Metode Berpikir Islam adalah Jalan Keluar dari Kegelapan menuju Cahaya

Untuk menyingkirkan sistem-sistem yang menghalangi kita untuk memahami dan menerapkan seluruh hukum-hukum Islam, dan untuk diberkahi dengan kemenangan Allah SWT, kita harus memahami Alquran dan Sunnah dengan metode pemikiran Islam, dan kita harus mempersiapkan diri kita dengan metode pemikiran Islam, sekali lagi. Jika kita ingin mengakhiri era kegelapan dan membuka era cahaya seperti Ashabul Qiram, maka kita harus tunduk kepada Alquran tanpa syarat seperti yang mereka juga lakukan.


Oleh: Zehra Malik

MuslimahNews, FOKUS — Bulan Ramadan adalah bulan perenungan, refleksi, ibadah, ketundukan, dan penghambaan, yang mengarah pada kebebasan, superioritas, dan kemenangan. Kemenangan Allah SWT hanyalah milik mereka yang memiliki kesadaran sejati akan penghambaan, yang tidak tunduk kepada kepada apa pun selain kepada bimbingan Tuhan mereka dengan ketulusan, dan yang tidak memeluk kriteria lain untuk diri mereka sendiri selain perintah dan batasan dari Tuhan mereka. Bagi seorang mukmin, penghambaan adalah upaya untuk membentuk kehidupan sesuai dengan kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan kemenangan dan kemajuan terbesar selama bulan ini kepada kaum Muslim. Kaum Muslim telah menjadi saksi atas umat manusia dan menjadi umat yang adil di bidang politik, ilmiah, sosial, ekonomi, dan setiap bidang kehidupan, memberikan keadilan dan pembangunan selama lebih dari 1300 tahun. Kriteria dan metode yang diberikan Islam kepada kemampuan berpikir manusia merupakan revolusi terbesar umat manusia. Di satu sisi, metode ini mengangkat manusia dari status sebagai makhluk primitif yang hanya terdiri dari naluri dan kebutuhan organik. Di sisi lain, metode ini menumbuhkan masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang saling memperlakukan dengan belas kasihan, kasih sayang, solidaritas, kedamaian, dan keadilan. Metode ini menjadikan masyarakat Muslim ini sebagai pusat sejarah dunia dan landasan peradaban.

Faktanya, Wahyu Allah tidak berubah. Wahyu ini masih merupakan kitab yang penuh semangat, hidup, dan revolusioner. Kitab ini adalah sumber kehidupan untuk segala hal. Alquran tidak berubah, tetapi persepsi, pandangan, dan sikap terhadap Alquran telah berubah. Ini jelas merupakan akibat dari dominasi budaya kolonialis terhadap kaum Muslim lebih dari 100 tahun. Hari ini; karena para penguasa dan intelektual kaum Muslim telah kehilangan metode pemikiran Islam yang membuat umat Islam jauh dari kedamaian dan kemakmuran yang dijanjikan Islam, tidak dapat lepas dari gelapnya kesengsaraan, penderitaan, penyiksaan, invasi, peperangan, kemiskinan, kemalangan, dan ketidakberdayaan! Tanpa diragukan lagi, para intelektual – yang ditaklukkan oleh budaya kekufuran dan yang mengagumi gaya hidup kekufuran -, serta para penguasa yang menerapkan sistem dan kebijakan dari luar Islam sehingga membantu kaum kafir, tidak akan pernah mampu memimpin umat Rasul Muhammad atau manusia manapun dari kegelapan menuju cahaya. Oleh karena itu, meskipun membaca Alquran di bulan suci Ramadan ini akan menjadi sarana untuk mencapai pengampunan atas dosa-dosa pribadi kita dan meningkatkan status kita di Surga, hal tersebut tidak akan cukup untuk mengembalikan posisi kita kepada status sebagai umat yang adil dan saksi atas manusia. Sebaliknya, pembebasan hanya akan datang melalui sosok-sosok berkepribadian Islam yang termashyur sebagai pemimpin, penguasa, dan perisai umat, yang merangkul Alquran dan Sunnah sebagai satu-satunya sumber pemikiran mereka, dan penghambaan kepada Allah sebagai satu-satunya metode pemikiran mereka.

Setiap pendekatan positivis dan rasionalis Barat yang didiktekan terhadap Alquran, Sunnah, dan penerapan hukum-hukum Islam dalam kehidupan, menghalangi kita untuk merasakan manfaat pedoman Alquran. Hal ini hanya menyebabkan sekularisasi umat Islam, dan menyebabkan mereka tidak berdaya menghadapi sistem kufur dan serangan-serangan terhadap mereka. Mencari solusi untuk masalah umat (Islam) dan umat manusia di dalam realitas di sekeliling kita saat ini berarti melumpuhkan Alquran dan Sunnah dan memenjarakan umat di dalam realita itu. Demikian juga, menerapkan Alquran dalam satu aspek kehidupan, sementara mengatur aspek yang lain menurut pikiran manusia, hal itu bertentangan dengan tujuan Alquran, yaitu untuk menjadi pedoman (Hidayah) dan Pembeda (Furqan). Misalnya, menerima Alquran dan Sunnah sebagai norma dalam hal ibadah, pernikahan agama, makanan, dan pakaian, namun mendefinisikan keadilan atau ketidakadilan dalam peraturan masyarakat berdasarkan kesetaraan gender, atau menggunakan sistem hukum Barat sebagai dasar dalam perang melawan kejahatan, merangkul demokrasi dan sekularisme sebagai pilar-pilar politik, menjalin hubungan teman atau musuh sesuai dengan dikte kekuatan Barat, memohon kepada negara-negara Barat, organisasi dan institusinya untuk menyelamatkan kaum Muslim dari penindasan, dan menyetujui perjanjian mereka, bukanlah dan tidak akan pernah menjadi metode berpikir Islam! Semua ini terjadi karena melewatkan begitu saja dan memilih-milah terhadap pesan Alquran, Firman Allah SWT, dan seruan Rasulullah Saw. Sikap seperti itu tidak hanya merupakan kecacatan dalam menghamba kepada Allah SWT, tetapi juga meninggalkan umat Muslim dan umat manusia ke dalam cakar penindasan.

Masuklah istilah-istilah kosong, palsu, dan khayali yang dihasilkan dari pemikiran kufur Barat, seperti kebebasan, kesetaraan, kemerdekaan, hak asasi manusia, keadilan sosial, perdamaian, sebagai ukuran untuk menafsirkan ulang dan mereformasi ayat-ayat Alquran, serta menyerukan kepada hal-hal ini akan mengaburkan konsep dan nilai-nilai Islam serta memutuskan hubungan keimanan (Akidah Islam) dari perbuatan (amal). Mereka menganggap bahwa hukum-hukum Alquran yang terkait dengan perempuan itu tidak berguna, atau melabeli Sunnah Rasulullah Saw, pandangan dan pengabdian para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para ulama Islam besar sebagai “patriarkal”, “berorientasi laki-laki”, dan “misoginis” (membenci perempuan), seakan memberikan perempuan itu kepada sekumpulan serigala yang lapar. Menyerukan modernisasi hukum Islam, termasuk hukum sosialnya, adalah tindakan mengkhianati keadilan dan ketentuan Allah.

Pada masa itu, ketika para ulama dan fuqaha Islam mengajarkan hukum-hukum Islam kepada orang-orang, dan ketika para penguasa Islam memerintah dengan Islam, kehormatan kaum perempuan dilindungi dan kaum ibu diberikan posisi yang tinggi, sementara kaum laki-laki Muslim mematuhi perintah Alquran dalam menundukkan pandangan mereka guna melindungi kesucian perempuan untuk menghindari percabulan. Pada masa itu, ketika Jihad Islam diterapkan, laki-laki Muslim tidak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berguna, melainkan bergegas untuk menyelamatkan kaum Muslim dan non-Muslim dari satu ujung dunia ke ujung dunia yang lain dengan perintah Khalifah. Dipimpin oleh para penguasa yang menganut slogan ﴿إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ﴾
Kedaulatan hanya milik Allah“, peradaban Muslim menjadi pembebas umat manusia dan penjamin kesejahteraan dan keadilan.

Jadi, untuk menyingkirkan sistem-sistem yang menghalangi kita untuk memahami dan menerapkan seluruh hukum-hukum Islam, dan untuk diberkahi dengan kemenangan Allah SWT, kita harus memahami Alquran dan Sunnah dengan metode pemikiran Islam, dan kita harus mempersiapkan diri kita dengan metode pemikiran Islam, sekali lagi. Jika kita ingin mengakhiri era kegelapan dan membuka era cahaya seperti Ashabul Qiram, maka kita harus tunduk kepada Alquran tanpa syarat seperti yang mereka juga lakukan.

Dunia saat ini sekali lagi membutuhkan revolusi Qurani. Allah SWT berkehendak untuk mewujudkan revolusi ini melalui tangan kita. Kaum Muslim revolusioner yang berkepribadian Islam pasti akan menghadapi kesulitan dalam dakwahnya. Tetapi kita memiliki nabi dan rasul, khususnya Rasulullah Muhammad Saw, para sahabatnya, dan ribuan saudara seperjuangan, yang menjadi cahaya obor bagi kita. Mereka adalah teladan dan motivasi kita dalam kesabaran, ketabahan, dan keteguhan dalam menghadapi penyiksaan, persekusi, penganiayaan, dan kebijakan pengasingan terhadap Dakwah Mulia ini. Mereka memperkuat ikatan mereka dengan ibadah dan hubungan mereka dengan persaudaraan. Sebagai imbalan atas penghambaan mereka, Allah SWT menganugerahkan mereka sebuah Negara Alquran yang menerapkan hukum-hukum Alquran.

Oleh karena itu, selama bulan Ramadan ini, marilah kita berusaha untuk menyucikan tubuh kita melalui puasa, ikatan kita melalui shalat, dan ide-ide kita melalui Alquranul Karim, sehingga kita dapat menjadi saksi atas umat manusia dan menjadi umat yang satu lagi. Tujuan kita tinggi; keberhasilan kita dekat dan pasti!

﴿إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ﴾
Sungguh, Kami telah mengungkapkan kepadamu, [Muhammad], Kitab yang benar sehingga kamu dapat menilai di antara orang-orang dengan apa yang telah ditunjukkan Allah kepadamu.” (QS. An-Nisa 105)[]

#من_الظّلمات_إلى_النّور
#DarknessToLight
#KegelapanMenujuCahaya

%d blogger menyukai ini: