Jangan Harap Rezim Neolib Mampu Memberi Layanan Publik Terbaik

Negara, alih-alih menjadi pelayan umat. Sistem ini justru menempatkan negara hanya sebagai regulator yang melayani kepentingan para pengusaha. Bahkan tanpa ragu negara turut bermain, berdagang mencari untung dari tugas penjaminan hak dasar umat dan hak publik mereka.


MuslimahNews, EDITORIAL — Sabar. Barangkali, itulah jurus terbaik yang bisa dilakukan rakyat menghadapi situasi ekonomi yang kian hari kian sulit. Terlebih jelang dan pasca lebaran ini.

Selain karena harga-harga sembako kian melangit, biaya transportasi pun makin tak terjangkau. Tol, tiket pesawat, kereta api semua harganya naik. Tak tanggung-tanggung, naiknya sampai ratusan persen. Tiket Bandung-Medan saja, bisa mencapai 21 juta. Tiket kereta Jakarta-Surabaya 1,5 juta.

Padahal, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, lebaran adalah momen spesial. Wajar jika mereka pun ingin merayakannya dengan cara spesial. Apalagi, lebaran pun lekat dengan tradisi mudik. Sebuah tradisi yang membuat silaturrahim garis nasab tetap terjaga. Terutama antar keluarga yang sepanjang tahun terpisah jarak.

Kondisi ini memang bukan yang pertama. Bahkan nyaris tiap tahun masyarakat selalu dihadapkan pada keruwetan yang sama. Masalahnya, level keruwetan ternyata tak pernah berkurang. Bahkan makin hari levelnya makin parah, hingga taraf memupus harapan rakyat akan munculnya kondisi baik di masa depan.

Bagaimana tidak, di luar momen lebaran saja, mayoritas rakyat memang sudah terbiasa hidup susah. Biaya hidup terasa sangat tinggi. Alih-alih mampu memenuhi kebutuhan papan, kesehatan dan pendidikan, untuk kebutuhan pangan minimalpun rasanya sangat sulit.

Kalaupun ada masyarakat yang bisa bertahan bahkan menikmati kelapangan hidup, maka bisa dipastikan jumlahnya sangat sedikit dibandingkan rakyat kebanyakan. Setidaknya inilah yang terekam dalam data gini rasio yang dirilis BPS 2019 yakni 0,384, yang berarti tingkat ketimpangan kaya miskin di Indonesia masih cukup tinggi.

Sekalipun pemerintah terus menggembar-gemborkan bahwa pertumbuhan ekonomi terus membaik hingga tahun ini mencapai 5%, tapi secara empirik angka itu tak memberi arti apa-apa. Ini dikarenakan, angka pertumbuhan ekonomi hanya berbicara agregat dan memasukkan aktivitas non riil sebagai salah satu item yang dihitung. Sementara data juga menunjukkan, bahwa angka pengangguran terus meningkat termasuk pengangguran intelektual, dan otomatis kemampuan ekonomi rakyat pun semakin rendah.

Penerapan sistem ekonomi kepitalis neoliberal yang memberi ruang besar bagi si rakus kapitalis untuk merampok sumberdaya milik umat, dan kemudian dikukuhkan oleh sitem politik demokrasi yang memberi celah kolaborasi antara kapitalis dengan para penguasa, membuat kondisi ini berjalan secara struktural dan sistemik. Penerapan sistem kapitalis neolib demokrasi ini pun terbukti membuat proses kapitalisasi berjalan bak gurita. Bahkan hingga menyentuh aspek-aspek yang seharusnya menjadi hak dasar umat dan hak publik mereka.

Negara, alih-alih menjadi pelayan umat. Sistem ini justru menempatkan negara hanya sebagai regulator yang melayani kepentingan para pengusaha. Bahkan tanpa ragu negara turut bermain, berdagang mencari untung dari tugas penjaminan hak dasar umat dan hak publik mereka.

Itulah yang terjadi pada bidang kesehatan dengan program BPJS-nya yang kisruh luar biasa. Juga pada bidang transportasi massal dan pendidikan yang sudah lama dikapitalisasi, termasuk pada pendidikan tinggi yang biayanya makin tak terjamah kemampuan rakyat.

Paradigma kapitalistik demokrasi memang nihil dari nilai-nilai kebaikan. Ruh sekularisme, liberalisme dan materialisme demikian kental merasuki para pengembannya. Dan celakanya, dunia hari ini memang sedang dikuasai sistem yang sangat destruktif ini, di bawah kendali negara-negara adidaya yang hari ini memimpin peradaban dunia.

Kondisi seperti ini tentu sangatlah jauh dari gambaran kehidupan saat dikuasai peradaban Islam. Dalam sistem Islam, seluruh manusia memiliki peluang untuk mendapatkan level kehidupan yang tinggi dengan sebuah mekanisme yang sesuai fitrah penciptaan. Berbekal keyakinan bahwa Allah Al Khaliq telah menganugrahkan rezeki bagi setiap makhluk bernyawa, manusia juga diberi potensi hidup yang sama, baik berupa akal, naluri maupun kebutuhan fisiknya. Dan sebagai aturan main, Allah juga datangkan petunjuk hidup berupa Islam ideologi sebagai problem solver persoalan-persoalan kehidupan yang dipastikan akan membawa manusia kepada kebahagiaan.

Islam wajibkan para bapak atau para wali bekerja dengan reward pahala luar biasa. Di saat yang sama, Islam mewajibkan negara menciptakan lapangan kerja sekaligus menciptakan kondisi kondusif sehingga persaingan berjalan fair dengan menerapkan sistem kepemilikan sesuai tuntunan syara. Apa yang ditetapkan syara sebagai milik umat, seperti sumber daya alam yang melimpah ruah, terlarang dikuasai oleh individu apalagi negara asing. Bahkan negara, diwajibkan mengelola sumber-sumber alam itu untuk mengembalikan manfaat seluruhnya demi semata kepentingan rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sehingga terbayang, negara akan punya banyak modal untuk menyejahterakan rakyatnya. Jangankan memenuhi kebutuhan dasarnya, bahkan layanan publik akan diperoleh dengan mudah dan murah dari milik mereka yang dikelola negara. Setiap penyelewengan terhadap ketetapan Allah ini, ditutup celahnya dengan rambu-rambu syariat yang ketat dan intoleran terhadap praktik kecurangan maupun kezaliman yang justru lazim di sistem sekarang, baik yang dilakukan oleh individu rakyat maupun oleh para penguasa, melalui penerapan sistem sanksi yang luar biasa kerasnya sekaligus dengan budaya amar makruf nahi munkar yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya.

Inilah yang digambarkan oleh banyak penulis barat tentang level kesejahteraan masyarakat Islam saat peradabannya ditegakkan secara sempurna oleh sistem pemerintahannya, yakni al-Khilafah. Belasan abad, umat Islam hidup dalam kemudahan, ketentraman dan kesejahteraan. Kondisi inilah yang memicu berkembangnya sain dan teknologi, berikut produk-produk fisik yang merepresentasi tingginya level kesejahteraan sebuah masyarakat.

Jadilah umat Islam saat itu sebagai mercusuar peradaban dunia. Di mana iptek, seni dan budaya berkembang sedemikian rupa hingga Eropa pun yang belasan abad hidup dalam gelap tersibgah cahayanya. Maka kebenaran Islampun terpancar dan menarik begitu banyak bangsa-bangsa di dunia untuk masuk ke dalamnya, baik dengan menerima akidahnya, maupun sekedar memilih hidup di bawah naungan kekuasaan Islam dengan kompensasi menyerahkan dzimmah yang jumlahnya tak seberapa.

Ismail Raji AlFaruqi dan Istrinya Louis Lamya AlFaruqi menggambarkan dengan indah kehidupan Islam di masa tegaknya. Dalam kitab yang mereka tulis berjudul (terjemahan) Atlas Budaya Islam : Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, digambarkan sisi-sisi kehebatan sistem Islam, mulai dari pemikiran hingga penerapannya. Mulai dari bidang privat, hingga hukum-hukum publik, termasuk perkembangan iptek, seni dan tradisi. Kehidupan umat non muslim yang menjadi ahludz dzimmah pun digambarkan sedemikian sejahtera. Tak ada diskriminasi sebagaimana yang dialami umat Islam di negeri-negeri kafir saat ini.

Seluruh rakyat yang menjadi warga negara mendapat jaminan kesejahteraan yang sama. Negara memberi jaminan publik secara maksimal, dengan bukti-bukti yang tak bisa disangkal. Rumah sakit, tenaga medis, obat-obatan semua gratis. Begitupun untuk pendidikan. Negara menyediakan fasilitas terbaik dengan guru-guru dan dosen terbaik yang digaji superlayak oleh negara. Perpustakaan dan jaminan beasiswa dan riset tak ada duanya. Dan semua bisa diakses rakyat secara cuma-cuma. Begitupun dengan keamanan, transportasi dan fasilitas publik lainnya.

Negara dan para penguasa paham betul bahwa memenuhi hak dasar dan hak publik umat adalah sebuah kewajiban syara. Karena kedudukan negara dan penguasa dalam Islam adalah sebagai raa-in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi umat.

Justru apa yang hari ini terjadi, dimana negara justru menyerahkan nasib umat kepada para pemilik modal rakus bahkan pada negara-negara penjajah, dipandang sebagai kezaliman yang nyata. Maka para pemimpin dan sistem negara atau pemerintahan yang demikian sudah saatnya diganti dengan sistem negara atau sistem kepemimpinan yang sesuai tuntutan syara dan tegak di atas keimanan kepada Allah Ta’ala.

Hari ini, umat kian merasakan sulitnya hidup dalam cengkraman sistem kapitalis neolib demokrasi. Hanya saja, mereka belum melihat bahwa Islam sesungguhnya merupakan solusi bagi persoalan mereka. Mereka kadung menjadi korban serangan pemikiran (ghazwul fikr) yang dicanangkan musuh islam berabad-abad, yang berhasil mengebiri Islam dari jatidirinya sebagai way of life menjadi sekadar agama ritual yang jauh dari penyelesaian problem kehidupan.

Mereka hanya tahu bahwa solusi atas kesulitan hidup adalah dengan menguatkan kesabaran dan ketakwaan. Padahal, Islam memiliki sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai aspek individual, keluarga, masyarakat, bahkan hingga kenegaraan.

Inilah yang hari ini menjadi pekerjaan besar kita. Yakni bagaimana memahamkan umat dengan Islam ideologi melalui dakwah yang mencerdaskan dan meyakinkan. Dan upaya ini sesunggungnya sudah banyak yang melakukan. Hanya butuh penggambaran Islam yang lebih konstruktif, lebih banyak orang yang bergerak, usaha yang lebih fokus serta sinergi dari berbagai komponen umat yang sudah lebih dulu menyadari pentingnya menumbangkan sistem rusak ini dan memproses perubahan ke arah Islam. Khususnya, para da’i, tokoh masyarakat, para intelektual dan para praktisi dan semua entitas yang berposisi sebagai simpul umat.

Dan tentu saja, dibutuhkan dukungan kelompok kuat. Yakni mereka yang secara riil punya kekuatan serta kesiapan untuk menyerahkan loyalitas demi tegaknya kekuasaan Islam. Dan kehadiran kelompok inilah yang direpresentasi para pemimpin kaum Anshar di masa perjuangan Rasulullah Saw menegakkan sistem Islam di Madinah.

Sesungguhnya kehancuran sistem kapitalisme dan kabar kemenangan Islam sudah di depan mata. Tugas kita hanyalah memastikan di mana posisi kita dalam pergantian sejarah yang sudah Allah janjikan ini. Apakah sebagai pelaku, penonton, atau justru menjadi batu penghalang?[]SNA

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: