Penjara Tidak Menghalangiku Berdakwah (Kisah Syekh Yusuf Makharza Abu Hammam, Ulama Palestina)

Penjara tersebut dindingnya terbuat dari kawat berduri yang dialiri strum dan tanpa atap. Lantainya pasir. Sehingga bila siang aku sangat kepanasan dan malam sangat kedinginan. Aku pun diberi makan yang sebenarnya makanan tersebut hanya layak untuk diberikan kepada hewan.


Oleh: Joko Prasetyo

MuslimahNews.com — Namaku Yusuf Makharza lahir pada tahun 1964 di Kota Dzahiriah Palestina Selatan. Alhamdulillah, aku terlahir di keluarga Muslim yang selalu menjaga akidah pemikiran dan perasaan dengan Islam dari pengaruh cengkraman Yahudi yang bercokol di tengah-tengah masyarakat.

Ayahku selalu menanamkan rasa cinta kepada Islam dan memusuhi yang membenci Islam. Sehingga ketika aku kelas 11 di salah satu sekolah di Palestina, aku sangat senang sekali ketika salah satu guruku memberikan kitab Muqadimatu Dustur karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani.

Masya Allah, kitab tersebut bagus sekali karena menjelaskan sistem sosial yang murni Islam. Dalam kitab itu digambarkan berbagai aspek kehidupan sosial seperti aspek pergaulan pria dan wanita, ekonomi, pemerintahan, pendidikan dan lain sebagainya. Kitab tersebut diformat layaknya sebuah rancangan Undang-undang yang akan ditawarkan kepada Khilafah (negara Islam) kelak untuk diterapkan oleh Khalifah (kepala negara Islam) untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Tidak lama setelah membaca kitab itu sampai tamat, aku pun mengaji secara intensif kepada guru sekolahku itu. Kemudian secara aktif aku turut berdakwah di lingkungan sekitar. Menggelorakan semangat kepada kaum Muslim untuk melawan tirani Yahudi. Menjelaskan kepada mereka untuk bangkit melawan penjajahan ini dengan cara menyadarkan mereka bahwa satu-satunya pemerintah yang legal dalam Islam adalah sistem Khilafah bukan pemerintahan boneka buatan Yahudi ini.

Terang saja pada tahun 1988 aku dijebloskan ke dalam penjara Naqab Syahrawi. Aku dibui dengan dakwaan sebagai anggota Hizbut Tahrir Palestina, tidak loyal dengan sistem yang ada, ‘menghasut’ kaum Muslim untuk melawan Yahudi yang ingin menguasai Al-Quds.

Meski hanya enam bulan dalam penjara. Siksaan fisik yang kualami cukup berat juga. Bayangkan penjara tersebut dindingnya terbuat dari kawat berduri yang dialiri strum dan tanpa atap. Lantainya pasir. Sehingga bila siang aku sangat kepanasan dan malam sangat kedinginan. Aku pun diberi makan yang sebenarnya makanan tersebut hanya layak untuk diberikan kepada hewan.

Berarti mereka menganggapku hewan. Padahal sebenarnya merekalah yang lebih hina daripada hewan ternak, seperti yang divonis Allah SWT dalam Alquran bagi orang-orang yang tidak berhukum kepada syariah Islam. Karena mereka lebih mentaati Yahudi Laknatullah dibanding dengan Allah SWT.

Dengan sabar aku lewati itu semua. Dakwah terus kulakukan. Karena dalam kondisi apa pun dakwah tidak boleh berhenti. Maka dakwah pun kulakukan kepada sesama narapidana yang ternyata sama-sama orang pergerakan. Di antaranya adalah dari pergerakan-pergerakan Islam seperti Hamas dan Jihad Islami. Ada juga dari pergerakan sekuler seperti Front Demokrasi dan Front Rakyat. Bahkan ada juga aktivis dari pergerakan yang menjadi penguasa yakni Fatah.

Setiap hari kudakwahi mereka, meskipun tidak bergabung menjadi anggota Hizbut Tahrir, mereka pun memiliki kewajiban yang sama yakni memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Islam, ujarku kepada mereka.

Hubunganku dengan mereka cukup bagus. Termasuk dengan aktivis Fatah itu. Karena meskipun para pemimpinnya sebagai penguasa, mereka tidak sejalan dengan penguasa. Ternyata aktivis Fatah ini berbeda dengan penguasa yang memusuhi para pengemban dakwah.

Mereka dekat kepada Islam. Bahkan ketika aku dipukuli oleh sipir penjara, yang juga orang-orang Fatah, aku dibela oleh mereka. Aku kerap kali dipukuli lantaran aku berceramah di dalam penjara dengan suara keras menyebut penjajah Yahudi dengan bangsa kera dan monyet.

Secara umum, rekan-rekan di penjara menerima ide Khilafah. Namun tidak sedikit di antara mereka mengatakan, “Khilafah masih jauh. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berusaha menegakkannya.”

Aku pun menyanggahnya dengan mengatakan bahwa “Khilafah masih jauh” jelas bukan argumentasi yang dapat menggugurkan kewajiban perjuangan untuk menegakkannya. Setiap orang tidak tahu apa yang akan terjadi besok, Khilafah dekat atau jauh itu setiap orang tidak ada yang tahu. Jadi yang tahu khilafah sudah dekat atau masih jauh itu hanya Allah SWT karena memang kita tidak mengetahui hal-hal yang masih ghaib.

Aku pun terus berusaha meyakinkan mereka dengan hujah-hujah dalam Alquran dan Hadits mengenai janji Allah SWT akan tegakknya kembali Khilafah Islam serta kewajiban kaum Muslim untuk berjuang menyambut janji tersebut. Nah, itulah yang pasti. Allah SWT Maha Menepati Janji tidak mungkin inkar janji. Kita pun berdosa seperti berdosanya orang yang mati jahiliah bila tidak berjuang menegakkannya.

Dari mereka itu, hanya sedikit sekali yang menolak ide Khilafah karena para penolak ini lebih dekat dengan ide-ide kufur seperti demokrasi dan sosialisme.

Aku memahami bahwa setiap Muslim wajib mengemban dakwah. Dan setiap pengemban dakwah bertanggung jawab atas perbaikan dunia ini dan Allah SWT akan memintai pertanggungjawaban mengenai perkara ini di akhirat kelak. Seorang Muslim tidak boleh takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT. Sehingga setelah keluar dari penjara aku tidak mengurangi intensitas maupun materi dakwahku.

Aku tetap datangi setiap masjid. Menjadi imam shalat Shubuh di satu masjid kemudian berdakwah di sana. Menjadi imam shalat Zhuhur di masjid lain disambung dengan dakwah. Begitu seterusnya sampai Isya. Setiap hari, Insya Allah, bila tidak ada halangan yang syar’i.

Di sela-sela dakwah itu, aku tetap mencari nafkah. Meskipun aku sarjana teknik elektro, namun dalam menyambut rezeki dari Allah SWT aku berbisnis bahan-bahan kimia. Untuk menghidupiku dan keluargaku. Karena mencari nafkah bagi laki-laki hukumnya wajib.

Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, sejak 1988 itu aku masih mengirup udara bebas. Namun bila aku ditakdirkan kembali masuk bui aku sama sekali tidak takut. Bahkan yang lebih dari itu, aku rindukan bisa menyaksikan tegaknya Khilafah kembali atau aku syahid dalam memperjuangkannya.[]

%d blogger menyukai ini: