Kapitalisme Melestarikan Derita Buruh Migran

Sistem kapitalis yang diadopsi hampir semua negara di dunia ini, kata Pratma, amat eksploitatif terhadap perempuan. Mereka tidak pernah menyadari posisi dan fungsi paling berharga bagi perempuan ini adalah di tengah keluarganya, bukan pergi berjuta-juta kilometer dari kampungnya demi mengais dolar.


MuslimahNews.com — Hari Buruh sedunia atau May Day 2019 diwarnai aksi para pekerja migran di Taiwan bersama para aktivis yang menuntut penghapusan sistem agensi, Ahad (28/4/2019).

Pengamat politik Muslimah, Pratma Julia Sunjandari mengungkap amatannya terkait indikasi perdagangan manusia yang dialami para buruh migran, Rabu (1/5/2019).

“Berbicara tentang buruh Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan dari fenomena buruh migran. Bahkan data BNP2TKI tahun 2018 menyebutkan 69 persen pekerja migran Indonesia adalah perempuan. Padahal mereka kerap menghadapi situasi kerja yang tidak layak, dan mirisnya 74 persen kasus yang didampingi Migrant CARE sepanjang tahun 2017-2018 adalah indikasi perdagangan orang,” ungkap Pratma.

Sekalipun begitu, menurut Pratma, pemerintah yang gagal menciptakan lapangan kerja di dalam negeri ini tetap saja mengirim mereka hanya karena alasan materi. “Bayangkan saja, remitansi pekerja migran Indonesia hingga November 2017 mencapai Rp 108 trilyun! Pemerintah memang tak punya misi dalam memperlakukan pekerja migran selain hanya membebek pada aturan internasional,” tukasnya.

Pratma membeberkan bahwa dunia kapitalis membutuhkan putaran uang, tak peduli jika harus mengirim para istri dan para ibu jauh ke negeri seberang karena ada demand atas jasa mereka.

“Lebih runyam lagi dengan ambisi SDGs menuju 2030, PBB meluncurkan Global Compact for Migration untuk memastikan bahwa migrasi dapat berjalan aman dan meminimalisir kasus-kasus kekerasan pada pekerja migran. Tapi semua perlindungan itu, termasuk jaminan sosial bagi buruh migran tidak bakal mampu memberikan perlindungan secara utuh atau bahkan menyelesaikan kemiskinan di negeri asal buruh migran,” paparnya.

Sistem kapitalis yang diadopsi hampir semua negara di dunia ini, kata Pratma, amat eksploitatif terhadap perempuan. Mereka tidak pernah menyadari posisi dan fungsi paling berharga bagi perempuan ini adalah di tengah keluarganya, bukan pergi berjuta-juta kilometer dari kampungnya demi mengais dolar.

Pratma Julia lalu menjelaskan bahwa Islam merupakan satu-satunya kunci penyelesaian persoalan perempuan buruh migran, “Karena itu Khilafah punya seperangkat jaminan untuk melindungi jiwa, ekonomi dan kehormatan perempuan melalui kepastian penerapan hukum-hukum syariat. Sistem ekonomi bekerja secara sinergi dengan sistem sosial, pendidikan serta sistem sanksi dan lain-lain dalam memenuhi semua kebutuhan perempuan, baik fisik ataupun non fisik.”[]

Apa komentar Anda?
%d blogger menyukai ini: