Ramadan, Momen Mewujudkan Dua Perisai

Umat Islam harus segera bangkit dari keterpurukan dengan jalan kembali kepada Islam kaffah dalam naungan Khilafah. Keluarga Muslim, termasuk para ibu, harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa, dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.


MuslimahNews, EDITORIAL — Tak terasa hari demi hari Ramadan sudah terlewati. Keriaan mengisi bulan mulia ini pun masih lekat terasa di berbagai tempat. Nampak nyata, bahwa mayoritas umat masih menganggap bahwa Ramadan memang momen istimewa.

Namun di balik semua euforia umat menyambut dan mengisi Ramadan, masih banyak pertanyaan yang tersisa. Akankah spirit kebaikan yang selalu tersuasana di bulan mulia ini tetap terjaga? Dan apakah takwa yang menjadi tujuan ibadah shaum di bulan ini sudah atau akan mewujud nyata?

Faktanya, dari Ramadan ke Ramadan, kondisi umat ternyata tak jauh beda. Bahkan kehidupan kaum Muslim makin hari makin dicengkeram oleh sistem sekularisme dan turunannya yang membuat kehidupan terasa makin jauh dari berkah.

Seolah ada gap antara tujuan Ramadan yang hadir setiap tahunnya, dengan fakta kehidupan umat yang nampak kian jauh dari syariat. Praktik marginalisasi agama terjadi masif di berbagai ranah kehidupan.

Politik, terasa makin machiavelistik. Wajah-wajah hipokrit dan tak punya hati pun bermunculan bak jamur di musim hujan. Ekonomi, ternyata makin morat marit. Bahkan di tengah kesulitan yang menghimpit mayoritas rakyat, rezim penguasa tak canggung lagi menggelar karpet merah bagi kaum penjajah. Menggadai masa depan bangsa dengan utang dari negara pemangsa.

Di bidang sosial, masyarakat kian tak jelas warna. Mayoritas keluarga Muslim tak bisa lagi jadi benteng penjaga. Begitupun dengan lembaga pendidikan dan sekolah, tak lagi mampu menjadi wasilah melahirkan generasi pemimpin berperadaban mulia.

Apa yang nampak dari masyarakat Muslim kita, yang Ramadan demi Ramadan selalu disambut dengan suka cita? Ternyata, kerusakan moral terjadi di mana-mana. Mayoritas generasi kehilangan adab dan ringkih dalam beragama. Ajaran Islam banyak yang mereka lupa, begitupun dengan sejarahnya. Mereka terjebak dalam sebuah life style yang serba liberal permisif, yang menempatkan agama sebagai asesoris semata-mata.

Diakui atau tidak, itulah fakta sebenarnya. Umat memang sudah lama kehilangan jati dirinya sebagai umat yang tinggi dan mulia. Bahkan umat sudah tak layak lagi menyandang gelar yang disematkan oleh Rabb mereka. Yakni sebagai Khairu Ummah yang diamanahi Allah untuk menebar Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam sebagaimana dibuktikan generasi-generasi sebelumnya.

Umat hari ini justru nampak selalu jadi objek penderita. Para penguasanya pun tak punya wibawa, bahkan rela menjadi budak negara adikuasa. Ketika harta kekayaan rakyatnya dirampok di depan mata, mereka tak berkutik bahkan menyerahkannya dengan tangan terbuka.

Persatuan umat yang menjadi salah satu hikmah ibadah Ramadan pun ternyata menjadi begitu sulit direalisasikan. Saat Muslim Uyghur, Rohingya dan Gaza menghadapi Ramadan dengan penderitaan luar biasa, umat Islam yang lain, bil khusus para penguasanya, justru seolah menutup mata. Karena bagi mereka, Muslim di luar sana bukan saudara sebangsa. Akidah Islam yang melekat pada diri mereka seolah tak cukup menjadikan Muslim lainnya sebagai benar-benar saudara. Padahal Rasul Saw mengajarkan, di manapun mereka, adalah satu tubuh yang wajib saling membela dan mencinta.

Lantas apa yang salah, hingga Ramadan ke Ramadan tak lagi mampu memperbaiki keadaan umat seperti yang semestinya? Apatah lagi menghantarkan umat kepada kemenangan hakiki tersebab diraihnya derajat takwa?

Lemahnya pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam kaffah ditengarai menjadi salah satu faktor utama kenapa kondisi ini bisa terjadi. Islam selama ini hanya dipahami sebatas agama ritual saja. Maka wajar jika ajaran Islam tak mampu berpengaruh dalam perilaku keseharian, baik dalam konteks individu, keluarga maupun dalam interaksi masyarakat dan kenegaraan.

Bahkan ajaran Islam ritual yang dikukuhi mayoritas masyarakat lambat laun kehilangkan power-nya sebagai penuntun dan pembeda antara hak dan kebatilan. Hingga tak sedikit individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan bahkan terjerumus dalam kemaksiatan.

Sementara dalam konteks keluarga, tak sedikit yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat himpitan ekonomi dan gempuran budaya yang mengacaukan pola relasi di antara anggotanya. Wajar jika keluarga pun tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan.

Kondisi ini diperparah dengan penerapan sistem sekuler yang menolak peran agama dalam pengaturan kehidupan, dimana negara justru menjadi pilar penjaganya. Dalam sistem rusak ini, sulit sekali mempertahankan kesalehan dan kekaffahan dalam berislam.

Semua menjadi serba dilematis dan paradoks. Bahkan orang saleh cenderung mudah terjebak atau menjebakkan diri dalam kesalahan. Kompromi antara Islam dan kekufuran bahkan menjadi hal yang diniscayakan. Masyarakatpun kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar ma’ruf nahi munkar.

Sekularisme dengan paham-paham turunannya yang batil seperti kapitalisme, liberalisme dan materialisme memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah. Terbukti, hingga kini dunia terus dilanda krisis, mulai dari krisis politik yang membuat kehidupan masyarakat menjadi serba tidak jelas. Krisis ekonomi yang terus membebani mayoritas keluarga muslim dengan kehidupan serba sulit dan mendorong para ibu turut bertanggungjawab menanggung beban ekonomi keluarga yang menyita energi dan waktu mendidik anak-anak mereka. Juga krisis moral akibat merebaknya budaya hedon dan permissif yang kian menjerumuskan individu, keluarga dan masyarakat pada kerusakan, hingga umat terancam kehilangan generasi masa depan dan kehilangan kesempatan untuk.kembali menjadi entitas terbaik dan terdepan (Khairu Ummah). Dan akhirnya umat Islam akan terus menjadi bulan-bulanan dan sapi perah negera-negara kapitalis yang rakus akan sumberdaya dan kekuasaan.

Tentu saja kondisi ini tak boleh dibiarkan berlama-lama. Umat Islam harus segera bangkit dari keterpurukan dengan jalan kembali kepada Islam kaffah dalam naungan Khilafah. Keluarga Muslim, termasuk para ibu, harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa, dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.

Dan momentum itu ada pada bulan Ramadan. Di mana individu, keluarga dan masyarakat terkondisi untuk dekat dengan Islam. Di mana sumber tuntunan hidup Muslim yaitu Alquran dan hadis Nabi sedang menjadi sumber bacaan yang diutamakan. Di mana interaksi antar individu dalam keluarga dan masyarakat sedang tersuasana untuk saling mendekat dan menguatkan. Di mana mesjid-mesjid penuh dan media massa masif menebar kebaikan.

Problemnya adalah, bagaimana agar suasana seperti ini senantiasa ada pada 11 bulan di luar Ramadan. Agar individu tetap terpelihara ketakwaan, keluarga tetap kokoh karena terfungsikan dengan benar, masyarakat tetap terjaga sebagai mesin kontrol penguat ketakwaan dan negara pun menjadi penjaga umat dari celah kerusakan dan penjajahan.

Di sinilah urgensi dakwah membangun kesadaran, bahwa Islam bukan cuma agama ritual, tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Sehingga Alquran yang sepanjang Ramadan hanya dibaca dengan target ditamatkan, juga dipahami dan difungsikan dengan benar, yakni sebagai solusi terbaik untuk berbagai persoalan kehidupan dan sebagai aturan yang mutlak harus dijalankan.

Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah menuturkan, bahwa ibadah shaum dan imam (negara/Khalifah) sama-sama berfungsi sebagai junnah atau penjaga. Shaum sebagai perisai individu, sementara imam adalah perisai umat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (H.R. Ahmad, shahih).

Dan beliau Saw juga bersabda :

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR.Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Karenanya, marilah kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk mewujudkan dua junnah kehidupan tersebut. Yakni shaum yang menghantarkan pada ketakwaan individu, yang akan membentengi setiap Muslim dari perbuatan maksiat yang tidak diridhai Allah dan menjaganya dari api neraka. Serta Imam (negara/Khalifah) yang bisa mewujudkan ketakwaan masyarakat. Yang akan menjadi perisai pelindung bagi umat agar selalu ada dalam kemuliaan dan tercegah dari makar musuh yang tak menghendaki kebaikan ada pada mereka.

Dengan keduanya, kesakinahan dan kebahagiaan hidup pasti akan dirasakan. Tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dan tak hanya oleh individu-individu muslim yang menjalankan, tetapi juga oleh umat secara keseluruhan, karena aturan Islam memang kunci kebangkitan sekaligus datang sebagai rahmat bagi seluruh alam.[]SNA

%d blogger menyukai ini: