangan hingga infrastruktur penerbangan berupa bandar udara dengan segala kelengkapannya.

Solusi Islam

Allah SWT Sang Pencipta lagi Maha Pengatur hanya membenarkan penerapan sistem kehidupan Islam saja, berikut sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Hal ini otomatis menihilkan ruang bagi konsep-konsep batil neolib hari ini berikut berbagai persoalan serius yang ditimbulkannya. Mulai dari dominasi korporasi hingga dominasi kafir penjajah. Sebaliknya yang ada hanyalah konsep-konsep Islam yang sahih berikut berbagai kebaikan yang dihasilkannya.

Konsep-konsep sahih cemerlang tersebut adalah: Pertama, transportasi publik udara merupakan kebutuhan publik, karena demikianlah faktanya; Kedua, negara merupakan pihak yang bertanggungjawab langsung lagi sepenuhnya menjamin akses setiap orang terhadap transportasi udara yang murah, aman, nyaman lagi manusiawi. Ditegaskan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalaam, yang artinya, “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari)

Sebagaimana perbuatan Rasulullah Saw, beliau pengatur langsung departemen-departemen, melakukan pengangkatan sekretaris untuk pengurusan administrasi. Rasulullah Saw mengatur kemashlahatan publik di Madinah, termasuk masalah transportasi publik. Artinya, haram negara berfungsi sebagai regulator yang mengomersilkan hajat hidup masyarakat, apapun alasannya.

Kedua, anggaran bersifat mutlak, maksudnya adalah ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembiayaan penyelenggaraan transportasi udara murah/gratis berkualitas bagi semua orang. Prinsip ini meniscayakan negara memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk memikul tanggungjawabnya. Pembiayaan diperuntukan untuk pengadaan pesawat secara memadai dari aspek kualitas dan kuantitas, bahan bakar minyak penerbangan, bandara dengan segala kelengkapannya, dan sumber daya manusia penerbangan.

Ketiga, bandara dengan segala kelengkapannnya adalah fasilitas umum yang harus dikelola di atas prinsip pelayanan bukan komersil dan tidak dijadikan sumber pemasukan kekayaan negara. Untuk pembiayaan ini tidak dibenarkan penggunaan anggaran berbasis kinerja, apapun alasannya. Juga tidak dibenarkan penggunaan konsep Kemitraan Pemerintah dan Swasta (KPS) yang menjadi ruang masuknya dominasi asing kafir penjajah.

Keempat, kekuasaan tersentralisasi, sementara administrasi bersifat desentralisasi. Ditegaskan oleh Rasulullah Saw yang artinya, “Apa bila dibai’at dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya”. Aspek ini tidak saja membuat pemerintah memiliki kewenangan yang memadai sehingga keputusan bisa diambil cepat dan tepat dan implementasi yang cepat dan tepat pula, namun juga menutup celah terjadinya komersialisasi dan agenda penjajahan.

Keseluruhan konsep cemerlang tersebut berikut sistem kehidupan Islam secara keseluruhan meniscayakan terwujudnya kemandirian negara sehingga tidak bergantung asing pada aspek strategis transportasi udara. Setidaknya mencakup empat aspek, yakni: Pertama, kemandirian. Bahan Bakar Minyak penerbangan; Kedua, kemandirian teknologi dirgantara dengan berbagai aplikasinya; Ketiga, kemandirian Sumber daya Manusia Penerbangan; Keempat, kemandirian standarisasi. Karena pada faktanya aspek standarisasi ini telah menjadi jalan bagi hegemoni transportasi udara. Baik pada aspek industri pesawat, infrastruktur hingga sumberdaya manusia penerbangan.

Pertama, penerapan konsep Islam dalam pengelolaan migas meniscayakan terwujudnya kemandirian Bahan Bakar Minyak penerbangan. Baik yang berjenis Aviation Turbine Fuel (Avtur) maupun Aviation Gasoline (Avgas). Avtur misalnya, merupakan fraksi bahan bakar minyak yang berasal dari mintak mentah (crude oil). Dapat dibuat dari minyak tanah (kerosin) karena spesifikasinya mirip kerosin, dengan titik beku maksimum -470C dan titik nyala minimum 380C dan titik didihnya antara 150-2700C. Potensi minyak mentah begitu berlimpah di negeri ini. Jumlahnya yang bagaikan air mengalir menjadikan ribuan blok migas tersebut berstatus harta milik umum. Sehingga avtur yang dihasilkan darinya juga termasuk harta milik umum.

Jika hari ini berdasarkan paradigma batil neolib dibenarkan negara menyerahkan blok-blok migas tersebut pada korporasi baik domestik maupun asing kafir penjajah, maka khalifah tidak akan melakukannya dengan alasan apapun, karena semua itu bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan, negaralah yang bertanggungjawab langsung dan sepepnuhnya sebagai pengelola sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh publik.

Hal ini tidaklah sulit, karena teknologi refinery (kilang pengeolahan mintak bumi) untuk memproduksi avtur bukanlah teknologi baru. Optimalisasi kilang Plaju dan Cilacap terbukti mampu memenuhi kebtuhan avtur dalam negeri. Para teknorat yang memadai semakin meyakinkan Indonesia mampu mandiri memproduksi avtur dalam jumlah memadai bagi terwujudnya transportasi udara murah/gratis bagi semua orang.

Kedua, kemandirian teknologi dirgantara dengan berbagai aplikasinya seperti pesawat terbang, teknologi navigasi dan komunikasi, serta bandar udara berikut segala fasilitasnya Indonesia terbukti bisa. Putra-putra bangsa indonesia terbukti mampu membuat pesawat terbang yang dibutuhkan untuk moda transportasi penerbangan antar pulau. Keberhasilan pembuatan pesawat terbang N-250, CN-212, CN-235. Hal ini juga menjadi bukti peluang putri-putri bangsa ini mampu menguasai berbagai teknologi terkini kedirgantaraan.

Hanya saja, selain kemandirian politik dan visi asli yang kuat, negara juga harus menerapkan politik industri berbasis industri berat. Inilah jalan satu-satunya agar Indonesia mandiri dan terdepan di bidang teknologi, dalam hal ini teknologi kedirgantaraan, khususnya transportasi publik penerbangan.

Pada akhirnya, terbang murah hingga nol rupiah secara aman, nyaman tanpa tergantung asing benar-benar bisa terwujud, bahkan negara berkewajiban mewujudkannnya. Semua aspek ini bisa dipenuhi negara yang visioner dan dengan fungsi-fungsi politiknya yang sahih. Yakni, negara Khilafah.

Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,..
(TQS Al Anfaal: 24).[]

Daftar Pustaka:
https://daerah.sindonews.com/warga-sorong-keluhkan-harga-tiket-pesawat-naik.
https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20190620141408-92-405006/pemerintah-bakal-diskon-pajak-sewa-pesawat-tekan-harga-tiket.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190603143803-4-76589/tiket-pesawat-mahal-jokowi-usul-maskapai-asing-masuk-ri.
Undang-Undang No 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Hubud.dephub.go.id>uu>download.pdf.
An Nabhani, T. An Nidzomul Iqtishody fil Islam. Darul Ummah. Beirut. 2005. Hal 236, 245.
Zalum, ‘Abdul Qadiim. Al Amwal Fi Daulatil KHilafah. Darul ummah. Beirut. 2004. Hal 106.
Hizbut Tahrir. Ajhizatu Daulatul Khilafah. Darul Ummah. Beirut. 2005.
Hizbut Tahrir. Mukadimah Dustuur. Al Asbaab Almaujibatu Lahu. Al Qismul Awwal. Darul Ummah. Beirut. 2009. Hal 160.
https://reaersblog.mongabay.co.id/rb/2014/06/07/timor-barat-dalam-gempuran-korporasi-tambang.
https://interestingengineering.com/oil-refeneries-process-turning-crude-oil-into-jet-fuel.
https://m.detik.com/finance/energi/d-4549428/pertamina-setop-impor-avtur-dan-solar.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persaingan-antara-Airbus-dan-Boeing.
Forum Teknologi. Mengenal Kilang Pengolahan Minyak Bumi (Refinery). 31 Januari 2018. Vol 05 No 4. Pusdiklatmigas.esdm.go.id.pdf.
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190218131819-4-56149/skk-temukan-10-blok-migas-dengan-potensi-cadangan-raksasa.
https://money.kompas.com/read/2019/06/17/190400026/industri-dirgantara-eropa-makin-tertinggal-dar-As-dan-China.
Hizbut Tahrir. Mukadimah Dustuur. Al Asbaab Almaujibatu Lahu. Al Qismul Awwal. Darul Ummah. Beirut. 2009. Hal 160.

%d blogger menyukai ini: