Enam Bulan Pasca-Perjanjian Stockholm, Yaman Justru Memburuk

MuslimahNews.com — Enam bulan setelah pihak-pihak yang bertikai di Yaman sepakat untuk mengadakan pembicaraan gencatan senjata di Stockholm, Swedia, pertempuran di lapangan justru “tak kunjung reda” dan lebih dari seperempat juta orang baru mengungsi, menurut laporan organisasi kemanusiaan.

Ditandatangani pada 13 Desember 2018, perjanjian Stockholm menawarkan “secercah harapan” bagi warga Yaman yang menghadapi kelaparan, penyakit, dan pemboman, Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis Selasa.

“Tetapi implementasinya telah jauh dari harapan,” tulis kelompok tersebut dalam laporannya.

Baca juga: “Yaman tengah Menjerit! Siapa yang akan Menanggapi?”

Yaman – salah satu negara termiskin di kawasan itu – adalah wilayah yang disebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Puluhan ribu anak di bawah usia lima tahun telah meninggal karena kekurangan gizi sejak awal perang, sementara ribuan warga sipil lainnya terbunuh oleh serangan udara, kolera, dan penyakit lainnya.

Pada 2015, sebuah koalisi yang dipimpin Saudi, yang didukung oleh Amerika Serikat, turun tangan dalam upaya menggulingkan Houthi, yang didukung oleh Iran, dari kekuasaan dan memulihkan pemerintahan yang didukung oleh Kerajaan Saudi.

Di Hodeida, kota pelabuhan garis depan di jantung perjanjian Stockholm, NRC melaporkan bahwa sekitar 26.000 orang telah terlantar sejak gencatan senjata ditandatangani.

“Perjanjian Stockholm tidak berarti apa-apa selain tinta di atas kertas jika pihak yang bertikai dan pendukungnya tidak bertindak sekarang,” Mohamed Abdi, Direktur NRC untuk wilayah Yaman, memperingatkan.

Tingkat korban sipil meningkat sepertiga dalam lima bulan pertama setelah perjanjian, dengan lebih dari 500 warga sipil tewas oleh pertempuran dan hampir 2.000 terluka. Tiga kali lebih banyak warga sipil terluka atau terbunuh oleh tembakan senjata kecil daripada dalam lima bulan sebelum perjanjian.

Baca juga: Yaman Menghadapi Kelaparan Terburuk di Dunia Selama 100 Tahun

NRC juga melaporkan bahwa lebih dari 80 anak telah terluka atau terbunuh oleh ranjau darat, dua kali lebih banyak dari periode yang sama sebelum perjanjian.

“Sudah saatnya pihak-pihak yang bertikai dan pendukung internasional yang mempersenjatai dan memengaruhi mereka untuk memikul tanggung jawab dan bernegosiasi dengan itikad baik sehingga enam bulan ke depan tidak terlihat seperti kondisi terakhir ini,” kata Abdi.

Perjanjian itu juga hanya memiliki “dampak terbatas” dalam memfasilitasi operasi organisasi bantuan internasional di negara itu, kata laporan itu.

Lebih dari lima juta orang Yaman sebagian besar masih berada di luar jangkauan organisasi bantuan kemanusiaan, yang dibatasi oleh pertempuran karena para pihak terus menunjuk banyak daerah sebagai zona militer.

Sejak akhir April, jalan utama yang menghubungkan Aden di Selatan dengan ibukota Sanaa di Utara telah ditutup karena pertempuran, yang memaksa organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan untuk beroperasi melalui wilayah “tidak aman, bergunung-gunung”, menciptakan biaya tambahan dan penundaan.[] Sumber

%d blogger menyukai ini: