Hukum Shalat Tarawih, Sahur, dan Niat Puasa sebelum Terbuktinya Rukyatul Hilal Ramadan

Tanya :

Ustaz, bolehkah kita shalat tarawih, sahur, atau niat puasa pada malam hari menjelang masuknya bulan Ramadan, tapi belum ada pengumuman rukyatul hilal untuk bulan Ramadan? (Nuhbatul Basyariah, Jogjakarta).


Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi

Jawab :

MuslimahNews.com — Tidak boleh atau haram hukumnya melakukan shalat tarawih, makan sahur, atau niat puasa Ramadan walaupun sekadar untuk jaga-jaga, jika belum terbukti adanya rukyatul hilal untuk bulan Ramadan.

Keharaman melakukan hal-hal tersebut didasarkan pada 2 (dua) alasan sbb: Pertama, karena sebelum terbuktinya rukyatul hilal untuk bulan Ramadan, berarti malam itu masih dianggap bulan Sya’ban. Ini adalah pengamalan istis-haabul ashl, yakni kaidah fiqih yang digunakan untuk mempertahankan berlakunya hukum asal sebelum adanya dalil yang mengubah hukum asal menjadi hukum baru. Kaidah fiqih yang termasuk istis-haabul ashl misalnya : al ashlu baqaau maa kaana ‘ala maa kaana (yang menjadi hukum asal adalah tetapnya apa yang ada mengikuti apa yang telah ada sebelumnya). (Tajuddin As Subki, Al Asybah wa An Nazhair, 1/49).

Berdasarkan kaidah fiqih tersebut, berarti hukum asalnya adalah tetapnya bulan Sya’ban, yaitu tidak berubah menjadi bulan Ramadan sebelum terbuktinya rukyatul hilal untuk bulan Ramadan. Jika rukyatul hilal Ramadan belum terbukti, berarti orang yang shalat tarawih, makan sahur, atau niat puasa Ramadhan, sebenarnya melakukan hal-hal itu sebelum waktu yang disyariatkan. Artinya, dia berarti shalat tarawih pada bulan Sya’ban, atau makan sahur pada bulan Sya’ban, atau niat puasa Ramadan pada bulan Sya’ban. Jelas ini merupakan perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Muslim, sesuai sabda Rasulullah Saw,”Barangsiapa melakukan perbuatan yang tak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR Muslim, no 1718)

Kedua, karena sebelum terbuktinya rukyatul hilal Ramadan, berarti “sebab” pelaksanaan puasa Ramadan belum ada. Dengan demikian, hukum-hukum syariah yang menjadi akibat hukumnya (“musabbab”) juga belum ada. Misalnya pelaksanaan puasa Ramadan, dan termasuk juga hukum-hukum syara’ lainnya yang terkait yang hanya dilaksanakan di bulan Ramadan, seperti shalat tarawih, sahur, atau niat puasa.

Dalam ilmu ushul fiqih, “sebab” adalah apa-apa yang jika ada maka hukum syara’ yang menjadi akibat hukumnya (“musabbab”) akan ada (terwujud/terlaksana). Sebaliknya jika “sebab” tidak ada, maka “musabbab” juga tidak ada. Contoh “sebab”, misalnya masuknya waktu adalah sebab pelaksanaan shalat, tercapainya nishab adalah sebab pelaksanaan zakat mal, safar adalah sebab bolehnya meng-qashar atau menjamak shalat, akad nikah adalah sebab bolehnya jima’, akad syar’i adalah sebab sahnya kepemilikan barang, dst. (Imam Ghazali, Al Mustashfa fi ‘Ilmil Ushul, hlm.75; Imam Syathibi, Al Muwafaqat, 1/187).

Dalam hal ini hadits-hadits shahih telah menunjukkan dengan jelas bahwa yang menjadi “sebab” bagi pelaksanaan puasa Ramadan adalah rukyatul hilal, bukan yang lain (misalnya wujudul hilal melalui hisab hakiki). Di antaranya sabda Rasulullah Saw,”Berpuasalah kamu karena melihat hilal [Ramadan], dan berbukalah kamu (beridul fitrilah) karena melihat hilal [Syawwal]. Maka jika pandangan kalian terhalang, sempurnakanlah bilangan Sya’ban sebanyak 30 hari.” (HR Bukhari no 1810; Muslim no 1080) (Muhammad Husain Abdullah, Mafahim Islamiyyah, 2/64).

Maka dari itu, jika rukyatul hilal bulan Ramadan telah terbukti, berarti segala akibat hukumnya dapat dilaksanakan. Sebaliknya jika rukyatul hilal itu tidak terbukti, maka segala akibat hukumnya tidak sah untuk dilaksanakan. Kaidah fiqih yang terkait masalah “sebab” menetapkan : Laa yabqaa al hukmu ba’da zawaali sababihi (suatu hukum tidak berlaku jika hilang / tidak ada sebabnya). (Muhammad Shidqi Al Burnu, Mausu’ah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah, 2/949)

Walhasil, haram hukumnya melakukan shalat tarawih, makan sahur, atau niat puasa Ramadan sebelum terbuktinya rukyatul hilal Ramadan. Karena bulan yang ada masih bulan Sya’ban dan apa yang menjadi sebab hukumnya, yaitu rukyatul hilal bulan Ramadan, tidak ada. Wallahu a’lam.[]

%d blogger menyukai ini: